Separuh Dzarrah

Reads
1.6K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
Penulis Amri Evianti

7. Nilai Impian

Jurusanku Manajemen Bisnis Akuntansi, entahlah kenapa akhirnya milih jurusan ini, daripada tidak dapat pesantren yang berdekatan dengan sekolah. Kenapa harus berdekatan? Kalau jauh aku harus berjuang untuk tidak mabuk, karena harus menggunakan bis. Tak bisa kubayangkan tiap pagi harus naik bis, apa aku bisa belajar nantinya? Yang ada malah badanku tinggal tulang dengan kulit karena tersiksa setiap hari.
Ternyata aku salah, bukan hanya mabuk kendaraan saja yang bisa membuat berat badanku berkurang, pelajaran akuntansi yang hampir tiap hari ada ini juga membuatku jengah. Beruntung anak-anak yang sebelumnya sekolah di yayasan ini pada tingkat SMP sebelumnya, mereka dikenalkan dengan pelajaran ini, katanya.
Benar saja, angka-angka yang diakhiri dengan angka nol pun begitu menyeramkan. Parahnya lagi nominal itu hanya sekedar tulisan, tidak ada wujud nyata uangya. Pikirku hal ini seperti orang yang kurang kerjaan saja, menghitung uang yang nggak beruang. Namun, aku tak boleh menyerah begitu saja, akan kubuktikan bahwa anak Sumatera sepertiku bisa bersaing dengan anak-anak Jawa, yang dari dulu orang Jawa selalu kuanggap lebih pintar daripada anak Sumatera, entahlah.
Begitupun apa yang disampaikan Bu Sutami, membuat keningku berkerut berkali-kali. Di akhir session Bu Sutami menyampaikan tentang nilai impian.
“Tulislah di buku akuntansimu nilai impianmu, darinya kamu akan termotivasi untuk meraihnya,” guru akuntansi itu pun segera berlalu.
Lalu percaya tidak percaya, aku mulai menggoreskan spidol snowman berwarna hijau di bagian dalam cover buku tebal, secara beratur aku mengukir angka Sembilan, ya angka istimewa dibanding angka seratus, bagiku. Karena aku tak pernah mendapatkan angka 10 dalam rapot, lalu buat apa nilai 10 itu dibuat jika nilai 9 adalah batas maksimal? Entahlah segera kututup buku akuntansi, aku pun memilih untuk ke musala istirahat ini. Aku tak punya tempat, di saat yang sama belum banyak teman yang kukenal, sedangkan Ina berlainan kelas denganku. Siapa tahu dengan salat duha, aku bisa mengejar ketertinggalanku dalam pelajaran akuntansi.
Kaki kulangkahkan melewati lorong sekolah, sekali lagi kupandangi seluruh bagian sekolah yang ada lapangan bola basket, lapangan yang selama ini hanya kulihat melalui televisi. Banyak di antara mereka yang bermain begitu bahagia, seperti tak punya beban di sekolah ini, sedangkan aku? Menumpuk berjilid-jilid buku akuntansi di otak, di otak saja sih, tidak dibaca juga.
Masjid sekolah tergolong lumayan ramai, lebih-lebih berada di lingkungan sekolah formal, segera kuambil air wudu, membiasakan diri apa yang sudah ustaz ajarkan padaku. Ustaz-ustazku selalu bilang, tetaplah menjadi santri di manapun kamu berada. Ya, aku sedang mengamalkan nasihat ini.
Manfaat salat duha sendiri dikenal dengan memperlancar rezeki, bukankah rezeki tidak hanya dinilai dalam bentuk uang bukan? Ilmu juga rezeki, yang perlu kita cari dan harapkan kedatangannya pada kita, doaku kuhaturkan pada langit, bersama terbangnya angin.
Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuhamu
Keagungan adalah keagungan-Mu
Keindahan adalah keindahan-Mu
Kekuatan adalah kekuatan-Mu
Penjagaan adalah penjagaan-Mu
Ya Allah, Apabila rezekiku berada di atas langit, maka turunkanlah
Apabila masih di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaa-nMu. Datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan pada hamba-hamba-Mu yang sholeh. Amin
Mukena kulepas, kuletakkan pada lemari mukena. Ada beberapa sajadah dan mukena yang masih tergelatak, ditinggalkan begitu saja. Instingku menujunya dan merapikan semuanya. Percaya nggak sih dengan apa yang aku lakukan? Bagaimana mereka bisa seenaknya meninggalkan alat salat di lantai masjid, tapi masih untung mereka salat duha, sepertinya kerjaan sepele ini bisa membawaku menuju rumah kebaikan. Bagaimana tidak? Jika aku bisa melayani mereka yang sedang menuju kepada Tuhannya?
Kelas kali ini masih mata pelajaran akuntansi, dalam sehari bisa sampai 5 jam. Aku nggak pernah berpikir bakal salah jalan, nilai matematikaku yang nyaris berwarna merah membuatku tertatih dengan pelajaran yang wajib aku sukai. Aku masih mengingat angka sempurna yang kubuat. Aku harus memaksa diriku untuk menyukai akuntansi, dan harus mengagendakan ke perpustakaan tiap hari. Kata-kata bapak terngiang, jurusan yang kini kuambil, jika aku menyerah begitu saja, hanya akan membuatnya sia-sia. Bapak sudah mengeluarkan banyak biaya hingga aku bisa ke sekolah ini, akupun telah mengorbankan rasa nyamanku, hingga jauh-jauh ke sekolah ini. Aku tidak akan menjadi pengecut dengan mencari masalah agar aku terhindar dengan pelajaran ini.
