Namaku May

Reads
1.9K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Ayaka Prayitno

4. Pertama Tiba Di Jepang

Hari itu masih pagi saat pertama kali aku menjejakkan kaki ke bumi “negeri impian”, Jepang. Pesawat Garuda membawaku dan rombongan tiba di Kansai Airport. Exciting. Iya! Jet lack. Tentu saja! Tetapi tidak mengurangi semangatku dan dua sahabat satu kampus, Irrin dan Nita, untuk mulai menjelajah dan mengabadikan saat pertama tiba di Jepang. Ndeso? Iya! Beberapa pasang mata sipit mengamati perilaku kami. Ah, biarkan sajalah. Pura-pura tidak tahu saja.
Kelar urusan keimigrasian, kami sudah dijemput petugas utusan dari lembaga yang mengurusi beasiswa kami di Jepang, Asiaseed, Mr. Shimizu namanya. Kami memanggilnya Shimizu San. Orangnya masih muda, di bawah umur kami, berperawakan tinggi dengan berat ideal, good looking face dan cool. Jauh dari gambaranku sebelumnya tentang orang Jepang yang kudapat dari film-film di televisi waktu zaman kecil dulu. Orang Jepang itu tubuhnya pendek, matanya sipit dan wajahnya bengis. Aku memang bukan penggemar film, apalagi kemudian tinggal di daerah terpencil. Sangat jarang nonton film, pun setelah VCD menjadi barang yang mudah dijumpai di mana saja. Hal ini membuatku tidak tahu banyak tentang karakter orang Jepang sekarang ini yang sudah sangat berubah.
Dari Kansai Airport kami kemudian diantar Shimizu San menggunakan bus menuju Kyoto. Di dalam bus menuju kampus inilah living allowance kami untuk bulan pertama tinggal di Jepang dibagikan. Wuiih langsung buat kipas-kipas tuh duit. Total 200.000 yen kami terima. Kalau di kurs ke rupiah nilainya lebih dari 20 juta. Waah… buat apa saja yaa duit sebanyak ini? Mulai deh berhitung. Kira-kira bisa sisa berapa untuk biaya hidup sebulan di sini? Berapa yang bisa disisihkan untuk ditabung? Hahaha… malah jadi kepikir ngumpulin duit.
Ngomongin sekolah sambil mengumpulkan uang, bagi mahasiswa penerima beasiswa ke Jepang memang sudah bukan hal asing lagi. Jauh hari sebelum berangkat, sebagian sudah punya rencana dan angan sendiri setibanya di negeri yang terkenal tenaga kerja manusia sangat dihargai dan dibayar tinggi. Menjadi penjaga toko atau loper koran yang bisa dilakukan di luar waktu kuliah saja sangat lumayan penghasilannya.
Beberapa teman malah ada yang niat banget untuk bisa diterima di salah satu universitas di wilayah selatan Jepang. Sejak proses seleksi berkas, sampai dengan presentasi proposal dan interview dengan profesor penguji dari kampus teknik itu, mereka sangat serius dan menggebu-gebu. Bahkan, mereka sudah menunjukkan minatnya dari awal agar kawan-kawan lain mengurungkan niat memilih kampus itu dengan maksud mengurangi saingan. Hal ini berkaitan dangan kuota tiap kampus dari 6 perguruan tinggi di Jepang yang bisa kami akses berbeda-beda jumlahnya. Ada perguruan tinggi yang hanya menerima 1 orang mahasiswa, ada yang 3, ada juga yang tidak membatasi jumlah.
Persaingan untuk mendapatkan perguruan tinggi memang terjadi meskipun tidak sampai menimbulkan perselisihan. Kami bahkan bersepakat untuk bisa berangkat semua. Untuk itu kami memetakan dari awal, siapa-siapa yang mendaftar ke kampus mana. Tiap orang punya kesempatan mendaftar di dua perguruan tinggi. Pemetaan disesuaikan antara instansi tempat bekerja mahasiswa peminat, bidang ilmu yang akan diambil, serta kuota program itu pada perguruan tinggi yang menjadi tujuan.
Pemetaan ini dimaksudkan agar kami yang berjumlah 15 orang calon karyasiswa bisa mendapatkan kampus semua. Jangan sampai ada di antara kami tidak jadi berangkat ke Jepang karena tidak lolos seleksi dikarenakan salah strategi. Maka masing-masing kami harus memahami kemampuan diri dan menyesuaikan antara instansi tempat bekerja dan program yang akan dipilih. Setidaknya setiap orang bisa diterima di satu dari enam perguruan tinggi itu. Kalau lebih dari satu artinya bisa memilih yang sekiranya lebih pas.
