BAB 34. TENTANG DENDAM
Setelah didekati, tubuh penuh goresan luka dan lebam itu ternyata seorang gadis belia. Gegas dijatuhkan Adaw menjangan dari punggung. Dia lalu melompat turun ke dalam air untuk mengangkatnya.
Luka yang sangat parah. Adaw sampai berdecak melihat kondisinya. Bahkan terdapat luka tembak pada bagian pinggang menembus perut. Gaun putih yang masih melekat pada tubuh si gadis sudah koyak tak keruan. Entah dia masih hidup atau mati.
Tanpa ragu, Adaw kemudian memanggulnya ke atas pundak untuk dibawa pulang. Meninggalkan begitu saja Menjangan gemuk hasil buruan. Tambi Balau, mamak Adaw seorang dukun yang memiliki keahlian dalam pengobatan. Tentu tak akan keberatan mengobati gadis itu.
.
.
Gadis yang ditemukan Adaw, kini sudah terbaring dalam bilik rumah mereka, di desa Muara Bukit.
"Masih sangat muda. Malang sekali nasibmu. Siapa gerangan yang tega melakukan ini padamu? Sungguh orang itu manusia behati binatang!" gumam Tambi setengah mengomel, sembari memeriksa tubuh gadis yang dibawa pulang oleh Adaw.
Adaw yang berdiri di hadapan sang ibu mengendikkan bahu. Dia hanya menemukan orang hanyut di sungai. Tak tahu apa-apa tentang latar belakangnya.
Tambi Balau komat-kamit mengucapkan mantra sebelum meletakkan telapak tangan ke puncak kepala pasiennya, lalu memejamkan mata. Keringat sebesar butiran jagung kemudian bermunculan membasahi dahi lisut Tambi Balau. Dalam mata yang masih terpejam dia bisa melihat peristiwa terakhir, sebelum gadis itu celaka. Perjuangannya saat berlari menyelamatkan diri dari banyak orang yang mengejar.
DORR!
Letusan senjata api membuat tubuh si gadis tumbang, seolah menyaksikan langsung tubuh perempuan tua itu turut terjengkit kaget, matanya sontak membelalak.
"Huuufh ...." Tambi Balau terengah-engah, seraya menyeka keringat yang membasahi pelipis.
"Keterlaluan, mereka memperlakukan gadis ini seperti hewan buruan!" Ada rasa geram di hati Tambi Balau.
"Kau harus hidup, Nak, kau harus hidup!" Ditepuk pipi dingin si gadis berulang kali.
"Kalau perlu, kau balas semua perlakuan mereka padamu!" ujarnyanya lagi dengan nada emosi.
Berhari-hari, ritual demi ritual pengobatan untuk si gadis malang, dilakukan Tambi Balau dengan dibantu oleh Adaw. Kondisi luka yang sangat parah membuat semua proses tidaklah mudah. Ritual pengobatan pun digelar dengan memanggil bantuan ruh para leluhur. Tambi Balau bertekad gadis itu harus pulih kembali.
Setelah proses pengobatan yang panjang dan melelahkan, beberapa hari kemudian kelopak mata lentik itu akhirnya terbuka. Wajah yang pucat akibat kehabisan darah, kini telah merona. Dia menatap asing pada Tambi Balau dan Adaw yang juga sedang menatapnya.
"Syukurlah kau sudah sadar. Bolehkah kami tahu, siapa namamu, Nak?" tanya Tambi Balau hati-hati.
"Aku.., namaku Da-Dara," sahutnya lirih, tersendat. Ingatannya ternyata masih baik.
"Dara, nama yang bagus." Senyum Tambi Balau mengembang, sorot matanya tampak puas telah berhasil menyelamatkan seorang pasien.
Dara mengamati ruang tempat dia terbaring. "Aku di mana?"
"Kau sekarang ada di gubuk kami, Desa Muara Bukit. Tenanglah, tak usah kau risau! Saat ini kau ada di tempat yang aman. Tak akan ada yang bisa menyakitimu," terang Tambi Balau.
Semakin hari kondisi Dara semakin membaik. Dia sudah benar-benar pulih. Wajah cantiknya kini sudah bisa tersenyum manis.
Tambi Balau dan Adaw menyatakan siap membantu Dara, jika ingin kembali pulang ke tempat asalnya, di Pulau Jawa. Tapi, gadis itu malah menggeleng lemah.
"Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi di sana,Tambi. Bapak, ibu juga saudara perempuanku sudah tiada. Tak ada tempatku untuk pulang ke sana. Bolehkah aku ikut Tambi saja, di sini?" tanyanya penuh harap. Mata gadis itu tampak berkaca.
