Erase

Reads
137
Votes
0
Parts
3
Vote
Report
Penulis Lia Soeparno

1. Devi

Monday hectic! Kenapa sih aku selalu memulai Senin dengan sibuk? Devi merutuki paginya saat membaca agenda kerja hari ini. Jadwal klien pertama tepat pukul 9.I really hate Monday!
Disambarnya smartphone berwarna putih dengan logo apel tergigit itu, lalu melakukan order kendaraan roda dua. Kondisi lalu lintas Jakarta di Senin pagi sudah pasti macet. Pernyataan itu bukan sekadar prediksi kosong, Devi tak mau ambil risiko dengan membawa Jazz merah keluaran tahun 2014 miliknya. Tak sampai lima menit menunggu, driver ojek sudah tiba di depan pagar hitam desain minimalis, membunyikan klakson motornya.
Devi bergegas menyambar tas kulit warna merah hatinya, hasil perburuan melalui sosial media. Cara pemasaran yang unik, entah dengan teknik marketing apa, Devi kurang mengerti. Yang jelas mampu membuat sejumlah wanita rela memperebutkan tas dengan harga yang tidak murah. Mungkin hypnoselling. Ah, entahlah!
Devi menjejali tasnya dengan gawai, agenda kerja, dompet, dan kotak kacamata. Bau khas kulit menyeruak memenuhi rongga hidung, Devi menghirupnya dalam-dalam. Baginya aroma barang-barang pribadinya menjadi semacam aromateraphy yang memberikan ketenangan.
\"Pagi, Mbak,\" sapa driver ramah. Pria muda berjaket hijau dengan lambang perusahaan transportasiberbasis online, tempatnya bernaung. Orang ini masih cukup muda, mungkin awal dua puluhan. Posturnya tegap di atas motor kopling yang biasa menjadi kebanggaan para pria.
Devi melirik wajahnya sesaat.Hm, lumayan ganteng. Alis tebal, tulang hidung tinggi dengan dagu lancip. Mungkin dia mahasiswa atau pekerja kantoran yang mengambil side job. Tak sadar Devi tersenyum, menertawai alam khayalnya yang selalu berkeliaran bebas.
\"Pagi. Ke arah Fatmawati ya, Mas.\"
\"Oke, Mbak. Mau pakai masker?\"
Devi mengangguk, dengan cekatan diambilnya helm dan masker dari tangan driver. Devi memaksa dirinya bergerak menaiki motor kopling, dia tidak terlalu suka jenis motor yang kata orang melambangkan kejantanan pengendaranya ini.
Apa bagusnya motor seperti ini?Posisi duduk harus condong ke depan, tak enak sama sekali.Menjejalkantasnya di antara tubuh driver dengan tubuhnya sendiri. Semoga saja si merah bisa sedikit melindungi tubuhku.
\"Ok Mas, let\'s go!\"
Motor melaju perlahan menuju gerbang kompleks perumahan. Pikiran Devi kembali dipenuhi dengan sederet agenda kerja yang harus diselesaikannya hari ini.
Bruk!
\"Aduh! Hati-hati, Mas!\" sontak Devi berteriak kaget saat motor tiba-tiba berhenti mendadak ketika mereka baru saja berada di jalan raya. Namun driver seolah tidak mendengar teriakan Devi, dia tetap melajukan motornya dalam diam. Kali ini dengan kecepatan kencang. Gesit meliuk menembus kerumunan kendaraan yang selalu berebut mengambil hak di jalanan. Degup jantung yang masih belum kembali normal akibat kejadian tadi, sekarang menjadi bertambah kencang.Tuhan, aku memang ingin mengejar waktu, tapi tolong selamatkan nyawaku.
Ciiiittt! Bruk!
Motor kembali berhenti mendadak. Lebih kencang dari sebelumnya. Posisi duduk Devi sudah tidak karuan.
\"Ouch! Hati-hati dong, Mas! Dari tadi ngerem mendadak terus,\" tegur Devi sambil mengusap hidungnya yang menabrak punggung driver. Sial!
\"Maaf, Mbak. Tadi tiba-tiba ada kucing. Kalau saya nggak ngerem, bisa ketabrak.\"
“HAH! Mana kucingnya?\"
Kepala mendadak pening. Matanya bergerak panik mencari bayangan kucing yang dimaksud. Bulu kuduknya meremang, tubuh Devi menegang.Seolah bersiaga bila memang ada kucing yang hendak mendekatinya.
\"Sudah lari tadi, Mbak. Kita lanjut, ya?\"
\"Er… eh, iya lanjut, Mas.\"
Mata Devi tetap bergerak nyalang, bolak-balik menoleh ke belakang, memastikan tidak ada seekor kucing pun membuntutinya. Motor kembali melaju dengan kecepatan sedang.Baru setengah perjalanan menuju kantor. Kepala Devi terasa semakin berat. Egh, mual sekali, ingin kumuntahkan asam lambungku ini.
Kedua bola matanya terasa panas. Keringat dingin mengalir deras membasahi wajah dan tubuh, kemeja putih yang dikenakannya telah dipenuhi gambar pola keringat. Dengan sisa kekuatan yang ada, Devi memberi perintah pada otaknya, agar tulang dan seluruh sendi tetap menyangga tubuh yang mulai lemah.Tuhan, semoga ini hanya sekadar intermezzo pagi.
Memasuki kawasan perkantoran di wilayah Jakarta Selatan, tubuh Devi tak lagi kaku, hatinya menjerit riang. Seolah terlihat dewa penolong datang bersama cahaya yang akan membawanya keluar dari kegelapan. Laju motor sudah berkurang, berhenti tepat di halaman rukan tiga lantai, Devi menyewanya sekitar dua tahun yang lalu. Dikembalikannya helm hijau sambil menjulurkan uang berwarna merah, satu lembar seratus ribuan.
