Separuh Dzarrah

Reads
1.6K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
Penulis Amri Evianti

9. Di Perpustakaan Aku Bertemu

Aku memutuskan ke perpustakaan hari ini, pastinya aku mencari buku yang beraromakan akuntansi. Walau bagaimanapun nilai impian yang sudah kubuat, harus kuwujudkan seluruh kemampuanku. Setiap hasil terbaik pasti ada yang harus aku bayar untuk merengkuhnya. Cemoohan hari lalu telah membuatku terpacu untuk menjaga diriku sendiri, menghargai diriku sendiri, mencintai diriku sendiri. Walau bagaimanapun aku adalah warisan dunia yang hanya ada satu di dalamnya.
Rak buku perpustakaan berjajar rapi, beberapa siswa tampak frustasi di dekat rak buku, mungkin begitu sulit menemukan buku pilihannya. Setelah menunjukkan kartu anggota perpustakaan aku segera mencari rak buku berlabelkan akuntansi. Beruntung aku masih bisa menyelinap di antara kerumuman orang-orang di sekitar.
Mata kupendarkan ke seluruh judul buku akuntansi yang begitu banyak. Lalu tampaklah buku berjudul Konsep Dasar Akuntansi dan Pelaporan Keuangan. Kuraih ia dengan cepat, dan buku menjadi begitu berat. Ketika kucoba untuk menariknya, ternyata saat yang sama ada yang mengambil buku ini juga.
“Aku duluan,” sergah laki-laki itu. Kami saling menatap dan berebut, saling tarik buku.
“Lepaskan nggak?” ancamku.
“Kalau aku nggak mau?” balasnya seolah ia yang akan menjadi pemenangnya. Setelah kulihat dengan cermat. Oh Tuhan, dia ketua OSIS sekolah ini. Secepat kilat tangan kulepaskan dari buku tebal tersebut. Ia beralih, aku membuntutinya.
“Kak, tolong pinjamkan bukunya untuk saya,” aku membujuknya dengan bahasa formal.
“Aku juga lagi butuh buku ini!” tolaknya sambil menuju tempat duduk perpustakaan. Aku duduk tepat di hadapannya. Hidung mancungnya terlihat begitu jelas, sedangkan matanya begitu tajam. Rambut cepaknya mirip potongan angkatan darat atau sejenisnya, begitu pas untuk wajahnya. Ah mengapa aku jadi mengamati wajah mengagumkan itu. Aku menujukan pandangan pada sampul buku akuntansi tersebut, parahnya lagi buku itu satu-satunya yang tersisa di lemari perpustakaan. Saat aku masih menatapnya, ia kembali merebut kesempatanku. Matanya merebut hatiku, aku tak sanggup, tanpa komando kepalaku tertunduk, ada yang berdentum keras di dalam hatiku. Jika ada speaker, niscaya akan berbunyi begitu keras.
“Kak, saya benar-benar butuh buku ini. Saya sama sekali belum pernah belajar akuntansi sebelumnya,” ia berhenti dari aktivitas membacanya dan menatapku seraya membenahi kacamata minusnya yang agak melorot. Meski begitu hidung itu tetap bisa menyangganya.
“Maaf ya, aku kan sudah mengajarimu. Dan aku tak bisa memberikan buku ini padamu,” tolaknya sekali lagi. Aku tidak pernah berpikir akan ada orang sepelit dan sekeras ini sebelumnya. Bel mengagetkanku, tentunya menghentikan perjuanganku mendapatkan buku akuntansi itu sebelumnya. Namun, sebelum aku kembali ke kelas, kutarik buku milik Zaidan yang sempat ia letakkan di meja saat ia merapikan peralatan belajarnya. Akupun berlari secepat kancil menuju meja peminjaman buku. Aku tidak bisa diam, lagi pula kita bersamaan tadi memegangnya. Siapa yang bisa membawa buku ini sampai garis peminjaman buku itu artinya ia pemenangnya, itu yang aku pikirkan. Lagi pula dia harusnya mempunyai moto ladies first, artinya wanita didahulukan. Apalagi dia sudah kelas tiga, sudah pasti buku ini lebih dibutuhkan aku daripada dia. Aku tidak berdosa bukan?
