8: Lempar Batu Sembunyi Badan
[Jumat, 4 November 2022 / 16.24 WIB]
Setiap awal November, anggota OSIS SMAN 21 pasti sibuk menyiapkan bazaar perayaan hari jadi sekolah yang diadakan bulan Januari. Rapat dan koordinasi sudah mulai berjalan beberapa hari, dan terpantau, anak-anak OSIS pasti selesai rapat di pukul setengah lima. Siapa yang memantau? Jelas empat cegil, alias Lidia dan geng-nya. Setelah planning cukup lama, hari penghakiman Rio akhirnya datang.
Mereka sepakat mengeksekusi rencana di hari Jumat. Sesuai estimasi, rapat selesai tepat waktu di sore hari. Seluruh anggota OSIS satu per satu keluar dari ruangan untuk langsung pulang, kecuali Rio. Menurut pantauan Gina dan Mia, dia selalu menyempatkan diri ke toilet dulu sebelum pulang. Begitu Rio terpantau masuk ke dalam toilet, dan tentunya toilet anak laki-laki, keempat gadis itu mulai melancarkan aksi mereka.
Tolong digarisbawahi lagi, apa yang akan terjadi bukan potongan adegan dari film Mission Impossible! Semua murni tindakan nekat dengan niat jahat dari Lidia dan teman satu circle-nya. Dalam rencana mereka, langkah pertama yang harus mereka lakukan adalah mencuri kunci toilet dari kantong petugas bersih-bersih sekolah.
Dua orang, yaitu Gina dan Mia, bertugas untuk mengalihkan perhatian si abang kebersihan sekolah dengan mengajaknya ngobrol. Mereka sudah menandai kalau pria bertubuh tambun ini demen bahas politik, alhasil Mia terus-menerus nyerocos pertanyaan dan argumen-argumen soal situasi politik terkini, selagi Gina diam-diam meraih kunci toilet dari kantong celananya. Tidak ada 15 detik, pengalihan berhasil! Kunci sudah berpindah posisi ke kantong Gina.
Tahap selanjutnya, kunci itu harus dioper ke Sherly. Sherly sendiri kemudian keluar dari spot persembunyiannya, lalu berjalan cepat mendekati posisi duduk kedua temannya. Tanpa bertegur sapa, Sherly membuka telapak tangannya diam-diam, lalu dengan gesit namun hati-hati, Gina mengoper kunci ke tangan Sherly. Lagi-lagi, dalam sekejap mata, pemindahan berhasil! Kini, tinggal step akhir yang perlu dieksekusi.
Sherly jalan setengah lari menuju posisi Lidia yang dari tadi sudah mengunci pergerakan Rio di depan ruang toilet laki-laki. Sang target sendiri terpantau sudah menghabiskan beberapa saat di dalam bilik toilet. Tanpa kendala, kunci toilet sekarang sudah ada di tangan Lidia, dan sesuai rencana, sebelum Rio keluar, mereka akan mengunci si ketua OSIS di kamar mandi! Sembari dikejar waktu, Lidia langsung lari setengah menjinjit mendekati bilik yang dihuni Rio.
CEKLEK! Dari suara ini, Sherly yang mengawasi Lidia dari jauh bisa tahu kalau misi mereka berjalan lancar. Sementara itu, di sisi lain kamar mandi, Rio yang sudah selesai bersih-bersih dan mau keluar langsung panik mendengar pintunya terkunci. Ia refleks memutar-mutar gagang bulat di genggamannya, namun jelas, pintu itu tidak mau terbuka. Ia menggendor-gendor dan bahkan menendang pintu itu sekeras mungkin dengan teknik taekwondo yang ia kuasai, namun tetap, semua tidak ada gunanya.
“Toloongg! Pintunya kekunci! Toloongg!” Teriak Rio dari dalam kamar mandi. Dia sempat mengira ini hanyalah guyonan teman-teman OSIS-nya. “Halo? Siapa yang ngunci ya? Bukain dong!” Tapi baru sebentar prasangka baik itu muncul, ternyata lampu kamar mandinya juga dimatikan. Mendadak, dia terkurung dalam toilet sempit yang gelap! Rio yang sebelumnya agak tenang kini panik dan berteriak liar. “TOLONG! SIAPAPUN YANG NGUNCI! INI NGGAK LUCU!” Pintu itu berkali-kali ia hantam keras, sampai-sampai telapak tangannya mati rasa.
