Sinopsis
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan dengan cara yang unik. Warung Haji Darsa bukan sekadar tempat ngopi, tapi juga arena perdebatan kocak nelayan, pedagang, mahasiswa, dan ustaz tentang harga cabe, krisis beras, sampai politik negeri yang memanas.
Rahayu, putri pemilik warung, gadis lugu yang diam-diam suka menulis puisi, mendadak dipertemukan dengan Arman, mahasiswa aktivis dari Bandung yang tengah bersembunyi dari aparat. Pertemuan mereka melahirkan cinta sederhana, tapi juga memantik konflik besar antara keluarga, masyarakat, dan situasi politik.
Dari obrolan receh hingga bentrok di jalanan, dari tawa karena ayam kampung masuk warung sampai tangis saat radio mengabarkan tragedi, semua terjalin jadi kisah tentang cinta, keberanian, dan harapan.
Puncaknya, saat suara rakyat menggema dan Soeharto lengser, Warung Kopi Haji Darsa menjelma simbol persatuan rakyat kecil. Di sanalah tawa, air mata, dan segelas kopi menjadi saksi bahwa cinta bisa tumbuh bahkan di tengah gelombang perubahan.
Other Stories
Namaku May
Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...