5. Dili Sebenarnya
Manatuto. Distrik yang berada di sebelah timur Dili yang berjarak 64 km dari ibukota, Nadya memperkirakan perjalanan kami bisa memakan waktu 1,5 jam. Dan sungguh, dengan cuaca terik khas Kota Dili. Rasanya aku tak akan tahan berlama-lama di perjalanan. Baiklah, setidaknya pemandangan hamparan pantai di sepanjang ruas kanan jalan cukup meneduhkan mataku. Hanya saja mobil bututku hampir kewalahan akibat rute yang berkelok-kelok, menanjak, dan tidak terawat—bahkan tidak beraspal!
“Sabar, Bang. Nikmati aja perjalanan kali ini. Abang gak tau sih, ada banyak tempat menarik di Manatuto. Nanti kalau ada waktu aku ajak jalan deh,” dengan tangkas Nadya bereaksi saat aku mulai menyumpah-nyumpah tidak karuan gara-gara hampir menabrak sebuah gerobak kayu.
“Abang lapar, kamu bawa makanan gak?” kualihkan pembicaraan. Kulirik sesaat perempuan di sampingku, eh dia malah cekikikan tidak jelas.
“Ini aku bawa roti isi. Gak usah manyun terus deh, jelek!” dalam sesaat aku terhenyak. Kalimat itu sering dicuapkan Teresa setiap kali aku menggerutu. Kembali kuperhatikan raut wajah Nadya. Siapa kamu sebenarnya? Jelmaan Teresa kah?
“Awas!!”
Ya Tuhan! Teriakan Nadya menyadarkanku dari lamunan sesaat. Hampir saja kami menabrak binatang ternak yang hendak menyeberang jalan. Raut wajahnya memucat akibat kejutan barusan. “Kamu gak apa-apa, Nad?”
“Gak. Gak apa-apa,” Nadya memperbaiki posisi tubuhnya. “Makanya, Bang, hati-hati kalo lagi nyetir,” masih bersuara gugup.
Semua gara-gara kamu, Nadya. Kusunggingkan senyuman. “Efek lapar kali,” candaku. “Mana rotinya?”
Pada akhirnya kendaraan kami menepi. Kuterima sepotong sandwich yang sedari tadi digenggam Nadya. “Makan yang banyak, Bang. Aku bikin lima biji. Jaga-jaga kalo Abang kelaparan nantinya,” khayalan nakalku menyeruak tidak karuan. Sungguh, dalam imajiku perempuan yang ada di sampingku adalah Teresa.
“Kamu bilang di Manatuto ada banyak tempat bagus?” aku bertanya di gigitan pertama rotiku.
“Maunya apa? Pantai? Wah banyak pantai indah di Manatuto. Pantai Lamasana dan Pantai Behau. Kalau bukit, ada Bukit Kuri dan Bukit Aitara.”
“Kalau…” belum sempat kusempurnakan kalimatku, perempuan itu berbicara lagi.
“Nah, di Manatuto juga ada sumur minyak dan gas natural di daerah Pualaka. Sampai sekarang masih ada kobaran api di atas permukaan gas tersebut. Di sana juga ada bangunan peninggalan bangsa Jepang. Dan tentunya pemandangan alam pegunungannya bikin kita betah tinggal lama.”
“Udah jelasinnya?” ujarku setengah menyindir.
“Tadi katanya minta dikasih tau,” gerutu Nadya.
Derai tawa di antara kami semakin membuatku tersadar. Sedekat inikah kami? Pembatas tebal yang tengah kubangun kini hancur berantakan tanpa sempat menyelesaikannya.
***
Tidak terlalu jauh ternyata kediaman Joshua Fernandez—nama rekan kerja kami yang akan kukunjungi, masih berada di wilayah Kota Manatuto. Bisa kubayangkan seandainya dia tinggal di Desa Fatu Maquere atau Desa Lakumesak yang masih teriosalisi oleh jalan darat. Bisa-bisa aku mati di perjalanan.
