Susur

Reads
522
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 13.PENGAMEN BUTA



Pagi merangkak naik. Sinar keemasan membias pada birunya cakrawala. Memantul lembut ke permukaan air sungai yang tenang.

Dari kejauhan terlihat beberapa jukung kecil nelayan pencari udang terapung-apung di tengah sungai. Kapal tongkang raksasa penuh muatan emas hitam sedang bergerak pelan ke arah hulu. Sebuah speed boat tiba-tiba melintas dengan kecepatan penuh, membelah ruas sungai, menyisakan gelombang besar sesaat. Jukung-jukung kecil yang tertinggal seketika oleng, terombang-ambing.

Mamat terlihat duduk di pojok bangku sebuah warung tenda. Hatinya merasa terhibur menyaksikan suasana sungai. Kedua sudut bibir bocah lelaki itu membuat lengkung senyum, mata sipitnya kian mengecil.

Baru kali ini Mamat menyaksikan lalu lintas sungai yang begitu luas. Desa Tambak Kurihing hanya memiliki anak sungai kecil, tidak pernah ada speed boat yang melintas. Bocah itu berangan-angan suatu saat bisa merasakan berada dalam speed boat yang melaju, bersama Abah juga Ninik.

Mamat beserta dua pemuda berandal kampung kini sedang menunggu kedatangan kelotok sewaan di sebuah warung tenda , dekat dermaga. Budget yang terbatas membuat mereka memilih jalan lewat jalur sungai.

Sebuah motor bebek lewat pelan di depan mereka, lalu berhenti dekat pohon ketapang. Seorang perempuan paruh baya mengenakan kacamata hitam dituntun turun dari boncengan motor oleh laki-laki yang membawanya. Dari gestur tubuh, perempuan itu seorang tuna netra. Sebelah tangan tampak memegangi tongkat kayu.

Dia kemudian duduk pada sebuah bangku, menghadap jalan masuk dermaga. Si laki-laki yang membonceng tadi terlihat sibuk menata sebuah tape recorder.

Beberapa saat kemudian terdengar musik dangdut yang menghentak. Lagu Sambal Lado-nya Ayu Tingting. Ternyata perempuan berkaca mata hitam seorang pengamen. Suaranya lumayan bagus. Bagai terhipnotis, tubuh Ipan yang masih duduk dalam warung langsung megal-megol menikmati irama.

Lelaki yang mengantar lalu pergi, meninggalkan perempuan pengamen sendirian. Beberapa orang yang lalu-lalang terlihat mulai memasukkan recehan ke dalam sebuah kaleng kosong milik si pengamen. Memang suaranya empuk dan renyah. Tak kalah bagus dari penyanyi asli.

"Haaah, hasseeek!" pekik Ipan. Kedua jari jempol spontan naik, lalu bangkit dari bangku.

Tanpa malu-malu, pemuda kurus berambut ikal sebahu itu, bergoyang dengan kedua jempol di atas kepala. Beberapa pengunjung warung dibuat menahan senyum melihat tingkah konyol Ipan. Begitu juga perempuan pemilik warung, yang telah membantu mereka memesankan kelotok lewat telepon. Kapal kelotok kini sedang dalam perjalanan menuju dermaga.

"Pan, kau mau ke mana?" tegur Ali, melihat kawannya semakin bergerak maju keluar dari warung. Lagu itu seakan sebuah magnet, yang mampu menarik kuat tubuh Ipan untuk segera mendekat.

"Sebentar lagi kelotok datang, Pan. Kau jangan ke mana-mana!" teriak Ali lagi, mencoba mengingatkan.

Namun, Ipan tidak peduli. Dia sangat menikmati suara si pengamen tuna netra. Kedua tangannya kini membuat gerakan seperti orang yang sedang berenang ke arah rindangnya pohon ketapang.

Musik dangdut dengan irama menghentak itu terus mengalun. Ipan kini sudah sampai di hadapannya, berjoget maju-mundur mirip setrikaan panas. Semakin ke sini, pemuda jangkung itu semakin mendekat ke bangku kayu, tempat si pengamen sedang duduk dengan kedua kaki menjuntai.

"Heh, mau apa kau?!" bentaknya pada Ipan yang sudah sangat dekat. Dia berhenti bernyanyi, tombol mike pun gegas dimatikan.

