Susur

Reads
499
Votes
2
Parts
52
Vote
Report
Penulis Indhie Khastoe

BAB 35. KEGELISAHAN DARA



"Tumbal itu apa, Tambi?" Dara menatap lekat pada Tambi.

Tambi menghela napas, diam sejenak. Tubuh kurus, kecilnya masih berdiri tegak memandang lurus ke seberang sungai. Memilih-milih kalimat apa yang pas untuk bisa dipahami seorang gadis muda belia.

Tiupan angin senja membuat rambut abu-abu milik Tambi Balau riap-riapan. Dara menunggu jawaban dengan sabar, sambil memerhatikan seekor bangau putih yang sedang memancing ikan di tepian sungai, tak jauh dari mereka.

Senyum kecil terbit pada bibir tipis Dara, menyaksikan ulah burung bangau yang cerdik. Bangkai seekor belalang diletakkan ke atas air, mengundang ikan untuk muncul ke permukaan, lalu paruhnya siap menyambar.

"Tumbal itu bayaran yang diminta iblis," jawab Tambi kemudian tanpa menoleh pada gadis di sampingnya. "Banyak manusia serakah di alam ini. Di antaranya ada yang memilih cara cepat, dengan menjadi hamba iblis. Pada iblis mereka bisa minta kaya, minta cantik, minta kuat, apapun bisa mereka pinta...."

Tanpa disadari Tambi, bola mata Dara melebar takjub. "Minta pada iblis, apa pun?" gumamnya, menatap tak berkedip pada perempuan tua itu.

"Tapi, tak ada yang cuma-cuma. Iblis akan menuntut bayaran. Harus ada yang dikorbankan. Kerapkali bayarannya berupa nyawa manusia. Entah itu nyawa keluarga, entah orang lain, bahkan nyawanya sendiri." Tambi melanjutkan kalimat, yang suatu saat akan disesalinya seumur hidup, telah tercetus di depan seorang gadis polos yang menyimpan bara dendam.

"Untuk apa iblis meminta nyawa manusia, Tambi? Apakah manusia memang makanan mereka?" cecar Dara. Rasa ingin tahunya bergejolak.

"Hum..." Tambi Balau mengangguk tegas. "Iblis paling suka darah manusia. Tampaknya Jaya Herlambang sudah melakukan pesugihan dengan menumbalkan darah gadis-gadis sepertimu untuk kelancaran usaha tambangnya."

Dara menelan ludah getir, wajahnya berubah pias. Kedua tangan meremas kuat ujung kain. Seolah di pelupuk mata tubuh Arum di antara putaran bor raksasa. Dirinya sendiri selamat hanya karena sedang beruntung. Andai saja tak ditemukan Adaw, mungkin akan berakhir menjadi bangkai yang membusuk di dasar sungai.

"Mbak Arum jadi makanan iblis," lirih Dara tergugu. Bibir kemerahan itu terlihat bergetar menahan emosi. Netranya kembali basah menggenang. Dia kini mengerti tujuan Jaya Herlambang mengadopsi anak-anak panti.

'Dasar serigala kau, Jaya Herlambang! Kamu telah merenggut satu-satunya keluargaku yang masih tersisa. Aku harus menuntut balas,' geram Dara membatin. Bola matanya kembali berkilat-kilat.

Tambi menoleh padanya. "Bersabarlah dulu kau untuk saat ini! Jangan gegabah bertindak! Kau masih sangat muda, sayang kalau ujung-ujungnya nanti umurmu habis dalam penjara, gara-gara menusuk orang itu dengan pisau kecilmu.

Dia pasti bukan sembarang orang. Apalagi katamu dia orang terpandang di kotamu. Pasti banyak penjaga yang melindunginya. Menyerang terang-terangan, sama saja kau menggali lubang sendiri." Kening Tambi bertaut menatap gadis itu.

Dara mengangguk mengiyakan. Semua yang dikatakan Tambi Balau ada benarnya. Jaya Herlambang memang bukan orang sembarangan. Banyak lelaki bertubuh besar yang sering mengawal ke manapun dia pergi.

Dara tak akan pernah lupa, rupa salah satu dari pengawalnya. Lelaki berkulit gelap, dengan luka codet pada pipi. Timah panas milik orang itulah yang membuat Dara roboh. Rasa sakitnya pun Dara tidak akan pernah lupa.

