Namaku May

Reads
1.9K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Ayaka Prayitno

9. Biwako

Biwako atau Danau Biwa adalah sebuah danau yang terletak di Shiga Prefectur dan merupakan danau terluas di Jepang. Sebagian danau ini berada di wilayah Otsu yang tidak terlalu jauh jaraknya dari Kasayama, tempatku tinggal. Danau ini konon merupakan salah satu danau tertua di dunia dan telah ditetapkan pemerintah Jepang sebagai lahan basah yang dilindungi undang-undang pelestarian kualitas air lahan basah. Danau ini merupakan sumber air bersih bagi sebagian warga yang tinggal di sekitar wilayah Kyoto.
Pada wilayah tertentu pantainya landai dan berpasir sehingga cocok untuk tempat rekreasi. Sebagian warga Jepang menjadikannya sebagai lokasi untuk mendirikan vila-vila peristirahatan. Salah satunya adalah Iwahashi sensei, seorang warga Jepang yang baik hati dan tergabung dalam Ikatan Persaudaraan Indonesia-Jepang. Suatu saat menjelang kepulanganku ke tanah air, ikatan persaudaraan dua negara melalui beberapa senior dalam kepengurusan PPI Kyoto-Shiga mengadakan acara di vila Iwahashi. Acara yang disii dengan kegiatan bersantai menjalin persahabatan itu juga sekaligus menjadi acara untuk melepas angkatan kami yang sudah menyelesaikan studi dan akan segera meninggalkan Jepang setelah wisuda.
Bagi yang ingin berlayar menikmati suasana danau, Biwako Cruise bisa menjadi pilihan. Sebuah kapal pesiar besar bernama Michigan siap membawa berlayar mengelilingi danau dengan menawarkan pemandangan menarik sepanjang tepi danau dan atraksi menarik dari awak kapal. Aku bersyukur mendapat kesempatan merasakan Biwako Cruise atas ajakan kakak kelas dari UGM di awal masa tiba di Kyoto dulu.
Sebenarnya nama Biwako telah kukenal sejak presentasiku pertama kali di depan Nakajima sensei dalam proses seleksi pemilihan kampus di Jepang. Waktu itu sensei yang tertarik dengan presentasi proposal penelitianku menawarkan alternatif kepadaku untuk melakukan penelitian kualitas air di perairan Indonesia, di Danau Biwa atau membuat komparasi penelitian antara perairan Indonesia dengan danau Biwa di sana.
Nama Biwako juga menjadi nama grup zemi-ku bersama 6 orang Jepang mahasiswa bimbingan Nakajima sensei yang mengadakan penelitian dengan lokasi atau objek yang berkaitan dengan Danau Biwa.
Bersama sensei dan teman-teman grup zemi Biwako, aku pernah melakukan survei ke Danau Biwa dan sekitarnya, dengan tema Biwako-Naiko Survey. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama sebuah Non-Government Organisation (NGO) setempat yang peduli lingkungan dengan Ritsumeikan University. Pada kegiatan ini kami, anggota grup zemi biwako group bersama rombongan NGO berjalan menyusuri jalan setapak di areal sebuah pemukiman di sekitar Danau Biwa guna mengamati kondisi aliran selokan atau parit air.
Aku sungguh takjub dengan pemandangan yang kulihat saat itu. Selokan air yang ada di depan atau di samping rumah warga mengalir dengan debit aliran dan kedalaman rendah, terlihat jernih dan tak ada sampah yang mengotori. Bahkan, sebagian warga menghiasi parit itu dengan ikan koi yang berenang bebas berwarna warni, terlihat cantik dan asri. Pada beberapa titik sepanjang selokan itu kami berhenti dan mengamati apa yang ada di dalamnya. Teman-teman mengambil peralatan mengambil sampel hewan yang ada. Kami menemukan banyak kawanina, jenis kerang gastropoda mirip seperti tutut tapi berukuran kecil dan panjang. Kerang ini biasanya menjadi inang bagi larva Hotaru atau kunang-kunang. Kehadiran Hotaru dan juga capung bisa menjadi penanda bahwa kondisi kualitas air di mana mereka menjalani sebagian fase hidupnya masih cukup baik dan belum atau sedikit tercemar.
Pada suatu sore di awal masa tinggal di Jepang, aku sangat penasaran dengan Danau Biwa. Bersama teman-teman aku bersepeda menuju ke tepi Danau Biwa yang terdekat dari Kasayama, lokasinya di daerah Seta. Perjalanan yang ditempuh dengan sepeda sekitar 1 jam dan melelahkan itu segera terbayar setelah tiba di lokasi. Pemandangan sore di tepi danau itu sangat indah, terutama menjelang matahari tenggelam. Matahari yang seolah menghilang masuk ke dalam danau dengan berhias cahaya jingga di langit sangat menarik untuk dijadikan objek foto.
Mengisi waktu senggang saat libur hari Minggu, aku dan Nita sengaja datang ke tepi Danau Biwa di mana terdapat pelabuhan kapal pesiar, Michigan. Dengan menggunakan kereta JR kami berangkat dari stasiun Minami Kusatsu menuju stasiun Otsu, lalu berjalan kaki sekitar 20 menit sampai di lokasi. Tujuan kami adalah rekreasi sambil belajar memotret. Kami berjalan menuju dermaga yang dibuat menjorok ke arah tengah danau.
