1: Ingin Sekali-sekali Melupakan Sejarah
[Selasa, 8 November 2022 / 08.08 WIB]
Jam delapan pagi. Bukan waktu yang normal untuk anak SMA masih di jalan, bukan? Mana ada sekolah di Indonesia yang masuknya jam delapan?
Masalahnya, anak SMA yang sedang di jalan ini memang bukan sedang berangkat ke sekolah, melainkan justru pulang dari sekolah, masih dengan seragam lengkap dan bersih. Dia pun tidak berjalan sendirian seperti hari-hari biasanya, tapi bersama dengan sang ibu yang ikut mengiringi di sebelahnya, sembari mengelus pundaknya dan memberikan kata-kata penenang.
Sesampainya mereka di rumah, rasa kecewa dan kesedihan yang dari tadi dipendam akhirnya meledak dan tumpah ruah begitu mereka terduduk bersebelahan di kursi ruang makan. “Nasib aku gimana, Ma? Kaya gimana aku bisa kuliah? Bukan aku lho Ma yang ngelakuin.”
“Mama percaya, nak. Mama percaya kamu nggak mungkin kaya gitu sayang. Soal kuliah dan yang lain, udah nanti saja dipikir itu Dona. Jangan mikir aneh-aneh dulu, sayang ya? Kamu minum dulu ini.”
“Maaf, Ma. Maafin aku... maafin aku.”
“No no no, Dona. Ngapain minta maaf? Kamu bukan pelakunya nak! Kamu di rumah Jumat lalu bantu Mama kan, nggak perlu minta maaf sayang.”
“Tapi tetep aja Ma. Aku di-DO. Di-DO Maaa! Mama sama Papa pasti malu. Gimana ceritain ke keluarga? Gimana kalau tetangga ada yang tahu?! Gimana aku ke depannya ini Ma?”
Hari itu menjadi hari yang tidak pernah dibayangkan oleh Dona dan ibunya. Pagi itu, mereka berdua baru pulang dari SMA Negeri 21, tempat Dona bersekolah. Tepat 30 menit lalu di ruang Kepsek, mereka berdua menerima kabar bahwa Dona dikeluarkan tidak terhormat karena melakukan pelanggaran berat yang membuat kakak kelasnya masuk rumah sakit.
“Mama nggak malu sayang, Mama selalu support kamu, nak. Orang lain nggak perlu tahu kejadian ini. Kita cari solusinya nanti ya? Percaya aja pasti ada jalan, nak.” Mana ada orang tua yang tidak hancur melihat anaknya menangis tersedu-sedu karena di-drop out dengan tidak adil? Di balik ketenangan dan ketegarannya, ibu Dona sebenarnya juga merasa bingung dan sedih dengan kondisi yang menimpa putri sulungnya. Ditambah, dia pun merasa kesal dan heran, di mana suaminya sekarang.
Kerja? Jam delapan pagi memang waktu yang normal untuk pria 42 tahun berangkat mencari nafkah, tidak sedikit malah yang sudah start dari jam segitu, kan? Tapi masalahnya, ayah Dona sudah tidak bekerja dua bulan belakangan ini akibat perusahaan tempatnya kerja harus gulung tikar. Semenjak itu dia mencari pekerjaan lewat situs online atau kenalan-kenalannya, namun hasilnya masih nihil. Malahan, bukannya pekerjaan yang ia temukan, namun jebakan finansial yang menggiurkan.
Tidak lama dari percakapan Dona dan ibunya yang kalut dengan kesedihan, mereka mendengar suara pagar rumah terbuka, diikuti raungan mesin motor familiar yang kemudian masuk dan terparkir di halaman. Dari jendela yang terbuka lebar, Dona dan ibunya bisa melihat bahwa orang yang dicari-cari akhirnya pulang. Ia berjalan masuk ke dalam rumah, tapi jalannya tidak tegap, dan bahkan terhuyung-huyung dengan wajah yang tidak segar.
“Lho...! Papa nggak salah lihat kan ini? Kamu... kamu kok nggak sekolah Dona? Ini apa hari Minggu ya?” Tanya sang ayah setelah membuka pintu dengan raut wajah bingung dan agak linglung.
Melihat suaminya, ibu Dona langsung beranjak dari kursinya dan berjalan ke pintu depan mendekatinya. “Kamu dari mana aja sih? Oooff... Baumu Pa! Kamu minum-minum lagi? Semaleman kamu nggak pulang, kamu tidur di rumah temenmu lagi sambil minum-minum iya?! Anakmu ini lho lagi ada masalah, kamu bukannya di rumah nemenin, malah keluyuran aja!”