Seleksi penerimaan terdiri dari dua tahap. Tahap pertama merupakan seleksi berkas yang berisi surat lamaran dengan melampirkan proposal penelitian, curriculum vitae dan data pendukung diri lainnya. Tahap kedua adalah presentasi proposal dan interview langsung di hadapan profesor calon pembimbing utusan dari perguruan tinggi di Jepang sebagai tindak lanjut dari permohonan lamaran.
Alhamdulillah aku lulus di dua perguruan tinggi yang kukirimi lamaran. Satu di Kyoto dan satu di Tokyo. Saat itu aku ingin sekali bisa berangkat ke Tokyo yang domainnya mempelajari sosial ekonomi. Menurut informasi dan kabar dari kakak kelas sebelumnya, berkuliah di kampus ini bisa lebih santai dan tidak harus terlalu dipusingkan oleh pelajaran. Pasti lulus. Aku memilihnya karena menyadari kemampuanku tidak sebaik mereka yang rata-rata lebih muda dan siap tempur.
Pilihanku di kampus yang berlokasi di Kyoto sebenarnya merupakan pilihan yang pertama. Selain karena kesesuaian antara instansi tempatku bekerja dengan proposal penelitian yang sudah kubuat, juga keinginan untuk bisa tinggal di kota yang cantik dan klasik. Tetapi kampus yang satu ini dikenal agak susah kuliahnya. Bahkan, seorang kakak kelas sampai tidak lulus dari kampus itu dan terpaksa harus pulang ke Indonesia tanpa membawa gelar. Kuingat sekali ucapan Mba Putri, sekretaris jurusan yang cantik berkulit putih dan English-nya fasih, namun selalu ceria dan ramah kepada kami semua mahasiswanya.
“Hayoo… pada mau pilih mana? Kalo di Kyoto itu, kuliahnya susah tapi kotanya cantik dan udaranya bersih. Kalo di Tokyo, sekolahnya lebih mudah, tapi hidup di kota besar yang sibuk dan biaya hidupnya lebih tinggi.”
Informasi yang membuatku berpikir ulang. Namun, profesor yang datang melakukan seleksi dari kampus itu sangat tertarik dengan proposalku dan ingin menjadi dosen pembimbingku. Seusai presentasi proposal, beliau langsung memberiku kartu nama dan memintaku untuk berkomunikasi dengannya lebih lanjut melalui e-mail. Aku tidak tahu ini jalan rezekiku atau malah awal kesulitanku. Yang pasti sejak itu kepala jurusan, para dosen dan teman-teman langsung memberi dukungan dan seperti memaksaku untuk memilih kampus itu saja ketimbang yang di Tokyo.
“Sudah Mba, takdirmu memang di Kyoto. Aku yakin Mba pasti berangkat ke Kyoto. Lagi pula Mba ngga perlu susah payah lagi, sudah ada profesor yang siap membimbingmu di sana,” kata-kata Helboy seperti dukun peramal saja bisa memastikan keberangkatanku.
“Iya Mba May, ke Kyoto saja. Kami-kami ini malah belum jelas akan dapat kampus di mana,” Kyoto itu kotanya cantik lho Mba, pasti nanti senang di sana! Hahaha...” Azra menimpali kata-kata Helboy sambil terkekeh. Aku diam dan merengut. Aku tahu maksudnya. Bila aku memilih ke Kyoto tentu dia diuntungkan dengan berkurangnya satu saingan buatnya yang ingin ke Tokyo.
Beberapa bulan kemudian aku dan dua orang teman wanita menerima Letter of Acceptance (LoA) dari Ritsumei-kan University di Kyoto. Surat itu dilengkapi dengan informasi nama jurusan dan alamatnya, nama dosen pembimbing dan jadwal waktu perkuliahan. Ini adalah surat tanda penerimaan yang kedua bagi kami calon karyasiswa ke Jepang. Sebelumnya sudah ada surat serupa datang dari Keio University di Yokohama untuk satu orang karyasiswa.
Kedua teman wanitaku terlihat sangat gembira dan segera mempersiapkan berkas dan segala sesuatu yang dipersyaratkan. Mereka mengajakku untuk berdiskusi kira-kira apa yang akan disampaikan sebagai perkenalan terhadap sensei masing-masing yang akan dikirim via e-mail. Sementara aku adem ayem menanggapinya. Aku berharap surat serupa dari universitas di Tokyo segera tiba.
Pikiranku masih ke Tokyo. Sampai akhirnya sekretaris jurusan memberikan keterangan kalau tiap karyasiswa hanya akan menerima satu LoA. Ke enam perguruan tinggi di Jepang sudah berkoordinasi dengan Asiaseed. Ketika satu universitas sudah memilih calon mahasiswanya dan mengirimkan LoA, maka universitas yang lain tidak bisa lagi mengklaimnya.
