5. Mendaftar Bersama Bapak
Pagi-pagi sekali aku sudah siap dengan seragam putih biru milikku. Bapak yang menginap di kamar tamu sudah menunggu di depan gerbang pesantren lebih awal.
“Gimana Karima? Tidurnya nyenyak?”
“lumayan Pak, nyamuknya tidak sebanyak nyamuk di kampung,” kami tertawa bersama. Menuju calon sekolah yang hanya beberapa meter saja jaraknya.
Aku melihat gedung bertingkat dengan cat merah hati dipadukan bagian atas cat berwarna cream. SMK Tamansiswa, konon sekolah ini dulu diprakarsai oleh pahlawan pendidikan nasional, meski ini sekolah cabang. Tampak patung Ki Hajar Dewantara terpasang megah di dekat gerbang sekolah.
Calon siswa baru juga mulai berlalu-lalang, namun ada hal yang aneh yang bisa aku rasakan. Bahwa mereka, anak-anak yang sedang mendaftar tidak lagi diantar orang tuanya, namun bersama teman-teman sebayanya.
Saat sampai di meja pendaftaran semua mata tertuju padaku, bukan karena aku terlalu cantik tapi karena ada pemandangan aneh, aku bersama bapak. Saat yang sama, yang lainnya mendaftar bersama teman-temannya.
“Pak, boleh minta formulir pendaftaran?” bapak meminta form pendaftaran pada petugas. Perkara form pendaftaran saja aku tak berani meminta, bukan karena aku gagap tapi karena aku masih terlalu dini untuk berpisah dengan bapak. Kubaca tuntas formulir pendafataran, ada berbagai jurusan di sana. Salah satunya ada teknik otomotif, pikirku di sana akan banyak cowok ganteng dan kece.
Aku segera menyadarkan diri, mengarahkan ujung pena pada pilihan Manajemen Bisnis Akuntansi. Yah, itu jurusan yang pada akhirnya kupilih, meski aku sama sekali tak pernah berpikir akan mengambil jurusan aneh ini. Jurusan yang selama ini terekam hanya jurusan IPA dan IPS. Kenapa dari dulu guru di kampung tak pernah memberi tahu akan ada jurusan kayak di film-film kayak gini?
***
Aku tak banyak bicara saat bapak memutuskan akan segera kembali ke kampung. Semalaman aku sudah tidak nyenyak tidur. Sebelum bapak pulang aku ditraktir bakso, entah mengapa selalu bakso. Di kampung memang bakso adalah makanan terenak, tak pernah kutemui makanan favorit-elite kecuali bakso.
Warung bakso ini terletak di sebelah selatan gerbang pesantren. Tidak membutuhkan waktu lama kami menghabiskan makanan beraroma mengesankan ini. Lagi-lagi mungkin karena kami dari kampung. Sedang sedari tadi pasangan muda di sampingku belum selesai mengunyah bakso yang hanya beberapa gelintir, bagaimana tidak lama, jika makan satu pentol bakso ngobrolnya bisa berpentol-pentol tak berujung. Aku bisa pastikan bahwa kuah bakso tersebut sudah jauh dari kata hangat.
Dari dulu bapak selalu melarang ngobrol ketika sedang makan, tidak sopan dan bisa membuat proses makan menjadi lama, karena banyak hal yang perlu dilakukan.
“Nak, hati-hati menggunakan uang. Baik-baik di sini dalam membawa diri!” pesan bapak yang membuatku hanya bisa mengangguk tanpa mengucap apapun, bulir-bulir bening tertahan di pelupuk mata.
Aku tak ingin membuat bapak sedih ketika nanti pulang, namun tetap saja aku tak bisa. Kupeluk tubuhnya yang mulai menua, kuraih punggung tangannya untuk kucium mengharap restunya. Bis yang menuju ke Wates sudah tiba, luruhlah semua pertahananku, saat tadi hanya setetes, kini air mata itu bak air terjun tak terbendung.
Aku membiarkan mata ini menatap bis tersebut hingga tak berujung, rasanya aku ingin kembali lagi bersama bapak. Meski aku tahu hal tersebut tak pernah mungkin. Langkahku gontai menuju asrama, menenggelamkan muka pada bantal adalah pilihan terbaik saat ini. Aku memang lebih suka tidur untuk mengusir rasa sakit maupun kesedihan, dan hal tersebut cukup ampuh bagiku.
Azan asar telah berkumandang, bermodalkan dobrakan pengurus aku bisa bangun. Meski sisa-sisa kesedihan belum sepenuhnya menghilang. Aku tahu harus segera melupakan kesedihan ini, bukan berarti aku harus melupakan bapak, bukan?
Tek tek tek suara dari arah tangga bagian bawah asrama berbunyi.
“Mbak… makan sore,” panggil mbak-mbak dari arah sana.
Aku turut mengambil nasi beserta sayur yang berada di mangkuk. Semuanya sudah dibagi masing-masing, tahu menjadi penghias nasi sore ini. Mulai kumakan nasi yang porsinya cukup banyak. Cukup banyak untuk santri yang kerjanya tidak berat. Sayur santan berisikan sawi putih menjadi pelengkap. Saat sayur mulai menempel di lidahku, rasanya aku sedang makan kolak buatan mamak di rumah, manis rasanya. Akupun terheran, aku yang terbiasa dengan sayur asin dan pedas merasa bahwa ada kesalahan dalam racikan bumbu pada sayur ini.
Bayangan wajah bapak masih sangat jelas, pun sama masih terasa sakit untuk kubayangkan melepas kepergian bapak di bis tadi. Meski sayur ini cukup manis, namun tak cukup mengobati rasa pahit di hatiku.
Jangan berlari jauh di depanku
Karena aku tak akan bisa mengejarmu
Jangan juga kau jauh di belakangku
Karena aku ingin engkau ada di sampingku
Berjalan bersamaku menggenggam doa
Berlari bersamaku mendekap asa
Terbang bersamaku membawa rencana
Sujud bersamaku memasrahkan usaha
Ada harap yang Tuhan tunda
Meski begitu, itu bukan urusan kita
Kau pernah berkata dengan sederhana
Tak perlu ikut campur apa yang bakal Tuhan kata
Other Stories
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Final Call
Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...