14. Trauma Nadya
Tiga hari telah berlalu. Aku masih belum mendapatkan isyarat yang nyata darinya. Apakah Nadya tak ingin kembali ke Jakarta? Atau memang ia tak ingin melupakan Phillipe? Sungguh, aku mulai gelisah karenanya. Dan yang paling membuatku muak, tak jarang ia membahas tentang Phillipe semasa hidupnya, tentang kemesraan mereka sekaligus menunjukkan bagaimana ia mencintai lelaki berkulit gelap itu. Aku dibakar cemburu!
Hingga akhirnya aku berhasil mengajak Nadya bepergian ke daerah yang cukup jauh dari Kota Dili, satu daerah bernama Lospalus. Carlos yang merekomendasikan tempat itu, ceritanya membuat rasa penasaranku menggebu-gebu.
“Abang menculik aku,” ujarnya gemas.
Aku hanya tersenyum dengan tatapan masih ke jalan raya. “Biarin, yang penting kamu kembali seperti sediakala.”
“Kalo ada yang cari aku gimana?”
“Ya bilang aja, kamu lagi honeymoon di luar sana sama pacarmu,” jawabku sekenanya.
“Ihh! Abang mulai ganjen ya sekarang!” perempuan itu menepuk bahuku.
Bahagiaku terasa kembali. Aku masih ingat beberapa bulan yang lalu. Hanya Nadya yang bisa membuat bebanku terasa ringan, lewat teduh matanya yang membius, senyum penuh ketulusan dan kebesaran hatinya yang mau mendengarkan semua keluh kesahku. Tidak jarang dia mengajakku rekreasi menelusuri pesona Timor Lorosae yang romantis. Seperti kali ini, Lospalus yang romantis. Jarak kota ini memang jauh dari Dili. Namun pemandangan alam, bukit dan lautan di sepanjang jalan raya seolah memberi hiburan tersendiri.
Kami menepi di Tutuala menikmati pesona birunya laut. Bersama dengan Nadya memandang hamparan beberapa pulau dari kejauhan sana, sembilan pulau yang merupakan gugusan dari kepulauan Maluku. Aku menatap ke hamparan lautan seolah mencari tahu nasibku di masa depan. Tentang aku, tentang Nadya, tentang kami berdua.
***.
Kami menginap di Hotel Roberto Carlos—tentunya dengan kamar terpisah—dengan pertimbangan dekat dengan pantai. Aku suka nuansa pantai, begitu juga Teresa. Dulu saat masih di Indonesia, kami selalu berburu pantai yang bagus dan tentunya melakukan ritual wajib seperti berdiri menatap indahnya lautan di langit senja. Ya, aku mengulanginya di sini. Namun dengan Nadya yang mendampingi.
Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba bayangan Teresa membuncah di kepalaku. Tak kusangka aroma pantai membuat sisa rinduku menggeliat. Rasanya ingin berteriak memanggil namanya di hamparan pasir putih ini, berharap rintihanku menggema jauh menuju tempat dia saat ini.
“Bagus ya Bang, pemandangannya?” Nadya membuyarkan lamunanku.
Aku menggangguk setuju tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Yang kulakukan justru meraih jemarinya dan menggenggamnya erat. Aku tahu Nadya berusaha untuk melepaskannya, namun aku kukuh tak ingin melepaskannya.
“Bang, sakit…” lirihnya. Baru, setelah itu aku melepasnya.
Kenapa Nad? Aku merasa kamu berubah.
***
Seperti biasa Aku dan Nadya berburu ikan bakar untuk makan malam kami. Tak sulit untuk mencari restoran di sekitar hotel karena kudapati beberapa restoran sea food di pinggiran pantai.
“Baiklah, sekarang Abang mau tanya serius sama kamu,” ujarku saat kami telah menyelesaikan acara makan malam.
“Hm?”
“Kapan kamu siap untuk pulang?”
Ditanya seperti itu Nadya malah bergeming. Mungkin tak terbersit di kepalanya untuk kembali ke tanah air. Hanya ingin menjaga kekasihnya yang telah mati itu.
“Nad?” tanyaku.
“Aku gak ada rencana untuk pulang, Bang,” jawab Nadya tegas.
“Tapi kenapa? Kamu gak kasihan sama keluargamu di rumah? Juga Abang.”
