12. Takziran
Sial, aku tidak ikut salat malam. Aku menggerutu di kamar bakda ngaji subuh. Semua anggota kamar bersikukuh sudah membangunkanku, hanya saja aku yang tidak mau bangun.
“Anak kamar udah bangunin kamu ya, Karima. Kamu aja yang tidur kayak orang pingsan, nggak sadar kalau sudah dibangunin banyak orang. Nggak mungkin kan kami nunggu kamu bangun. Padahal kamu sempat duduk lho,” terang Ina di kamar.
Tetap saja aku merasa tidak ada yang membangunkanku. Kegiatan di sekolah dan les tambahan membuat badanku pegal-pegal. “Andai saja ada tukang urut di pondok ini, niscaya aku sudah menghubunginya lebih dulu,” pikirku.
Mau tidak mau aku harus menerima takziran (hukuman) hari Ahad besok, di mana sekolah libur. Meski pondok libur hari Jumat. Aku pun sudah mendapat panggilan dari keamanan, surat panggilan sudah berada di kotak baju sejak pagi tadi, jauh sebelum matahari terbit. Mereka memang mata-mata yang keren, tidak bisa sedikitpun melewatkan kesalahan, sekecil biji zarah pun tak bisa.
Keamanan merupakan salah satu departemen kepengurusan di pesantren yang mengurus terkait dengan tingkah laku santri dan memberi hukuman atas perilaku santri yang tidak sesuai dengan pondok pesantren. Semua keamanan begitu menakutkan, entah mengapa rasanya dekat-dekat dengan mereka begitu tak mengenakkan.
Aku sudah berada di ruang pengurus, aku dihadapi oleh empat keamanan senior. Intinya mereka mempermasalahkan aku yang menyapu area belakang sumur putri, karena itu akan mengundang reaksi dari santri putra. Ternyata selain kasus tidak salat tahajud, aku bermasalah pada bagian ini juga. Aku memang menyapu jalan menuju yang kami lewati menuju sekolah, areanya memang ada sedikit bagian putra. Namun itu sedikit sekali. Aku menyapunya tidak ada niat apapun, kecuali hanya ingin melihat jalan tanah itu tidak penuh dengan daun.
Ngesok mungkin itu pikiran kalian dan pikiran mereka. Namun sungguh aku tak sempat memikirkan apapun. Aku hanya terinspirasi dari pak tuo, beliau setiap pagi menyapu halaman rumah dan jalanan tanah menuju rumahnya. Pak tuo tak pernah disuruh simbok untuk melakukannya. Ia hanya senang saja mengerjakannya, badan yang sudah membungkuk melebihi orang rukuk menyapu pagi dan sore hanya untuk kebersihan.
Lalu apa yang salah dengan aktivitas yang kulakukan setiap pagi tersebut?
“Kamu tidak perlu menyapu jalan belakang sumur lagi!” seseorang memulai penyidangan. Aku masih diam menunduk, tak banyak yang kubela dari sikapku.
“Hal tersebut hanya memancing perhatian santri putra,” tambahnya kemudian.
“Mbak, sungguh aku tidak ada niat apapun membersihkan jalan di belakang sumur putri. Aku hanya ingin melihat lokasi tersebut bersih. Itu saja,” aku mulai terisak, siapa yang bisa membaca niat di dalam hati? Kecuali Allah sendiri.
“Pihak pengurus putra yang mempermasalahkannya, saya harap kamu bisa mengerti Karima,” aku menangis lebih keras. Salah seorang dari mereka mencoba menenangkanku. Aku hanya merasa ini tidak adil. Ak upun tetap mendapat hukuman atas pelanggaranku tidak salat malam, sedangkan masalah bersih-bersih hanya menjadi sebuah teguran atau peringatan.
Ketahuilah ada banyak hal kebaikan yang nantinya akan kamu lakukan namun tak akan pernah dianggap kebaikan orang lain. Namun percayalah ada Allah yang akan melihat segala kebaikan kita, meski itu sangat kecil sekali.
Aku membaca Quran selama dua jam dibayar tunai. Pengurus pun secara bergantian menungguku. Menunggu siapa tahu aku malah ngorok bukannya membaca Quran. Berulang kali mulutku menguap menahan kantuk. Benar saja baru memegang Al Quran, rasanya sudah ingin tidur. Jadi teringat salah satu guru agamaku di kampung, jika kamu tidak bisa tidur malam, maka berwudulah dan ambil Quran serta bacalah, niscaya tidak sampai 10 menit kamu sudah mendengkur. Aku tersenyum simpul dibuatnya.
Waktu bergulir begitu lamban, sedangkan di luar sana hujan masih membasahi tanah ini. Tak ada satupun santri yang keluar dari selimut-selimut terbaiknya. Hanya beberapa anak ndalem yang mulai ke rumah kyai membantu segala kesibukannya. Pengurus keamanan sudah saling ganti menungguku selesai membaca Al Quran, entah sudah berapa kali juga kepala berulang kali memandangi jarum jam. Entah pula sudah berapa ayat kubaca, berapa juz kulewati, aku membacanya penuh nikmat, meski awalnya begitu berat. Waktu tersisa hanya beberapa menit lagi, selama 120 menit tersebut pun aku dilarang berhenti membaca.
