Bab - 10 Jalan Terbuka (Tamat)
Keesokan paginya. Raka menghabiskan bubur yang terbuat dari sisa nasi seperti biasa. Mungkin bubur ala-ala terakhir yang bisa Sari sediakan.
“Hari ini aku semangat, Mak,” kata Raka. Dia sudah rapi, siap berangkat sekolah.
“Oh, ya? Kenapa?”
“Ya karena mulai hari ini mulungnya bareng Mamak lagi,” sahut Raka antusias. “Pasti hari ini Allah menolong kita kan, Mak? Mungkin di jalan-jalan nanti Allah kasih kardus sama botol bekas banyak-banyak buat kita.”
Sari mengulas senyum. Memasukkan ubi kukus dan satu butir telur untuk bekal Raka.
“Oh iya, Mak. Nanti sore kita ke pasar kayak dulu nggak? Ngambil sayuran yang tercecer?” Raka bicara lagi. Nadanya masih antusias. “Semoga ada kentang ya, Mak. Sudah lama nggak makan kentang.”
Sari tertawa. Dadanya sakit. Sakit harus tertawa sembari menahan kesedihan. Namun Raka tetap berceloteh riang gembira, sembari memakai sepatu. Sepertinya pembicaraan mereka semalam benar-benar merasuk dan membuat rasa optimis bocah itu benar-benar tinggi.
“Yuk, kita berangkat, Mak.” Raka berdiri. Tersenyum lebar.
Berdua mereka keluar dari rumah. Dan berpisah di ujung jalan.
Sepanjang menuju rumah Bu Ratna, Sari menguatkan tekad untuk berani bicara kepada majikannya itu. Semalam, sebelum tidur, Sari berpikir untuk meminta pekerjaan tambahan. Tentu saja dengan begitu dia berharap Bu Ratna bersedia menambah upah. Setidaknya ada sedikit uang lagi untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
“Pagi, Bu Ratna.” Sari mengangguk sopan.
Bu Ratna yang baru saja mengantar kepergian suami dan putra bungsunya, menoleh. Lalu tersenyum lebar.
“Bu, apa saya boleh minta waktu sebentar? Saya mau bicara….” Sari menunduk. Suaranya menjadi samar sekali di ujung kalimat.
“Oh, iya, Mbak Sari. Ibu juga ada yang ingin dibicarakan.” Bu Ratna menyambut dengan senang. Tangannya terulur, meraih pundak Sari. Lalu mereka berjalan sampai ke ruang makan.
“Mbak Sari silakan, mau ngomong apa?” tanya Bu Ratna.
“Ibu dulu saja, Bu,” sahut Sari lirih. Entah mengapa dadanya menjadi deg-degan.
Bu Ratna berderai lirih. “Oke, Ibu dulu ya. Gini, Mbak... di kantor papanya Dani lagi ada program beasiswa untuk anak-anak kurang mampu, apa boleh kalau Ibu daftarin Raka?”
Sari mendongak reflek. Bibirnya bergetar. “S-serius, Bu?”
Bu Ratna mengangguk. Tangannya kembali terulur. Kini dia menggenggam tangan Sari. “Mbak Sari hanya tinggal siapin syarat-syaratnya, nanti pengisian formulirnya Ibu bantu.”
“Ya Allah, t-terima kasih, Bu.” Mata Sari mulai basah.
“Jadi mau ya?” Bu Ratna tampak memastikan kembali.
“Ya, Bu. Tentu saja mau… ini berkah di tengah kehidupan kami yang sulit. Terima kasih, Bu. Ibu baik sekali, sampai memikirkan Raka.” Sari membalas genggaman tangan sang majikan.
“Iya, sama-sama, Mbak. Tapi nanti saya minta tolong Mbak Sari membantu Raka untuk terus semangat belajar, jangan sampai tinggal kelas ya. Ini beasiswanya bisa sampai ke jenjang SMA kalau Raka nilainya bagus-bagus.” Wajah Bu Ratna menatap lembut.
“Nah, Mbak Sari mau ngomong apa?”
Sari menelan ludah. Tiba-tiba dia meragu. Takut jika dia dicap sebagai orang yang tidak tahu diri, ngelunjak…. Dia sadar Bu Ratna selama ini sudah banyak menolongnya.
“Eh, kok malah ngelamun loh.” Bu Ratna menepuk tangan Sari. “Sudah ngomong saja, jangan takut.”
Ibu kandung Raka itu mendongak, menyeringai kecil. “M-maaf ya, Bu. S-saya malu, Ibu sudah baik sekali sama saya.”
“Ada masalah apa, Mbak? Ayo, ngomong saja.”
“S-sebenarnya s-saya per hari ini sudah tidak bekerja di warung Bu Dewi….” Lidah Sari mendadak kelu.
Bu Ratna menghela napas. Menatap nelangsa. Seandainya dia bisa menolong lebih jauh. Namun keuangan keluarganya juga tidak berlebih. Dua anak kembarnya tahun depan mulai kuliah.