\"Sebentar kembaliannya ya, Mbak,\" kata driverojek, dibukanya tas ransel yang sejak tadi disampirkan di dadanya, beradu dengan punggung motor yang menonjol.
\"AAKH! APA ITU?\" pekik Devi ketakutan, sebuah wig berwarna hijau menyembul keluar dari tas ransel milik si driver.
\"Oh, ini rambut badut, Mbak. Saya badut pesta juga. Sebentar ya, Mbak, dompet saya di bagian bawah.\"
\"Ambil saja kembaliannya!\" Devi sudah tidak tahan lagi, dia tak mau menunggu lebih lama menyiksa dirinya sendiri. Sial banget sih, hari ini. Tadi kucing, sekarang badut!
Devi segera berlari menuju ruangannya, hampir saja menabrak Agus, staf kebersihan yang sudah menjadi karyawannya sejak kantor ini berdiri.
\"Pagi Bu Devi. Ibu kok pucat,sakit ya?\" tanya Agus, tangannya masih memegang gagang pembersih kaca.Devi menggeleng dan tersenyum lemah.
\"Tolong bawakan teh hangat, Gus. Oh, sama cokelat, ya!\"
\"Siap, Bu.\"
Fiuh! Devi menghempaskan tubuhnya di kursi hitam hidrolis besar. Mengatur intensitas napasnya perlahan, mengerahkan semua kemampuannya untuk kembali tenang.Inhale. Tahan sepuluh hitungan. Exhale.Blissful mind, I let you come to persue my day.
Ketenangan datang dengan mudah, Devi bangkit dari kursinya, meraih pemantik dan menyalakan lilin yang membakar tungku keramik kecil dengan cawan berisi minyak beraroma jasmine. Sudah hampir habis, aku harus segera membelinya lagi.
Aroma harum jasmine memenuhi ruang kerja Devi. Membuat rileks otot-otot kaku sepanjang perjalanan melelahkan tadi. Diambilnya cermin kecil dari dalam laci, memandangi pantulan wajahnya, memoles ulang bedak powder dan listick cherry blossom yang diambil dari dalam laci.
\"Permisi, Bu,\" Agus masuk dengan nampan berisi cangkir teh di tangannya.
\"Terima kasih. Ratna sudah datang?\"
\"Sudah, Bu. Baru saja. Mau saya panggilkan?\"
\"Iya, tolong panggilkan.\"
Agus mengangguk dan berlalu ke luar ruangan. Bu Devi, majikan yang sangat santun. Tidak pernah lupa mengucap kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’. Itu yang membuat Agus betah bekerja selama dua tahun ini. Bos seperti Bu Devi mungkin sudah termasuk langka di Jakarta yang berwajah sombong. Setidaknya menurut pikiran sederhana seorang Agus.
Tok tok!
\"Ibu panggil saya?\" kepala Ratna menyembul di balik pintu kayu ruang kerja Devi.
\"Saya minta berkas klien yang pertama, orangnya sudah datang belum?\"
\"Belum, Bu. Sudah saya WA, tapi belum dibaca.Mungkin masih kena macet di jalan. Saya ambilkan berkasnya dulu, Bu,\" kata Ratna sambil keluar menutup pintu. Tak berapa lama, Ratna masuk kembali, membawa satu buah map merah dengan cover plastik bening transparan.
Devi membaca catatan yang dibuat Ratna, mengerutkan keningnya. Sepasang suami istri, baru tiga bulan menikah.
\"Nanti kalau sudah datang, kamu minta mereka mengisi lembar pertanyaan seperti biasa!\"
\"Baik, Bu.\"
\"Lalu bawa mereka masuk, suaminya terlebih dulu, ya!\"
\"Iya, Bu,\" jawab Ratna, mengambil kembali berkas yang telah dibaca Devi.Saat mencapai pintu, Devi memanggilnya lagi.
\"Tunggu sebentar, Rat.Tolong kamu tahan semua telepon, saya mau meditasi sebentar. Setengah jam saja!\"
\"Baik, Bu.\"Ratna segera keluar dan menutup pintu.
***
Teh hangat, cokelat, dan aroma jasmine merupakan obat mujarab bagi Devi. Dipijatnya pelipis dan tengkuk dengan perlahan. Devi meletakkan kedua telapak tangan di atas pahanya, bibirnya mengatup, lidah di dalam rongga mulut bergerak menekan rahang atas. Kembali mengatur irama napasnya.Deep inhale. Tahan sepuluh hitungan. Release.
Terus mengatur napas, hingga semakin dalam. Kelopak matanya perlahan-lahan menutup. Alam pikirannya bergerak masuk, semua bergerak melambat, masuk semakin dalam, berjalan dalam lorong dengan penuh kedamaian. Ketenangan. Hanya ada suara gemericik air terjun dari ujung lorong. Samar-samar memanggil namanya. Devi melangkahkan kaki, bergerak mengikuti panggilan air terjun tadi.
Seekor kucing hitam duduk dengan posisi dua kaki depan berdiri tegak, menunggunya dengan kilatan bola mata tajam ke arah Devi.
*****

Other Stories
Membabi Buta

Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...

Cinta Satu Paket

Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Tilawah Hati

Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

November Kelabu

Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...

Download Titik & Koma