Hati Yang Beku

Reads
2.1K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

13. Berdamai Hati

“Apa salahku? Kenapa tidak satupun ada yang menyayangiku tulus? Mama tercinta meninggalkan aku selama-lamanya, papa sudah percaya dengan kebohonganku, Mama Gabby dan Mas Deru yang bersekongkol menghancurkan papa lewat aku, Tetra yang berlalu begitu saja, Lintang sahabatku yang percaya aku berselingkuh dan Mas Raka yang menganggap aku cewek murahan dan berpaling dengan cara terkejam!”
Sudah dua hari Jasmine mengurung diri dalam kamar, kembali menjadi manusia yang antisosial.
“Hati, Apa yang harus aku lakukan? Aku terpuruk tanpa ada satupun yang menolongku.”
Hanya hatinya yang bisa diajak berdialog dan berdamai. Walau perih terasa sampai melukai ulu hatinya, tapi hati tetaplah hati yang menemani kita dalam suka dan duka.
“Jasmine kamu sekarang tidak bisa berpegang pada siapapun, ingat kamu harus hidup dari tangan kamu sendiri. Bulan depan kamu harus mulai bayar kost, bayar kuliah dan sehari-hari kamu harus makan! Kamu harus bangkit Jasmine! Kamu harus cari kerjaan untuk tetap bisa bertahan di Solo! Sudahlah kesedihan demi kesedihan kamu lewati. Percayalah selama kamu memegang kebenaran maka Allah akan membantu kamu! Bangkit Jasmine, sudah cukup dua hari ini kamu menjadi manusia yang mati rasa! Mati tidak hidup pun segan!”sang hati berteriak dan menyemangati untuk sadar kalau kehidupannya masih berjalan dan belum tamat.
Jasmine membuka almarinya, bertumpuk pakaian dan Jasmine memutuskan akan memilih baju-baju yang bisa dipakai kuliah, sisanya akan diloak.
“Tak ada pilihan, barang tersisa di kamar apa yang bisa aku jual, akan aku jual! Aku tidak punya apa-apa lagi.”
Dan Jasmine memutuskan menyortir barang-barang yang bisa dijual untuk meminimalkan yang tidak perlu, Jasmine juga akan cari informasi kostan terdekat kampus dan termurah sehingga cukup jalan kaki kampus kostan.
Jasmine membawa satu kardus pakaian menuju Pasar Gedhe dan tanpa peduli apapun menggelar ada pakaian, buku-buku, jam tangan, perhiasan imitasi, kotak perhiasan digelar dan dijual murah.
Orang-orang yang tadinya merasa aneh tapi mulai mendekat dan membelinya, apalagi barang-barangnya juga bagus-bagus.
Berbagai komentar pembeli membuat Jasmine geli sesaat.
“Wah ini baju roknya bisa dipakai si Siti anakku, tapi kayanya aku juga masih pantas,” seorang ibu-ibu berdandan menor membeli rok panjang bermotif bunga matahari dengan harga murah.
“Wah akhirnya aku bisa punya jam tangan Nduk, kamu kok ya murah-murah jual barang bagus-bagus. Besok-besok gelar dagangan lagi ya,” komentar seorang ibu-ibu setengah baya yang baru merasa punya jam tangan
Tidak perlu menunggu sampai sore dagangan Jasmine ludes di jam 11.00, tergopoh-gopoh Jasmine ke kampus dengan bus. Seumur-umur tinggal di Solo baru kali ini dia harus naik bus ke kampus.
Selesai kuliah Jasmine akan mencari lowongan pekerjaan, entah dia tidak tahu mau mencari di mana.
“Semoga ada jalan...” Jasmine berharap dalam hatinya.
***
Mata kuliah Metodologi Penelitian tidak ada satupun yang masuk dalam otak, baru kali ini Jasmine merasakan tidak bisa konsentrasi dengan kuliah. Otaknya berpikir mencari kerjaan demi uang yang akan menopang hidupnya.
Tiba-tiba semua kelas yang serius buyar karena ketok-ketok seorang mahasiswa cowok nan kemayu masuk dengan gayanya yang cuek.
Beberapa sempat berbisik-bisik, tapi cowok kemayu dengan dandanan antik tampak tak ambil pusing. Sepertinya sudah biasa jadi perguncingan dan buah bibir.
Dan bruk… duduk di sebalah Jasmine yang duduk di bangku paling belakang. Tiba-tiba ada koin, jam tangan, permen karet jatuh tumpah ruah membuat bunyi gemerincing berisik.
“Sorry sorry ya...”
Sambil menerima koin-koin yang Jasmin bantu ambil karena sebagian mahasiswa sudah menertawakan kelakuannya.
“Iya nggak apa-apa...” Jasmine beruaha konsentrasi dengan mata kuliah Metodologi Penelitian yang dianggap penting karena untuk masuk ke tahap skripsi harus lulus mata kuliah ini.
