Pada Langit Yang Tak Berbintang

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
pada langit yang tak berbintang
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Penulis Petra Shandi

14. Epilog

SETAHUN KEMUDIAN...
SANG PERINDU
Aku termangu di salah satu sudut café Petrapucino. Bergumul dengan laptop dan secangkir kopi panas racikan calon suamiku sendiri. Lega sekali rasanya. Sebulan ini aku dibuat sibuk dengan urusan kantor dan persiapan launching novel terbaruku. Kurasa sudah saatnya aku memanjakan diri sendiri, di café yang banyak mengukir sejarah tentang kami; tentang tiga sahabatku Langit, Bintang dan Kirana yang secara tak langsung mempertemukanku dengan Petra.
Aku merogoh sebuah buku di dalam tas. Sebuah novel dengan cover menarik bergambar Jembatan Pasupati sebagai latarnya. Di novel inilah tersemat kisah cinta segitiga sahabatku. Tentang dua pria yang mencintai satu perempuan. Terkadang aku sempat cemburu pada Kirana. Bagaimana bisa dia dicintai bak putri raja. Tak kupungkiri, sebelum mengenal Petra. Aku sudah naksir berat pada Bintang yang notabene idola para mahasiswi saat itu. Dan karena kegilaanku pada Bintang dan band-nya, mengantarkanku pada sosok lelaki yang kudamba selama ini.
Entah bagaimana ceritanya hingga terbersit untuk menuangkan kisah mereka pada sebuah karya fiksi. Semua hanya bermula pada keisenganku mengikuti sebuah program acara yang digawangi Langit di Dream FM. Menulis kata-kata puitis dan menyemat istilah “Langit Tak Berbintang” pada si penyiar. Lucunya, semua itu bersambut manis saat sang penyiar dengan sukarela membalas email-ku di akun pribadinya. Maka di sanalah persahabatanku terjalin. Meski tak pernah tersibak siapa gerangan identitas Sang Perindu. Langit dengan terbuka menyibak perasaan terdalamnya pada sahabat yang ia cinta sejak lama.
Di tempat lain, Petra begitu intens berkomunikasi dengan Bintang yang tengah berobat di Singapura. Menciptakan satu sisi cerita berbeda tentang mimpi dan ketabahannya selama menjalani pengobatan yang menyakitkan selama di luar negeri.
Hingga pada akhirnya, Bintang menghembuskan napas terakhirnya tahun lalu. Aku sungguh tak percaya. Bagaimana bisa perjuangan panjang ini berakhir dengan tragis? Mencabik perasaan kami yang mencintainya. Petra sendiri yang memberiku gagasan menuangkan kisah mereka pada sebentuk novel. Dan rupanya ide ini disambut baik oleh kedua sahabatku.
“Hei, melamun aja,” entah sejak kapan tunanganku tiba-tiba muncul di hadapan mata.
Aku mengulum senyum. “Hanya sedikit bernostalgia dengan tempat ini. Banyak kisah silih berganti di Petrapucino.”
Petra menghembuskan napas panjang. “Iya. Itu sebabnya aku enggan melepas kafe ini meski keadaannya tak sebaik dulu. Aku akan berjuang mengembalikan kejayaan tempat ini seperti lima tahun silam.”
Kugenggam erat jemari Petra. “Aku tahu kamu mampu,” bisikku mantap tepat di telinganya. Pria itu tersenyum manis padaku.
“Waduh… pagi-pagi sudah umbar kemesraan di depan umum,” aku tersenyum girang saat menyadari pasangan Langit dan Kirana muncul dua meter di hadapan kami. Mereka tidak berubah. Langit tetap terlihat tampan dengan kacamatanya, begitupun Kirana yang tetap menawan meski telah berganti model rambut. “Kami gak telat, kan?” lanjut Langit.
“Nggak sama sekali. Kalo kalian telat, mungkin kami masih melanjutkan adegan barusan dengan lebih mesra,” canda Petra.
Kami duduk santai di kursi sofa yang nyaman. Entah sudah berapa bulan kami tidak berkumpul bersama seperti ini? Rasanya tak sabar ingin membagi semua cerita yang kualami sejak beberapa bulan kemarin. “Seperti janjiku,” aku merogoh dua buah novel di tasku. “Novel ‘Ketika Langit dan Bintang Berjanji’ kupersembahkan untuk kalian,” ujarku mantap. “Bonus tanda tangan pula,” aku terkekeh.
“Luar biasa! Kamu menyelesaikannya tepat waktu,” sumringah Kirana. “Genap satu tahun Bintang meninggalkan kita,” lirihnya.
Kami semua terdiam. Petra menggenggam jemariku, pun Langit yang membelai rambut Kirana. “Ini hadiah yang hebat untuk Bintang,” desah Petra.
Ya. Ini berkah yang luar biasa. Karena aku bersyukur bisa menyelesaikan novel ini dengan balutan emosi yang kadang membuatku hilang kendali. Bahkan aku masih bisa merasakan merdu suara Bintang saat menyanyikan lagu cinta di Petrapucino. Tapi tak mengapa. Kurasa kini Bintang telah berada di tempat yang seharusnya. Tenang bersama taburan gemintang di atas sana. 

Other Stories
Bekasi Dulu, Bali Nanti

Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Kuraih Mimpiku

Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...

Download Titik & Koma