“...Barusan sampai Ma!! Bisa nanti dulu nggak ngomelnya, hah?! Ya ini... ini nih yang bikin nggak betah di rumah ngerti nggak?!” Dona yang dari tadi tertunduk lesu dan masih terisak tiba-tiba tersentak mendengar reaksi ayahnya yang berdiri sekian meter dari posisinya duduk. Respon ayahnya ini tentu membuat atmosfir rumah yang tak terlalu besar itu makin muram dan mencekik. Seakan (atau mungkin memang sengaja) tidak memedulikan kalau salah satu putrinya sedang menangis di meja makan di jam delapan pagi, ia pun kalap dengan emosinya.
“Nggak usah bentak-bentak Pa, malu kedengeran tetangga!” Kata ibu Dona untuk menenangkan keadaan.
“Persetan sama tetangga Ma! Toh dua bulan ini aku udah nanggung malu, tau gak?! Kamu ngerti kan kondisiku gimana?! Kondisi keuangan kita gimana?! Aku itu sibuk nyari duit, ikut temenku... sampai lupa waktu karena dia punya kenalan! Kamu bisa support nggak sih?!”
“Nyari duit? Ada kenalan? Oh ya? Siapa emang orangnya. Bandar lagi? Emang kerjaan apa sih yang buka lowongan sampai tengah malem? Tesnya disuruh minum bir gitu? Alasanmu!”
PLAK! PRAANGG! Suara tamparan keras menyeruak ke setiap sudut rumah. Tak sampai sedetik kemudian, vas bunga yang jatuh dan pecah juga begitu menggelegar. Dona seketika tersadarkan dari murungnya, mata serta mulutnya terbuka lebar melihat ayahnya untuk pertama kali berani melukai sang ibu hingga tersungkur di lantai.
“Kalau nggak bisa support, senggaknya nggak usah sok tahu dan ngerendahin! Kurang ajar kamu!” Bentak ayah Dona dengan makin tidak terkontrol.
“Kamu yang kurang ajar! Kamu yang nggak support aku dan anak-anakmu! Dengan kamu keluyuran, mabuk, main judol, utang orang di sana-sini, itu caramu nggak bertanggung jawab sama keluargamu! Padahal kami selalu dukung dan nemenin kamu di situasi apapun, akupun sibuk bantu cari kerja buat kamu! Kamunya aja yang mala—”
PLAK! Sebelumnya tidak pernah terjadi, sebelumnya cekcok mereka tidak berujung begini. Hari ini, dua tamparan keras mendarat di pipi ibu Dona.
“Emang kurang ajar kamu ya! Berani ngelawan suami... HAH?! Bantuanmu apa sih yang kamu kasih! Pengeluaran kita itu lho banyak! Padahal tinggal diem aja terima jadi biar aku yang banting tulang. Toh utang ujungnya buat dapur kita kan!”
Pertengkaran ini jadi kebakaran yang makin membara dan tidak terkendali. Sosok pria yang harusnya menjadi pelindung justru menyakiti istrinya dan menakuti anaknya sendiri. Tidak bisa dipungkiri kalau ini adalah kulminasi dari api dalam sekam yang menimpa hubungan orang tua Dona selama dua bulan terakhir. Pasangan suami istri yang dulunya harmonis dan hangat kini berubah menjadi dua kubu yang saling berperang.
“Pa... udah Pa. Papa yang tenang. Jangan tampar Mama lagi...,”
Sang ayah yang dari tadi fokus berdebat dan melototi istrinya di lantai sekarang mengubah perhatiannya ke suara sang anak. Ia mengangkat kepalanya pelan, dan sekarang terlihat jelas kalau Dona yang tadinya duduk di ruang makan kini sudah mendekat sekian langkah darinya. Dari sorot matanya, Dona tahu betul ayahnya dipenuhi amarah. Sebuah pemandangan yang sebelumnya tak pernah dia saksikan selama 16 tahun hidup di rumah itu.
"Dona... kamu masuk ke kamar.” Perintah sang ayah dengan datar namun terasa penuh rasa kesal. Dona jelas mendengar perintah itu, namun tidak seperti biasanya di mana dia patuh, kali ini dia tetap berdiri tegak meskipun pipinya basah dan ujung matanya masih tergenang air mata. Baginya sudah jelas, keadaan bisa-bisa makin parah kalau ibunya ditinggal sendirian.
“Dona! Denger nak?! MASUK KE KAMAR!” Sang ayah kini menaikan volumenya sembari mengacungkan telunjuk kanannya, menggambarkan betapa gusarnya dia karena sang anak melawan perintahnya. Dona makin ketakutan melihat ayahnya seperti orang kerasukan, namun meski begitu, ia masih tidak bergeming.