Jaya Herlambang sangat licik dan jahat. Dia serigala berbulu domba. Orang-orang tidak akan menyangka, yayasan sosial miliknya dihidupi dari uang haram, hasil pesugihan.

Panti Asuhan, tempat ibadah, serta rumah sakit milik Jaya Herlambang semata hanya untuk menutupi kedok kejahatan. Di mata semua orang dia bagaikan malaikat penolong. Bahkan saat ini dia sedang mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Ingat itu, tanpa sadar mulut Dara mencebik.

"Sudahlah!" Tambi Balau menepuk pundaknya. "Kau serahkan saja semua pada Tambi! Akan kuminta Adaw menyelidiki kapan si Jaya itu datang lagi ke mari. Akan lebih mudah mengerjai kalau kita satu daratan."

Tambi Balau berkata demikian karena tak ingin sampai salah sasaran. Sebenarnya tanpa bertemu muka pun Tambi bisa membuat musuh meregang nyawa. Jangan sampai orang yang tidak bersalah menjadi korban.

"Kak Adaw kah yang akan Tambi suruh membvnvhnya?" tanya Dara bersemangat, sembari menyusut sisa air mata.

Sepasang mata bening itu melebar, penasaran dengan langkah yang akan diambil Tambi. Pasti bukan Tambi yang akan mengh4jar Jaya, badan Tambi kan kecil, pikirnya. Dara membayangkan lengan Adaw yang berotot besar sedang meninju muka sombong itu hingga gepeng jadi emping.

Adaw tiba-tiba lewat di hadapan mereka, menenteng ranting berisi beberapa ekor ikan.

"Hmm, grrrhh ...." Mulut Adaw menggumam, lebih tepatnya menggeram. Memperlihatkan gigi-gigi depannya pada Dara. Dia baru kembali dari menumbak ikan di sungai. Sempat terdengar oleh Adaw, namanya tadi disebut-sebut oleh gadis itu.

"Heheh...," Tambi terkekeh.

Reaksi Adaw memang menakutkan bagi orang lain, tetapi terlihat lucu bagi sang ibu.

"Jangan menakuti Dara!" Tambi memukul lengan Adaw sambil terkikik-kikik.

Dara mengulum senyum. Dari cerita Tambi, dia jadi tahu kalau Adawlah yang menemukannya di sungai.  Hutang nyawa itu akan Dara ingat sampai kapan pun.

Pluk!

Seekor ikan jatuh dari kaitan ranting yang dipegang Adaw. Gegas punggung lebarnya merunduk, bermaksud untuk memungut. Tapi, Adaw kalah gesit dari burung bangau yang sedari tadi sudah mengincar ikannya. Ikan pancingan Adaw sudah dibawa burung nakal itu terbang tinggi. Tambi kembali terpingkal-pingkal melihat tubuh besar anaknya berlari-lari berusaha mengejar.

"Tambi, kenapa Kak Adaw tak mau bicara padaku?" Dara berbisik ke telinga Tambi.

"Tak usah kau pikirkan. Dia punya pantangan bicara." Jawaban Tambi membuat Dara tambah tak mengerti.

****

Waktu terasa merambat pelan. Dara kini merasakan kegelisahan. Gadis itu kerap diam-diam pergi ke area tambang tanpa sepengetahuan Tambi. Dara sudah tak sabar.

Satu bulan telah berlalu sejak Tambi berjanji akan membantunya melenyapkan Jaya Herlambang. Namun, penjahat itu tak juga muncul. Dara merasa hidupnya tak akan tenang sebelum sakit hati terbalas.

'Tambi hanya ingin meredam amarahku dengan janjinya. Mungkin Tambi hanya tak ingin aku sampai nekat menvsvk perut si Jaya,' Dara menebak-nebak dalam hati. Dia kini tak lagi sudi menambahkan kata 'bapak' di depan nama Jaya Herlambang. Cukup menyebut namanya.

Pagi ini, usai mencuci di sungai, Dara kembali pergi mengendap-endap. Ingin mengintip situasi di sekitar tambang. Siapa tahu dia bisa berjumpa dengan manusia munafik itu. Tak lupa membawa serta pisau yang sudah di asah tajam dalam sebuah kantung.





Other Stories
Free Mind

KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Download Titik & Koma