11. The Mystery
“Mia!” Bu Kusuma histeris.
“Kak Miaaaaa...”
Braaak. Semua gelap.
Sayup-sayup terdengar rintihan pilu. Suara tangisan seseorang dengan belaian begitu sayang di kepala Nola. Nola membuka mata perlahan. Andre, Monic. Mereka mengelilingi Nola dengan muka yang berduka.
“Kak Monic?”
“Syukurlah kau sudah siuman, La.”
“Mana yang lain?”
“Di ruang tengah.”
“Kak Andre!” Nola berteriak merangkul Andre yang ada di sebelahnya.
“Ya. Sabarlah Nola sayang. Ini sebuah takdir. Kau harus kuat,” Andre merangkul Mia dengan hujan air mata tak kalah deras.
“Aku begitu berdosa, Kak. Kemarin Kak Mia nelepon, tapi tidak kuangkat karena aku sedang kuliah. Ketika kutelepon balik selalu sibuk. Kalau tau itu adalah telepon terakhir, pasti akan kuangkat, Kak.”
“Kalau terus mengingat masa lalu, Kakaklah yang seharusnya dipersalahkan. Kakak lama tak menemuinya, semenjak menikah.”
“Sudahlah. Kalian berdua harus kuat,” Monic merangkul Nola dan Andre bergantian.
“Di mana Ibu dan Ayah, juga yang lain?”
“Di ruang utama. Mempersiapkan pemakaman.”
***
Langit runtuh seketika. Bumi yang dipijak seakan tiada ketika tahu bahwa Mia telah tiada. Mia terkasih telah meninggal, pergi untuk waktu yang langgeng. Sungguh Nola tak mengira telepon dari Mia kemarin adalah yang terakhir. Telepon yang sengaja tidak diangkat olehnya. Tiada tanda sekecil pun yang menjadi jejak dalam mengiringi kepergiannya. Mia pergi dengan menyimpan misteri yang sebenarnya membuat Nola semakin yakin bahwa Alex telah membuat hidup Mia menderita. Hingga akhir hayatnya.
Kebencian begitu menggunung di dada dan Nola ingin menghapus nama Alex. Menganggap bahwa ia adalah seorang yang tak pernah ada dalam hidup Mia. Kalau boleh Nola meminta pada-Nya. Melangkah mundur ke belakang. Mungkin Nola akan meminta pada Mia agar tak pernah menikah dengan Alex waktu itu. Ya, waktu Mia meminta Nola mengantarnya jalan-jalan untuk sekedar mencari angin segar. Akan Nola yakinkan pada Mia bahwa Alex itu bukan orang yang baik, tak cocok untuk mendampinginya.
Ya Tuhan, sungguh Nola merasa bersalah. Walau kesalahan itu pernah berangsur hilang ketika hati serasa tenang seiring perjalanan waktu. Seiring kepergian Mia ke Bali, tiada tanda yang mencurigakan. Dan sepenuhnya Nola percayakan semua pada Alex.
Haruskah Nola menganggap bahwa Alex adalah penyebab utama dari kematian Mia? Dalam hati terdalam memang ya, Nola menyimpan bara. Memang ya, Nola begitu benci laki-laki itu. Tapi untuk sekarang di saat semua berduka, tak perlulah Nola mengungkap itu. Nola tak mau membuat hati ibu beserta orang terdekatnya begitu lara dalam derita. Nola tak mau mereka begitu bersedih dengan penyebab kematian Mia. Tapi harus. Suatu saat ketika suasana membaik akan Nola utarakan pada semua bahwa di balik itu adalah Alex.
Nola menghapus air mata yang bercucuran tak tertahan. Dihirupnya udara sebanyak mungkin agar duka tak bersarang di dada. Agar lega terasa. Nola harus berusaha tegar, niatnya satu. Harus membuka tabir.
***
“La, tumben kau datang tanpa telepon Kakak dulu?” Alex kaget dengan kedatangan Nola yang tiba-tiba.
“Kenapa kaget ya?”
“Ya jelaslah, biasanya kamu nelepon dulu atau SMS,” Alex membenarkan posisi duduk. “Mau minum dulu? Ambil sendiri ya, La. Kebetulan Kakak mau pergi dulu sebentar.”
“Kenapa? Sengaja menghindar ya?”
“Menghindar? Maksudmu?”
“Tak mau ulahmu terbongkar kan?”
“Terbongkar?”
“Sudahlah jangan berpura-pura. Aku tau pasti ada apa-apa di balik kematian Kak Mia yang tidak wajar.”
“Ya. Aku pun menduga seperti itu, La. Soalnya ia sehat-sehat saja, hanya mules perutnya. Mungkin kecapean. Untuk itulah aku segera membawanya ke rumah sakit, takut terjadi apa-apa,” Alex terdiam sesaat. “Aku lega saat dokter memeriksa dan mengatakan ia baik-baik saja. Hingga memutuskan untuk ke luar dulu sebentar.”
“Terus kalau tidak apa-apa. Kenapa ia bisa meninggal?”
“Aku pun tak tau, La. Aku merasa berdosa meninggalkan ia sendiri. Aku bertemu ketika sudah tiada bernapas,” Alex menghapus air mata.
