05. Setidaknya Dengarkan Suara Kami Sebentar
Seperti biasa, mereka bekerja di pagi hari dengan Diah yang masih memikirkan dilema soal mimpinya Antara pilihan dirinya sendiri atau orang tuanya, shreya dengan kekalutan hatinya takut keluar takut di judge yang memicukan rasa insecure nya menguasai dirinya karena ia orang yang gampang tersentil saat kekurangannya banyak dibicarakan,askia dengan kegelisahannya soal pernikahan perjodohannya dengan orang yang mungkin bisa disebutnya om kesedihan yang menyelimuti nya tidak bisa membuat nya fokus bekerja, sementara Parinita terlihat fine dari luar, tergambar jelas dari sorot matanya bahwa ia adalah pembohong yang mahir.
Pagi ini diah berniat untuk bicara empat mata dengan pacarnya, "Aku...cuman mau bilang sebaiknya kita udahan daripada kamu merasa berat dalam hubungan ini, karena aku tidak mau diselimuti rasa tidak enak karena itu." Gumamnya tanpa menatap zid.
" Sebenarnya aku tidak bisa menyetujui ini,aku masih sayang sama kamu di,tapi mengingat umur yang semakin matang untuk melanjutkan hidup,aku tidak bisa menyangkal nya lagi." Jelasnya seraya memegang tangan Diah.
"Maka pergilah...kita putuskan tali ini pelan pelan,aku dan kamu kita akan berpisah secara baik baik, tidak semua perpisahan harus meninggalkan luka kan? Ada juga yang akan berakhir dengan doa, Biarkan kita menjadi puisi yang berhenti di titik,bukan koma,agar indahnya tetap abadi tanpa luka." Kata kata Diah barusan sangat menembus di lubuk hati zid,ia tidak sengaja meneteskan air matanya setitik dengan masih menatap dengan tatapan yang dalam ke pacarnya itu.
"Lihat...kamu begitu indah,lebih indah dari senja yang menyapa,lebih indah dari lukisan yang aku tatap setiap hari,lebih indah dari momen berharga di setiap kesempatan." Responnya lalu mendongak kan Diah yang kini menatapnya.
"Kamu benar, mungkin semesta mengirim kita bertemu untuk tetap menjadi sahabat,maaf aku harus mengatakan semua ini karena jika tidak aku akan menjadi orang terjahat yang pernah kamu temui,jika aku tidak berhasil membawamu ke restu orangtua maka aku harus segera menikah satu bulan lagi dengan wanita lain,itu permintaan orangtuaku." Bagai pohon tenang yang tersambar petir,Diah tentu merasa berat, karena ia harus melepaskan cowok yang selalu ada untuknya segala masalah nya,zid tahu.
"Terimakasih untuk semuanya, semoga kamu bisa mencapai amin yang kamu maksud itu,bukan hanya soal jodoh tapi juga mimpi yang masih menunggu untuk mekar,keep strong aster..." Ucapnya sambil berdiri ia melambaikan tangannya ke arah Diah, matanya yang memerah dan senyum rekahnya, membuat Diah memalingkan wajahnya dan menangisi perpisahannya,zid berlalu pergi,kini mereka harus belajar untuk mengikhlaskan,sekali lagi ini merupakan pembelajaran untuk kita semua bahwa perpisahan bukan hanya soal luka tapi rasa aman yang harus ada.
Waktu dulu kamu meminta ku menjadi pacarmu aku pernah berkhayal bahwa kita akan berlayar sampai ke ujung tapi alam menghentikan kapalnya dan memberikan pelajaran yang berharga untuk kita, bahwa dunia ini luas...
...