***
Kitab Nahwu untuk kelasku memakai Kitab Matan Al Jurrumiyah atau labih dikenal dengan Kitab Jurmiyah. Kitab ini salah satu kitab dasar ilmu nahwu, di dalamnya membahas hampir keseluruhan ilmu nahwu. Ilmu nahwu sendiri dipelajari agar santri bisa mengetahui dasar membaca kitab yang tidak ber-haraokat dan memaknainya, atau lebih dikenal dengan kitab gundul. Kitab jurmiyyah ini dikarang oleh ahli bahasa dari Maroko, yakni Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud Ash-Shanhaji alias Ibnu Ajurrum.
Hal yang pasti dilakukan dalam mempelajari kitab ini adalah hafalan. Malam ini pelajaran kitab ini akan diampu langsung oleh Ustaz Khoirun, putra pertama dari Abah Kyai. Setiap malam harus ada hafalan yang kami setorkan. Sudah sejak bakda asar aku mengulang hafalan, namun ada saja yang terlupa.
Kami sudah berkumpul di mushola bawah. Kelas masih digabung dengan santri putra. Kelas diberi penghalang menggunakan kain (satir) agar antara santri putra dan putri tidak bisa saling pandang. Sedangkan meja ustaz berada di antara satir santri putra dan putri. Aku duduk paling belakang kelas, berusaha menyembunyikan diri agar tidak menjadi sasaran pertama jatah hafalan.
Kelas dimulai, santri putri tampak sedikit ricuh aku tak tahu apa yang terjadi, karena aku masih menyembunyikan diri di balik badan Mbak Juwai yang sekelas denganku.
“Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh…” terdengar suara salam membuka mengaji malam. Tapi ada yang berbeda, itu bukan suara Ustaz Khoirun. Ternyata gus lainnya menjadi badal (ganti), karena Ustaz Khoirun ada acara pengajian di luar pesantren. Aku pernah mendengar bahwa Kyai kita bukan milik santri saja, namun milik semua umat, jadi jika kyaimu menebar ilmu di luar pesantren itu artinya beliau memberi manfaat untuk banyak orang.
Putra kyai juga jarang yang belajar sendiri di pesantrennya, kebanyakan dari mereka akan dikirim ke pesantren lain untuk menuntut ilmu. Alasannya aku pun tidak tahu, mungkin agar putra kyai bisa lebih bersungguh-sungguh ketika mondok di pesantren lain. Ini spekulasi jawaban yang kubuat sendiri. Lagi pula aku belum pernah tanya kyai langsung kenapa putra-putranya tidak mondok di pesantrennya sendiri.
“Ayo hafalan dari anak putra, berurutan dari depan!” terdengar suara yang seperti suara seseorang yang kukenal. Ah tapi siapa? Aku masih komat-kamit memperlancar hafalan. Kenapa aku malah semakin bingung dalam mengulas hafalan. Satu per satu anak laki-laki berdiri karena tidak bisa ataupun tidak lancar hafalannya.
Aku biasanya jadi punggawa kelas ini. Segala macam hafalan bisa aku taklukan. Berhubung banyak yang harus kulakukan di sekolah jadi hafalan malam ini sepertinya aku akan menjadi patung berdiri selama pelajaran.
“Putri, mulai dari belakang hafalannya!” gus yang tidak kutahu siapa memerintah dari arah belakang. Parahnya aku berada di pojok meja lesehan. Semua santri putri memandangku, artinya aku harus menjadi yang pertama dalam mengerjakan tugas ini. Terpaksa aku pun harus lakukan, badan yang hanya memilik berat badan 46 kilo ini kuangkat. Muka tak kutunduk setunduknya menuju bumi. Jika bisa aku ingin masuk ke dalam bumi saja jika bisa.
“Karima, mau hafalan atau tidak?” gus itu menyebut namaku. Aku pun bingung mengapa beliau bisa tahu namaku. Sedang nama santri putra tadi saja tidak disebut, saking banyaknya santri. Perlahan kuangkat dagu dan melihat gus yang membadali ngaji malam ini.