“Mbak Sari, Ibu ikut sedih mendengarnya. Maaf kali ini Ibu belum bisa bantu. Tapi Mbak Sari jangan menyerah. Nanti Ibu promokan Mbak Sari ke teman atau tetangga sini ya. Barangkali ada yang butuh tenaga bantu-bantu,” ucap Bu Ratna.
“Terima kasih, Bu. Maaf, saya sering menyusahkan Ibu.” Sari bangkit perlahan. “Kalau gitu saya mau nyuci dulu, Bu. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih sudah bersedia membantu Raka.”
Bu Ratna mengangguk. “Ibu soalnya ingat ucapan Mbak Sari. Katanya tujuan hidup Mbak Sari adalah menyekolahkan Raka setinggi-tingginya. Mungkin ini hasil dari doa-doa dan niat kuat Mbak Sari, hanya saja Tuhan perkenankan melalui Ibu.”
“Baru tahun ini loh kantor papanya Dani ada program beasiswa untuk anak-anak di luar pegawai. Kayak pas banget kan sama Raka yang mau lanjut SMP? Berarti itu memang jalan untuk Mbak Sari.”
Deg.
Dada Sari seperti ditampar kesadaran. Tubuhnya mulai bergetar. Ingatan perempuan itu mulai berputar. Seakan gambaran peristiwa yang telah dia lalui bergerak bagai film di ruang kepalanya.
Sudah dua belas tahun ini dia tangguh berdiri menghadapi dunia. Dari luntang lantung di jalan, kini dia bisa mengontrak rumah kecil dan mempunyai pekerjaan. Namun dia sadar sekarang, ternyata dia tidak pernah benar-benar sendiri. Tuhan selalu menyertainya dengan memberikan jalan.
Bibir Sari tersenyum. Dia pun melangkah ke belakang. Bertekad akan menyelesaikan pekerjaan di rumah Bu Ratna sebaik mungkin.
Setelah ini dia akan memulung, dia yakin dia masih bisa makan hari ini dengan hasil memulung.
Bu Ratna benar, Tuhan sudah membukakan jalan untuk impian terbesarnya. Dia hanya tinggal menguatkan langkah untuk terus menjaga anugerah tersebut.
"Raka, kamu tidak boleh mengalami nasib buruk seperti mamakmu. Mari kita usahakan mengakhiri kemiskinan ini," desis Sari.
Dia tersenyum. Seolah-olah benar ada Raka di depannya.
"Pasti ada jalan untuk kita, Nak."
TAMAT.
“Hari ini aku semangat, Mak,” kata Raka. Dia sudah rapi, siap berangkat sekolah.
“Oh, ya? Kenapa?”
“Ya karena mulai hari ini mulungnya bareng Mamak lagi,” sahut Raka antusias. “Pasti hari ini Allah menolong kita kan, Mak? Mungkin di jalan-jalan nanti Allah kasih kardus sama botol bekas banyak-banyak buat kita.”
Sari mengulas senyum. Memasukkan ubi kukus dan satu butir telur untuk bekal Raka.
“Oh iya, Mak. Nanti sore kita ke pasar kayak dulu nggak? Ngambil sayuran yang tercecer?” Raka bicara lagi. Nadanya masih antusias. “Semoga ada kentang ya, Mak. Sudah lama nggak makan kentang.”
Sari tertawa. Dadanya sakit. Sakit harus tertawa sembari menahan kesedihan. Namun Raka tetap berceloteh riang gembira, sembari memakai sepatu. Sepertinya pembicaraan mereka semalam benar-benar merasuk dan membuat rasa optimis bocah itu benar-benar tinggi.
“Yuk, kita berangkat, Mak.” Raka berdiri. Tersenyum lebar.
Berdua mereka keluar dari rumah. Dan berpisah di ujung jalan.
Sepanjang menuju rumah Bu Ratna, Sari menguatkan tekad untuk berani bicara kepada majikannya itu. Semalam, sebelum tidur, Sari berpikir untuk meminta pekerjaan tambahan. Tentu saja dengan begitu dia berharap Bu Ratna bersedia menambah upah. Setidaknya ada sedikit uang lagi untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
“Pagi, Bu Ratna.” Sari mengangguk sopan.
Bu Ratna yang baru saja mengantar kepergian suami dan putra bungsunya, menoleh. Lalu tersenyum lebar.
“Bu, apa saya boleh minta waktu sebentar? Saya mau bicara….” Sari menunduk. Suaranya menjadi samar sekali di ujung kalimat.
“Oh, iya, Mbak Sari. Ibu juga ada yang ingin dibicarakan.” Bu Ratna menyambut dengan senang. Tangannya terulur, meraih pundak Sari. Lalu mereka berjalan sampai ke ruang makan.
“Mbak Sari silakan, mau ngomong apa?” tanya Bu Ratna.
“Ibu dulu saja, Bu,” sahut Sari lirih. Entah mengapa dadanya menjadi deg-degan.