Shreya dan askia sibuk menyiapkan pesanan pengunjung resto, mereka beberapa kali membawa baki pesanan untuk dibawa ke meja,wajah askia tidak tampak tenang hari ini, mungkin karena rencana pernikahannya, sementara shreya juga merasa tidak aman dan gelisah karena hate komen yang selalu orang orang lontarkan ketika bertemu dengannya, "gue nggak nyangka jika harus ngulangin masa ini lagi." Gumam shreya setelah melihat hp nya,askia kemudian ikut melihat apa yang sahabat nya lakukan itu , " Lo nggak usah terlalu pikiran ini,kita ada bersama Lo shreya." Respon askia berusaha menenangkan shreya.
"Lo nggak tahu aja Ki, setelah gue upload tuh video, setiap gue jalan selalu ada aja yang ngomongin gue, ngomongin tentang fisik gue, sebenarnya gue tuh salah apa sih, yang gue jual tuh suara dan karya bisa gak sih mereka jangan lihat fisik?.." desis nya menunjukkan muka sedihnya lalu memasukkan hp ke sakunya.
"Sabar shreya, jangan dengerin omongan mereka yang penting Lo fokus aja ke karya ke tujuan awal Lo, yang perlu lo lihat adalah kita,orang orang yang akan selalu dukung lo." Lalu mereka saling berpelukan,momen itu setidaknya membuat mereka bisa lebih memiliki rasa berharga.
"Gue juga nggak bisa tenang sejak kemarin." Sahut askia melepaskan pelukannya.
"Iya gue tahu ini pasti berat untuk lo, nanti kita cari solusinya sama sama ya." Mereka saling senyum bertatapan, lalu melanjutkan pekerjaannya.
...
Malam hari tiba,ita, shreya dan Diah menuju rumah askia sesuai rencana mereka kemarin, "permisi..." Ucap Ita sambil mengetuk pintu rumah askia,dan ayah askia membuka pintunya, "ada apa malam malam kesini?" Celetuk ayah askia.
"Maaf om,kita cuma mau main sama askia." Setelah mendengar jawaban mereka,pak Cahyo akhirnya menyetujuinya, "jangan sampai melewati jam sembilan." Lalu pintunya dibuka lebar dan mereka masuk ke kamar askia.
"Ki..." Gumam Ita nyelonong masuk langsung melayangkan badannya di kasur,sebelahan dengan askia, sementara Diah dan shreya masih santai masuk kamar dan menutup pintunya.
"Bokap Lo serius amat Ki." Ucap shreya.
"Ya.. begitulah."
"Apa sebenarnya rencana kalian?" Sahut Diah sambil menyeret boneka askia ke pangkuannya.
"Kita harus bicara dulu dengan orangtua askia, setelah mereka menolaknya baru kita lakukan rencana berikutnya." Jelas Ita, pembicaraan mereka mulai serius.
Lalu askia memanggil orangtuanya untuk diajak bicara bersama sahabat sahabatnya.
"Apa yang mau kalian bicarakan?" Ujar Bu Susan, mereka duduk di sofa.
"Jadi...soal pernikahan askia,dia sudah bercerita kepada kita om, bukankah itu tidak mungkin om,usia mereka terpaut sangat jauh,maaf sebelumnya tapi cobalah untuk mengerti perasaan askia." Jelas Ita, respon pak Cahyo menajamkan pandangannya kepada Ita.
"Iya om,Tante, bukankah kita sebagai anak dari orangtua juga punya kuasa untuk berbicara, untuk berpendapat? Jadi tolong pikirkan ini dulu,ini juga untuk masa depan askia,kita mengerti bahwa askia harus segera menikah karena usianya juga yang sudah matang tapi untuk calon suaminya... sepertinya itu tidak akan cocok dengan askia." Sambung shreya.