Dan syukurlah Si Joshua Fernandez itu tidak seperti yang kulihat pertama kali. Aku sempat takut bicara padanya. Bagaimana tidak? Badannya super besar dengan wajah mirip petinju Mike Tyson. Gaya bicaranya sedikit kasar dengan volume suara tinggi, bahkan saat berkomunikasi dengan keluarganya sendiri. Dan lagi-lagi Nadya yang berhasil mencairkan suasana, lewat bahasa Tetun yang lihai sekaligus berperan sebagai penerjemah antara aku dengan Joshua.
Perbincangan cukup menarik—meski harus melibatkan Nadya—bahkan Joshua menjamu kami dengan beberapa minuman kaleng dingin yang tentunya sangat menggiurkan di tengah cuaca yang super panas.
“Wah, stok minuman kalengnya banyak ya?“ celetukku saat menyadari ada satu nampan penuh berisi softdrink kemasan kaleng. Jangan-jangan Si Joshua punya warung klontongan.
Bukannya melanjutkan pertanyaanku pada Joshua, Nadya malah menggelengkan kepalanya. “Ih, Abang. Ini udah tradisi. Orang Dili selalu menjamu minuman kaleng setiap kali ada tamu yang datang.”
“Oya?” ujarku terheran-heran. Mungkin bisa dilihat dari sejarahnya. Dahulu saat perang dan konflik, wilayah Dili kesulitan mendapatkan air bersih dan salurannya. Jadi, solusinya mereka memakai minuman kaleng untuk menjamu tamu. Aku kembali melanjutkan meneguk sekaleng Banana Juice.
Pertemuan berakhir saat Joshua menyerahkan beberapa lembar kertas kalkir hasil desainnya sendiri. Yang nanti akan digabungkan dengan desain aku dan Carlos.
***
Matahari tepat berada di atas ubun-ubun saat kami meninggalkan rumah Joshua. Sumpah, aku lelah sekali. Ingin rasanya aku menepi sejenak di tempat yang teduh sambil menikmati makanan khas Timor Leste.
“kenapa Bang? Kok wajahnya diasem-asemin gitu?” celetuk Nadya.
“Bosen,” jawabku seadanya.
“Ya udah, kita jalan yuk. Kita ke Cristo Rei aja. Tempatnya searah jalan pulang kan?”
“Patung Kristus?” aku melirik ke arahnya. Sedikit yang kutahu tentang Cristo Rei. Patung Kristus terbesar kedua setelah Brazil. Yang lainnya? Nanti saja kutanyakan ke Nadya. “Di sana ada tempat makannya gak?”
Nadya mencubit pinggangku, gemas. “Makan aja yang ada di kepala Abang!” gelak tawa membahana tak bisa kutahankan lagi. Sungguh, baru kali ini aku merasa begitu senang sejak menapaki Timor Lorosae. Entahlah, mungkin karena kehadiran Nadya yang membuatku merasa berada di kampung halaman sendiri. Atau… alasan yang lain? Aku menggelengkan kepala. Namun tetap bibirku tersungging manis.
“Bang, gimana kabar Jakarta? Sudah setahun aku belum pulang.”
“Jakarta makin keren, makin maju, tapi makin macet,” ujarku dengan tatapan fokus ke arah jalan. Perlahan Nadya membuka kaca mobil. Semilir anginnya berhembus hingga menyentuh wajahku. “Emang kapan kamu pulang?”
“Aku perpanjang kontrak, Bang. Tahun depan mungkin aku pulang,” lirihnya. “Mungkin juga tidak…” lindap terdengar, hanya serupa bisikan. Aku melirik sedikit. Dan benar juga. Perempuan itu malah menangis.
“Nad? Kamu gak apa-apa?” kubelai bahunya.
“Ah, gak apa-apa, Bang.” Perempuan itu terkesiap lalu menyeka air matanya.