Tampak gus berkacamata, mengenakan songkok berwarna putih. Baju koko berwarna laut, dipadukan dengan sarung yang sepadan dengan bajunya. Ya Allah itu Zaidan, bagaimana dia bisa menjadi gus pesantren ini? Apa dia seperti Cinderella yang bisa menjadi gus dalam semalam, lalu selama ini? Seseorang yang membuatku diperalat adalah gus-ku sendiri. Aku memilih mematung dan tidak menyetorkan hafalanku, semuanya hilang direnggut seseorang yang berubah jadi ustazku malam ini. Mungkinkah seseorang yang hampir kutabrak adalah dia?
Aku masih terheran-heran bagaimana Zaidan bisa berubah jadi gus pondok yang kini kutinggali. Atau aku tidak peduli keadaan yang sebenarnya. Sepertinya aku harus menghentikan aktivitasku yang melibatkan dengannya. Lalu tugas-tugas mengetikku? Yang setiap hari aku ketik di lab komputer juga harus aku serahkan. Nanti siang adalah kesempatanku untuk keluar dari program ini.
Aku yakin jika aku sudah ada perkembangan dalam pelajaran komputer aku akan dizinkan untuk tidak melakukan pelajaran tambahan komputer. Aku bergegas menuju kantor, menemui Pak Kiman dan mengutarakan bahwa aku sudah tidak perlu belajar tambahan lagi. Aku akan buktikan, bahwa aku bisa melewati masa-masa berat ini. Akupun telah mendapatkan banyak teror terkait kedekatanku dengan Zaidan, dan itu sudah membuatku ingin berhenti sejak lama. Namun hal tersebut kuurungkan karena memang aku masih harus belajar. Namun jika ini urusannya berhubungan dengan keluarga pesantren. Aku harus berhenti.
“Pak, saya ingin belajar tambahan komputer tidak dilanjutkan. Sedikit banyak saya sudah mengerti dasar-dasar pengoperasian komputer,” aku meminta pada Pak Kiman, tampak keraguan di wajah beliau.
“Kamu yakin Karima? kesempatan ini tidak semua siswa dapatkan. Lagi pula untuk membuat Zaidan mau itu juga tidak mudah” beliau mencoba meyakinkanku.
“Saya sudah yakin Pak, saya berjanji akan belajar lebih bekerja keras,” aku pun mencoba meyakinkan beliau.
“Baiklah jika kamu memaksa. Kamu hanya cukup mengomunikasikannya dengan Zaidan pada pertemuan nanti siang.”
Aku hampir berjingkrak di tempat saking senangnya. Sepertinya aku harus segera memutuskan mata rantai menakutkan ini. Meski begitu aku masih sangat takut nanti menghadapi Zaidan saat pelajaran tambahan. Untuk mengurangi rasa takutku, sepertinya salat duha adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.
Sekolah tampak begitu riuh, namun aku tak bisa merasakannya. Banyak orang berlalu lalang. Menatap sinis terhadapku karena perlakukan istimewa, atau sebenarnya tepatnya sebuah penguatan bahwa aku jauh di bawah mereka. Harusnya mereka lebih beruntung dariku. Mereka bisa belajar tanpa ada kesulitan sedikitpun. Jikapun menurut mereka aku beruntung bisa belajar bersama dengan orang paling terkenal di sekolah ini, itu hanya sebatas pandangan mata saja. Mereka tidak bisa menilai, jauh di dalam lubuk hati manusia bukan?
Aku baru mengerti begini kerasnya di dunia persekolahan. Secara tidak langsung aku seolah diajak bersaing, bersaing memperebutkan perhatian laki-laki. Ya, aku masuk dalam lingkup ini. Kupikir ketika sekolah yang kulakukan hanya sekolah dan belajar, namun ternyata ada bagian-bagian yang berhubungan dengan hati. Aku pun dituntut untuk menyelesaikannya dengan baik jika belajarku tidak ingin terganggu. Semoga semuanya mudah, meski aku harus menyerahkan segala kebaikan seseorang padaku.
