The Labsky

Reads
487
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
Penulis Windyani

Akhir Yang Membahagiakan

Pukul 22.00 malam akhirnya Papa datang menjemput Key. Wajah Gadis tomboy itu memancarkan aura bahagia. Papa yang masih penasaran kembali bertanya pada Key.
\"Di mana Ane? Apa yang sebenarnya kalian lakukan di rumah besar itu?\" Papa melirik sebentar kemudian memandang ke depan dengan tangan mengemudikan mobil.
\"Genta yang nganter Ane. Kan sudah Key bilang kita-kita itu detektif, Pa,\" ucap Key. \"Aku, Ane dan Genta baru saja menyelesaikan satu kasus,\" lanjutnya riang.
\"Genta siapa?\" Papa memang belum mengenal Genta karena ini pertama kalinya Key memperkenalkan temannya. Alasan lain yang lebih tepat karena mereka belum lama tinggal di Jakarta.
\"Teman sekelas Key. Ngomong-ngomong Papa udah baca kan, kartu nama tim kita?\"
\"Sudah, tapi Papa benar- benar nggak nyangka anak Papa bisa sepintar itu. Jadi kasus apa yang kalian pecahkan?\"
\"Kasus pencurian, Pa. Anehnya pencuri itu sendiri sebenarnya nggak pernah ada.\" Key menjawab santai.
\"Kasus yang aneh, bagaimana bisa kamu tahu kalau pencurinya nggak ada? Kalau gitu, ya nggak perlu diselidiki.\"
“Key berhasil menemukan pencurinya, si pemiliknya sendiri yang memindahkan barang-barang itu atau dengan kata lain si pemilik sengaja melakukan hal tersebut. Dan hampir saja membuat adik iparnya terseret sebagai tersangka. Ya seperti itulah, Pa. Orang itu merencanakan segala sesuatunya dengan baik.\"
Papa tersenyum dan mengusap lembut kepala Key dengan tangan kirinya. \"Anak Papa hebat, Papa harap kalian tidak memecahkan kasus yang membahayakan,\" katanya. Dia pun mempercepat kemudi agar bisa segera sampai di rumah.
\"Iya, Pa,\" jawab Key. Anak itu mengembuskan napas lega. Dia senang karena kasus pertamanya berhasil. Saat ini hal yang paling ingin dilakukannya adalah tidur dengan nyenyak. Tubuhnya benar-benar lelah setelah seharian bekerja keras.
***
Keesokan harinya setelah pulang sekolah, Key, Ane dan Genta berkumpul di markas mereka.
\"Apa kita nggak perlu bertemu ketua tim penyidik itu untuk menjelaskan semuanya?\" tanya Genta sembari sibuk bermain game di laptop kesayangannya.
\"Aku rasa si penyidik sombong itu sudah menjelaskan semuanya,\" jawab Ane.
Genta tak bisa menahan senyum lebarnya mendengar Ane. Anak berambut panjang itu masih saja menyindir penyidik Wisnu. \"Aku rasa kamu nggak perlu sejengkel itu pada Pak Wisnu. Dia cukup membantu kita,\" ucap Genta.
\"Tetap saja, dia orang yang sombong dan meremehkan kita,\" protes Ane.
\"Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa berpikir cepat jika Pak Gozali yang melakukan semua itu, Key?\" Genta kembali bertanya sambil menaikkan kacamatanya yang sedikit melorot ke hidung.
Key mendesah. “Aku juga baru sadar waktu ngomong sama Tisya--anak kecil itu yang mengatakan bahwa Paman Manajer datang dan bicara pada Paman Gozali. Saat itu aku mulai berpikir semua bukti mengarah juga padanya.\"
\"Tapi saat kau menjelaskannya aku tidak bisa menangkap motif kenapa Pak Gozali melakukannya.\"