Aku gelisah mendengar keterangan Mba Putri, tapi masih belum yakin, aku pun menghadap Pak Boby, ketua jurusan. Di sini aku mendapat jawaban yang sama. Setengah memelas aku meminta bantuan dan petunjuk Pak Boby agar LoA dari Ritsumeikan bisa dibatalkan dan dipindahkan di Takushoku University di Tokyo.
“Ngopo maneh? Kamu itu sudah enak lho diterima di Rits... kok malah sedih mau pindah?” Logat Jawa Pak Boby kental sekali, mengomentari maksudku.
“Saya takut ngga sanggup mengikuti kuliah di Rits, Pak... kabarnya susah… saya sadar kemampuan diri saya. Yang dua itu kan memang orangnya pinter-pinter Pak,” aku merendah dan jujur merasa tidak sebanding dengan kedua teman wanita yang sama-sama mendapat LoA dari Ritsumeikan University. Mereka masih muda dan pintar.
“Wong belum dicoba kok sudah takut!” Pak Boby cepat menyahut.
“Lha trus kalo nanti sudah dilepaskan oleh Rits, ternyata kampus lain tidak mau mengirim LoA, njur piye? Malah ngga jadi berangkat ke Jepang tho?” lanjut Pak Boby.
Pak Boby menyatakan tidak bisa membantuku. Beliau hanya memberiku saran untuk mencoba menghubungi langsung Asiaseed guna menanyakan apakah masih mungkin itu dirubah.
Aku pun mengikuti saran Pak Boby, menelepon Asiaseed. Seorang laki-laki yang menerima teleponku. Setelah memberi salam dan memperkenalkan diri, aku menyampaikan maksudku menelepon. Dan, aku mendapat jawaban yang sama. Pihak Asiaseed pun menyatakan bahwa keputusan yang berkaitan dengan penempatan karyasiswa itu sudah disetujui bersama oleh keenam universitas dan tidak bisa diubah lagi. Jleb!! Aku pun pasrah sampai di situ. Mulai saat itu aku harus mengubah mindset-ku dan menerima LoA yang sudah ada dengan senang hati. Aku memang harus ke Kyoto. Titik.
Tidak semua yang kita harapkan bisa terwujud seperti apa yang kita bayangkan sebelumnya. Namun demikian, usaha dan kerja keras serta perjuangan harus tetap dilakukan semaksimal mungkin. Hasilnya Allah yang akan menentukan. Dan yakinlah itu pasti yang terbaik yang Allah SWT pilihkan buat kita.
***
Aku terkejut oleh suara Shimizu San yang menggunakan pengeras suara memecah keheningan. Membangunkan seisi bus yang tengah tertidur lelap. Rupanya bus carteran yang kami tumpangi sudah mulai memasuki Kota Kyoto. Aku melihat arloji, baru pukul 10.00. Artinya jarak dari Kansai Airport ke Kyoto bisa ditempuh sekitar 2 jam perjalanan. Shimizu San mulai bercerita tentang pemandangan di kanan dan kiri jalan yang kami lalui layaknya tour guide sebuah biro perjalanan.
Dengan santai namun tetap cool, dia menerangkan tempat-tempat dan bangunan yang menjadi icon Kota Kyoto di sepanjang jalan yang kami lewati. Sampailah sebagian dari kami di sebuah apato. Teman-teman yang berkampus di Kyoto segera turun. Wajah-wajah mereka terlihat sumringah. Udara dingin menyelusup masuk ke dalam bus. Berr... dingin. Aku merapatkan baju hangat yang kubeli dari Palembang. Ternyata tidak berfungsi maksimal di dinginnya udara Kyoto.
Bus kembali melanjutkan perjalanan mengantar kami menuju Shiga. Kampus Ritsumeikan di Kyoto memang ada dua lokasi. Ada yang di Kyoto Prefecture, yaitu Uji Kampus dan ada yang di Shiga Prefecture, yaitu Biwako Kusatsu Kampus (BKC). Kampus yang pertama adalah bagi mereka yang belajar ilmu sains dan policy. Sedangkan yang kedua diperuntukkan bagi mereka yang menekuni ilmu-ilmu teknik. Setengah jam perjalanan kami tiba di BKC Campus. Kami tidak diantar menuju apato, melainkan ke dormitory-nya Ristumeikan University, Epoch 21.
Turun dari bus kota, sambil menunggu koper diturunkan, aku menggerak-gerakkan badan ke kiri dan kanan sedikit berolahraga menghilangkan sisa kantuk yang sempat mampir dalam perjalanan menuju Shiga sekaligus mengusir dingin. Cuaca masih tampak redup. Mentari belum muncul atau memang mendung. Kulihat jam tangan, jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi. Kulayangkan pandangan memutari posisiku berdiri. Suasana masih sepi, tak ada orang lain terlihat selain kami. Pohon-pohon yang berderet mengelilingi sebuah lapangan jauh di arah depan terlihat meranggas tidak berdaun sama sekali. Seperti pohon hantu di film-film horor.