Dalam kepalanya, Rio agaknya tahu kalau teriakan dan gedorannya ini bisa jadi sia-sia. Kalau ini bukan candaan yang kelewatan, maka kecuali ada sesama anak OSIS di area toilet, atau abang petugas kebersihan mendengar jeritannya, tak akan ada satupun yang bisa membantunya. Murid-murid dan para guru sudah pulang, bahkan yang ada kegiatan ekskul pun sudah selesai jam empat tadi. Kecil ia tahu, bahwa sekelompok cegil juga masih ada di sekolah sampai sore dengan tujuan mengganggu hidupnya.
Lidia dan geng-nya tertawa terbahak-bahak setelah rencana mereka berjalan lancar. Sang target yang selama ini begitu karismatik dan cool hanya bisa merongrong meminta bantuan seperti seekor tikus di dalam kotak jebakan. Selesai menaruh kunci toilet di kursi tempat mereka mengalihkan perhatian si abang OB, Lidia dan para kroconya langsung cabut pulang. Selagi Lidia tertawa puas dan memuji-muji betapa mulus aksi geng-nya dalam perjalanan pulang, rupanya Rio tidak kunjung keluar...
Nggak, Rio nggak meninggal kok. Tapi masuk rumah sakit karena dehidrasi dan kecapekan bukan hal yang patut disyukuri juga sih. Jadi, setelah ditinggal Lidia, ternyata Rio masih terkunci sampai keesokan harinya.
Hilangnya Rio tanpa kabar tentu membuat orang tuanya khawatir. Mereka sempat menanyai teman-teman putranya sebelum kemudian menghubungi Kepala Sekolah untuk melaporkan kejadian ini. Malam itu juga, orang tua Rio menanyai anak-anak OSIS yang terakhir bersama Rio sebelum ‘menghilang’, sedangkan Kepala Sekolah mengontak satpam dan petugas kebersihan yang selalu pulang paling akhir. Tanpa petunjuk, orang tua Rio dan sang Kepala Sekolah memutuksan untuk mengecek sekolah yang memang libur di hari Sabtu.
Setelah sempat mondar-mandir mengecek beberapa ruangan sekolah, pada akhirnya Rio berhasil ditemukan. Namun tentu, begitu pintu kamar mandinya dibuka, ia sudah dalam kondisi yang membuat orang tuanya histeris. Rio terduduk pingsan di lantai dengan badan bersandar tembok, mata sembab, dan wajah sayu tanda kecapekan dan panik. Orang tua Rio dan ibu Kepsek yang menemukannya hanya bisa bertanya-tanya kenapa bisa sang ketua OSIS terkurung sendirian semalaman di sekolah yang kosong. Terdengar seperti plot film horror, tapi realitanya, inilah momen mencekam yang harus dihadapi Rio, yang membuat badannya yang tegap dan gagah itu menyerah karena ketakutan dan kelelahan.
Tidak perlu waktu lama, insiden naas ini langsung tersebar luas dan jadi buah bibir di setiap penjuru sekolah. Dari anak kelas 10 sampai 12, dari guru sampai penjual kantin, tidak ada yang tidak tahu berita ini. Lebih dari itu, setiap orang pun lantang bertanya-tanya: “siapa pelakunya?”
Si petugas kebersihan berani bersumpah kalau bukan dia yang mengunci Rio. Katanya, buat apa juga dia melakukan hal itu. Lagipula, mengunci kamar mandi tidak ada di SOP-nya. Ia juga mengaku tidak mendengar teriakan atau suara apapun ketika pulang di jam lima sore. Ya wajar ia bilang begitu, orang kupingnya disumpal earphone dengan volume mentok. Tapi meski tidak punya andil dan kesengajaan, petugas kebersihan ini dipecat juga oleh Kepala Sekolah atas dasar kelalaian.