Salahkah jika kita pengen berpendapat? Menyuarakan apa yang menjadi keluh kesah kita, harusnya kalian sebagai orangtua perlu selalu bertanya dahulu jika ada hal yang perlu dibicarakan bagaimana baiknya, masalah solusi itu mari diskusikan baik baik dengan tenang dengan pikiran yang jernih... Askia selalu pengen ngomong in apa yang ada dibenaknya kepada orangtuanya namun sebelum ia membuka mulutnya, seolah statement tentang "anak sebaiknya jangan berbicara dulu atau membantah kepada orangtua atas keputusan orangtua" itu membuatnya berpikir lagi beberapa kali dan kemudian hanya bungkam dan menurut yang bisa ia lakukan.
Pagi ini diah berniat untuk bicara empat mata dengan pacarnya, "Aku...cuman mau bilang sebaiknya kita udahan daripada kamu merasa berat dalam hubungan ini, karena aku tidak mau diselimuti rasa tidak enak karena itu." Gumamnya tanpa menatap zid.
" Sebenarnya aku tidak bisa menyetujui ini,aku masih sayang sama kamu di,tapi mengingat umur yang semakin matang untuk melanjutkan hidup,aku tidak bisa menyangkal nya lagi." Jelasnya seraya memegang tangan Diah.
"Maka pergilah...kita putuskan tali ini pelan pelan,aku dan kamu kita akan berpisah secara baik baik, tidak semua perpisahan harus meninggalkan luka kan? Ada juga yang akan berakhir dengan doa, Biarkan kita menjadi puisi yang berhenti di titik,bukan koma,agar indahnya tetap abadi tanpa luka." Kata kata Diah barusan sangat menembus di lubuk hati zid,ia tidak sengaja meneteskan air matanya setitik dengan masih menatap dengan tatapan yang dalam ke pacarnya itu.
"Lihat...kamu begitu indah,lebih indah dari senja yang menyapa,lebih indah dari lukisan yang aku tatap setiap hari,lebih indah dari momen berharga di setiap kesempatan." Responnya lalu mendongak kan Diah yang kini menatapnya.
"Kamu benar, mungkin semesta mengirim kita bertemu untuk tetap menjadi sahabat,maaf aku harus mengatakan semua ini karena jika tidak aku akan menjadi orang terjahat yang pernah kamu temui,jika aku tidak berhasil membawamu ke restu orangtua maka aku harus segera menikah satu bulan lagi dengan wanita lain,itu permintaan orangtuaku." Bagai pohon tenang yang tersambar petir,Diah tentu merasa berat, karena ia harus melepaskan cowok yang selalu ada untuknya segala masalah nya,zid tahu.
"Terimakasih untuk semuanya, semoga kamu bisa mencapai amin yang kamu maksud itu,bukan hanya soal jodoh tapi juga mimpi yang masih menunggu untuk mekar,keep strong aster..." Ucapnya sambil berdiri ia melambaikan tangannya ke arah Diah, matanya yang memerah dan senyum rekahnya, membuat Diah memalingkan wajahnya dan menangisi perpisahannya,zid berlalu pergi,kini mereka harus belajar untuk mengikhlaskan,sekali lagi ini merupakan pembelajaran untuk kita semua bahwa perpisahan bukan hanya soal luka tapi rasa aman yang harus ada.
Waktu dulu kamu meminta ku menjadi pacarmu aku pernah berkhayal bahwa kita akan berlayar sampai ke ujung tapi alam menghentikan kapalnya dan memberikan pelajaran yang berharga untuk kita, bahwa dunia ini luas...
...
Shreya dan askia sibuk menyiapkan pesanan pengunjung resto, mereka beberapa kali membawa baki pesanan untuk dibawa ke meja,wajah askia tidak tampak tenang hari ini, mungkin karena rencana pernikahannya, sementara shreya juga merasa tidak aman dan gelisah karena hate komen yang selalu orang orang lontarkan ketika bertemu dengannya, "gue nggak nyangka jika harus ngulangin masa ini lagi." Gumam shreya setelah melihat hp nya,askia kemudian ikut melihat apa yang sahabat nya lakukan itu , " Lo nggak usah terlalu pikiran ini,kita ada bersama Lo shreya." Respon askia berusaha menenangkan shreya.