Bus itu pun pergi meninggalkan kami yang segera diarahkan Shimizu San menuju dormitory. Sebuah gedung bertingkat yang berada di ujung jalan. Sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi beratnya koper membuat kami bergerak lambat. Apalagi jalanan yang dilewati berupa jalan aspal yang sedikit kasar. Sesekali roda koperku terjebak ke dalam lobang jalan atau terhambat batu koral jalan. Parahnya lagi, koperku paling besar di antara teman yang lain. Ukuran nomor 32. Aku bahkan bisa masuk dan meringkuk di dalamnya.
Koper berbahan serat kain itu kubeli bersama Indah sahabatku saat masih di Yogya. Aku dan Indah sama-sama akan berangkat ke Jepang, tetapi kami diterima di kampus yang berbeda. Kami membeli koper yang sama baik merek, model dan ukuran. Bedanya cuma di warna. Indah memilih warna cokelat, dan aku biru muda. Masih kuingat argumennya saat membeli koper itu.
“Kita bawa satu koper besar saja, Mba. Lebih ringkes! Lha kalo bawa dua tentengan, satu koper satu tas jinjing, kan nanti malah repot sendiri! Ya, ngga?” tanyanya meminta persetujuan atas pemikirannya.
Dan kala itu aku pun mengiyakan dan mengikuti pertimbangan Indah yang menurutku ada benarnya. Cukup bawa satu koper besar saja. Kenyataan yang terjadi tak sesuai dugaan kami. Ternyata membawa satu koper yang besar itu tetap merepotkan. Untuk memosisikan berdiri dari kondisi rebah saja sangat berat dan susah. Aku perlu bantuan orang lain untuk melakukannya. Sementara teman lain yang membawa satu koper ukuran sedang dan satu tas jinjing malah lebih mudah bergerak. Tas jinjing bisa ditumpangkan di atas koper, lalu sekali tarik bisa terbawa semua.
“Silakan menaruh barang bawaan dan beristirahat di dormitory. Besok pagi jam delapan tepat saya tunggu di stasiun bus kampus. Kita akan pergi untuk lapor diri dan mengurus kartu tanda penduduk,” demikian pesan Shimizu San melepas kami di depan dormitory setelah selesai mengurus kamar-kamar kami di resepsionis Epoch 21.
Untuk sementara kami yang berjumlah 10 orang, dibagi ke dalam tiga kamar. Dua kamar untuk 7 orang putri dan 1 kamar untuk 3 orang putra. Aku sekamar berempat sesama mahasiswa teknik yang berasal dari pegawai instansi pemerintah daerah kabupaten/kota. Sementara tiga orang putri lainnya mahasiswa ekonomi dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI). Kami harus tinggal selama kurang lebih dua minggu di dormitory itu. Sambil menunggu kakak kelas (senpai) menyelesaikan pendidikan dan kembali ke tanah air. Ada over lapping masa tinggal kami dan senpai. Tinggal di dormitory itu tidak gratis ternyata. Selama tinggal di mess-nya kampus itu, setiap orang dikenai biaya 300 yen per malam. Wow, lumayan juga.
Esok paginya, jam delapan kami menuju stasiun bus yang tak jauh dari dormitory. Aku sempat sarapan roti dan biskuit yang kubawa dari tanah air. Sesampai di lokasi ternyata Shimizu San sudah menunggu. Kami diantar menggunakan bus. Di sini pula awal kami belajar menggunakan moda angkutan umum di Jepang. Bagaimana kami harus membayar uang terlebih dahulu sebelum mencari tempat duduk. Semua penumpang naik dan turun melalui pintu depan. Pembayaran dilakukan pada kotak mesin pembayaran yang ditempatkan di sebelah kiri pengemudi. Kami terkagum-kagum bagaimana mesin itu bisa memberi kembalian saat kami memasukkan uang kertas. “Mesin yang cerdas,” bisik hatiku sambil tersenyum. Ndak perlu kernet lagi ini. Ndeso memang.
Kelak kami tahu, bahwa pembayaran akan lebih mudah dengan menggunakan kartu uang khusus yang diterbitkan perusahaan pengelola bus itu yang bisa diisi ulang di dekat stasiun bus. Hanya perlu di-tap (ditempelkan) saja di atas mesin pembayaran dan otomatis saldo pada kartu akan didebit sesuai tarif perjalanan dengan bus itu. Tarif bus sama jarak jauh ataupun dekat dalam satu rute.
