Luka

Reads
238
Votes
7
Parts
7
Vote
Report
Penulis Nanas Elle

Henny

Sejak malam kemarin, mataku seperti dipaku. Tidur tak mau datang, bahkan sampai fajar menetes di jendela. Pikiran ini berkelana kemana-mana, liar, tak beraturan. Kadang gorden di depan mata tampak seperti dewi surga yang menjaga, kadang berubah jadi malaikat bersayap yang mengulurkan tangan, mengajakku terbang bersamanya.

Sejenak aku ingin ikut, ingin bebas, ingin melayang dari lantai tinggi ini. Tapi sadar, itu cuma halusinasi. Aku tidak bisa terbang. Jika aku nekat, aku bukan melayang, tapi aku jatuh, hancur, mati.

Aku belum boleh mati. Moana belum bertemu suaminya. Dia masih butuh aku untuk jadi tembok kecil tempatnya bersandar. Henny pun masih butuh pundakku, agar ia bisa sedikit tenang menjalani hidupnya. Mereka masih butuh aku.

Jika aku mati, penjual es teh akan kehilangan satu pelanggan. Penjual kopi dekat kantor juga akan kehilangan pelanggan. Dan banyak lagi yang mungkin bisa membuatku tetap bertahan. Aku ingin menganggap hal kecil bisa menjadi motifasiku agar aku tidak kalah pada diriku sendiri.

Aku menghela napas panjang. “Belum,” gumamku pada diriku sendiri. “Aku belum boleh pergi.”

Mentalku terasa semakin goyah. Kadang aku bertanya pada diri sendiri, apakah aku sedang sakit atau memang perlahan-lahan sudah gila. Ada detik-detik di mana dunia terasa kabur, semua suara seolah menggema di kepalaku. Napas terasa berat, dada sempit, pikiran liar berlari tanpa kendali.

*** @ ***

Dua hari kemudian, Aditya kembali menemuiku di lobi apartemen. Wajahnya masih lelah, matanya sembab seolah malam-malamnya dihabiskan tanpa tidur.

“Mbak, aku mohon. Beritahu aku di mana Moana?” suaranya lirih, penuh penyesalan.

Aku menatapnya lama, memastikan ia serius. “Kamu yakin sudah siap, Mas? Jangan sampai kamu cuma datang untuk membela keputusan ibumu."

Aditya menggeleng cepat. “Aku sudah bicara dengan ibuku dan juga pada diriku sendiri. Aku nggak mau kehilangan Moana. Dia istriku. Aku ingin menebus semua salahku.”

Aku menghela napas panjang, merasa lega lalu membuka ponselku. Kutarik layar, menunjukkan sebuah alamat padanya.

“Dia ada di sini. Tapi ingat, Mas, jangan sakiti hatinya lagi. Kalau sampai itu terjadi, jangan pernah datang padaku lagi untuk mencarinya.”

Aditya menunduk dalam. “Terima kasih, Mbak. Aku janji.”

“Mas, aku titip Moana padamu. Dia sudah kehilangan banyak hal dalam hidupnya, termasuk orang tua. Dia tidak punya siapa pun lagi selain kamu. Jadi, jagalah dia. Sayangi dia. Tentang keturunan, jangan terlalu keras pada diri kalian… itu semua kehendak Tuhan.”
*** @ ***
Seminggu setelahnya, Moana sudah pindah ke kontrakan baru bersama suaminya. Aku dan Henny menginap di sana semalam sebagai bentuk dukungan padanya.

Dan hari minggu ini, hujan belum juga reda sadari malam. Sekarang, aku berada di mini market, seperti biasa, aku membeli susu dan beberapa perlengkapan untuk ku antar ke rumah Henny.

Sesampainya di depan rumahnya, aku mengetuk pintu perlahan. Pintu sedikit terbuka, tapi tidak ada jawaban. Lalu, dari dalam, kudengar suaranya bentakan kasar laki-laki dan denting benda yang pecah. Jantungku langsung melonjak.

Tanpa pikir panjang aku masuk. Pemandangan itu membuat napasku tersengal. Henny terkapar di lantai, napasnya tercekat, sementara suaminya berdiri dengan botol kaca di tangan, wajahnya merah, mata penuh kebencian.

“Henny!” Aku berlari. Refleks memeluknya, melindungi tubuhnya.

Pyarrr. Botol kaca itu pecah di punggungku. Rasa panas dan nyeri menyengat, tapi coat tebal menahan parahnya luka. Aku segera bangkit, dan membalik badan. Menunjuk tepat di depan muka suami Henny.

“Jangan ikut campur!” ia menengking, suaranya seperti besi yang menanduk.