Meski sudah ada yang dipecat, permintaan untuk mencari pelaku terus diminta oleh orang tua Rio. Bahkan kalau bukan karena uang tutup mulut, kasus ini bisa-bisa sudah viral dan berbuntut ke ranah hukum. Andai kamera CCTV tidak hanya dipasang di bagian luar sekolah, si pelaku pasti sudah bisa dilacak.
Bicara soal pelaku, tentu para pelaku aslinya... sembunyi dan tidak mau ngaku. Lidia dan geng-nya mengira Rio tetap bisa keluar dan pulang sore itu. Mereka tidak menyangka prank mereka berujung separah dan sebesar ini. Di satu sisi, rencana mereka terbukti efektif karena tidak ada satupun yang menemukan saksi atau barang bukti yang bisa membuat mereka ketahuan. Tapi di sisi lain, mereka sendiri panik dan takut menghadapi konsekuensi dari aksi mereka.
Karena didesak keadaan dan tidak mau sampai ketahuan, Lidia akhirnya mencetuskan ide gila lainnya. Mereka harus cari kambing hitam. “Kita cari orang lain aja yang bisa disalahain! Kita framing aja...” katanya sambil berpikir di hadapan ketiga temannya. “Oh! Dona! Kita framing aja si Dona, bilang aja dia pelakunya.”
“Mami kamu emang bakal percaya, Lid?”
“Framing kaya gimana? Kan nggak ada bukti...”
“Ini kita aman kan, Lid? Mami kamu nggak bakal tahu kalau kita pelakunya, kan?” Gina, Mia, dan Sherly saling bersahutan menyuarakan kegelisahan mereka.
“Trust me... Mami aku juga lagi terdesak harus segera nemunin pelakunya. Kita karang aja kesaksian palsu, terus kita laporin bareng-bareng,” jawab Lidia soal ibunya yang tak lain adalah Kepala SMAN 21.
Keesokan harinya, Dona dipanggil menghadap Kepala Sekolah bersama sang ibu. Tanpa tahu-menahu soal detail alasan pemanggilan, mereka pokoknya diminta untuk datang ke ruangannya jam tujuh pagi. Awalnya, sang Kepsek menyambut Dona dan ibunya dengan ramah. Mereka dipersilahkan duduk dan dibuatkan teh hangat. Perilaku ini jelas membuat Dona jadi canggung dan curiga terkait apa yang akan terjadi di ruangan sempit ini.
Benar saja, setelah ramah-tamah dan formalitas disudahi, sang Kepala Sekolah tiba-tiba menunjukan maksud aslinya. “Alasan saya memanggil Ibu dan Dona hari ini, adalah karena saya butuh pengakuan dari Dona... Kamu yang ngunci Rio di toilet Jumat lalu, apa itu benar?”
“Saya...? Saya yang ngunci Kak Rio? Hah? Ibu dengar ini dari mana?”
“Mohon maaf Bu, tuduhan barusan ke anak saya, apa buktinya ya? Saya bisa bersumpah kalau Jumat lalu waktu kejadian, Dona di rumah,” tambah sang ibu membela putri sulungnya.
“Saya dapat laporan. Ada empat laporan dari sesama murid yang melihat aksi Dona di tempat dan waktu kejadian. Demi kerahasiaan, saya hanya bisa menunjukan salinan laporannya. Tapi nama para pelapornya, saya tidak bisa ungkap,” jawab sang Kepala Sekolah sembari mengambil empat lembar kertas HVS yang penuh tulisan dari atas sampai bawah.
Begitu Dona dan ibunya membaca laporan-laporan itu, mereka langsung tahu kalau semua yang tertulis hanyalah karangan belaka. Meski detail keempatnya tidak sama persis, tapi rincian kejadian di mana, ‘Dona menunggu di kantin sampai sore, mencuri kunci toilet, dan menguntit Rio sampai selesai rapat’ jelas sangat mengada-ngada. Parahnya, Dona bisa tahu siapa saja penulis laporan fiktif ini dari tulisan tangan mereka. Tak pernah dia sangka, ternyata perundungannya bisa sampai ke titik yang seperti ini.
“Ini... ini semua fitnah Bu! Apa Ibu punya buktinya?!” Bantah Dona dengan ngotot.
