Sepi
Saqueena menatap ke luar jendela kamarnya dengan lekat, dalam deras hujan. Dia begitu rindu sama Keina. Meskipun bukan berarti harus mengganti tempat Raina di hatinya. Kerinduan yang mengalir di ruangnya sendiri tentang Keina. Roman tengah sangat sibuk--meleburkan segala kesedihan dan kecemburuan Raina atas kehamilan Keina. Kesepian itu begitu mendera hati gadis cantik berhidung mancung tersebut. Dia tak beranjak, menatap jauh dan mengintip kehadiran hujan yang tak mau beranjak.
“Mama dan Papa selalu sibuk seminar. Mereka melupakan atau lupa, jika aku membutuhkan kebersamaan dengan keduanya? Mengapa Bunda harus pergi? Mengapa Mama berubah pikiran dengan Bunda? Ahhhhh aku lelah,” Saqueena mematung ditemani gemuruh suara hujan.
Bunyi pesan dari telepon selulernya, mengagetkan seluruh lamunan.
“Queen, aku mau menagih janjimu.”
Tercantum sebuah nama --Tino—yang membuat jantung Saqueena sedikit berdegup.
“Janji apa ya?”
“Aku mencintaimu, Queen.”
“Maafkan aku ya, Tino. Aku tak bisa menjawab seperti yang kamu inginkan. Aku tak bisa menerimamu. Aku tidak mau berpacaran.”
“Cinta itu naluri, Queen.”
“Benar, maka dari itu aku ingin memelihara naluriku agar senantiasa sehat.”
“Apa salahnya dengan pacaran?”
“Banyak.”
“Pacaran tidak boleh?”
“Boleh, tapi nanti setelah halal.”
“Ah kau, tidak enjoy menjalani hidup ini.”
“Tak mengapa, aku hanya belajar untuk tak melanggar semuanya.”
Hening. Tak ada lagi jawaban dari Tino. Saqueena tak mau menebak rasa yang terjadi pada Tino. Mungkin memang menyakitkan, saat keinginan hati tak terpenuhi. Namun, bagi Saqueena seberapa pun sepi hidupnya, dia enggan dan takut memilih pacaran sebagai sarana pelampiasan rasa kesepian dalam hatinya.
Saqueena bersiap dan memakai jaket, kerinduannya pada Keina tak bisa lagi dibendung. Dia harus pergi. Dia mempersiapkan banyak makanan dan susu.
“Pak Komar, antarkan Queen ke rumah Bunda ya.”
“Baik, Non Queen.”
“Tolong bawa ini dan simpan di bagasi ya,” Saqueena memberikan tiga kantong makanan dan buah-buahan serta susu untuk ibu hamil.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Saqueena sudah tak sabar lagi untuk bertemu Keina.
“Perlu upaya keras nih, Pak. Mengetuk pintu rumah Bunda itu tak mudah.”
“Non bisa video call dulu atau kirim pesan singkat,” jawab Pak Komar.
“Oh iya betul kata Pak Komar. Queen harus video call nih.”
Seraut wajah cantik muncul di layar telepon selulernya Saqueena, wanita berkerudung hitam dengan wajah tanpa polesan make-up. Ekspresi bahagia. Kemudian menggerakkan tangannya memberi isyarat.
Saqueena pun membalas dan mengisyaratkan, jika dia akan datang beberapa saat lagi. Matanya berbinar, saat sampai di depan pintu. Keina tersenyum, melambaikan tangan. Mereka berpelukan cukup lama.
*****
Keina menatap mata gadis tersebut begitu lekat, ada sinar kesedihan dari sorot bola matanya. Gadis yang tertunduk itu kemudian direngkuhnya, gerakan tangannya mengisyaratkan tanda tanya. Keina memasang alat dengar dengan rapi, agar setiap percakapan bisa ditangkap dengan benar.
“Ada apa?” Keina bertanya.
Saqueena masih menundukkan kepala dengan rasa sedih yang masih belum beranjak.
“Berceritalah...”
“Queen sedih dan merasa sepi, Bunda.”
“Mengapa?”
“Mama dan Papa terlalu sibuk.”
Keina menatap dengan lembut, sambil memberikan teh hangat. Pak Komar baru selesai menyimpan barang-barang bawaan, kemudian berpamitan.
“Bunda, sehat?” Saqueena memecah kebekuan.
Keina tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Mengapa Bunda harus pindah?”
Keina hanya tersenyum dan mengusap pipi Saqueena dengan lembut, “Betapa menyakitkan kehidupan itu, jika kita pikirkan dengan sudut pandang yang rumit.”
Saqueena terdiam seakan tengah mencerna ucapan ibu tirinya.
“Bunda, pantas saja banyak anak remaja yang hancur dalam buaian pacaran ya, Bunda.”
“Mengapa?”
“Mereka mencuri makna cinta dari jalan yang salah. Mungkin tak menemukan hangat cinta di rumahnya.”
Keina menggelengkan kepala, “Queen berbeda dengan mereka, tidak boleh terjatuh dalam keterpurukan. Mungkin Mama memang tengah berusaha menguatkan segalanya.”
Saqueena menatap Keina yang tengah berbicara, meskipun dengan intonasi yang samar, namun ada gerakan yang tegas melengkapi penjelasan komunikasi mereka.
“Bunda, ada laki-laki yang mencintai Queen?”
Keina tersenyum, “Biarkanlah dia cinta, itu haknya.”
“Tapi sikapnya memaksa Queen untuk menerima cinta yang dia suguhkan.”
Keina tersenyum dan menggelengkan kepala, “Pacaran tidak boleh ya.”
“Iya, Bunda.”
“Queen suka sama dia?”
“Sedikit, hanya karena dia baik.”
“Sudah redakah sedihmu, Queen?”
Saqueena tersenyum, mengiyakan dengan gerak tangan.
“Kita membuat kue saja, yuk ...”
“Ayo, Bunda.”
Akhirnya mereka tenggelam dalam cengkerama, sesekali terdengar tawa Saqueena dengan lepas, mungkin sepi itu telah berlalu. Tergantikan kebersamaan yang terkesan sederhana. Namun, padat mengisi relung hati Saqueena.
Gerimis sudah beranjak, tersisa hawa dingin yang menyejukkan. Jalan terlihat basah, dedaunan segar, senja tiba dengan warna yang mengalirkan aroma tanah. Wajah kedua wanita berbeda usia itu terlihat bahagia. Menikmati hangat kue dan curahan kedalaman rindu mereka.
*****
Other Stories
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Deska
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...