“Eih eih kamu serius banget sih ngikutin kuliah, aku aja yang dua tingkat di atas kamu tiga angkatan santai-santai saja,” kata cowok kemayu yang sekarang malah asyik mengurusi kuku-kukunya yang lentik.
“Aduh lupa kapan aku menicure pedicure, sampai kaya gini kuku aku. Jelek banget ya... lihat ini!” cowok kemayu menjulurkan kuku-kukunya ke hadapan Jasmine.
Jasmine hanya senyum sesaat lalu serius mencatat apa yang dibilang dosen di depan.
“Eh namaku Fafa, kalau siang tapi malam Fifi... hehehehe,” suara Fafa cowok kemayu sambil cekikikan.
Tak urung Jasmine menyambut uluran tangannya juga, “Hmmm… namaku Jasmine. Kok bisa dua nama gitu sih?”
“Ya gitu deh, dua kepribadian yang berbeda dalam satu diri. Udah biasalah di komunitasku,” jawab Fafa atau Fifi cuek sambil tetap memainkan kukunya.
“Hai hai kalian berdua yang paling belakang jangan ngobrol aja ya!” Jasmine dan Fafa kaget tiba-tiba Pak Daryono, dosen MP berteriak menegur mereka berdua yang dikiranya asyik mengobrol.
“Stt… Fa eh Fi, diam dulu ini mata pelajaran sama dosennya susah!” Jasmine berbisik memperingatkan dan untungnya Fafa mau menurut langsung diam.
Untung lima belas menit kemudian selesai juga perkuliahan yang cukup menguras pikiran. Metodologi Penelitian pelajaran sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku, suatu disiplin ilmu tidak bisa dipelajari hanya dengan mendengarkan dosen bicara barusan, tapi harus mencoba dengan sebuah riset penelitian maka akan paham maksud dari mata kuliah MP ini.
***
“Eh Jas aku pinjam catatan kamu dong, rapi banget. Sure akan aku kembalikan secepatnya tanpa cacat, boleh ya...” Fafa bin Fifi senyum kedip-kedip pasang muka memelas.
“Hmmm gimana ya, bukannya aku nggak mau minjamin tapi aku juga belum paham banget tadi saat dosen terangin,” Jasmine memang tidak bisa konsentrassi penuh. Pikirannya mulai berputar bagaimana cara mencari kerjaan agar bisa bertahan di Kota Solo.
“Ok kalau kamu belum percaya, kita ke fotocopy aja aku pinjam bentar di fotocopy ya... please... aku sudah uzur nih di kampus ini! Kamu tega sih nggak bantuin orang kesusahan gak lulus-lulus mata kuliah ini. Gara-gara MP aku gak bisa skripsi Jas... tolong aku ya, pleaseeee banget ...”
“Ok, aku temani kamu ke fotocopy-an ya,” Jasmine tersenyum tipis.
“Siiip, ayo naik mobil aku saja, kan lumayan jauh ke warung depan, yuuk...” tanpa risih dan malu-malu Fafa memegang tangan Jasmine menuju sebuah mobil Black Starlet mungil.
Aroma Wood Fragance langsung memenuhi rongga pernapasan. Buat seorang pria jelas mobil ini sangat tidak tepat, beberapa boneka Teddy Bear, kura-kura dan bantal love memenuhi jok kedua.
“Mobil kamu nyaman banget, hmm… wangi, bersih dan rapi Fa,” Jasmine jujur mengakui kerapian dan kebersihan mobil Fafa, walau yang hanya bisa pembanding dari cowok adalah mobil papa, Tetra dan Raka.
“Mobil buat aku rumah pertama Jas, soalnya setiap saat aku ya sama si Starlet ini. Ini milik ortu aku dan aku berjanji merawatnya.”
“Ooo kamu tinggal sama ortu?”
“Hehehehe nggaklah, gue orang Jakarta sebenarnya, terdampar nih di kota sunyi... kaget ya pakai bahasa gue-gue? Tapi sekarang aku nggak kental kok udah nyaris tiga tahun setengah di sini aku jarang ber-lo dan ber-gue, tapi kalau ketemu teman-teman Jakarta apalagi memang kebanyakan teman-teman kerja sebagian orang metropolitan yaah… masalah bahasa balik lagi,” Fafa tersenyum sumringah sepanjang jalan menuju warung foto copy.
“Kerja?!” Jasmine terbelalak.
“Iya, aku kerja menangani Event Organizer musik dengan beberapa teman di Solo dan Jakarta, eh kamu tahu kemarin event Gebyar Independence Band? Itu lho band-band cadas di Fakultas Hubungan International, aku berkolaborasi dengan papiku mendatangkan band-band ini.”
“Hmm Fa, kamu perlu karyawan nggak?” entah keberanian apa Jasmine mencoba bertanya perihal pekerjaan, dari tadi yang membuat dia tidak bisa konsentrasi adalah masalah keuangan dan satu-satunya cara bertahan sampai lulus adalah bekerja.