“Ada apa? Kamu ada masalah di rumah?”
“Eh, kita hampir tiba loh, Bang!” ujar Nadya girang saat membaca penunjuk jalan di hadapan kami, mengabaikan pertanyaanku barusan.
“Ih, aneh. Padahal tadi pagi perjalanan ke Manatuto lama banget ya? Gak kerasa kita udah tiba di ibu kota lagi.”
“Iyalah, dari tadi cekikikan melulu. Untung aja gak nabrak gerobak kayu lagi,” oceh Nadya. Dan aku tersenyum geli mengingat kejadian tadi pagi.
Perjalanan semakin nyaman saat matahari tak menyengat seperti tadi siang. Sepanjang perjalanan ke arah Bukit Fatucama aku bisa menikmati indahnya pantai dengan semilir anginnya. Sungguh, lelahku beberapa jam yang lalu mendadak hilang seketika.
Mobilku menepi di pelataran parkir Cristo Rei. Nampak lengang, hanya ada beberapa kendaraan yang terparkir di sini. Sudah sorekah? Atau memang bukan musim liburan? Entahlah. Aku menengadah ke atas bukit. Tepat di mana Patung Kristus mengembangkan lengannya seolah memberi berkah kepada umat-Nya. Dan entah kapan aku menyadarinya. Tahu-tahu Nadya sudah berada di sampingku dengan posisi yang sama.
“Keren ya, Bang? Patung itu dibangun sama orang Bandung loh, dengan tinggi 27 meter. Pengingat bahwa Timor Timur adalah propinsi yang ke-27 waktu itu.”
Aku masih menengadah takjub. Hanya bisa menganggukkan kepala saat merespons ucapan Nadya.
“Berani ambil tantangan?”
Baru kali ini aku melirik ke arahnya. “Tantangan?”
“Naik ke atas menapaki 500 anak tangga.”
Aku menggaruk-garuk kepala. Badanku sudah lemas sepanjang perjalanan, sekarang dia mengajakku naik ke atas pula. “Gak ada cara lain naik ke atas? Eskalator gitu?”
“Ih, emang ini mal,” gerutu Nadya.
“Ya udah, gak mau naik, ah. Abang lagi lemes.”
“Gak bisa! pokoknya Abang kudu ikut naik,” tanpa basa-basi perempuan itu menarik paksa lenganku.
“Eh… gak mau! Kalo Abang pingsan tanggung jawab loh ya!”
“Iya…” masih bersemangat menarik lenganku.
“Eh… tunggu sebentar kenapa sih!” aku menahan jemari Nadya. “Beli makanan sama minuman dulu! Kamu gak mau kelaparan kan di atas sana?”
Atas paksaan Nadya, kami akhirnya mulai menapaki satu per satu anak tangga itu. Untung di beberapa anak tangga tersebut terselip lantai yang cukup lebar. Cukup membantu untuk beristirahat sejenak saat aku mulai kewalahan menaiki beberapa puluh anak tangga. “Minumannya, mana minumannya?” pintaku dengan napas ngos-ngosan. Nadya menyerahkan sebotol air mineral, dan seperti biasa diselingi oleh tawanya yang khas.
“Hm… di sini hening banget ya? Enak buat pacaran,” candaku. Lalu kulanjutkan minum seteguk lagi. “Oh iya, kamu udah ada pacarkah? Orang Dili? Atau Jakarta?” cerocosku. Dan aku tak menyadari air mukanya berubah saat kusinggung soal pacar. Damn! Apa aku salah ucap? “Sorry kalo pertanyaan Abang bikin kamu gak nyaman. Gak usah dijawab.”
Tak lama perempuan itu menyunggingkan senyumnya sedikit. “Kita lanjut lagi yuk, Bang?” aku mengiyakan ajakannya. Dan sungguh, perjalanan ini serupa wisata rohani. Aku menikmati setiap pahatan relief tentang perjalanan spiritual Yesus di sepanjang dindingnya.