Dihukum masih masalah tidak salat malam itu hal yang biasa dan wajar, jangan sampai saja dihukum masalah pacaran dengan lawan jenis, Ya iyalah pacaran dengan lawan jenis, masak jeruk minum jeruk, nggak seger dong. Atau dihukum karena kabur dari pondok. Aku hanya percaya semoga hukuman kali ini membawa kebaikan di masa depan, mendapatkan berkah yang berlimpah.
Akhirnya hukumanku selesai sudah. Aku berdiri, rasanya lututku ngilu tak terkira. Belum lagi mataku berkunang-kunang tak jelas. Melihat anak kamar menjadi lebih banyak dari biasanya, “Apakah anggota kamar lain sedang bertandang?” Pikirku. Namun ketika kulihat Ina datang dari kamar mandi, Ina berubah menjadi dua, mungkinkah dia mempunyai saudara kembar?
“Ina, kamu kok ada dua?” tanyaku padanya, dengan mata yang masih terus berkedip.
“Dua apanya, ngaco kamu,” dilemparnyalah aku pakai handuknya. Oh Allah, mataku sampai asyik gini rasanya. Semua anak tertawa melihat tingkahku. Menyesal rasanya tidak salat malam. Walau bagaimanapun membaca Al Quran itu baik, tapi kalau hadir dalam bentuk hukuman itu juga tidak terlalu baik untuk reputasiku, haha.
***
Setelah pengajian malam Jumat usai, semua santri yang piket ikut membantu pekerjaan di dapur. Dari mencuci piring, gelas dan aneka perabot dapur lainnya. Ada beberapa teman santri yang sudah tidur terlebih dahulu. Sambil terkantuk-kantuk kami mencuci perabotan kotor. Sesekali kami tidak terima karena tidak semua anak melakukan tugasnya.
Aku menggosok alat penanak nasi dengan sedikit malas, lebih-lebih mata yang mulai berat untuk dibuka. Tidak lama setelahnya ada yang mencariku. Mbak Zila, koordinator masalah dapur.
“Ada Dek Karima nggak ya?” ia memanggilku dengan sebutan dek. Karena aku jauh lebih muda di bawahnya.
“Ya Mbak saya. Ada apa ya?”
“ Disuruh Gus Zaidan buatin kopi,” OMG, serasa aku ingin masuk ke dalam bak mandi tempat ini. Aduh kenapa harus aku sih.
“Cepat Mbak, Gus Zaidannya nunggu!” sial benar, bagaimana nanti kalau kepahitan? Aku sudah bertanya sendiri di dalam hati. Aku mulai menuju dapur, menundukkan kepala. Sekilas Zaidan berdiri di pintu menunggu. Mengenakan kemeja berwarna biru laut, tanpa kacamata, “pas,” pikirku.
“Kopinya satu sendok setengah, gulanya satu sendok ya Mbak!” ia memberi instruksi. Untung saja sudah ada takarannya.
“buat dua gelas ya Mbak!” pintanya dari jauh. Aku pun mengangguk meski dia tak mengerti anggukanku.
Panas rasanya tubuhku, bukan karena panasnya air yang kuambil. Namun perasaan takut dan grogi menjadi satu. Keringat menetes sebesar jagung, andai bisa diperas sepertinya bajuku mengeluarkan keringat yang cukup untuk ngompres orang banyak.
Sendok kuputar dengan teratur, mengaduk aroma kopi yang begitu memikat hati. Bagaimana hampir setiap laki-laki menyukainya? Namun bagiku kopi hanya nikmat jika kuhirup aromanya saja. Sedangkan jika sudah melewati kerongkongan hanya akan membuatku sakit perut berkepanjangan.
Hal-hal sederhana ini ternyata teramat berat. Saat gelas sudah siap disajikan, aku memilih untuk menyerahkannya pada Mbak Zila. Lagi pula tugasku kan hanya membuat, tidak menyajikan. Aku kembali ke asrama dengan aneka rasa, badanku rasanya demam tinggi dibuatnya. Kenapa coba aku disuruh membuat kopi?
***
Waktu kian berlari meninggalkanku, meninggalkan dirinya, Kepercayaan diriku mulai tumbuh dan kian menjadi. Kemampuan bicaraku juga semakin apik. Kesenanganku dalam pelajaran bahasa Indonesia pun mampu membuat salah satu puisiku dimuat di majalah yayasan yang tersebar di seluruh sekolah yang sama di Indonesia. Tentang blog aku tidak mengutiknya lagi selepas kursusku selesai. Semua berjalan begitu cepat, kelas tiga SMK pun sudah semakin mendekati ujian. Darinya kepengurusan akan segera diganti.