\"Ya, jika aku tidak ingat ucapan Pak Wisnu tentang penyakit yang diderita Pak Gozali, aku pun tidak seyakin itu. O, ya thanks Ne, semua catatan kamu sangat membantu. Aku akhirnya bisa mengingat semua bukti-bukti itu.\"
“Sama-sama, Key.\" jawab Ane tersenyum tulus.
“Makasi juga Genta, sudah banyak membantu.”
“Ah nggak perlu berterima kasih segala, kita kan satu tim. Punya tugas masing-masing. Benar katamu tadi, Key. Tidak terpikir sama sekali. Aku terlalu cepat mengambil kesimpulan,” kata Genta. \"Aku juga cukup terkejut saat kamu menjadikan bau uang pada brankas sebagai bukti untuk membantah elakan Pak Gozali.\" Genta menatap takjub pada Key.
\"Entahlah, secara tidak sengaja aku tiba-tiba berpikir seperti itu. Aku cuma sering berpikir segala kemungkinan-kemungkinan sekecil apapun.\"
\"Aku bangga padamu, Key,\" ucap Ane. \"Aku sampe terharu melihat tangisan penyesalan mereka, ya seperti itulah seharusnya sikap orang dewasa. Saling memahami kesalahan masing-masing. Aku malah merasa kasihan pada Pak Gozali, penyakitnya bisa saja membunuhnya kapanpun, jadi kupikir sah-sah saja kalau dia berpikir hal-hal aneh.\"
\"Ada satu lagi, menurutmu sejumlah uang yang dilaporkan hilang itu benar-benar rekayasa saja atau dia menyimpannya di tempat lain? Apa kamu tidak menemukannya saat menggeledah kamar Pak Gozali?\" tanya Genta. Dia sangat tertarik dengan detil kasus itu.
\"Aku tidak menemukan apapun, aku rasa dia tidak akan menyimpan uang sebanyak itu di rumah. Paling-paling disimpan di Bank. Laporan itu hanya bualan Pak Gozali semata untuk membuat Hastio ditangkap. Aku hanya ngeri jika hari itu Hastio ditangkap, dia pasti akan mendekam di penjara atas perbuatan yang tidak dilakukannya. Kasihan Tisya.\" Sontak wajah Key berubah murung.
\"Tapi kan dia tidak terbukti mencuri uang, hanya surat-surat itu?\" timpal Ane.
\"Tetap saja, Ne. Bisa saja Pak Gozali membuat nota belanja atas nama Hastio dan menaruhnya di lemari atau tempat manapun di kamar Hastio. Segala kemungkinan bisa terjadi untuk memberatkan hukuman orang lain.\"
\"Kasus ini menarik dan menyenangkan karena kita tidak terlibat dalam bahaya. Jika pencurinya adalah benar pencuri, kita bisa dikejar-kejar, ih ngeri.\" Ane begidik.
\"Tenang aja, kan ada Genta yang jago bela diri. Coba lihat badannya yang jangkung itu! Pencuri itu pasti takut padanya,\" ledek Key.
Genta mendengus. \"Kalian tahu? tubuh jangkung ini cukup mengganggu, nggak ada yang percaya kalau aku masih kelas tujuh es em pe.\"
\"Bukannya bagus, Gent. Kamu nggak akan kayak aku yang selalu dianggap masih anak-anak yang tidak bisa melakukan apapun,\"gerutu Key sambil meniup poninya.
\"Hmm, yang jelas kalian berdua saat ini masih kelas tujuh sekolah menengah pertama dan menurut orang dewasa usia kalian masih anak-anak.\" Ane menekankan.
Mendadak ponsel Key berdering. Dia meraih benda tipis persegi panjang di atas meja.
\"Pesan dari Pak Wisnu. Katanya Pak Prayogo akan mengundang kita untuk makan malam.\"
\"Wah, asyik donk!\" kata Ane senang.
