3: Karena Memang Cocok, Bisa Datang Ke Rumah
[Jumat, 14 Februari 2025 / 07.55 WIB]
Sudah empat hari berlalu semenjak penjambretan. Karena kejadian mengagetkan tersebut, Dona jadi kembali ke setelan pabrik untuk urusan main hp di pinggir jalan. Memang begitu bukan manusia? Satu masalah cukup untuk bikin trauma yang membekas lama. Dona dalam hati sebenarnya tidak takut kalau harus berduel dengan orang jahat. Dia percaya semua film action Hollywood yang ditonton setidaknya bisa jadi referensi untuk perlindungan diri, atau seminimnya untuk teriak minta tolong di siang bolong. Trauma, atau lebih tepatnya parno, akan penjambretan kemarin lebih mengarah ke urusan ekonomi. Baginya sekarang, beli hp dua juta pun sudah tergolong kemewahan, buatnya bisa setara MacBook. Karena ini, ia jadi terus mengingatkan Rona setiap sebelum sekolah untuk tidak mengulang kesalahannya.
“Iyeeee... Diulang mulu tiap hari, heran dah,” balas Rona sebelum berangkat tadi. Maklum responnya begitu, empat hari berturut-turut sang kakak mengulang-ulang pesannya. Lagipula, jangan lupa kalau Rona bukan anak yang sembrono. Ia malah mungkin lebih kencang ‘sekrup’-nya dibanding sang kakak untuk urusan seperti ini.
Namun terlepas dari perkara jambret, tidak ada yang berbeda dari hari-hari Dona. Bikin donat, antar ke warung, kerja di bengkel sampai sore, lalu masak dan mengurus rumah sebelum istirahat malam hari. Semua terasa sama, stagnan, begitu-begitu saja... Sampai kemudian, hari yang tak disangka-sangka datang. Semua berawal ketika Dona keluar rumah untuk mengantar dagangannya dan berangkat kerja seperti biasa. Bedanya, kali ini dia melihat Bu Suminah, tetangga sebelah rumahnya persis, sedang kesulitan men-starter motornya. Padahal beliau sudah rapi dengan seragam PNS-nya, tapi skutik coklat yang menolak menyala di garasinya bikin beliau menggerutu. Sebagai karyawan di kantor kecamatan, telat clock-in bisa berakibat fatal.
“Hadeehh, gimana sih ini,” keluh Bu Suminah yang sebenarnya tidak terlalu keras, tapi cukup untuk terdengar jelas oleh Dona yang berjalan melewati depan pagarnya. Setahu Dona, suami tetangganya ini sering dinas keluar kota, sedangkan putra tunggalnya ngekos jauh dari rumah. Ini berarti, Bu Suminah sekarang sedang sendirian dan tidak ada yang membantunya.
“Misiii... Bu Sum, motornya nggak bisa nyala, Bu?”
“Eh! Ehehe Dona... Iya ini Don, semingguan ini emang udah sulit di-starter. Sekarang malah nggak bisa nyala sama sekali.”
“Yah, tahu gitu nggak langsung bawa bengkel Bu? Terakhir diservis kapan emangnya?” Tanya si montir yang sudah punya firasat apa penyebab skuter matic tersebut bermasalah.
“Aduh, nggak pernah saya bawa bengkel Don. Terakhir dua tahun lalu kali apa ya. Saya kira bukan masalah gede, orang mesti masih bisa nyala juga ujungnya.”
Yup, Dona sudah bisa menebak jawaban barusan. Kalau emak-emak dipercaya pakai motor, 80% beginilah pola pemakaiannya. Jarang diservis dan kesehatan motor kurang diperhatikan. Persentase barusan bukan angka sembarangan dan hasil pukul rata ya, ini berasal dari pengamatan pribadinya di bengkel, setelah bertemu ratusan konsumen wanita paruh baya. Tapi kalau dipikir-pikir, 80% memang angka random sih, tidak ada dasar matematisnya. Cuma estimasi kasar yang menunjukan kalau selain perkara lampu sen ke kanan tapi beloknya ke kiri, mayoritas emak-emak bermotor punya pandangan yang sama soal merawat otomotif: pokok bisa tancap gas, hajar terus saja.
“Mau saya bawa ke bengkel dulu Bu buat dicek?”
“Boleh deh Don. Temenin anter ya? Nanti habis taruh bengkel, saya naik ojol aja ke kantor. Sore baru diambil, bisa kan ya?”
“Bisa banget Bu. Pokok sebelum jam lima ya.”
Akhirnya, motor skutik itu dituntun oleh Dona menuju bengkel bersama Bu Suminah yang membuntinya dari belakang. Keputusan Dona untuk membantu tetangganya ini membuatnya harus merubah rutenya sekali ini. Kalau biasanya Dona mengantar donat jualannya dulu baru ke bengkel, kali ini urutannya dibalik. Mau tidak mau, ia terpaksa memasukan donatnya sedikit terlambat karena tidak mungkin juga motor tetangganya dibawa berputar-putar, kan?