Aku sudah berada di laboratorium komputer lebih dulu, ya meski harus berlarian dengan waktu. Ina masih menemaniku dengan setia. Laboratorium komputer tidak terkunci karena habis digunakan oleh kelas lain. Semua warga sekolah tahu kalau aku jadi anak didik jadi-jadiannya ketua OSIS sekolah ini. Aneka pandangan tertuju padaku, namun aku akan segera mengakhiri pemandangan-pemandangan yang tidak mengenakkan ini.
Komputer sudah menyala di hadapanku, aku mulai menyelesaikan tugas pengetikan yang Zaidan berikan. Meski belum bisa menggunakan kesepuluh jari, aku sudah dalam kategori lancar mengetik. Ya, itu pun dengan mata tertuju keyboard terus menerus. Jika sudah profesional sepertinya seseorang bisa mengetik tanpa melihat keyboard, karena sudah hafal dengan tombolnya. Seperti Zaidan yang hanya menatap layar monitor ketika mengetik menggunakan kesepuluh jarinya.
Brak!! Zaidan membuka pintu dengan kasar. Ina hampir saja terpelanting dari tempat duduknya. Sedangkan aku sudah paham akan seperti ini, aku tahu dia sudah mendengarnya dari Pak Kiman. Mengapa juga guruku satu ini menyampaikan dulu pada Zaidan. Aku masih tetap fokus dengan tulisan yang kukerjakan, setelah selesai aku akan menyerahkannya pada hari ini juga.
Laki-laki berpostur ideal itu mendekati tempat di mana aku duduk. Sejak tadi dadaku sudah berdentum dengan keras. Sekuat tenaga aku menutupi rasa panik ini.
“Mengapa kamu ingin berhenti sebelum semuanya selesai?” ia berbicara tidak seperti biasanya.
“Tidak ada alasan, kecuali aku memang sudah saatnya menarik diri dari urusan ini,” jawabku tanpa menatapnya. Aku pun masih sambil mengetik.
“Hentikan aktivitasmu!” ia sedikit menaikkan suaranya. Aku menghela napas berat, pun sama dengan beratnya helaannya. Aku tak mengerti dia kenapa. Dulu agak keberatan mengajariku, sekarang aku mau berhenti mengganggunya dia malah banyak tingkah. Kalau bukan karena dia putra kyaiku, pasti aku sudah mengeluarkan aneka ceramah padanya. Sayang aku tak bisa melakukannya. Aneka ceramah bagaimana bisa ia menyiksaku seperti sekarang. Meski penyiksaan ini membuat hatiku gemetaran juga.
“Kita selesaikan sampai akhir!” keputusan sepihak ia lontarkan. Dan aku selalu bingung kenapa makhluk satu itu tidak pernah bisa diajak berdiskusi. Kenapa bisa dia jadi ketua OSIS jika tidak bisa menerima pendapat orang lain?
“Kak, tolong dengarkan saya. Saya sudah mulai lancar belajar komputer, lagi pula saya pasti bisa mengejar ketertinggalan. Selanjutnya, saya tidak boleh terlalu dekat dengan keluarga kyai, terutama njenengan . Dengan alasan, agar tidak banyak masalah yang datang pada saya.”
“Jadi aku hanya menjadi sumber masalah buat kamu?” ia lagi-lagi memotong pembicaraanku.
“Bukan sumber masalah gus, hanya saya sudah tidak tahan dengan aneka gunjingan yang ditujukan pada saya. Apa gus tahu? Semua beranggapan aku mencari perhatian lah, apa lah, dan itu membuat telinga ini sakit,” aku sudah pasrah, entah harus memakai alasan apalagi.
“Mengapa omongan orang kamu pedulikan? Aku hanya ingin melaksanakan amanah dari Om dengan baik. Kalau kamu nggak berhasil,n ama baikku juga yang tercemar.”
“Apa! Nama baik? Jadi hanya karena nama baik?” aku bergegas membalikkan tubuh mengambil semua tugas yang tidak selesai, lalu kubanting keras di mejanya. Aku pergi, sepertinya kesabaranku sudah maksimal hari ini.
