9: Berpacu Dalam Emosi
[Senin, 17 Februari 2025 / 12.31 WIB]
“Please... Tolongin aku, Don. Aku harus sembunyi!”
Kenapa dia ada di sini? Kenapa harus di bengkel? Kenapa juga meminta tolong? Apa perlu juga aku tolong dia ini? Lagipula dia sembunyi dari apa? Semua pertanyaan berkecamuk dalam kepala Dona.
Dari awal permintaan tolong terlontar, Dona hanya terdiam sambil menatap dalam-dalam mata Lidia yang memelas dengan nafas terengah-engah. Kepalanya sekilas bisa mengingat semua ganguan yang mengusik hidupnya dua tahun lalu ketika masih sekolah, dan di saat yang sama, kepala itu juga mencoba memproses kenapa dia harus bertemu lagi dengan pembully-nya dalam keadaan aneh ini.
Berbeda dengan otaknya yang dilapisi banyak tanda tanya dan kenangan pahit, hatinya tahu betul apa yang harus dirasakan. Marah! Rasa benci yang selama dua tahun ini dipendam dan tidak pernah terlampiaskan terasa membakar sekujur badannya. Sorot matanya yang menatap tajam Lidak tidak sedikitpun berusaha menyembunyikan emosinya. Dengan kombinasi aneh dari pikiran dan perasaannya, Dona sekarang bingung harus bereaksi seperti apa. Ditolong tidak pantas, dimaki-maki kok rasanya juga momennya tidak pas. Dona tidak tergeming dari tadi, sampai kemudian Lidia memohon sekali lagi.
“Pacarku marah-marah nyariin aku, Don! Bisa-bisa digampar aku kalau ketahuan! Tolong, Don... aku nggak tahu harus ke mana lagi!” Permintaan Lidia yang makin panik dan putus asa ini membuat Dona tersadar dari lamunannya. Tiba-tiba, hatinya jadi tahu apa yang harus dilakukan.
“Masuk ke dalem. Sembunyi di balik pintu situ. Stay di sana, jangan gerak!” Perintah Dona sambil menunjuk pintu kayu di ujung bengkel.
Tanpa babibu, Lidia langsung lari terbirit-birit untuk bersembunyi di ruang tamu rumah Engkong Liong. Begitu sudah di dalam, ia langsung merosot terduduk di lantai sambil mengatur laju nafasnya yang terengah-engah. Wajahnya jelas menunjukkan kalau dia lega, tapi tetap, rasa waswas bercampur sungkan juga sekilas nampak dari ekspreksinya.
Tidak lama dari Lidia bersembunyi, ada suara motor yang cukup berat berhenti di bengkel, lalu diikuti suara seorang laki-laki. “Mbak! Ada perempuan lari di sekitar sini nggak?!” Tanya pengendara motor itu ke Dona dengan posisi masih duduk di jok motor besarnya. Setelah ia membuka helm dan mengekspos wajah kesalnya, Dona jadi merasa laki-laki di hadapannya ini tidak begitu asing.
Dalam memorinya, dia yakin pernah melihat wajahnya yang ganteng tapi galak ala-ala anak badboy di sinetron ini. Sambil mengingat-ngingat, Dona yang sudah terbiasa meladeni pelanggan mencoba menjawab laki-laki sangar berjaket kulit hitam ini dengan santai. “Aduh Kak, perempuan lari sih banyak tiap hari.”
Begitu menutup mulutnya, Dona akhirnya ingat siapa orang di depannya. Ia ini pacar Lidia yang beberapa hari lalu membonceng dan berdebat dengannya di depan bengkel. Dari semua clue yang ada, Dona bisa meraba-raba skenario apa yang sedang bermain di hadapannya. Lidia bertengkar dengan pacarnya, dia alhasil kabur dan bersembunyi, lalu cowoknya ini membuntuti dan mencarinya.
“Yang bener kalo jawab, Mbak! Anaknya pake baju hijau sama celana putih. Ngelihat nggak?”
Bingo! Asumsi Dona terbukti benar. Lidia yang sedang sembunyi memang memakai kaos hijau dan celana kain putih. “Spesifik banget, Kak... kayanya nggak lihat deh saya. Emangnya kenapa ya? Lagian saya jawab serius lho, Kak. Yang seliweran kan banyak tiap menit, orang jalan raya...”
“Cewek saya! Ya udah, makasih.” Dengan jawaban singkat dan ketus, pemuda itu kemudian memakai helm dan menyalakan kembali motornya untuk pergi.
Begitu motornya sudah lenyap dari pandangan, Dona berjalan masuk ke dalam bengkel, lalu berteriak ke arah pintu, “udah pergi cowokmu!”