Sekian meter dari bengkel, Dona dan Bu Suminah bisa melihat pasangan suami istri pemilik bengkel sedang membuka usaha mereka dan bersiap-siap. “Engkong Liong, Emak Ing... dapet pelanggan nih,” kata Dona kepada kedua bosnya.
“Wah wah wah, rejeki emang nggak ke mana ya. Belum buka aja udah ada yang dateng sendiri. Motornya kenapa, Bu Suminah?” Tanya Engkong Liong dengan tampilan khas KungFu Hustle-nya.
“Nggak bisa di-starter Kong, diengkol juga nggak bisa. Udah semingguan kaya gini,” respon Bu Suminahyang tentu sangat kenal kedua pemilik bengkel ini. Di area kampung, pasutri Tionghoa ini sangat dikenal dan disayang orang setempat. Mereka adalah warlok yang sudah buka bengkel dari tahun 90-an dan sangat sering membantu tetangga, baik dalam urusan otomotif atau bukan, mau itu melibatkan uang maupun tidak.
“Udah seminggu bermasalah, baru sekarang dibawa ke sini kan. Bu Mar ini,” respon Emak Ing dengan nada kesal namun bercanda. “Mahal lho ya ini servisnya,” lanjut Mak Ing.
“Waduh Mak, kasih diskon tetangga lah,” balas Bu Suminah sambil tertawa.
Usai Dona memarkir motor di tengah bengkel, dia langsung meminta ijin kedua bosnya untuk mengantar dagangannya dulu sebentar. Karena sudah paham kondisi karyawatinya, tentu mereka pun langsung mengijinkan tanpa pikir panjang. Engkong Liong dan Emak Ing adalah dua orang yang sangat berjasa bagi kehidupan Dona. Tidak hanya mendapat dukungan moral dan verbal agar selalu bekerja keras setiap hari, Dona pun juga belajar banyak soal spirit kewirausahaan dari mereka berdua. Dia sendiri juga beberapa kali membawakan mereka donat waktu Imlek atau akhir tahun.
“Salut saya sama itu anak. Masih remaja, tapi hidupnya berat bangeeet... Tapi, tiap hari dia masih bisa positif. Masih mau usaha, dan meskipun cewek, nggak malu kerja di bengkel,” komentar Bu Suminah setelah dipamiti Dona yang lari terbirit-birit ke warung Bang Jajang dengan kresek jualan yang tadi dicantol di motornya.
Engkong Liong yang masih sibuk mengatur bengkelnya merespon, “saya bersyukurnya untung dia masih ada rumah, Bu. Orang tuanya sudah nggak ada, harus nanggung adiknya, tapi seenggaknya masih punya tempat tinggal, walaupun ngontrak. Jadi kalau capek, bisa istirahat. Sepele kesannya, tapi penting itu.”
“Kalaupun nggak punya, kami nggak masalah dia sama adiknya tinggal sama kami sebenarnya. Pernah kami tawari dulu. Ya gimana ya Bu Mar, sudah kami anggap anak sendiri. Dona-nya tapi yang mau tetep tinggal berdua sama adiknya,” respon Emak Ing dari posisi tetapnya yaitu di belakang meja.
“Kasihan saya sebenarnya, saya mau bantu, tapi ekonomi saya juga nggak longgar-longgar amat. Biaya kuliah per semester sekarang gila-gilaan kan.”
“Yang penting diperhatiin, Bu. Dibantu kalau kenapa-napa. Dia anaknya mandiri kok, bisa ngebiayain hidupnya berdua sama adiknya aja udah hebat. Belum lagi harus lunasin utang papanya,” respon Emak Ing.
“Emang kurang ajar papanya dia itu! Nggak tahu sekarang di mana. Semenjak cerai dan istrinya meninggal malah ngilang aja. Gitu tuh ya laki-laki kalau nggak ngerti tanggung jawab. Dia yang numpuk utang, dia yang kecanduan judol, anak-anaknya yang nanggung masalah.”
Percakapan di bengkel terus berjalan selagi Bu Suminah menunggu ojeknya datang. Sementara itu di sisi lain, Dona akhirnya sampai di tujuan dengan nafas terengah-engah. Namun meskipun terlambat 15 menit dari biasanya, Bang Jajang bukannya ngomel, tapi justru cukup sumringah dan menyimpan berita mengejutkan untuk Dona.
“Nah ini dia orangnya! Tumben telat Don.”
“Iya sorry Bang, tadi masukin motor tetangga dulu ke bengkel. Nggak bisa langsung kemari.”
“Oh gitu... iya nggak masalah Don. Cuma ini tadi ada orang nyariin elu. Mau pesen donat.”
“Hah?” Dona yang masih sibuk mengatur nafas mencoba mencerna berita barusan. Orang pesan donat? Donat mininya? Dipesan orang?
“Iya. Orangnya langganan sini emang, namanya Pak Damar. Tiap berangkat kerja pasti mampir beli sarapan dulu, nah donat elu juga mesti dia beli. Pernah tuh ya sekali, dia borong beli sepuluh bungkus langsung! Buat dibagiin orang kantor katanya. Emang sedoyan itu pokoknya sama donat elu, Don.”