“Hmmm kamu mau bekerja? Bekerja yang serius?” Fafa memelototkan matanya, tapi jujur Jasmine tidak tahu melihat tatapan Fafa yang membuka lebar matanya yang agak sipit malah lucu melihatnya.
“Iya, aku sedang ada masalah, papaku menyetop transferan mulai bulan ini, beberapa hari lalu dari mobil, kartu kredit, beberapa barang elektronik, perhiasan semua sudah ditarik. Aku harus bertahan agar bisa lulus kuliah, satu-satunya cara aku bisa tetap kuliah adalah dengan bekerja mencari uang Fa. Dari tadi aku nggak bisa konsentrasi kuliah karena aku kepikiran gimana aku mau bayar kuliah, kostan dan hidup sehari-hari. Sampai-sampai aku sudah menjual barang-barang yang aku anggap nggak penting ke Pasar Gedhe, uangnya aku tabung untuk keperluan yang penting saja.”
“Ooo… gini, aku sih nggak janji ya Jas, tapi selama ini EO Big Bang memang rutin melakukan event, jadi kita memang konsisten mencari uang. Kebetulan kita butuh bagian humas... tapi aku harus bicara dengan teman-teman lain juga. Nanti-nanti aku pikirin dan aku kabarin ya. Sekarang kita ke fotocopy-an dulu, ok!”
Jasmine tersenyum, mengangguk! Entah kenapa hatinya berbisik untuk percaya pada cowok setengah cewek yang sekarang tergesa keluar dari mobil dan menuju warung.
Jasmine mengikuti dari belakang, ternyata cukup antri banyak mahasiswa lagi fotocopy, Fafa membuka cooler dan mengambil dua teh botol.
“Jas, sorry ngantri, nih...” sambil menyodorkan teh botolnya.
“Makasih Fa.”
Tiba-tiba bahunya ditepuk seorang cowok, Jasmine tahu cowok itu satu kelas cuma agak lupa namanya.
“Hai Jas! Udah lihat pengumuman beasiswa Djarum dan Supersemar belum? Selamat ya kamu lolos deh di salah satu... aku agak lupa kamu lolos yang Djarum apa Supersemar-nya?”
“Serius?” Jasmine melotot berbinar.
“Serius, tuh pengumuman dipasang di depan kantor Tata Usaha,” kata cowok itu tersenyum, sembari memberi selamat.
“Alhamdulillah, terima kasih Allah… di tengah aku kesulitan biaya sekolah, Kau beri aku rezeki mendapat beasiswa,” Jasmine mengucap syukur dalam hatinya.
“Waah selamat ya dears Jasmine,” Fafa yang baru satu jam dikenal menyalami dan nyosor aja bibirnya ke pipi jasmine.
Herannya Jasmine cuek saja menerima cium kanan kiri dari Fafa. Seperti dicium Lintang saja, sahabatnya yang kini menjauh.
Yah, Lintang sahabatnya menjauh dan Jasmine maklum, ini adalah salah paham terbesar yang terjadi dalam hidupnya. Tapi Jasmine sudah mempasrahkan semuanya kepada Allah kalau apa yang terjadi adalah skenario-Nya.
Hanya saja Raka sepertinya terluka dan dia membuat hati cowok itu kembali membeku dengan apa yang menerimanya.
“Andai Mas Raka tahu yang sebenarnya, aku tidak bisa memberi penjelasan sekarang. Sudahlah fokus utamaku adalah mandiri! Aku dan hatiku yang sunyi tidak akan terpuruk walau badai apapun! Mandiri! Mandiri! Never give up Jasmine!”
“Jas… ayo udah kelar, kamu ngapain senyum-senyum sendiri? Awas lho aku gak mau besok beredar koran ber-tag line ‘Mahasiswa Pintar Jasmine Gara-Gara Meraih Beasiswa Masuk Rumah Sakit Jiwa.”
Gaya ngomong Fafa membuat Jasmine jadi ketawa ngakak, Jasmine heran kenapa dia bisa tertawa lepas dengan orang baru yang antik ini dan bahkan terasa sangat dekat melebihi persahabatan dirinya dengan Lintang.
Senja itu Jasmine merasa Allah masih memperhatikan dirinya, di tengah kesulitan yang dialami Allah memberikan kemudahan dengan beasiswa yang teraih dan sahabat baru yang antik dan berjanji akan membantu memberi pekerjaan.
“Semoga Fafa akan menjadi sahabat yang sejati...” Jasmine melepas dengan melambaikan tangan ketika Fafa mengantar ke kostannya dan berjanji akan memberi kabar secepatnya masalah lowongan kerjaan.

Other Stories
Bagaimana Jika Aku Bahagia

Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

November Kelabu

Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...

Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Takdir Cinta

Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...

Download Titik & Koma