Setibanya di kantor Shiga Prefecture atau Provinsi Shiga, kami yang didampingi Shimizu San bertemu dengan seorang pejabat di kantor itu untuk menjelaskan maksud kedatangan kami. Selanjutnya kami menuju tempat pelayanan umum untuk mengisi blanko permohonan guna penerbitan kartu identitas dan beberapa kartu lain. Ada kartu identitas penduduk sementara atau kartu alien (sebutan kartu bagi warga pendatang dari luar Jepang), kartu asuransi kesehatan, dan lain-lain. Kami harus melewati beberapa meja dan menjawab beberapa pertanyaan berkaitan dengan maksud dan tujuan tinggal di Jepang.
Yang menarik dari kunjungan ke kantor pemerintah itu adalah kami juga dibekali petunjuk dan tata cara mengelola sampah yang kami hasilkan selama tinggal di Jepang. Bagaimana kami harus memperlakukan sampah organik sisa dapur, dan anorganik dengan cara yang berbeda. Bahan anorganik itu berupa kertas, plastik, kaleng, benda mengandung bahan kimia, dan beling. Jepang memang tidak main-main untuk urusan kebersihan. Selesai pembekalan dengan teori, kami dibekali langsung dengan beberapa contoh kantong plastik tempat sampah yang berbeda warna dan ukuran. Masing-masing untuk membuang jenis sampah yang berbeda. Kalau tidak salah ada sebanyak 6 macam kantong plastik. Belum lengkap, kami juga dibekali dengan kalender khusus yang memuat jadwal pembuangan masing-masing jenis sampah dimaksud. Selanjutnya bila kantong-kantong itu habis, kami harus membelinya sendiri di suppa (supermarket) atau di kombini (convenient store) terdekat dengan tempat tinggal kami.
Alhamdulillah semua beres saat jam istirahat siang. Kartu akan jadi dua minggu sampai satu bulan kemudian. Artinya, kami harus kembali lagi untuk mengambilnya dengan membawa bukti tanda pengurusan. Diam-diam aku salut pada pelayanan kantor ini. Mereka bersikap ramah dan sangat sopan kepada kami. Meskipun tidak semua bisa berbahasa Inggris dengan baik. Sesekali kami juga tidak mengerti apa yang dimaksud petugas, karena mereka kadang berbicara dengan bahasa Jepang.
Dalam perjalanan pulang, kami berhenti untuk makan siang di sebuah restoran Jepang. Keraguan terlihat di wajah kami saat memasuki restoran. Untungnya, Shimizu San sudah paham akan kebiasaan makan umat muslim dan mencarikan tempat makan yang menyediakan makanan vegetarian dan makanan halal. Dia pun membantu kami menentukan menu makanan apa yang dapat dipilih. Selesai makan kami diantar kembali ke dormitory. Tugas Shimizu San pun selesai dan dia segera pamit.
“Bay. Shimizu San. See you next time. Thank you very much for everything you have helped from yesterday till today. Doumo arigatou gozaimashita!” kami mengucapkan terima kasih dan perpisahan dengannya.
“Its OK. If you have any problem, please contact me by email. See you all! Arigatou gozaimashita,” Shimizu San sedikit membungkukkan badan sebagai penghormatan sebagaimana kebiasaan warga Jepang. Kami pun spontan membalas sedikit membungkuk.
Sejak saat itu kami harus tinggal dan berjalan sendiri tanpa didampingi warga asli Jepang. Dan sejak saat itu aku harus berani buka mulut dengan dua bahasa setiap kali keluar, bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Awalnya kaku dan tidak pede, secara hampir tidak pernah melepaskan bahasa ibu, bahasa Indonesia selama 36 tahun umurku. Namun lama-lama terbiasa walau struktur kalimatnya berantakan dan kadang diselipi bahasa isyarat gerak tubuh. Yang penting lawan bicara memahami apa yang kumaksud. That’s all!
***

Other Stories
Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

Buah Mangga

buah mangga enak rasanya ...

Deska

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Suara Dari Langit

Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...

Dengan Ini Saya Terima Nikahnya

Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...

Di Bawah Atap Rumah Singgah

Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...

Download Titik & Koma