“Abang?” Nadya mengernyitkan dahinya.
“Abang gak mau berpura-pura lagi. Tujuan Abang kembali ke Dili untuk mengajak kamu pulang ke Jakarta. Kita mulai lagi lembaran yang baru. Abang dan kamu. Kamu bersedia kan?”
“Bang, bukannnya aku sudah bilang sejak awal kalau aku gak bisa. Jangan paksa aku Bang,” terangnya. “Abang bisa bermain denganku saat Abang ada tugas dinas lagi ke Dili. Baru kita bisa bersama lagi.”
“Abang gak mau bermain-main sama kamu Nadya. Abang cinta kamu!”
“Nggak! Abang cuma cinta Teresa. Jangan jadiin aku pelarian, Bang!”
Aku terdiam. “Apa yang bikin kamu gak percaya sama Abang, Nad?”
Perempuan itu tersenyum sinis. “Lelaki itu sama saja, Bang. Dia hanya baik saat membutuhkan perempuan.”
“Nadya…” lirihku.
“Sudahlahlah, Bang. Aku mau kembali ke hotel. Besok kita bicara lagi,” dengan kesal Nadya berlari menjauh meninggalkanku yang berdiri kebingungan akan sikapnya.
Pada akhirnya aku hanya berjalan di pesisir pantai dengan minuman hangat yang tergenggam sejak tadi. Rasanya aku belum siap untuk patah hati yang kedua kali. Karena aku mencintai perempuan itu. Aku mencintai Nadya!
Selang beberapa lama kuputuskan melangkah menuju hotel. Namun entah bagaimana ceritanya kakiku malah menapaki kamar hotelnya hingga aku terdiam di teras kamar Nadya. Ah, biar saja, hitung-hitung menjaganya di malam hari. Toh mataku belum juga mengantuk.
Dalam lamunanku aku terus menganalisa ada apa gerangan di balik perubahan sikap Nadya. Apakah semata-mata ingin menghindar dariku atau memang menemukan pria lain? Aku menyalakan sebatang rokok sekedar menghilangkan jenuh.
Tiba-tiba terdengar teriakan di dalam kamar Nadya. Jelas aku terkejut. Hingga akhirnya dengan terpaksa kudobrak pintu dari luar. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan perempuan itu.
Kudapati Nadya masih berteriak dalam igauannya. Aku bergegas menghampiri. “Nadya? Nad?” aku menepuk bahunya.
Perlahan ia membuka matanya. “Bang! Tolong aku Bang! Aku takut!” kupeluk perempuan itu dan membiarkannya menangis di bahuku.
“Sudah… sudah… nggak apa-apa kok. Kamu cuma mimpi buruk.”
“Mimpi ini sering berulang-ulang setelah kejadian itu,” isaknya. “Abang jangan pergi-pergi lagi.”
“Iya, Nad. Abang akan selalu di samping kamu.”
Pada akhirnya kami menghabiskan malam berdua di kamar Nadya. Aku menjaganya memastikan ia tak mendapatkan mimpi buruk itu lagi. Kurasa Nadya mendapat trauma akibat kecelakaan tahun lalu, dan dia harus mendapatkan pertolongan psikiater.
***
“Aku takut, Bang…”
Kubelai rambut pendeknya. “Kamu gak usah takut. Kamu cukup share apa yang kamu rasakan ke psikiater itu. Tentang kegelisahan kamu, tentang apa saja yang kamu rasakan.”
“Sekarang Abang paham kan kenapa aku gak bisa menerima Abang seutuhnya. Karena ini, Bang. Aku seperti kena kutukan oleh Phillipe. Meski ia sudah meninggal, seolah aku gak boleh berhubungan sama orang lain.”
“Berarti sudah saatnya kamu enyahkan kutukan itu,” aku menggenggam erat jemari Nadya. “Percaya sama Abang, kamu pasti bisa melaluinya.”
“Makasih, Bang,” perempuan itu mulai menitikkan air mata. “Bang, mau gak temani aku ziarah ke makam Phillipe untuk yang terakhir kali?”
Waduh pemintaan macam apa itu? Dahiku mengernyit. Pada akhirnya aku hanya bisa menganggukkan kepala.
“Makasih Bang…” lirihnya.
Other Stories
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Jika Nanti
Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...