Chapter 7, Berjuang Bersama
Air mata Dika membasahi pundakku, dan aku memeluknya lebih erat. Ini bukan lagi Dika yang asing, sosok dingin yang menusuk. Ini Dika-ku, yang rapuh dan terluka. Ia menangis, dan setiap isakan adalah pengakuan atas penderitaan yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun.
"Aku minta maaf, Alya," bisiknya lagi, suaranya parau, "Aku tidak tahu apa yang merasukiku. Rasanya seperti ada orang lain di dalam kepalaku yang terus-menerus membisikkan hal-hal buruk."
"Aku tahu," jawabku, mengusap punggungnya, "Kamu tidak sendirian. Kita akan hadapi ini bersama."
Pikiranku saat ini, "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah pendamping jiwa itu benar-benar pergi? Atau hanya bersembunyi di suatu tempat, menunggu saat yang tepat untuk kembali? Namun, saat ini yang terpenting adalah Dika. Aku harus membantunya."
Kami menghabiskan malam itu dengan bercerita. Dika menceritakan segalanya, tentang kecelakaan itu, bagaimana ia merasa bersalah, dan merasa menjadi orang lain. Ia menceritakan tentang amarah, kekecewaan, dan rasa dendam yang ia pendam, dan akhirnya melahirkan sosok mengerikan itu.
"Aku tidak bisa mengendalikan diriku," akunya, "Ketika aku melihat Beno, amarahku tak terkendali. Ketika aku melihatmu, aku hanya ingin melindungimu. Tapi cara yang dilakukannya salah, dan aku tidak bisa menghentikannya."
Aku mendengarkan dengan sabar, dan menyadari bahwa cinta saja tidak cukup. Dika butuh pertolongan profesional. Aku harus membawanya ke psikolog, ahli terapi, agar ia bisa menyembuhkan luka batinnya. Aku harus membantunya memaafkan dirinya sendiri, memaafkan Beno, dan menerima kenyataan yang ada.
"Kita akan hadapi ini bersama," ucapku, memeluknya lagi, "Kamu akan sembuh, Dika. Aku akan selalu ada di sisimu."
Ia menatapku, matanya kini memancarkan kehangatan yang dulu selalu kurindukan. "Alya," bisiknya, "Kamu menyelamatkanku."
"Tidak," jawabku, menggelengkan kepala, "Kamu yang menyelamatkan dirimu sendiri. Kamu yang memilih untuk mencintaiku, bukan membenciku."
Kami akhirnya menemukan cinta di tengah kegelapan. Dan kami tahu, perjalanan ini masih panjang. Kami harus berjuang melawan bayangan trauma yang masih menghantui. Tapi, dengan cinta dan dukungan, aku yakin kami akan berhasil.
"Aku minta maaf, Alya," bisiknya lagi, suaranya parau, "Aku tidak tahu apa yang merasukiku. Rasanya seperti ada orang lain di dalam kepalaku yang terus-menerus membisikkan hal-hal buruk."
"Aku tahu," jawabku, mengusap punggungnya, "Kamu tidak sendirian. Kita akan hadapi ini bersama."
Pikiranku saat ini, "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah pendamping jiwa itu benar-benar pergi? Atau hanya bersembunyi di suatu tempat, menunggu saat yang tepat untuk kembali? Namun, saat ini yang terpenting adalah Dika. Aku harus membantunya."
Kami menghabiskan malam itu dengan bercerita. Dika menceritakan segalanya, tentang kecelakaan itu, bagaimana ia merasa bersalah, dan merasa menjadi orang lain. Ia menceritakan tentang amarah, kekecewaan, dan rasa dendam yang ia pendam, dan akhirnya melahirkan sosok mengerikan itu.
"Aku tidak bisa mengendalikan diriku," akunya, "Ketika aku melihat Beno, amarahku tak terkendali. Ketika aku melihatmu, aku hanya ingin melindungimu. Tapi cara yang dilakukannya salah, dan aku tidak bisa menghentikannya."
Aku mendengarkan dengan sabar, dan menyadari bahwa cinta saja tidak cukup. Dika butuh pertolongan profesional. Aku harus membawanya ke psikolog, ahli terapi, agar ia bisa menyembuhkan luka batinnya. Aku harus membantunya memaafkan dirinya sendiri, memaafkan Beno, dan menerima kenyataan yang ada.
"Kita akan hadapi ini bersama," ucapku, memeluknya lagi, "Kamu akan sembuh, Dika. Aku akan selalu ada di sisimu."
Ia menatapku, matanya kini memancarkan kehangatan yang dulu selalu kurindukan. "Alya," bisiknya, "Kamu menyelamatkanku."
"Tidak," jawabku, menggelengkan kepala, "Kamu yang menyelamatkan dirimu sendiri. Kamu yang memilih untuk mencintaiku, bukan membenciku."
Kami akhirnya menemukan cinta di tengah kegelapan. Dan kami tahu, perjalanan ini masih panjang. Kami harus berjuang melawan bayangan trauma yang masih menghantui. Tapi, dengan cinta dan dukungan, aku yakin kami akan berhasil.
Other Stories
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Test
Test ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Kala Kisah Tentang Cahaya
Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...