Pintu terbuka pelan-pelan, lalu Lidia berjalan keluar dengan hati-hati setelah mengintip sejenak untuk memastikan keamanan di luar. “Dona... makasih ya. Makasih banyak!” Dari ekspresi dan nada bicaranya, Lidia terlihat sangat bersyukur karena pacarnya berhasil dikelabui oleh Dona, dan keberadaannya tetap aman tersembunyi. Meski begitu, Dona tidak merespon sama sekali. Dia justru sibuk mengecek peralatan servis di area bengkel tanpa sedikitpun merespon ataupun melirik Lidia.
“Cowokku itu abusive. Dia anak geng motor gitu, ketuanya malah. Tadi tempat nongkrongnya disamperin sama geng musuhnya. Biasa masalah anak cowok... Terus berantemlah mereka, ujungnya jadi kejar-kejaran. Aku nggak mau ikutan, takut kenapa-napa. Soalnya nggak ada cewek lain juga. Jadi ya udah aku kabur aja... Kukira dia bakal fokus sama geng-nya, tapi dia malah nyariin aku sambil marah-marah. Udah berapa kali ini juga kalau lagi emosi bener-bener kaya orang kerasukan gitu...”
Panjang kali lebar Lidia coba menjelaskan situasinya yang runyam, mencoba mengambil simpati Dona yang masih tidak meliriknya. Tapi usahanya barusan tidak membuahkan hasil yang ia inginkan.
“Ketua geng... abusive... kaya nggak asing. Emang bener kali ya kata orang, ‘pasangan adalah cerminan diri’. Ya nggak?” Jawab ketus Dona dengan tatapan penuh sindirian ke orang yang dia bantu.
“Dona... aku—” Belum sempat Lidia merespon, Dona langsung memotong kata-katanya.
“Sekarang... pacar kamu udah nggak ada. Bisa pergi dari sini?”
Atmosfir dalam bengkel kecil itu jadi luar biasa canggung. Di satu sisi, ada Lidia yang mau berterima kasih sekaligus meminta maaf, tapi di sisi seberang, ada Dona yang sudah muak berinteraksi dengan orang yang sudah menghancurkan masa mudanya.
“Dona... aku... minta maaf,” ucap Dona dengan pasrah. Tapi kata-kata itu justru membuat emosi yang dari tadi coba ditekan oleh Dona jadi meletus.
“Oh God! Jangan berani-berani kamu minta maaf, atau terima kasih, atau ngomong apapun, Lidia! Aku jujur nggak peduli kamu mau ngomong apa, atau sembunyi dari siapa! Mau kamu pulang dari sini jalan kaki, atau naik becak, atau ngesot pun, AKU PEDULI SETAN! Pokoknya... pergi dari bengkel ini sekarang, bisa nggak?!”
“Iya... oke... oke, nggak perlu marah-marah, Dona. Aku keluar.” Lidia paham kalau reaksi Dona sangat wajar. Mengingat histori kelam di antara mereka berdua, kenyataan bahwa dia sudah ditolong sebenarnya sangat mengagetkan. Baginya, cara terbaik untuk menunjukan rasa terima kasih adalah dengan mengikuti perintah Dona. Ia pun berjalan keluar sambil mengambil hp untuk memesan ojek online. Namun baru beberapa langkah, Lidia lalu berhenti. Tepat di depan bengkel, persis seperti waktu dia datang dalam panik, ia bertanya, “tapi... kalau kamu nggak peduli, kenapa kamu nolong aku?”
Pertanyaan Lidia langsung membuat Dona pusing, karena jujur, sebenarnya dia pun tidak bisa menjawab hal itu. Dia sendiri bingung kenapa hatinya menyuruh untuk melakukan apa yang dia lakukan. Padahal, Dona sangat enggan menolong pembully-nya. Dia pun sempat terpikir tadi, kalau semisal Lidia dipukuli pacarnya, ya biarkan saja, orang sepertinya pantas menerima karma. Tapi kelihatannya... itulah jawabannya.
Dona mungkin tidak sadar, tapi KDRT yang dilakukan ayahnya kepada mendiang ibu di depan matanya dua tahun lalu benar-benar membekas dan jadi trauma psikis yang mendalam. Meski menolak untuk mengakui, Dona sejatinya tidak mau kekerasan verbal maupun fisik serupa menimpa perempuan manapun, termasuk ke orang yang paling dia benci di muka Bumi yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.
“Bisa pergi aja nggak, Lid? Tolong. Nggak usah mikirin apapun soal kejadian barusan. Bersyukur aja kamu masih aman... Oke?” Respon Dona tanpa mengonfirmasi tujuan dan menjelaskan isi perasaannya.
Lidia masih penasaran. Dia tahu Dona bisa saja mengabaikan permintaannya, atau malah, mengadukan keberadaannya ke pacarnya yang kasar. Namun lagi-lagi, sebagai bentuk rasa terima kasih dan kesadaran kalau kehadirannya seperti garam di atas luka Dona, Lidia hanya menjawab, “oke,” sebelum pergi dari bengkel, meninggalkan penolongnya yang kembali berjaga seorang diri.
Other Stories
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Melupakan
Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...
Sayonara ( Halusinada )
Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...
Devil's Bait
Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...