Aku menjadi salah satu kandidat yang dicalonkan oleh teman-teman kelas. Berbagai prestasi yang sempat kuraih sepertinya menjadi salah satu alasan mengapa mereka memilihku. Karena menjadi ketua OSIS itu sangat sibuk, dan akan sering tidak ikut pelajaran di kelas. Akupun mengiyakannya dengan sebuah keharusan berlatih pidato dalam menyampaikan visi dan misi minggu depan.
Aku tidak pernah berpikir akan sejauh ini, bermula dari kesalahan besarku di awal masuk. Jadi hampir semua siswa bisa mengenaliku. Mereka pun melihat perkembangan dan perjuanganku bersaing dengan anak-anak lainnya.
Ketika istirahat berlangsung, tiba-tiba ada kakak kelas yang memanggil, memintaku untuk ke ruang OSIS. Lagi-lagi aku mengajak Ina, dia satu-satunya orang yang kupercaya. Mengetahui apapun yang akan terjadi padaku.
“Assalamu’alaikum…” aku mengucap salam.
“Waalaikum salam… masuk!” suara seseorang menjawab dari dalam. Aku masuk bersama Ina.
“Ini yang perlu kamu persiapkan untuk pemilihan minggu depan. Kandidat lain juga sudah mendapatkan berkas yang sama,” ucap Doni, panitia yang dulu membentakku.
***
Lapangan kini sangat riuh, aku bersaing dengan anak-anak terbaik di kelasnya. Aku tidak menganggap diriku terbaik, karena aku percaya mereka mempunyai kebaikan lebih di bagian yang lainnya. Dengan dicalonkannya aku menjadi ketua OSIS, aku meyakini mempunyai kesempatan untuk berbuat baik. Seberapa pun besar dan manfaatnya, bukan tentang ketenaran. Aku belajar banyak hal, bahwa menjadi pemimpin adalah sebuah amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Meski begitu aku tetap berkeringat seperti biasa, beberapa wajah juga tampak begitu tegang. Wajah kawan-kawan sekelas juga demikian, apakah dalam pikiran mereka akan merasa bangga jika aku bisa memenangkan pertarungan ini? Pertarungan agar mendapatkan ruang untuk berbuat kebaikan, semoga.
“Tes-tes… satu… dua…” Zaidan sebagai ketua OSIS lama memberikan sambutan pendahuluan sebelum acara penyampaian visi misi dilaksanakan.
“Ada yang bakal menjadi pemimpinmu di masa depan. Siapapun itu terimalah dan dukunglah semua program-programnya. Jika mereka salah, tegurlah. Jika memberi manfaat, bermanfaatlah bersama-sama. Kita seperti satu kesatuan, saling mendukung untuk menuju keterlaksanaan program. Program ini untuk kebaikan sekolah, semoga tetap akan menjadi andil kita dalam mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia. Selamat memilih, selamat bekerja sama!” pidato singkat itu disambut dengan tepukan riuh dari semua anak. Beberapa di antara mereka ada yang memanggil namanya dengan bangga. “Masih ada ya laki-laki sesempurna dia?” Pikirku gila.
Mikrofon telah bergilir dipegang oleh masing-masing kandidat ketua OSIS. Ada 7 kandidat. Setelah mengambil undian tadi. Aku mendapat urutan terakhir, untungya aku tidak menjadi yang pertama. Ruginya ada banyak hal yang harus kupangkas agar tidak menyamai dengan visi misi kandidat lainnya.
Kini giliranku dimulai, biasanya aku banyak berbicara di kelas. Kareaa sering menanyakan yang tidak diketahui. Namun sepertinya keaktifanku di kelas disalahartikan menjadi siswa yang pintar, meski agak pintar juga. Hingga aku bisa berada di tempat ini. Lama-lama aku terlalu memuji diri sendiri ya? Abaikan.
“Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh… Saya tidak terlalu berharap menjadi pemenangnya, karena saya percaya ada orang-orang yang lebih di atas saya. Namun sayapun tidak akan menolak kepemimpinan ini jika memang takdir Tuhan membawa saya ke sana. Saya akan menjalaninya sebaik dan semampu saya bisa, tetaplah menjadi mataku untuk melihat kekuarangan yang ada dan tetaplah menjadi hati untukku guna memperbaiki segalanya,” tepuk tangan riuh melambung ke angkasa, jika bisa aku ingin turut terbang bersamanya. Bersama mimpi yang telah kupahat sejak kakiku tertanam di tanah ini.
Ada banyak kesempatan telah menghilang
Banyak kisahpun turut terbuang
Mengalun rindu dalam kesempurnaan
Berbalut harap dan kecemasan
Ada banyak cinta terabaikan
Meski begitu, tetaplah di sana
Menungguku dan teruslah mencintaku
Sedalam-dalamnya
Semampu dirimu memendamnya
Setinggi-tingginya
Semampu engkau menopangnya
Rindu bukan soal kepada siapa kau akan memberikannya
Tapi tentang ketulusan dan penerimaan yang tak ada batasnya
Other Stories
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...