***
Pelajaran komputer kali ini berada di laboratorium komputer. Ini adalah kesempatan pertamaku untuk melihat komputer yang selama ini hanya kulihat di dalam televisi. Setiap anak mendapat jatah satu perangkat komputer, beruntung komputer masih menyala karena bergantian dengan kelas akuntansi satu. Jika tidak, apa yang akan mereka kata jika ketahuan kalau aku baru memakai bahkan melihat benda ini untuk pertama kalinya!
“Anak-anak, selamat siang. Salam dan bahagia untuk kita semua. Materi pertama kali ini adalah mengetik di Microsoft word,” mati aku, apalagi materi itu, di mana aku harus mengetik. Ingin rasanya aku menghilang saat ini. Sedangkan semua anak langsung saja mengetik menggunakan sepuluh jarinya. Aku berbisik pada wulan, apa yang harus kulakukan. Wulan anak pendiam di kelasku, aku bertanya padanya agar rahasiaku tak bocor di depan umum, kebetulan lagi ia duduk tepat di samping meja komputerku.
Sedangkan keringat dingin sudah mulai menembus kerudung putih milikku, betapa aku begitu mengenaskan, saat yang lain mengetik menggunakan sepuluh jarinya, aku mengetik menggunakan sebelas jariku, alias hanya jari telunjuk yang aku pakai. Padahal hasilnya nanti harus dikumpulkan, namun pikirku biarlah nilai berapa pun, yang terpenting aku sudah pernah menyaksikan komputer yang tak pernah kusaksikan, apalagi kusentuh.
Bagaimana pun ini pengalaman pertamaku di depan benda mirip tivi pak lurah kampungku. Dulu di kampung pelajaran komputer baru sampai menggambar perangkat komputer, serta cara-cara menghidupkan komputer tanpa melihat komputer. Komputernya berada di dunia gaib. Lirikan mataku menuju pada wulan, dia sudah mengetik hampir satu halaman komputernya, sedangkan aku mengetik satu paragraf saja belum sempurna. Bukankah ini lebih memalukan dibanding berdiri di depan manusia angkuh itu, Zaidan.
Pemerataan pendidikan yang masih belum maksimal ini, membuatku begitu beruntung bisa ke tanah keraton. Walau bagaimanapun aku berada selangkah lebih maju dibanding teman-teman di kampung. Jangankan lab komputer seperi di sekolah ini, kelas saja ada yang darurat, karena kelebihan siswa, sedangkan ruangan terbatas.
“Ayo Karima, mana tugasmu?” Pak Kiman menagih tugas. Aku terdiam dan menunduk. Pak Kiman mendekatiku, melihat pekerjaan yang hanya baru judul kutuliskan. Beliau sangat shock melihat pekerjaanku.
“Karima, bagaimana kamu sangat tertinggal di pelajaran ini?”
“Ini kali pertama saya melihat dan mengoperasikan komputer pak. Di sekolah saya sebelumnya, hanya materi komputer saja yang diajarkan,” aku memelas.
“Begini, Bapak tidak akan membiarkan ini berlarut-larut. Walau bagaimanapun calon akuntan harus bisa mengoperasikan komputer. Kamu harus menambah jam pelajaran komputer selain di jam sekolah. Temui calon mentormu nanti di kantor guru sepulang sekolah!”
“Ya, pak… terima kasih,” berulang kali aku menganggukkan kepala. Segera kukemas peralatan belajarku. Aku menuruni anak tangga serasa begitu malas. Bagaimana aku bisa membagi waktu? Sebenarnya bukan itu, siapa nantinya yang akan menjadi pendamping belajarku?
Aku sudah berada di depan pintu kantor, tampak seseorang duduk di depan meja Pak Kiman. Aku mulai mendekat berdebar.
“Masuk Karima, saya kenalkan dengan mentormu,” seseorang itu berdiri dan membalikkan badannya kepadaku.
“Om, kenapa harus aku sih dari sekian anak yang berada di sekolah ini?” ia menolakku.
“Om kan sudah bilang, dia sama sekali kesulitan dalam pelajaran ini, dan kamu siswa terbaik sekolah ini yang pernah memenangkan lomba pekan Akuntansi tahun lalu. Om bisa dianggap tidak profesional oleh kolega Om Kiman, hanya karena ada anak yang tidak mahir mengoperasikan komputer. Kamu ajarkan dasarnya saja, agar dia tidak terlalu bingung ketika di kelas. Kasihan temannya yang lain juga jika harus menunggu,” ujar Pak Kiman panjang.
Ia berlalu, tanpa mengucapkan persetujuan ataupun penolakan.
“Besok mulai di lab, selepas sekolah, Zai,” ucap Pak Kiman seraya menepuk pundak laki-laki berkacamata tersebut.
“Kamu besok harus datang tepat waktu sebelum pelajaran tambahan dimulai, jika tidak, kamu yang akan menanggung akibatnya,” ucap Pak Kiman tersenyum.
Kau
Tak akan pernah bisa menutup mata
Kau
Tak akan pernah mampu untuk membungkam mulut tanpa kata
Pada orang yang engkau cinta
Jikapun kau menutup cerita maupun mata atau telinga
Pada orang yang kau cinta
Itu hanya akan menjadi neraka dunia
Ada banyak yang berkilau
Tapi hanya engkau yang menyilaukan
Ada banyak yang bersinar
Namun engkau yang paling terang
Tetaplah di sana dengan suka
Tetaplah bahagia sepanjang usia
Cinta

Other Stories
Kabinet Boneka

Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...

Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Osaka Meet You

Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...

Pasti Ada Jalan

Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...

Autumns Journey

Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...

Pesan Dari Hati

Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...

Download Titik & Koma