\"Ide yang bagus,\" balas Genta.
\"Dia juga mengatakan bahwa pada akhirnya Pak Gozali memutuskan membagikan sebagian hartanya pada Hastio dan Adam karena dia tidak punya keturunan untuk diwariskan harta kekayaanya,” tutur Key.
\"Bagus sekali,\" jawab Ane dan Genta serempak.
\"Tapi, apa penyidik itu tidak mengatakan bahwa kami tim detektif akan kebagian cipratannya juga?\" tanya Genta tersenyum geli.
\"Ah... Dasar,\" ketus Ane.
Genta memandang Ane dengan tatapan mengejek.\"Ne, kenapa kamu sulit untuk diajak becanda?\"
\"Aku tidak suka mendengar hal-hal yang menurutku tidak masuk akal,\" tegas Ane.
\"Oke baiklah, anak kecil yang sok dewasa!\" ledek Genta lagi.
Ane mendelik lalu berdiri dan memukulkan buku di tangannya ke kepala Genta yang secepat kilat ditepis oleh Genta, membuat kacamata yang dikenakannya hampir jatuh. Anak laki-laki itu pun terkekeh melihat ekpresi marah Ane.
Ane kembali ke tempat duduknya dengan wajah tertekuk kemudian melihat Genta dengan tatapannya yang mengerikan.
\"Jangan menatapku seperti itu, kamu terlihat menakutkan seperti penyihir. Ne.\" Genta tak hentinya membuat Ane kesal.
Key yang menyaksikan tingkah kedua temannya itu hanya tersenyum geli. Dia tidak menyangka tim impiannya itu saat ini sudah nyata terbentuk.
\"Hey kalian berdua, berhenti saling mengejek. Aku ingin menanyakan sesuatu,\" ujar Key.
\"Apa?\"
\"Menurut kalian, Apa kita akan melanjutkan misi kita selanjutnya atau membubarkan tim ini seperti kataku waktu di depan Lab sekolah?\"
\"Bukankah katamu kalau misi kita gagal barulah tim ini dibubarkan, tapi kenyataannya kan kita berhasil berarti kita nggak bakal pisah. Lagipula aku sudah betah di tim ini, apalagi ada si Ane yang aneh ini,\" tukas Genta. \"Pantas saja namanya Ane, dia anak yang aneh.\" Genta semakin tertawa lebar membuat Ane makin jengah.
\"Sudahlah Gen, stop mengganggu sepupuku! Bagaimana denganmu, Ne? Jangan dengarkan ocehan anak jangkung itu,\" sahut Key.
\"Kalau nggak ada aku di tim ini, Genta bakal kesepian dan jadi kakek tua yang hidupnya menyedihkan,\" cibir Ane.
Key tertawa mendengar cibiran Ane pada Genta.
\"Terima kasih, Ne. Aku tersanjung,\" ejek Genta.
\"Baiklah. Aku senang tim ini nggak bubar setelah kasus pertama kita. Rasanya membahagiakan sekali. Semoga kasus yang kita hadapi selanjutnya lebih menarik dan menantang,\" ucap Key.
\"Semoga saja, ngomong-ngomong libur akhir tahun kalian akan kemana?\" tanya Ane.
\"Oh iya, gimana kalau kita liburan sama-sama? Kalian setuju?\"
\"Aku setuju, Key,\" balas Ane antusias. \"Tapi kemana?\"
\"Ke dufan,\" celetuk Genta asal.
\"Udah biasa, gimana kalau kita ke pantai, ke pulau bidadari,\" usul Key.
\"Wah keren, setuju-setuju.\" Ane antusias
\"Sepertinya suara satu orang laki-laki nggak akan ngaruh, aku ikut aja deh,\" desis Genta.
\"Oke, jadi kita liburannya ke pulau bidadari ya. Kita perginya bareng keluarga kita biar rame.\" Key berseru riang. Dia pun menulis rencana mereka di papan whiteboard yang tergantung di dinding.