“Masa gini cara sekolah menentukan pelaku? Cuma berdasarkan laporan tertulis, yang padahal bisa dibuat-buat. Betul kata Dona, kalau Anda punya buktinya, kami mau lihat, Bu!”
Namun keputusan sudah bulat. Karena tuntutan untuk menghukum pelaku serta tekanan ke ranah hukum, Kepala Sekolah tidak mau pikir panjang dan repot-repot mencari bukti. Ketika putrinya menyodorkan cerita fiktif dengan alibi yang dibuat-buat, dia langsung menganggap kesaksian itu akurat tanpa perlu diusut kebenarannya. Dona harus jadi kambing hitam. Mau tidak mau, dia harus dikorbankan demi reputasi sekolah ini, atau lebih tepatnya... reputasinya sendiri.
“Saya mohon maaf. Tapi karena kejadian ini, Dona harus saya beri sanksi yang sangat amat tegas,” ucap Kepala Sekolah dengan mantap meski hatinya sadar yang ia lakukan ini keliru. Dona dan ibunya terpaku diam, menyaksikan dengan rasa kesal tercampur putus asa bahwa Kepala Sekolah di hadapan mereka kemudian berkata, “saya mohon maaf... Dona harus saya keluarkan dari sekolah! Mulai hari ini, dia tidak bisa melanjutkan studinya di SMA Negeri 21.”
Mereka berdua termangu membisu mendengar keputusan itu. Mata mereka terbelalak, bibir mereka terbuka sekian senti, raut wajah kosong bercampur kecewa tergambar sangat eksplisit. Perasaan tersentak bak disetrum dalam dada mereka tidak bisa digambarkan. Bisa-bisanya seorang murid di-DO tanpa alasan jelas, belum lagi, padahal pelakunya adalah orang lain. Ruangan kecil itu lalu menjadi sunyi beberapa detik, sampai tidak lama kemudian... tangis Dona pecah. Dona menangis sejadi-jadinya.
“Bu! Ibu ini Kepala Sekolah macam apa?! Masa bisa Anda mengeluarkan murid tanpa bukti yang kuat?! Sistem macam apa ini?!” Tak peduli sekeras apapun ibu Dona melawan, sang Kepala Sekolah tidak ada niatan untuk mengubah keputusannya, yang penting kasus ini bisa segera beres.
Selagi ibunya mendebat keputusan barusan, Dona tidak bisa merespon apapun selain meraung tersedu-sedu. Hatinya hancur lebur menerima fakta kalau kehidupan sekolahnya berakhir begitu saja karena pelanggaran yang tidak pernah dia lakukan.
Merasa perdebatan buntu dan hanya makin memperkeruh emosi, sang ibu mengajak putrinya untuk bangkit berdiri dan keluar ruangan Kepala Sekolah. “Sayang... Mama di sini, nak. Kita pulang aja, ya,” bisik sang ibu yang tidak kalah remuk hatinya dan kalut pikirannya. Meski sudah beranjak dari kursi, air mata Dona masih mengalir deras. Kedua matanya yang banjir air mata dia tutupi dengan telapak tangannya. Namun meski pandangannya tertutup, begitu dia keluar dari ruangan Kepala Sekolah, dia bisa lihat jelas wajah siapa yang tampak dari ekor matanya. Itu adalah wajah Lidia.
Dari tadi, nampaknya Lidia menguping pembicaraan ibunya. Begitu matanya berpapasan dengan Dona, dengan ragu-ragu dia berkata, “Dona... sorry.” Anehnya, ekspresinya terkesan seperti orang terkejut dan terpukul. Dona tidak bisa mengerti apa niatan di balik kata maaf barusan. Apa itu hanya ejekan, atau memang permohonan tulus. Entah manapun itu, sejujurnya Dona tidak peduli lagi.
Yang dia pedulikan dan tahu pasti, ini adalah kali terakhir dia menginjakan kaki di sekolahnya. 8 November 2022, pukul delapan pagi, dengan hati yang patah dan berat, Dona melangkah keluar dari gerbang SMAN 21 dan tak pernah kembali lagi.
Other Stories
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Deska
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Testing
testing ...
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...