“Sudahlah jangan berpura-pura, Kak.”
“Maksudmu apa, La? Dari tadi ngomongnya tak karuan. Aku tidak mengerti.”
“Ada seseorang yang sengaja membunuhnya.”
“La!” suara Alex tertahan.
“Aku yakin itu, Kak. Dan pembunuhnya adalah orang dekat. Sangat dekat.”
“Kamu menuduhku?” Alex berdiri .
“Ya. Dan aku tau tentang semuanya.”
“Apa yang kamu tau dariku? teganya kau menuduhku, La,” wajah Alex merah padam karena emosi.
“Siapa wanita di malam itu beberapa hari menjelang pernikahanmu? Laki-laki pengkhianat. Teganya kau mengkhianati Kakakku. Cintanya begitu besar untukmu, tapi tega kau khianati dia,” Nola menatap jalang Alex.
“Siapa yang bilang seperti itu?”
“Aku melihatnya dengan mataku sendiri. Jadi jangan berpura-pura.”
“Apakah salah jika aku melakukan itu? Sementara kakakmu tega berselingkuh dengan laki-laki lain. Menanam benih haram di rahimnya. Tapi ingat, La. Jangan kau tuduh aku yang membunuh Mia.”
“Lantas kalau bukan kau siapa lagi? Bukankah kau merasa sakit hati karena menganggap benih dalam rahim Kakakku itu bukan anakmu?”
“La. Cukup. Aku tau bahwa bayi dalam rahim Kakakmu bukan anakku. Tapi sejujurnya aku mencintainya, walau dalam hati ini tersakiti. Karena benih cinta yang kusemai sedari dulu untuk kakakmu, ternoda karena perselingkuhan. Kalau aku laki-laki bajingan yang tak menghargai keputusan keluarga besar, menghormati Ayah, Ibumu, aku lebih baik minggat. Pergi dan tak pernah mau menikahi Kakakmu.”
“Lantas, kau bersiasat membawa Mia ke Bali dan berlaku sewenangnya di sana?” ucap Nola lebih menghujam.
“La. Cukup! Aku benci dengan tuduhanmu. Baik aku ceritakan semuanya. Pertama kali ya, aku berniat untuk menyakiti Kakakmu karena rasa benci ini. Tapi semakin lama aku semakin mengenal Kakakmu, semakin meyadarkanku bahwa cintaku, cinta Kakakmu begitu besar. Hingga kami memutuskan untuk lebih lama lagi di Bali, menikmati kebersamaan yang indah. Dan di sana kami semakin mencinta, La,” bening dari sudut mata Alex jatuh di pipi. “Tahu, La? Aku begitu mencintai Kakakmu dan berniat untuk mengarungi samudra rumah tangga bersama tanpa pernah memandang masa lalu. Pun Kakakmu sepakat untuk selalu bersama dalam suka duka. Hingga kami memutuskan saat pulang akan merajut masa bahagia berada di tengah keluarga besarmu juga keluarga besarku. Sengaja tak kukasih tau tentang kepulangan kami, agar kalian merasa suprise. Tapi ternyata semua tinggal harapan.
Mia meninggal di saat kalian tak melihat Mia untuk terakhir kalinya. Hingga tak pernah melihat kebersamaan kami yang begitu besar yang diliputi dengan cinta dan kasih,” wajah Alex mendongak, memandang foto perkawinan yang terpajang besar di dinding ruangan. “Andai mereka tau dan menyaksikan saat itu begitu romantis, perut kakakmu yang buncit begitu lucu. Tau nggak, La? Berulang kali kuciumi perut buncit itu sewaktu ada di pesawat. Ya Tuhan, mengapa kali ini aku begitu mengenangnya. Mia, aku rindu padamu,” Alex tak kuasa menahan gejolak. Ia menangis tersedu.
Nola membiarkan Alex mencurahkan segala perasaannya. Nola sebenarnya begitu haru. Ingin menangis dan menjerit mengingat Mia yang begitu dicinta. Dialihkannya pandangan dari Alex ke luar rumah, menyaksikan pemandangan nan sejuk di luar sana. Nola tak mau terpancing. Nola tahu Alex sedang bersandiwara, ingin menghapus jejak yang jaraknya semakin dekat semakin tersibak. Dan Nola tak mau terlarut dalam kesedihan yang mendalam. Segera Nola beranjak, bangkit dan melangkah gontai ke luar rumah. The mystery should be solved.
“La, mau ke mana?”
“Pulang dulu. Tapi bukan berarti urusan kita selesai. Aku tetap akan menuntutmu.”
“La!”
Nola tak menghiraukan panggilan laki-laki biadab itu. Laki-laki yang penuh dengan sandiwara. Berpura dalam beragam karakter bak seorang artis, terkadang ia marah terkadang mengaku cinta. Kini menangis tersedu di hadapan Nola hanya untuk mendapatkan sebuah pengakuan. Mengenyahkan tuduhan dari Nola. Enak sekali. Tak mungkin aku membiarkan laki-laki yang telah merenggut nyawa Kak Mia begitu manis melenggang dari kehidupanku. Nola membatin.
***
Other Stories
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...