\"Kalian di sini rupanya, sejak kapan gudang ini disulap jadi rapi?\"
Anak-anak terkejut melihat Mama Key berdiri di pintu gudang dan menatap takjub ke sekelilingnya.
\"Wah ini basecamp kalian? Anak-anak pintar,\" puji Mama Key. \"Dan ini, kalian ingin berlibur ke pulau bidadari? Ide bagus anak-anak. Tante setuju,\" katanya sambil memerhatikan tulisan di papan itu.
\"Iya, Ma,\" jawab Key takut-takut. Mama Key sama sekali tidak tahu menahu soal tim detektif mereka.
\"Apa ini detektif Labsky?\" tanya Mama heran setelah membaca tulisan bagian atas di papan itu.
\"Mmm .. Anu Ma, itu ... Itu nama tim kita,\" jawab Key tersendat-sendat.
\"Oh ... Nama yang keren.\" Mama menjawab dengan santai.
\"Mama nggak marah kan?\"
Ane dan Genta bungkam di tempat duduk mereka masing-masing. Mereka membiarkan Key yang menyelesaikan urusannya sendiri.
\"Enggak, Papa dah cerita semalam waktu kamu udah tidur. Makanya Mama ke sini mau mastiin aja kalau anak-anak hebat ini dalam keadaan baik. Dan ternyata gudang Mama udah disulap rapi begini, Wah ...,\" kata Mama Key dengan suara lembut.
Key mengembuskan napas perlahan karena sedari tadi dia merasa napasnya tertahan sejak mamanya datang.
\"Syukurlah,\" katanya dalam hati.
\"Aku pikir Mama bakalan marah dan ngelarang aku bergabung di tim ini karena aku tahu Mama takut kalau aku terlibat dalam hal-hal membahayakan, tapi Mama nggak perlu khawatir, kami nggak akan menangani kasus yang berbahaya,\" ucap Key meyakinkan.
\"Iya sayang, Mama yakin kalau anak Mama ini hebat dan tangguh,” Kata Mama penuh keyakinan lalu merangkul anak tunggalnya itu. \"Ya sudah, lanjutkan saja rapat kalian ini! Mama pergi dulu. Masih banyak yang harus Mama kerjakan.\"
\"Tunggu, Ma.\"
\"Ada apa sayang?\"
\"Nanti malam Key dan teman-teman diundang makan malam sama Pak Prayogo. Dia Ketua Tim Penyidik di Kepolisian.\"
\"Wow, selamat ya anak-anak! Para Penyidik itu pasti tercengang dengan kehebatan kalian. Baiklah kalian bisa pergi, Papa yang akan mengantar kalian.\"
\"Terima kasih, Ma,\" Key tersenyum semringah.
\"Ane ... Genta ... Tante ke rumah dulu, dan Key jaga baik- baik kedua temanmu.\"
Ane dan Genta serempak menjawab,\"Iya tante.\"
\"Siap, Ma!\" seru Key.
Pandangan mereka terhenti ketika Mama Key sudah berlalu di balik pintu gudang. Key akhirnya bernapas lega lalu menjerit senang, \"Yeay, semua masalah akhirnya beres!\"
Genta dan Ane juga tak kalah bahagia. Mereka tak hentinya membingkai senyum di bibir mereka.
Menjelang sore setelah puas bicara panjang lebar, Ane dan Genta pamit pulang untuk bersiap-siap menyambut makan malam mereka dengan tim penyidik. Tadinya mereka diremehkan, namun saat ini mereka akan dipuji atas usaha mereka.
Key sadar, apapun yang diusahakan dengan sepenuh hati pada akhirnya pasti akan berhasil.
End.

Other Stories
Bekasi Dulu, Bali Nanti

Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...

Mauren Lupakan Masa Lalu

Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Sayonara ( Halusinada )

Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...

Download Titik & Koma