“Kamu bohong ke Abang!” ujarku terengah-engah saat menepi di puncak anak tangga.
“Kok bisa?” tak beda denganku, Nadya pun terlihat kelelahan. Peluhnya mengalir perlahan di sekitar kening dan pelipis. Sungguh, dia terlihat seksi.
“Kamu bilang jumlah anak tangganya 500. Tapi Abang itung, 692 anak tangga yang kita naiki,” ujarku berbohong. Padahal sebenarnya aku sempat membaca selembaran yang berisi informasi tentang Cristo Rei dan jumlah anak tangganya saat masih di bawah.
“Ih, niat amat dihitung. Kalau aku jujur sama Abang, belum tentu Abang mau naik ke sini,” timpalnya. Ada-ada saja perempuan ini. Selalu saja membuatku ingin tertawa. Hingga akhirnya aku tak kuasa meraih sapu tangan lalu mengusapkannya ke dahi perempuan itu.
Sial! Apa yang kulakukan? Kami sama-sama tertegun. Bagaimana bisa lenganku lancang berbuat seperti itu. “Biar sama aku aja, Bang.” Nadya mengambil alih sapu tangan itu. Tak lama dia menyerahkannya kembali padaku. “Makasih,” lirihnya.
Baiklah. Tidak perlu aku berlama-lama bersikap canggung seperti barusan. Senyumku mengembang saat patung raksasa itu benar-benar nyata di depan mata. Posisi patungnya menjorok ke arah pantai. Tepatnya menghadap ke tepian Kota Dili.
Sama senangnya sepertiku. Nadya lagi-lagi menarik lenganku seolah ingin memperlihatkan sesuatu. Dengan nekat kami menerobos pembatas pagar hingga bisa melihat dengan leluasa pemandangan dari atas bukit. “Gak apa-apa kita melihat-lihat di sini? Terjal banget loh. Abang takut kita jatuh,” ujarku khawatir.
“Kalo gak kayak gini, kita gak bisa lihat pemandangan secara keseluruhan, Bang,” ujarnya. “Lihat deh Bang, itu Kota Dili,” tunjuknya pada segaris cakrawala. “Nah yang di depan itu Pulau Atauro.” Aku mengangguk saja mendengar pemaparan Nadya. Aku perhatikan pemandangan yang lain, yaitu jalan yang sempat kami singgahi sebelum tiba ke Cristo Rei. Dari atas jalan itu tampak lurus, seperti sepotong runway bandara.
Baiklah, kita pindah ke sisi kanan sisi bukit. Sebuah teluk terlihat di bawah bukit yang cukup tinggi dan terjal. Jalan di bawahnya nampak rusak terkena abrasi air laut. Aku kembali tersenyum saat memperhatikan garis gelombang laut yang perlahan bergerak susul menyusul menyentuh pantai, tampak indah. Seperti lukisan, batinku.
“Wow, Abang puas banget lihat pemandangan di sini.”
“Makanya Bang, jangan pernah bilang pernah ke Dili kalau belum pernah rekreasi ke Cristo Rei. Ini simbol Kota Dili. Sama kayak Monas kalau di Jakarta.”
“Sok tahu, kamu,” ujarku seraya mengacak-acak rambutnya. Di sisa petang itu kami habiskan berfoto bersama—mengandalkan pengunjung yang rela untuk diminta tolong mengambil gambar kami.
Tak kusangka kulanggar janjiku sendiri untuk menghindar dari Nadya. Kenyataannya aku puas menikmati Dili dan semua hal yang belum pernah kutahu sebelumnya. Mungkin inilah salah satu alasan Teresa begitu menggebu saat tawaran itu menghampirinya. Menikmati Dili yang sebenarnya. Jauh dari isu-isu negatif yang sering kudengar di media massa. Bem-vindo à cidade de Dili!![1]
[1] Selamat datang di Kota Dili!
Other Stories
Hold Me Closer
Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...