Tersentak kaget si Ipan, tidak mengangka bakal disapa. "Numpang joget, Cil. Lagunya enak bangat."

"Balikin!" Bola mata di balik kaca mata gelap itu melotot lurus ke depan.

"Apanya yang dibalikin?" Mulut Ipan membulat.

"Duit! Kau sudah mencuri duitku," ketusnya, dengan kedua alis bertarung. Ekor mata melirik ke Ipan.

"Aiih, Acil tak butakah sekalinya?" Ipan menatap lekat, mengibas-ngibas satu tangan ke depan wajah pengamen itu.

Kalau benar buta, mana mungkin bisa melihat duitnya sudah kuambil? Ipan membatin.

"Hmh ...." Mulut si pengamen mengatup geram. "Bukan urusanmu! Cepat kembalikan duitku!"

"Astaghfirullah, Cil, pian sudah bohong sama orang-orang, pura-pura buta. Itu namanya menipu. Menipu itu dosa, duitnya haram. Tobat gih, Cil!" petuah Ipan, sok suci.

"Balikin tidak?!" ujarnya lebih keras, dada turun naik menahan emosi.

"Enak saja! Tak mau, weeek!" Mimik Ipan terlihat sangat menyebalkan.

"Kupukul kau!" desisnya, gemas.

"Eits!" Ipan gesit berkelit, ketika tongkat kayu milik si Acil pengamen melayang ke arahnya.

Plukk! Plukk!

Buah-buah ketapang yang berserakan di sekitar bangku kayu dilempari ke tubuh kurus Ipan.

"Hihihi, tidak kena-tidak kena ...." Ipan malah terkikik-kikik cengengesan, lalu berlari cepat kembali ke warung tenda.

"Awas kau! Dasar bungul!" umpat si pengamen dengan suara tertahan. Tidak menyangka hari ini akan mendapat sial bertemu dengan manusia tengil.

Pengamen perempuan itu tidak bisa berbuat banyak, selain mendengkus kesal menahan emosi yang menggelegak. Tidak mungkin dia berteriak minta tolong atau pun mengejar pemuda bengal itu. Bisa-bisa kedoknya selama ini akan terbongkar. Tambah kacaulah semua.

Jika hanya mengandalkan suara bagus serta tampang yang pas-pasan, orang lain tak akan tersentuh menyisihkan receh ke dalam kaleng uang. Dia sudah pernah mencoba itu. Mengamen biasa tanpa menjual kekurangan fisik. Hasilnya nihil, tidak akan cukup untuk bertahan hidup. Dengan berpura-pura menjadi tuna netra, mereka yang melihat akan mudah merasa iba.

Gegas dia hidupkan lagi pengeras suara pada genggaman tangan, saat ada beberapa orang yang akan lewat. Menyanyi lagi. Masih lagu yang sama 'Sambal Lado."

Pemilik kelotok yang ditunggu akhirnya muncul juga, bersama satu orang kawannya. Setelah saling berkenalan, Ali menunjukkan sebuah alamat tujuan yang tertera pada kertas milik Mamat. Kening sang motoris kelotok seketika berkerut ketika membaca.

"Maaf, Sanak, terus terang aku tak bisa mengantar kalian," lugasnya, seraya menyerahkan kembali kertas ke tangan Ali.

"Apa maksudmu bicara begitu, hah?! Kami sudah menunggumu berjam-jam di sini. Ada-ada saja kau buat alasan." Warna muka Ali sontak merah padam. Tidak terima orang itu membatalkan sepihak.

Sebelumnya Ali dan Ipan sudah berkeliling dermaga mencari kelotok yang bisa disewa. Tapi, seakan kompak, pemilik kelotok yang ditemui selalu menolak dengan alasan tak jelas.

"Sekali lagi maaf, Sanak. Aku tak ada maksud apa-apa," ucap orang di hadapan Ali, dengan nada sopan.

"Bukankah sejak di telepon kita sudah sepakat?! Lalu kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran?!" geram Ali, meledak-ledak.

To be continued....

Catatan kaki :

Acil = tante



_______________________________



Other Stories
Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Osaka Meet You

Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...

Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Download Titik & Koma