Arman Ringgo Tengil
“Audi cepetan habiskan rotimu sebentar lagi angkot langgananmu datang!\" teriak mama.
Tiba-tiba dari depan pintu teras terdengar teriakan Arman Ringgo, \"Audii ayo cepetaaan Bang Jager udah datang mobilnya, aku lari duluan ya!”
Arman Ringgo yang setiap hari berangkat sekolah bareng dengan Audi di SMA Merdeka Purbalingga berlari kencang dengan tas ranselnya menuju jalan Jendral Sudirman.
“Uh dasar Arman Ringgo tengil, tungguuuuuu akuuuuuuuu dong!” teriak balik Audi sambil mengunyah roti tawarnya, sementara tangan kanannya membawa sebotol aqua kecil untuk menghilangkan rasa seret menelan roti tawar rasa cokelat kesukaannya. Tak dipedulikan sepatu ketsnya yang tak terikat.
“Dasar tengil! Awas aja!” Audi menunjukkan kepalan tangan karatenya pada Arman yang sudah duduk manis di dalam angkot Bang Jager yang berwarna oranye menyala sambil tersenyum-senyum tengil khas yang sangat menyebalkan.
Terengah-engah Audi masuk ke angkot dan sengaja menginjak kaki Arman dan langsung mengaduh tanpa perintah geser ke kiri memberikan ruang buat Audi.
Sebenarnya maksud Arman dia berlari duluan adalah memang mencarikan tempat duduk yang Audi suka di pojok karena bisa melihat jalanan lebih nyaman. Tapi sepertinya Audi gak merasa kalau Arman melakukan ini untuknya.
Tetap saja tangan Audi otomatis memukul lengan Arman walau gak terlalu keras, pelampiasan sebal dan langsung mendemokan aksi diamnya dengan melipat tangannya di atas jeans cangklongnya. Wajahnya agak manyun.
Sebenarnya yang buat betah duduk di sebelah Audi wangi jasmine-nya yang lembut, buat Arman ini seperti sensasi pagi yang membuat dirinya bersemangat sekolah. Tentu saja Arman tidak ngomong-ngomong kalau dia suka parfum Audi.
“Kenapa kamu mendengus-dengus kaya kucing aja!” Audy menyeletuk ketus.
“Apa? Eeeh bau ... bau wangi,” ucap Arman polos.
“Iya dong aku kan selalu wangi, timpal Audi dengan tatapan mulai menatap jalanan, tidak melihat tampang Arman yang memerah karena ketahuan tengah mengendus-endus wangi yang menguar.
Bang Jager menarik bayaran anak-anak yang naik angkotnya, tiba-tiba Arman sudah mengeluarkan lima ribuan yang artinya untuk 2 orang.
“Udah aku bayarin,” kata Arman.
“Besok gantian aku ya!” jawab Audi tegas.
“Eh gak usahlah, sesekali tadi aku buat kamu jadi terengah-engah soalnya,” terang Arman.
“Bisa aja besok gantian aku yang bayarin,” kata Audi menali sepatunya.
“Di pulang sekolah nanti aku main ya ke rumah kamu ya,” kata Arman.
“Sejak kapan kamu izin mau main ke rumah, kan selama ini kamu datang pergi sesuka kamu,” jawab Audi cuek.
“Iya sih, he he he gak suka ya?”
“Kalau aku gak suka udah aku usir dari kemarin-kemarin tauuuu!” jawab Audi jutek.
“He he he jadi asik aku bisa main sesuka aku, Yess!” wajah Arman semringah.
“Yee kalau aku lagi males ya aku tinggal tidur ya, seperti kemarin aku gak kuat dengerin kamu ngobrol OSIS lah, Zeuz-lah geng kamu, Ridwan yang super galak itu tapi sekarang lagi termehek-mehek Rosi, sorry ya aku jadi ketiduran. Kamu tahukan aku gak suka ngerumpiin orang-orang tenar di sekolah kita,” jawab Audi asal-asalan tak urung membuat Arman tersenyum lebar dengan kecuekan gadis manis di sampingnya yang paling malas ngebahas gosip.
Arman tau betul yang buat menarik Audi bukan omongan tapi buku, berbincang buku, musik, dan film hal yang paling Audi sukai.
“Dasar ....” tak urung terdengar sedikit gerutuan arman..
arman memandang Audi yang asik melihat jalan dari rumah ke sekolah mereka yang lumayan jauh sekitar 7 km.
Sebenarnya niat lari duluan tadi meninggalkan Audi tanpa tiada alasan, arman tahu Audi suka sekali duduk di kursi angkot yang sisi jendela pojok dan selalu dirinya bela-belain dapatin buat Audi.
Sekarang diam-diam dirinya duduk di sebelah Audi bisa menikmati wajah cewek berambut cepak manis dari samping tengah melihat jalanan dan wanginya membuat arman merasa nyaman.
Lembut jasmine jadi bau khas yang dari Senin sampai Jumat pagi selalu tercium saat harus naik mobil jemputan dan duduk bersisihan dengan Audi teman dan tetangga rumahnya.
Other Stories
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...