***
Welasan mempunyai arti sebelas, nah setiap malam sebelas Jawa, di pondok ada acara zikir bersama dan pengajian yang dihadiri oleh warga setempat. Jamaah pun rata-rata berumur lanjut. Ada beberapa dari jamaah yang pendengarannya mulai berkurang, namun sangat antusias sekali. Pada pengajian seperti ini aku juga menunggu seseorang yang mengunjungiku. Dia adalah ibu dari bapakku, aku memanggilnya bukan nenek, tapi dengan sebutan simbok/mbok. Mbok tinggal bersama pak tuo, sebutan untuk kakek. Ketiga anak laki-lakinya tinggal di Sumatera, salah satunya adalah bapak. Sedangkan ketiga anak perempuannya tinggal di daerah yang sama dengan simbok.
Berulang kali simbok diajak untuk pindah ke Sumatera, namun jawabannya tetap, ia tidak ingin meninggalkan tanah kelahirannya. Tanah yang menyimpan banyak kisah tentang cinta dan perjuangan. Aku sudah menunggunya di balik tirai bambu asrama, dari bangunan tingkat dua ini aku bisa melihat siapapun yang datang dari gerbang, pun juga bisa melihat santri putra berkeliaran.
Aku bisa masuk ke pesantren ini salah satunya karena kedua bulek-ku keduanya mondok di pesantren ini. Ditambah keduanya mendapat jodoh dari sesama santri pesantren ini juga. Jadi aku cukup terkenal di lingkungan keluarga ndalem. Sungguh untuk bisa dikenal oleh keluarga kyai bukanlah hal mudah. Kalau bukan karena anaknya pintar atau kalau bukan anak ndalem akan sangat sulit dikenal. Satu pilihan agar bisa dikenal, buat masalah dan tunggu hasilnya, haha.
Nah anak ndalem sendiri merupakan santri yang mengabdikan diri membantu seluruh kebutuhan kyai. Dari memasak, mencuci, bersih-bersih dan masih banyak lagi. Anak ndalem pun dibebaskan dari biaya bulanan. Biasanya tugasnya pun dibagi-bagi pada setiap anak ndalem. Kriteria menjadi anak ndalem pun tidak sama, ada karena masalah biaya atau karena kyai menyukai akhlak santri tersebut hingga ia dijadikan anak ndalem. Namun rata-rata anak ndalem karena masalah pembiayaan. Jadi dalam sebulan, Abah Yai bisa mengratisi anak ndalem kurang lebih 50 santri. Jika dikalikan dengan 350.000 sebulan, sudah berapa banyak uang yang disedekahkan?
Anak ndalem dituntut mempunyai sikap atau akhlak yang baik, dia ibarat orang yang menghambakan diri pada tuannya. Namun, artinya tidak disamakan dengan menghambakan diri pada gusti Allah. Semua santri ndalem harus patuh apapun yang disampaikan abah dan umi. Tak ada ruang untuk bernegosiasi, meski sebenarnya semua santri tanpa terkecuali juga harus melakukan hal ini.
Suara ngaji seseorang memenuhi setiap ruangan tempat ini, aku masih menunggu simbok yang belum juga muncul. Mungkinkah simbok melewati jalan lain? Sebelum aku beranjak, ada sebuah mobil menuju gerbang pondok. Penasaran juga, akhirnya menunggu siapa yang turun, nggak mungkin juga sih simbok naik mobil, karena emang nggak punya mobil. Tidak lama setelahnya ada nenek-nenek turun dari sana menggunakan kebaya hijau dan berkain jarik lurik. Sepertinya aku mengenali baju itu, nah lho setelah nenek tersebut tampak keseluruhan badannya, tersembullah simbok dari sana. Bagaimana bisa simbok keluar dari mobil tersebut? Kupicingkan mata melihat siapa gerangan yang berada di bagian kemudi tak jua membuahkan hasil. Mobil sudah menuju parkiran ndalem.