Cerita Bang Jajang membuat teriknya matahari pagi jadi tak terasa sama sekali. Dalam benaknya, ia sibuk berada di atas awan mengetahui donat mininya segitu digandrungi dan punya pelanggan tetap. “Oh gitu, Bang? Terus, terus? Orangnya mau pesen?”
“Jadiii... tadi pas orangnya nyampe mau beli, donat elu belum ada. Awalnya dia sempet nunggu tuh, bentar doang sih tapi tiga menitan. Karena akhirnya elu nggak dateng-dateng, orangnya beli nasi doang soalnya takut telat. Nah tapi pas nunggu, dia bilang padahal pingin ketemu langsung sama yang bikin donat, soalnya mau pesen buat anaknya ulang tahun.”
“Yah, berarti nggak jadi pesen dong?” Respon cepat Dona begitu mendengar bagian akhir cerita panjang Bang Jajang yang mengecewakan. Dalam hatinya, ada perasaan campur aduk apakah dia boleh merasa menyesal karena menolong Bu Suminah. Andai tadi langsung mengantar donat seperti biasa, pasti dia tidak melewatkan pesanan pertamanya ini.
“Oh, tetep jadi kok Don. Nih... Pak Damar tadi ngasih nomernya. Katanya, kalau sempet, elu telepon aja orangnya buat bahas pesenan,” balas Bang Jajang dengan nada menyemangati sambil memberi sobekan kertas kecil bertuliskan 12 digit nomer telepon.
Seusai menyimpan secarik kertas itu di kantong dan membeli nasi sarapan, Dona jalan kembali ke bengkel dengan perasaan riang gembira yang tidak tergambarkan. Dia selalu merasa donatnya ini sebagai sampingannya saja. Bermodal dari belajar membuat kue dengan sang ibu dan waktu senggang, tak pernah ia duga, usaha kecil-kecilannya bisa ada perkembangan. Memang tidak seberapa, tapi langkah kecil inilah yang dinantikan dan diperlukan semua orang yang tengah merintis usaha, bukan?
Sesampainya di bengkel, Dona langsung ditanya oleh Engkong Liong, “widih, sumringah banget Don. Kenapa nih?”
“Ada pesenan Kong. Donatku dipesen orang!”
Sebagai dua orang yang menemani perjalanan Dona, jelas Engkong Liong dan Emak Ing menyambut gembira kabar tersebut. Mereka tahu betul kualitas rasa serta keunikan produk karyawatinya ini pasti suatu saat akan berujung sama manisnya seperti donat buatannya.
“Aku telepon orangnya yang pesen dulu sebentar ya Mak, Kong.”
Dona memasukan nomer di kertas pemberian Bang Jajang. Di situ tertulis kalau ini adalah nomer istri dari Pak Damar. Dona sempat menarik nafas sejenak sebelum menekan ikon telepon di layarnya untuk memantapkan dan menenangkan diri. Maklum, dia takut salah ngomong atau malah belepetan waktu ditanya-tanya.
Tuuuttt.... tuuuuutttt... tuuuttt.... “Haloo?”
“Halo pagi Ibu. Saya Dona yang bikin donat di warung Bang Jajang, katanya keluarga Ibu mau pesan ya?”
“Oohh... Iya Mbak. Siapa tadi namanya? Dona betul ya? Iya, suami saya langganan beli donatnya Mbak. Berapa kali juga sering bawain orang rumah, semuanya pada cocok...”
“Wah makasih banyak, Bu. Saya seneng banget dengernya.”
“Nah, jadi ini anak kami hari Minggu besok ulang tahun. Terus rencananya mau ngundang temen sama saudaranya pesta kecil-kecilan lah di rumah. Kebetulan saya sama suami perlu pesan 50 pcs, Mbak Dona bisa nggak ya?”
“Lusa ini berarti ya Bu? Bisa banget Bu, bisa. 50 pcs perlu saya packing plastik seperti biasa apa gimana Bu? Terus untuk topping mau di-custom atau bervariasi aja seperti biasa?”
“Betul lusa ini, jam enam malam pestanya ya. Jadi kalau bisa dianter ke rumah saya sejam sebelumnya. Ditaruh box besar gitu saja jadi satu semua, bisa kan ya? Topping kaya biasa aja udah biar macem-macem.”
“Bisa Bu, saya siapkan box-nya nanti. Untuk pengiriman alamatnya di mana ya Bu?”
Selagi Dona fokus untuk bernegosiasi dan mencatat alamat pembelinya, Engkong Liong dan Emak Ing mengamati punggung gadis muda ini dari belakang. Meski bukan orang tua kandungnya, pencapaian Dona terasa amat personal bagi mereka berdua. Betul bahwa mereka baru kenal dekat dengannya dua tahun belakangan ini semenjak Dona melamar kerja di bengkel. Namun pertemuan mereka selama enam hari dalam seminggu, dari pagi sampai sore, membuat pasutri lansia ini merasakan kebanggaan akan seorang putri yang tak pernah mereka miliki.
“Iya, pembayaran langsung tunai saja... Siap Bu, saya antar jam lima, lusa ya... Baik, terima kasih banyak Bu Damar!”
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...