"Lo nggak tahu aja Ki, setelah gue upload tuh video, setiap gue jalan selalu ada aja yang ngomongin gue, ngomongin tentang fisik gue, sebenarnya gue tuh salah apa sih, yang gue jual tuh suara dan karya bisa gak sih mereka jangan lihat fisik?.." desis nya menunjukkan muka sedihnya lalu memasukkan hp ke sakunya.
"Sabar shreya, jangan dengerin omongan mereka yang penting Lo fokus aja ke karya ke tujuan awal Lo, yang perlu lo lihat adalah kita,orang orang yang akan selalu dukung lo." Lalu mereka saling berpelukan,momen itu setidaknya membuat mereka bisa lebih memiliki rasa berharga.
"Gue juga nggak bisa tenang sejak kemarin." Sahut askia melepaskan pelukannya.
"Iya gue tahu ini pasti berat untuk lo, nanti kita cari solusinya sama sama ya." Mereka saling senyum bertatapan, lalu melanjutkan pekerjaannya.
...
Malam hari tiba,ita, shreya dan Diah menuju rumah askia sesuai rencana mereka kemarin, "permisi..." Ucap Ita sambil mengetuk pintu rumah askia,dan ayah askia membuka pintunya, "ada apa malam malam kesini?" Celetuk ayah askia.
"Maaf om,kita cuma mau main sama askia." Setelah mendengar jawaban mereka,pak Cahyo akhirnya menyetujuinya, "jangan sampai melewati jam sembilan." Lalu pintunya dibuka lebar dan mereka masuk ke kamar askia.
"Ki..." Gumam Ita nyelonong masuk langsung melayangkan badannya di kasur,sebelahan dengan askia, sementara Diah dan shreya masih santai masuk kamar dan menutup pintunya.
"Bokap Lo serius amat Ki." Ucap shreya.
"Ya.. begitulah."
"Apa sebenarnya rencana kalian?" Sahut Diah sambil menyeret boneka askia ke pangkuannya.
"Kita harus bicara dulu dengan orangtua askia, setelah mereka menolaknya baru kita lakukan rencana berikutnya." Jelas Ita, pembicaraan mereka mulai serius.
Lalu askia memanggil orangtuanya untuk diajak bicara bersama sahabat sahabatnya.
"Apa yang mau kalian bicarakan?" Ujar Bu Susan, mereka duduk di sofa.
"Jadi...soal pernikahan askia,dia sudah bercerita kepada kita om, bukankah itu tidak mungkin om,usia mereka terpaut sangat jauh,maaf sebelumnya tapi cobalah untuk mengerti perasaan askia." Jelas Ita, respon pak Cahyo menajamkan pandangannya kepada Ita.
"Iya om,Tante, bukankah kita sebagai anak dari orangtua juga punya kuasa untuk berbicara, untuk berpendapat? Jadi tolong pikirkan ini dulu,ini juga untuk masa depan askia,kita mengerti bahwa askia harus segera menikah karena usianya juga yang sudah matang tapi untuk calon suaminya... sepertinya itu tidak akan cocok dengan askia." Sambung shreya.
Salahkah jika kita pengen berpendapat? Menyuarakan apa yang menjadi keluh kesah kita, harusnya kalian sebagai orangtua perlu selalu bertanya dahulu jika ada hal yang perlu dibicarakan bagaimana baiknya, masalah solusi itu mari diskusikan baik baik dengan tenang dengan pikiran yang jernih... Askia selalu pengen ngomong in apa yang ada dibenaknya kepada orangtuanya namun sebelum ia membuka mulutnya, seolah statement tentang "anak sebaiknya jangan berbicara dulu atau membantah kepada orangtua atas keputusan orangtua" itu membuatnya berpikir lagi beberapa kali dan kemudian hanya bungkam dan menurut yang bisa ia lakukan.
Other Stories
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...