“Kau pria bajingan. Pengecut! Cuih!!!” aku meludahi wajahnya, ludah mengguratkan penghinaan yang tak terkatakan.

Plak. Tamparan keras mendarat di pipiku. Rasa panas menyebar ke bibir, sedikit darah terasa di sudut mulut. Dunia berputar namun aku tetap tegap.

“Aku bilang jangan ikut campur!” ia mengulang. Ia melangkah maju.

Aku mundur berpikir cepat, aku tahu tak akan bisa melawannya sendirian. Nama satu orang muncul di kepalaku. Pak Adrian. Aku merogoh saku, dengan tangan gemetar segera menekan tombol panggilan. Sambil menunggu panggilan terhubung, kusend lokasi melalui pesan ke nomor Pak Adrian.

“Kau akan mati dulu sebelum orang yang kau telepon sampai sini,” suami Henny mendesis, semakin mengancam, tepat saat panggilan terhubung.

“Pak Adrian! Tolong bawa polisi ke sini!” teriakku, suaraku pecah oleh panik. Aku segera menambahkan teriakan keras agar tetangga mendengar, berharap ada yang menolong.

Tapi tangan tangan suami Henny langsung mencekik leherku. Nyeri menyebar cepat, membuat napasku terengah. Cengkramannya keras, seolah tulang dan ototku diremas.

Lebih dari itu, ketakutan lama menyeruak. Bayangan kelam masa lalu menghantui pikiranku. Rasanya tangan kasar itu bukan hanya mencekik leherku sekarang, tapi juga menyayat kulit dan jiwaku di masa lampau.

Aku ingin berteriak, tapi suara tercekik di tenggorokanku, hilang ditelan kepanikan.

Lalu, terdengar langkah, teriakan, suara orang mendekat, serentak. Mata suami Henny membelalak kaget. Genggamannya melemah, dan secara perlahan tangannya lepas dari leherku. Napasku tersengal, dada sesak, tapi aku masih hidup.

Hujan yang membasahi jendela terdengar seperti musik latar ketegangan, tapi kini ada secercah harapan. Bantuan sudah dekat.

Di antara batas kesadaranku, tubuhku yang gemetar merangkak menghampiri Henny. Napasku tersengal, tenggorokanku perih, tapi aku tetap memanggil namanya berulang-ulang.

“Henny… buka matamu… Henny!” jeritku histeris, suaraku pecah, nyaris tidak terdengar oleh diriku sendiri. “Tolong! Bawa dia ke rumah sakit! Tolong siapa saja… bawa dia ke rumah sakit sekarang juga!”

Beberapa orang bergegas mendekat, mengangkat tubuh Henny. Mereka tampak seperti bayangan bergerak lambat di mataku. Aku mundur terseret-seret, lututku menghantam lantai, dan dunia di sekitarku mulai memudar.

Bisikan itu semakin riuh di kepalaku. Suara-suara tanpa wajah, menusuk telinga, tertawa, berbisik, menuding. Banyak mata yang seolah-olah mengawasiku dari balik kegelapan, mata-mata dingin yang tak pernah berkedip. Hewan-hewan menjijikkan merayap di bawah kulitku. Aku bisa merasakannya, meski tak terlihat.

Orang-orang di sekelilingku seolah menertawakanku. Bibir mereka bergerak tapi suara mereka seperti cemooh yang memecahkan kepalaku. Mereka menuding, menghakimi, menyayat jiwaku yang sudah retak.

Aku berlari, terhuyung, mencari sesuatu, apapun untuk menghentikan semua ini. Tanganku menemukan pisau di dapur. Besi dinginnya menenangkan, meski hanya sesaat.

Jika aku mengiris nadiku… bisikan-bisikan itu akan berhenti. Hewan-hewan itu akan hilang. Mata kejam itu tak lagi menatapku. Semua akan berakhir.

Aku mengangkat pisau itu. Tanganku bergetar. Air mataku sudah habis.

“Akira!!” Suara itu menghantam seperti petir.

Detik berikutnya, sebuah tangan keras memukul tanganku hingga pisau itu terjatuh, berdering di lantai. Dalam kabut kesadaranku, seseorang memelukku erat. Tubuhku gemetar di dalam pelukannya. Pak Adrian.

Aku tidak lagi menangis. Aku bahkan tak tahu apa aku masih hidup. Aku hanya ingin satu hal, tenang. Tenang selamanya.

Other Stories
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Sang Maestro

Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Cinta Koma

Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...

Balada Cinta Kamaliah

Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...

Yume Tourou (lentera Mimpi)

Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...

Download Titik & Koma