Tambi Balau terkesima mendengar pertanyaan itu. Tentu saja dirinya tidak akan keberatan. Apalagi Tambi tak memiliki anak perempuan. Hanya saja ada rasa ragu dalam hatinya. Sanggupkah gadis itu hidup di daerah pedalaman yang penuh keterbatasan?
Tak butuh waktu lama, ternyata Dara sudah bisa membaur dengan para penghuni Desa Muara Bukit. Namun, terkadang gadis itu terlihat murung. Setiap menjelang sore, dia kerap duduk menyendiri di tepi sungai. Menatap kosong ke kejauhan. Dari sana bisa terlihat menara tinggi milik sebuah perusahaan tambang minyak.
Suatu ketika, Tambi Balau menemukan Dara sedang sendirian duduk di atas bebatuan sungai. Dari jauh Tambi memperhatikannya. Hati perempuan tua itu kemudian tergelitik untuk mendekat. Sebelumnya Tambi pikir, Dara sedang mencuci. Ternyata dia sedang mengasah pisau dapur pada sebuah batu.
Sreeek-sroook, sreeek-sroook ....
Bunyi saat mata pisau dalam genggaman Dara bergesekan dengan permukaan batu. Dia tampak sangat telaten. Sesekali diangkatnya pisau itu tinggi-tinggi sambil mengoceh sendiri. Terheran-heran Tambi Balau melihatnya.
"Jaya Herlambang, aku bersumpah akan membuat perhitungan denganmu. Kamu adalah orang yang sudah menghancurkan hidupku." Dara menyebut nama seseorang sambil terus mengasah pisau. Matanya tampak berkilat-kilat penuh dendam.
"Aku akan mengasah pisau ini setiap hari supaya bisa mengvliti mukamu yang sombong itu. Mukamu akan kubuat menjadi topeng, lalu kupasang ke muka monyet di hutan. Sementang kaya raya, kamu berbuat seenaknya kepada kami. Jangan pikir aku akan diam saja, setelah apa yang kamu lakukan pada Mbak Arum, juga aku."
"Aku masih hidup, Jaya Herlambang!" ucapnya lagi dengan nada penuh penekanan.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku akan membalas dendam. Ny*wa harus dibayar ny*wa. Kvbvnvh kau, Jaya!" geramnya berapi-api.
"Siapa dia? Siapa Jaya Herlambang itu?" Sebuah suara menyela ucapan Dara dari belakang.
"Tambi?!" Sontak dia menoleh.
"Apa orang yang bernama Jaya Herlambang itu yang sudah membuatmu celaka?" tanya Tambi Balau lagi, sembari ikut duduk di samping Dara.
Gadis itu menunduk dalam, tangan meremas kuat gagang pisau. Tampak berat menceritakan semua.
"Aku dan Adaw sudah menganggapmu bagian dari keluarga kami. Jangan kau pendam sendiri lukamu! Ceritakanlah semuanya kepada Tambimu ini!" Tambi Balau melepaskan pisau dari tangan gadis yang mulai terisak.
Tampaknya kau belum tahu, kemampuan suku kami. Kalau kau memintaku untuk membvnvh manusia bejat itu, aku akan dengan mudah melakukannya, Tambi Balau membatin sembari memindai gadis di sampingnya.
"Ceritakanlah semua!" pinta Tambi lagi.
Dara mengangguk pelan. Kisah hidup yang tr4gis pun mengalir dari mulutnya. Tentang Arum, kakak perempuan yang diadopsi Jaya Herlambang, tetapi kemudian menghilang. Juga tentang peristiwa berd#r4h yang dia alami, dimana banyak gadis seusianya dib4nt4i dengan s4dis. Gadis-gadis bergaun putih yang sepertinya sengaja dipersiapkan untuk sebuah ritual iblis.
"Manusia l4kn4t mereka semua!" Wajah Tambi Balau mengeras usai Dara mengungkapkan semua.
Dia bangkit dari atas batu lalu berkata penuh amarah. "Rupanya mereka memakai tumbal untuk mendirikan tambang minyak di tanah kami."
"Tak perlu kau asah lagi pisaumu itu, Dara! Tambimu ini yang akan membantumu mengh4bisi orang bernama Jaya Herlambang." Tambi Balau menepuk dadanya keras.
Dara tertegun, tak menyangka Tambi Balau mau membantu. Dara yang masih polos dan lugu masih tidak tahu banyak tentang kelebihan yang dimiliki perempuan tua itu.
Other Stories
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
The Unkindled Of The Broken Soil
Tak semua yang berjalan memiliki tujuan. Tak semua yang diam itu hampa. Dan tak semua ki ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Final Call
Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...