Di tempat ini kami bertemu dua anak muda Jepang yang sedang rekreasi memancing ikan. Naluriku sebagai orang perikanan langsung tertarik mendekat dan mencari tahu ikan apa saja yang berhasil ditangkapnya. Kedua orang itu menunjukkan sikap dan wajah ramah. Maka seperti seorang wartawan, aku menanyai banyak hal yang berhubungan dengan jenis ikan yang sering tertangkap di danau itu. Untungnya mereka komunikatif dan eigo-nya lumayan bagus.
Menurut mereka kebanyakan ikan yang tertangkap adalah jenis burujiru (blue gill) dan jenis bass, sambil menunjukkan ikan hasil tangkapannya yang baru ada tiga ekor. Aku meminjam satu ekor ikan untuk dipegang lalu narsis difoto oleh Nita. Aku bahkan diberi kesempatan untuk mencoba peruntungan memancing ikan menggunakan salah satu alat pancing milik mereka. Ternyataa… memang tidak mudah untuk mendapatkan satu ekor ikan. Entah karena umpannya kurang cocok, atau ilmu memancingku tidak berlaku di situ. Akupun menyerah. Hari semakin siang dan perutku mulai lapar. Aku dan Nita segera pergi meninggalkan tempat itu menuju stasiun Otsu untuk pulang.
Di Danau Biwa ini aku pernah menonton sebuah festival kembang api atau Hanabi yang diselenggarakan di wilayah Otsu. Aku dan teman-teman Indonsia berbekal informasi dari Mba Nino, seorang teman di PPI, mengunjungi dan menyaksikan pesta kembang api yang terbesar untuk wilayah Kyoto–Shiga tahun itu. Sekitar 10.000 kembang api diluncurkan ke udara di atas Danau Biwa berpadu dengan air mancur berlampu yang menari-nari sesuai dengan alunan musik (illuminated water fontain) di Danau Biwa. Suasananya sangat meriah dan crowded sekali, terutama saat acara selesai dan semua orang berebut ingin lebih dahulu keluar dari lokasi.
Ada sebuah museum yang berlokasi di dekat Danau Biwa. Museum itu adalah Museum Danau Biwa atau Biwako Museum yang berlokasi di wilayah Kusatsu. Aku dan Nita menyempatkan waktu mengunjungi museum ini dengan menggunakan sepeda. Lumayan jauh perjalanan yang kami tempuh. Namun demikian apa yang bisa dilihat di dalam museum itu worthed sekali, terutama buat orang perikanan sepertiku.
Museum itu menggambarkan sejarah perkembangan Danau Biwa secara geologis serta aktivitas yang ada sejak zaman dahulu hingga awal modernisasi. Di museum itu dapat dilihat protret kehidupan masyarakat tradisional Jepang yang tinggal di sekitar Danau Biwa beberapa puluh tahun lalu. Di Museum itu tersimpan gambaran keanekaragaman sumber daya hayati perikanan yang ada di Danau Biwa, ragam jenis alat tangkap dan perahu yang digunakan untuk menangkap ikan, serta cara pengolahan dan jenis hasil olahan ikan yang ada pada masa itu.
Sebagian besar item pada penggambaran kondisi kehidupan bangsa Jepang itu dibuat dengan sangat detail, seolah nyata dalam bentuk tiga dimensi. Pengunjung bisa duduk dan menyentuh objeknya sehingga bisa merasakan nuansa tradisional Jepang kala itu. Sangat menarik bagi yang menyukai fotografi. Namun demikian ada beberapa item yang hanya ditampilkan dalam bentuk gambar dan foto dua dimensi.
Selain benda artifisial yang menggambarkan peninggalan bangsa Jepang zaman dahulu khususnya yang hidup di sekitar Danau Biwa, di Museum Biwako juga bisa dilihat aneka ragam jenis ikan air tawar yang hidup di Danau Biwa. Ikan-ikan itu dipelihara di dalam akuarium yang berbeda untuk tiap jenis dan diberi label nama dalam huruf katakana, dan nama Inggrisnya dalam huruf latin. Jumlah akuarium sangat banyak, mungkin mencapai angka seratus. Akuarium-akuarium ini terlihat ditata rapi dan terawat. Karena banyaknya objek yang bisa dilihat, mengitari ruangan museum akan memakan waktu yang lama. Tetapi tidak akan menyesal karena mata dan hati terpuaskan.
Banyak cerita tentang Biwako. Bagiku Biwako tak sekadar nama sebuah danau. Biwako akan menjadi satu nama yang akan selalu kusimpan dalam hidupku. Pada tepian Biwako tertinggal sebentuk cerita cinta yang datang sesaat lalu pergi tak pernah kembali. Pasir dan ombak kecil itu menjadi saksi kerlingnya. Maka kubiarkan ia membawanya serta di setiap deburnya, hingga tak pernah hilang selamanya. Tersimpan di sana.
***

Other Stories
Reuni

Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Aku Pulang

Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...

Download Titik & Koma