Lama-lama, kesabaran sang ayah tidak bisa dibendung lebih lama lagi, ia beranjak dari posisinya dan berjalan cepat penuh amarah ke arah sang putri yang membatu. Ibu Dona yang melihat aksi ini pun langsung panik, ia paham betul kengerian apa yang mungkin terjadi ketika seorang pria sedang mabuk dan gelap mata.
“Dona! DONA! DONAAAAAA!!”
******
“... Naa ... Donaaa! Kak Donaaaa!”
Dona membuka matanya sambil terkejut. Dengan pandangan yang masih setengah watt, ia menoleh-noleh untuk memproses di mana dia sekarang dan apa yang terjadi dengannya. Ternyata... dia ketiduran. Namun bukan bangun di kasur, Dona baru sadar kalau dia ketiduran di tengah prosesnya membuat adonan donat. Dalam posisi duduk di ruang makan, mukanya cemong sebelah karena pipinya menempel ke tepung yang ditabur di loyang di atas meja.
Ya, meja yang sama, ruang makan yang sama. Namun bedanya, semua yang terjadi barusan hanya bagian dari mimpinya. Seperti umumnya orang yang mengalami mimpi aneh dan kemudian mendadak tersadar ke dunia nyata, Dona refleks berkata dalam hatinya, “Oh... mimpi.”
Pertanyaannya, apakah barusan memang hanya mimpi? Sebatas skenario aneh yang seringkali kepala kita buat dalam tidur? Memang Dona sering mimpi hal-hal aneh seperti diculik alien berseragam batik atau balapan motor di Spanyol tapi naik sapi. Tapi untuk kilasan kejadian barusan... semuanya amat nyata baginya. Mimpi itu terasa seperti serpihan cerita kelam dari masa lalu, yang memang menurut banyak riset di bidang psikologi, kadangkala bisa menghantui kembali dalam bentuk mimpi.
Dona yang dibangunkan paksa dari tidurnya langsung menemukan suara alarm manusia yang dari tadi memanggil-manggil namanya. “Kak? Kalau masih ngantuk nggak usah bikin donat dulu lah. Tidur dulu sono yang nyenyak di kasur. Libur dulu sehari kan nggak masalah,” kata Rona, sang adik yang berdiri di sampingnya persis dengan memakai seragam lengkap dan siap berangkat sekolah.
“Nggak bisa dong. Kamu kan ngerti sendiri, kalau laku semua kan lumayan uangnya,” jawab Dona sambil mengelap pipi cemongnya.
“Lah, tapi itu sampe ketiduran...” Rona tahun ini berumur 14 tahun, yang berarti dia beda empat tahun dengan sang kakak. Ini adalah tahun pertama dan bulan-bulan awalnya menjalani kehidupan SMA. Di rumah itu, kini tinggal kakak-beradik berusia belia ini hidup bersama dan menemani satu sama lain.
“Kalau gitu minta tolong aku kan bisa. Dari dulu kan udah kubilang, ketimbang Kakak bangun jam lima mulu setiap hari, bikin adonan, goreng-goreng, packing semua sendirian, kan aku bisa bantu. Kalau dibagi dua, Kakak bisa bangun agak siangan dikit,” lanjut kata Rona.
“Iya, tapi udah kamu fokus berangkat sekolah aja, Rona. Nanti kamunya ketiduran di kelas malah.”
“Bikin adonannya malem sebelumnya deh kalau gitu, biar paginya Kakak tinggal goreng sama packing... Eh, nggak fresh jadinya ya?”
“Paham gitu lho. Mama dulu kan mesti bilang kalau bikin donat, hasil terbaik harus selalu dari adonan yang fresh. Bisa aja sih disimpen kulkas semaleman. Tapi kan kita udah nggak punya,” jawab sang kakak sambil mengetuk layar hp-nya dua kali yang tergeletak di meja untuk melihat jam. Begitu menyala, tertulis jelas di layarnya: Selasa, 11-02-2025 / 06.45 WIB.
“Terus ini gimana? Udah mau jam tujuh, sempet nih dianter sejam lagi orang pada belum digoreng semua? Nggak telat nanti Kakak ke bengkel?” Tanya sang adik melihat semua calon donat mini masih berwujud tepung. Dari progress-nya, Rona bisa menyimpulkan kalau adonan sudah selesai diolah, tapi sehabis dicetak jadi lingkaran mini dan tinggal digoreng, kakaknya malah ketiduran.