Bu Ratna berderai lirih. “Oke, Ibu dulu ya. Gini, Mbak... di kantor papanya Dani lagi ada program beasiswa untuk anak-anak kurang mampu, apa boleh kalau Ibu daftarin Raka?”
Sari mendongak reflek. Bibirnya bergetar. “S-serius, Bu?”
Bu Ratna mengangguk. Tangannya kembali terulur. Kini dia menggenggam tangan Sari. “Mbak Sari hanya tinggal siapin syarat-syaratnya, nanti pengisian formulirnya Ibu bantu.”
“Ya Allah, t-terima kasih, Bu.” Mata Sari mulai basah.
“Jadi mau ya?” Bu Ratna tampak memastikan kembali.
“Ya, Bu. Tentu saja mau… ini berkah di tengah kehidupan kami yang sulit. Terima kasih, Bu. Ibu baik sekali, sampai memikirkan Raka.” Sari membalas genggaman tangan sang majikan.
“Iya, sama-sama, Mbak. Tapi nanti saya minta tolong Mbak Sari membantu Raka untuk terus semangat belajar, jangan sampai tinggal kelas ya. Ini beasiswanya bisa sampai ke jenjang SMA kalau Raka nilainya bagus-bagus.” Wajah Bu Ratna menatap lembut.
“Nah, Mbak Sari mau ngomong apa?”
Sari menelan ludah. Tiba-tiba dia meragu. Takut jika dia dicap sebagai orang yang tidak tahu diri, ngelunjak…. Dia sadar Bu Ratna selama ini sudah banyak menolongnya.
“Eh, kok malah ngelamun loh.” Bu Ratna menepuk tangan Sari. “Sudah ngomong saja, jangan takut.”
Ibu kandung Raka itu mendongak, menyeringai kecil. “M-maaf ya, Bu. S-saya malu, Ibu sudah baik sekali sama saya.”
“Ada masalah apa, Mbak? Ayo, ngomong saja.”
“S-sebenarnya s-saya per hari ini sudah tidak bekerja di warung Bu Dewi….” Lidah Sari mendadak kelu.
Bu Ratna menghela napas. Menatap nelangsa. Seandainya dia bisa menolong lebih jauh. Namun keuangan keluarganya juga tidak berlebih. Dua anak kembarnya tahun depan mulai kuliah.
“Mbak Sari, Ibu ikut sedih mendengarnya. Maaf kali ini Ibu belum bisa bantu. Tapi Mbak Sari jangan menyerah. Nanti Ibu promokan Mbak Sari ke teman atau tetangga sini ya. Barangkali ada yang butuh tenaga bantu-bantu,” ucap Bu Ratna.
“Terima kasih, Bu. Maaf, saya sering menyusahkan Ibu.” Sari bangkit perlahan. “Kalau gitu saya mau nyuci dulu, Bu. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih sudah bersedia membantu Raka.”
Bu Ratna mengangguk. “Ibu soalnya ingat ucapan Mbak Sari. Katanya tujuan hidup Mbak Sari adalah menyekolahkan Raka setinggi-tingginya. Mungkin ini hasil dari doa-doa dan niat kuat Mbak Sari, hanya saja Tuhan perkenankan melalui Ibu.”
“Baru tahun ini loh kantor papanya Dani ada program beasiswa untuk anak-anak di luar pegawai. Kayak pas banget kan sama Raka yang mau lanjut SMP? Berarti itu memang jalan untuk Mbak Sari.”
Deg.
Dada Sari seperti ditampar kesadaran. Tubuhnya mulai bergetar. Ingatan perempuan itu mulai berputar. Seakan gambaran peristiwa yang telah dia lalui bergerak bagai film di ruang kepalanya.
Sudah dua belas tahun ini dia tangguh berdiri menghadapi dunia. Dari luntang lantung di jalan, kini dia bisa mengontrak rumah kecil dan mempunyai pekerjaan. Namun dia sadar sekarang, ternyata dia tidak pernah benar-benar sendiri. Tuhan selalu menyertainya dengan memberikan jalan.
Bibir Sari tersenyum. Dia pun melangkah ke belakang. Bertekad akan menyelesaikan pekerjaan di rumah Bu Ratna sebaik mungkin.
Setelah ini dia akan memulung, dia yakin dia masih bisa makan hari ini dengan hasil memulung.
Bu Ratna benar, Tuhan sudah membukakan jalan untuk impian terbesarnya. Dia hanya tinggal menguatkan langkah untuk terus menjaga anugerah tersebut.
"Raka, kamu tidak boleh mengalami nasib buruk seperti mamakmu. Mari kita usahakan mengakhiri kemiskinan ini," desis Sari.
Dia tersenyum. Seolah-olah benar ada Raka di depannya.
"Pasti ada jalan untuk kita, Nak."
TAMAT.
Other Stories
Balada Cinta Kamaliah
Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Separuh Dzrah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...