Kita Pantas Kan?

Reads
297
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Diahputri

09. Sebagian Kecil Rumah Kembali

Ayahnya masih diam kemudian digandeng paksa bundanya kia untuk segera masuk ke kamar askia untuk melihat keadaan kia, "kia..." Ucap bundanya, melebarkan matanya setelah melihat askia mengarahkan pisaunya ke lehernya.

"Kia bunda mohon jangan lakukan itu?" Bundanya masih berusaha menenangkan kia.

"Tidak,lebih baik aku berakhir sekarang daripada harus hidup selamanya dengan orang yang sama sekali tidak cocok untuk ku." Jelas kia masih mengancam orangtuanya.

"Lepaskan itu, jangan lakukan hal konyol ini,kia..." Pekik tegas Ayahnya yang sejak tadi diam akhirnya membuka suaranya, suasana semakin menegangkan, keringat semakin mengucur di dahi kia bercampur dengan emosinya yang sangat terasa nyata.

" Jika kalian masih sayang aku,maka cegah pernikahan ini,aku masih bisa cari yang lain yang lebih pantas untuk ku, yang lebih bisa memahami ku."

"Kia... dengarkan kami.." sahut bundanya.

"Tidak, maaf jika aku terkesan membantah tapi,kalian sudah cukup berbicara ini waktunya aku, seorang anak yang menyimpan seribu pertanyaan yang tidak bisa di utarakan, sudah cukup aku diam aku capek yah...Bun,kalian tidak pernah mau mengerti aku kalian tidak pernah mau untuk mendengarkan pendapat ku sebentar saja, apakah kalian pernah memikirkan itu? " Askia semakin tergulung dengan rasa amarah dan kesedihan nya.

"Pernahkah kalian berpikir bahwa seorang anak juga hanya manusia biasa yang lemah, yang dirinya setiap saat butuh tangan orangtua, butuh dukungan, butuh ruang, begitupun juga dengan aku,aku capek Bun,banyak dari perkataan mereka yang sangat menyakiti hatiku tapi kalian abai, seolah kalian hanya mendengar kan mereka, apakah tolak ukur kebahagiaan itu di ukur dari omongan orang orang ha?" Ita,Diah,dan shreya yang mendengar itu ikut merasakan betapa campur aduknya diri askia saat ini bisa mengeluarkan semua unek uneknya.

"Askia, tolong dengarkan bunda,bunda sayang kepada kamu kia." Bundanya berusaha mengambil pisaunya tapi itu tidak akan bisa.

Sementara ayahnya hanya diam dengan tatapannya yang mulai iba dan terbayang bayang masa kecil putrinya yang ceria dan bahagia dimana saja itu hanya bermain yang ia lakukan,tapi sekarang... ayahnya lupa bahwa meskipun putrinya itu sudah besar tapi tetap membutuhkan sosok orangtua yang lembut yang hadirnya full,sosok yang wajib mengisi tangki cintanya kepada anaknya,tapi kenapa semuanya bisa menjadi begini? Karena semua itu diluar dugaannya, mereka pikir kia baik baik saja karena diamnya selama ini dan menurut,dan itu yang menjadi kan mereka buta akan kebutuhan askia.

"Jika kalian memang sayang sama aku,maka hentikan aksi ku ini,tapi tolong batalkan rencana pernikahannya, akhirnya aku memohon Kepada kalian setelah belasan tahun yang lalu, yang dulu merengek meminta jajan, sekarang aku menangis untuk hal yang akan menentukan masa depan ku ini ." Jelasnya sambil tersenyum dengan masih mengeluarkan air matanya.

ayahnya masih diam dengan mata yang berkaca kaca sementara bundanya terduduk sambil menatap askia yang berantakan itu, tidak kunjung ada jawaban dari orangtuanya askia berniat melakukan nya,bukan karena akting kali ini ia benar benar ingin melakukannya setelah mengeluarkan unek unek nya tapi mereka Masih diam, askia mulai mendekatkan pisaunya ke lehernya,

Ita yang melihatnya samar dari balik gorden itu ikut merasakan menjadi askia,ia membungkam rapat mulutnya karena ia sedang menangisi kia, apakah sahabat nya itu benar benar akan melakukan itu,ia tidak akan rela jika ternyata benar,dan ia akan merasa bersalah karena sudah menyarankan hal senekat itu.