“Sempet kok, nggak masalah! Goreng kan nggak lama. Packing juga kalau kucepetin bisa 15 menit kelar. Habis itu mandi, siap-siap. Ready kok sejam,” kata Dona dengan tenang sembari beranjak dari kursinya dengan membawa loyang adonan menuju kompor di belakangnya.
Rona yang sedang memasukan barang-barangnya ke dalam ransel tiba-tiba menoleh mendengar respon kakaknya yang baginya kurang meyakinkan. “Aku bantu?”
“Thank you, but no, Rona. Mana mungkin juga lagian, kamu udah harus berangkat ini kan? Udah otw aja gih daripada telat. Kakak bisa handle. Aman!”
CETEK! Suara tuas kompor dan persuasi Dona barusan akhirnya bisa meyakinkan Rona. Dalam hati kecilnya, tentu dia tidak tega membiarkan kakaknya harus buru-buru menggoreng dan mengemasi dagangan mereka seorang diri.
Tapi, betul memang kalau Rona harus segera berangkat. Kalau dia telat lagi, bisa-bisa dia kena SP dua. Rona sendiri anak yang pantang dengan kata terlambat. Bukan karena dia rajin atau disiplin, tapi lebih karena dia tipe orang yang malas dengan drama. Tahu sendiri kan kalau telat masuk ujungnya diomelin guru atau harus debat sama satpam? Pernah akhirnya ini kejadian sebulan lalu, itu pun sebenarnya karena gerimis dan cuma terlambat tiga menit. Ya tapi kalau punya Kepsek yang nggak bisa didebat, alasan gimanapun bakal dipentalin juga.
“Fiinee... Ya udah, Kak. Aku berangkat dulu ya, jangan ketiduran lagi pas ngegoreng.”
“Nggak dong, gila! Iya hati-hati ya...” balas Dona tanpa melihat langsung ke arah adiknya yang sudah di teras rumah dan berjalan menuju pagar. Tapi baru hitungan detik Rona beranjak, suaranya tiba-tiba kembali terdengar dari luar.
“Waiitt... Kak Doonn! Nggak titip beli bahan? Ini kan Selasa,” tanya Rona berjalan balik masuk ke dalam rumah.
Sesuai skedul, Rona biasanya ditugasi beli bahan donat tiap Selasa dan Jumat, tumben-tumbenan hari ini dia lupa. Mendengar adiknya, Dona sempat terkejut dua kali. Yang pertama karena teriakan Rona dari luar, yang kedua, karena baru ingat soal titipannya. Dia pun sontak mengecilkan api kompor. Tangannya yang berlumuran tepung dicucinya di kran sebelahnya dengan secepat kilat, lalu Dona setengah lari ke arah kamarnya sambil bilang, “eh iya. Bentar-bentar Ron.”
Tidak lama kemudian, dia keluar dan berjalan ke pintu tempat Rona menunggu. Sambil memberikan selembar uang seratus ribu, Dona bilang, “iya kelupaan. Kakak titip beliin telor sama tepung nanti ya pulang sekolah. Ini duitnya, kembaliannya masukin uang jajan kamu aja,”
“Btw tapi pulangku agak sorean nanti lho, nggak masalah?”
“Ini hari apa sih? Oh... kamu ekskul nanti ya? Iya, nggak papa kok.”
“Oke. 2 kilo, 2 kilo?”
“Yup, kaya biasa.”
“Noted! Uang jajan masih banyak kok, Kak. Kembaliannya nanti kutaruh meja makan aja, toh kan bisa ditabung buat hp baru, kan? As you promised.”
“Nah inget gitu lho kalo mau beli hp baru. Masa bisa kita absen jualan, oneng. Mana utang masih banyak lagi. Ya udah, hati-hati ya.”
“Oke Kak...,” jawab Rona sebelum melempar pertanyaan lagi. “Hp baru nanti btw iPhone kan ya?”
“Dah gila! Bikin donat 10 truk baru kebeli itu iPhone.”
“Haha, canda, canda.”
Beginilah kurang lebih dinamika tiap pagi kakak-beradik ini. Tanpa kedua orang tua seperti sedia kala, Dona dan Rona saling membantu dan menguatkan akan satu sama lain. Hidup mereka tentu tidak mudah. Masa lalu mereka begitu kelam, sedangkan masa depan mereka juga tidak menentu. Bagi banyak orang, hari-hari yang harus mereka hadapi pasti dinilai memilukan, apalagi karena usia mereka yang begitu muda.
Tapi meski demikian, secercah impian menjadi alasan mereka untuk terus berusaha setiap harinya. Sebuah tujuan yang ingin mereka realisasikan bersama, untuk memutar balik nasib hidup mereka sendiri maupun demi mewujudkan cita-cita mendiang ibu.
Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...