Aku berbalik, menunggu kedatangan simbok di atas tangga asrama. Simbok sangat sumringah menemuiku. Pendengaran simbok juga sudah mulai berkurang karena faktor usia. Tangannya yang mulai keriput kuraih, kucium tangan wanita yang telah melahirkan bapak. Aku dipeluk dan diciuminya, aroma sirih begitu menyengat, namun begitu nikmat.
“Gimana kabarmu, cah ayu?” suaranya ramah menyapaku. Belaian tangannya tak henti mengelus kepala. Kukira aku bakal sendiri di tanah ini, buktinya aku memiliki seseorang di mana darahku teraliri dari darahnya.
“Sehat mbok, simbok apa kabar. Gimana kabar pak tuo?”
“Pak tuo-mu sehat, seperti biasa kegiatan di rumah. Ini ada growol dan kletik kesukaanmu,” aku menerima buah tangan itu dengan senang hati. Meski sebenrnya simbok tak perlu membawakan apapun. Kendati demikian yang namanya nenek, selalu ingin memberikan sesuatu untuk cucunya, akupun menerimanya. Tidak mungkin juga menolak pemberian simbok.
Sebenarnya aku lebih suka klethik daripada growol. Klethik sendiri merupakan makanan berbahan dasar ubi kayu. Klethik julukannya bervariasi, ada klanting, ada lanting dan mungkin kalian mempunyai julukan sendiri. Klethik ini berbentuk lingkaran kecil mirip karet gelang namun berisi, modelnya bermacam-macam, ada yang seperti angka delapan atau bundaran saja. Klethik pun beraneka rasa, ada rasa original, rasa keju, pedas maupun bawang. Dari semua rasa tersebut aku paling suka rasa bawang.
Growol pun berbahan dasar ubi kayu yang direndam berhari-hari hingga mengeluarkan bau tidak sedap. Direndam dengan air bersih dan setiap hari harus diganti. Agar tekstur growol dan rasanya lebih enak, setelah direndam kurang lebih 4-7 hari dan singkong sudah mulai melunak, singkong diperas menggunakan kain atau karung, setelah itu dikukus. Setelah dikukus, ubi yang sudah hancur tadi ditumbuk atau dipadatkan, biasanya simbok menambahkan sedikit garam dan gula merah. Setelah padat, growol dipotong dan siap dinikmati. Makanan ini bisa tahan hingga tiga hari, dan setiap tiga hari tersebut simbok selalu membuat growol di rumah sebagai camilannya. Benar-benar bebas dari bahan kimia.
Namun sayangnya aku kurang menyukai makanan ini, namun berbeda dengan teman yang menjalani puasa ngrowot, yakni puasa yang tidak memakan makanan berbahan padi, jadi growol ini akan menjadi makanan yang mengenyangkan, karena mengandung karbohidrat yang tinggi. Aku pun tak pernah mengatakan bahwa aku tak menyukainya, maka dari itu simbok selalu membawakannya dalam gendongan jariknya.
“Simbok tadi bareng siapa?” sebuah pertanyaan yang hampir saja terlupa.
“Tadi waktu di Sawah Gede ditawari tumpangan sama gus Zaidan, putro Yai,” simbok menjawab sambil mengernyitkan keningnya mencoba mengingat kejadiannya. Ya Allah… apa ini sebuah kebetulan? Aku jadi teringat apa yang dia lakukan padaku hanya karena nama baiknya. Ya tentu saja nama baik seorang ketua OSIS dan putra kyai sebagai taruhannya.
Tuhan
Jika senja tak mampu kupeluk
Biarkan senja memelukku
Jika ada harap yang tak bisa kuubah
Biarkan Engkau yang mengubahnya
Tuhan
Sulit bagiku
Begitu mudah bagiMu
Berat bagiku
Begitu ringan bagiMu
Tuhan
Bukankah tak pantas tuntutanku?
Dari sekian pinta yang kuanggap doa
Dari sekian harap yang ternyata itu paksa
Tuhan
Kasihilah aku, selamatkanlah aku, berkahilah hidupku,
Seperti Engkau mengasihi dan menyelamatkan orang-orang sebelumku.

Other Stories
Bekasi Dulu, Bali Nanti

Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...

Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Download Titik & Koma