Pisaunya semakin mendekat ke leher askia,kini kulitnya mulai merasakan gesekan dengan benda tajam itu,dengan sigap ayahnya segera menepis tegas pisau itu hingga terjatuh, kemudian ayahnya langsung memeluk askia.

Pelukan itu... yang askia rasakan terkahir terjadi delapan tahun yang lalu,kini ia benar benar bisa merasakan nya lagi,ia menangis sejadi jadinya, ternyata orangtuanya memang masih sayang dengannya tapi ego mereka yang besar itu sudah mengalahkan nya,lalu bundanya ikut memeluk askia.

"Maafkan kami nak,kami bahkan tidak pernah bertanya apakah putrinya baik baik saja atau tidak selama ini, yang kami lihat hanyalah tawa palsumu yang nyaris nyata itu, karena seringnya mendengar bisikan bisikan orang luar kami menjadi buta sampai lupa membangun pondasi yang lebih kuat denganmu." Desis ayahnya kemudian melepas pelukannya.

"Iya kia,bunda juga minta maaf sebagai tali dan cahaya rumah yang harusnya mengingatkan malah ikut terpengaruh." Sahut bundanya, mendengar itu kia akhirnya bisa tersenyum haru.

"Ternyata kalian masih sayang sama aku." Ucap askia.

"Tentu saja, baiklah kalau gitu ayah akan membatalkan pernikahan itu, masalah jodoh kamu itu biar menjadi urusan Tuhan, biarpun itu lama masih ada kami sebagai orangtua yang akan selalu setia menemanimu nak " jelas ayahnya tersenyum seraya mengelus rambut kia.

"Iya kia sekali lagi karena kamu bunda belajar,kamu anak pertama dan anak satu satunya,kami sebagai orangtua baru pertama kali memiliki mu sebagai anak yang menjadi tanggung jawab kita,bunda awalnya tidak mengerti segala hal tentang mengasuh anak, sampai kamu sendiri yang menjadi mengajar kan semuanya untuk bunda,setiap kesalahan yang kami ataupun kamu buat itu akan selalu menjadi pembelajaran nak,kamu tidak harus buru buru untuk memutuskan rencana pernikahan,mulai sekarang askia harus fokus kepada diri sendiri dulu masalah jodoh itu nyusul, selama ada bunda disini kamu tenang aja kia." sambung bundanya,askia akhirnya merasa lega masalah ini bisa tuntas,

mereka saling berpelukan lagi,lalu Ita keluar dari balik gorden dengan suara tepuk tangan nya yang lantang.
"Wow... sungguh kisah yang akhirnya indah." Ujar Ita lalu disusul Diah dan shreya,ayah dan bundanya askia terkejut melihat mereka keluar satu persatu.

"Selamat malam om Tante, selamat kalian sudah berhasil menghadapi tantangan hidup yang kadang terasa menjengkelkan itu." Sambung lagi Ita.

"Loh kalian..."
"Iya Bun, mereka lah yang merencanakan semuanya." Jelas kia tersenyum penuh semangat.

"Maaf om,kita jadi ikut campur masalah keluarga kalian." Ujar Diah.

"Iya om maaf,tapi kita sebagai sahabatnya askia tidak akan bisa melihat hidup kia berubah begitu saja, apalagi dia kelihatan tidak bahagia dengan rencana pernikahan itu." Sahut shreya.

"Iya nggapapa,om seneng kalian bisa menyadarkan kami dengan cepat sebelum semuanya terlambat."

"Yaa... seperti inilah, terkadang orangtua tidak sadar akan kesalahannya,tapi kalian hebat bisa membuat situasi ini berubah mengharukan." Celetuk bundanya kia seraya mengambil air.

"Yaudah kalau gitu kalian bisa main sebentar sebelum jam sembilan." Ucap ayahnya kia kemudian meninggalkan mereka, sementara mereka beranjak keluar rumah untuk mencari udara segar.

Other Stories
Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Autumns Journey

Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...

Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Bekasi Dulu, Bali Nanti

Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...

Download Titik & Koma