Hati Yang Beku

Reads
2.1K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

1. Sunyi Hati

Tiga bulan dari Mama Tari meninggal, Jasmine berdiri di depan kaca kamarnya. Tampak wajahnya yang semakin tirus dan rambut panjang indahnya yang telah hilang berubah menjadi rambut cepak habis.
Dan sekarang seribu hari dari meninggal mamanya, tapi perasaan kehilangan mama yang sangat disayangi masih begitu membekas.
Jasmine tidak pernah menduga saat tengah ABG, saat membutuhkan mama untuk berbagi cerita teman-teman sekolahnya yang mulai mengenal pacar-pacaran.
Saat mulai mendapati dirinya berubah menjadi gadis dewasa, saat ada cowok yang mengirim surat cinta dan saat mulai mengenal baju dalam.
Saat semuanya diskusi hanya dengan mama karena papa terlalu sibuk mencari uang untuk menghidupi mama dan dirinya.
Papa yang pengusaha genteng dan mempunyai karyawan yang banyak, perhitungan rugi laba menjadi hitungan detail.
Kata almarhum mama, “Kalau Papa tidak memperhitungkan pemasukan dan pengeluarannya, kita tidak bisa hidup layak, Jas! Jadi sabar saja kalau Papa tidak bisa banyak terlibat urusan keluarga. Kan selalu ada Mama... kamu bisa tumpahkan semuanya pada Mama ya Sayang...”
Dan Jasmine akan memeluk erat mamanya.
Hanya mama yang tahu dan paham dirinya.
Mama tidak pernah protes akan dirinya yang sangat pendiam, bahkan terkadang takut dengan cowok-cowok ABG yang suka mengganggunya.
Fisik Jasmine secantik bungan melati, kulitnya putih, rambutnya tebal dan jatuh, mata yang tidak terlalu besar bahkan kadang ada yang menganggap dirinya anak Tionghoa.
Jasmine mungil dan ayu, tentu saja anak-anak seusianya yang cowok-cowok ada saja yang menyukai dan mulai menaksir.
“Mah, Jas nggak suka dengan Diko yang selalu kirim-kirim salam lewat Fla dan kirim-kirim surat yang isinya puisi...”
“Ya sudahlah Jas, namanya orang suka kita tidak bisa melarangnya. Kalau kamu tidak suka, Mama saranin bicaranya tetap baik-baik biar Diko tidak tersinggung,” nasihat mama.
“Iya si Mah, lagi pula Jas juga belum suka pacar-pacaran. Jas memikirkan mata pelajaran sekolah saja sudah pusing, nggak mau kaya Via yang pacar-pacaran malah jadi tinggal kelas.”
Jasmine menidurkan kepalanya di pangkuan mamanya. Selalu ada ketenangan yang bisa dirasakan saat berdekatan dengan mama.
Mama adalah malaikat yang hidup bagi Jasmine. Setiap hari hanya dengan mama dirinya merasa nyaman. Dari kecil mama tidak pernah meninggalkannya sebagai anak tunggal.
Semua keperluan Jasmine mama yang urus, dari sekolah play group dan kelas 13 mama juga yang antar jemput ke sekolah.
Kadang berdua nonton bioskop bareng, mama memahami dirinya yang pemalu dan mama tidak pernah memaksakan dirinya untuk merubahnya.
Selama ada mama semuanya akan baik-baik saja.
***
Sebuah musibah menyadarkan Jasmine kalau selamanya tidak bisa dia bersembunyi dipelukan mamanya. Mengantarkan pada kenyataan mama tidak selamanya selalu di sampingnya menemani setiap detik waktu yang berjalan.
“Jasmine Mutiara...”
Inilah panggilan namanya yang tiba-tiba menyiratkan sesuatu yang tidak beres.
Tumpahlah tangisnya saat melihat mama sudah terbujur kaku di Rumah Sakit Persahabatan.
Siang itu mama akan menjemput dirinya pulang sekolah, tak diduga ada truk yang tampaknya sopirnya mengantuk dan menabrak mobil yang dikendarai mama dengan kecepetan sedang.
Semua begitu cepat, mama meninggalkannya tanpa isyarat. Hanya semalam menjelang tidur, mama menemaninya tidur hingga azan subuh. Tidak seperti biasanya mama ketiduran di tempat tidurnya.
Tapi tidak terlintas sama sekali oleh Jasmine kalau itulah malam terakhir mama menemaninya tidur. Apalagi papa memang sedang mengecek bisnis gentengnya yang ada di Purwokerto.
***
Jasmine menghapus air matanya yang meleleh. Sudah tiga bulan hidup sendiri tanpa mama. Sepertinya papa tidak mau terpuruk dalam kesedihan berlarut seperti putrinya.
Jasmine berusaha paham, papa harus tetap bekerja.
Hanya di hari Minggu Jasmine bisa berdekatan dengan papa setelah mengunjungi makam mama bersama-sama.
Tapi tetap Jasmine tidak bisa terbuka dengan apa yang sehari-hari terjadi pada papa.
Papa dari kecil sudah jarang meluangkan waktunya, hanya mamalah yang mengerti dirinya sepenuhnya.
Bahkan untuk mengutarakan betapa dirinya merasa bersalah karena mama meninggal gara-gara menjemput dirinya pulang sekolah.
Jasmine menyesal andai saja dia bisa sedikit mandiri, pernah mamanya menawarkan untuk dijemput Mang Karto, sopir lepas yang sesekali dipanggil bila ada keperluan pergi ke luar kota.
Tapi Jasmine menolak, Jasmine suka bercerita di dalam mobil sambil mama menyetir dan terkadang berdua makan bakso dan es kelapa muda di dekat sekolah.
Bahkan menghabiskan waktu bersama mama yang dirasakan seperti teman lebih mengasyikkan ketimbang jalan pulang sekolah dengan teman-teman sekelasnya.
Fla, sahabatnya suka iri melihat kedekatan Jasmine dan mamanya. Fla tidak mungkin bisa seperti Jasmine dan mamanya karena mami dia seorang wanita karier yang mendedikasikan sepenuhnya waktu dan dirinya dari pagi hingga malam pada sebuah perusahaan multinasional.
Rasa sesal menggumpal membekukan hatinya, Jasmine merasa menjadi penyebab mamanya meninggal.
Kepergian mama menghadirkan kesunyian hatinya dan kebekuan hatinya.

Other Stories
Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Kabinet Boneka

Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...

Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

Melepasmu Untuk Sementara

Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...

Luka

LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...

Aparar Keparat

aparat memang keparat ...

Download Titik & Koma