Mencari Bukti
Selesai makan siang, Key, Ane dan Genta tak lantas kembali ke rumah Gozali. Mereka berkumpul di gudang yang telah disulap menjadi markas. Di mejanya, Ane sibuk membaca kembali catatan hasil wawancara mereka tadi. Genta mengeluarkan laptop dari tas dan menyalakannya. Sedangkan Key berdiri bersandar di sisi mejanya dengan tangan memegang spidol.
\"Menurutku bukan orang luar yang mencuri surat-surat dan uang itu, Key. Genta membuka pembicaraan.
\"Aku juga berpikir begitu setelah membaca setiap detil wawancara tadi,\" kata Ane menyetujui.
\"Kalian benar, jika orang luar yang datang malam itu pasti kedatangan mereka akan terekam, lalu mereka mematikan cctv dan mulai melakukan aksi pencurian, tapi kenyataannya tidak seperti itu,\" kata Key mulai menganalisa. \"Kupikir cctv dimatikan saat sore hari karena situasi rumah hanya terekam hingga pukul 14.30 Wib.\"
\"Bagaimana jika malam itu adalah malam keberuntungan para pencuri karena secara tak sengaja cctv dimatikan si pemilik rumah?\" Ane bertanya kemungkinan yang lain.
\"Bisa juga seperti itu. Wah masalah ini makin rumit.\" Genta menatap Key serius.
\"Gen, coba lihat kapan cctv kembali dinyalakan?\"
Genta kembali menekan tuts laptop lalu bersuara,\" Pukul 02.00 dini hari tadi, Key.\"
\"Sudah kuduga, ada salah seorang yang menjadi pencuri di rumah itu. Pasti ada alasan kenapa cctv dinyalakan selarut itu setelah dia menyadari Gozali sudah tahu bahwa brankasnya terbobol.\"
\"Tapi Key, bagaimana dengan orang mencurigakan di depan rumah itu?\" tanya Ane.
Genta mengangguk setuju dengan pertanyaan Ane yang juga terpikir olehnya.
\"Ada beberapa kemungkinan, bisa jadi dia adalah tamu Pak Gozali atau tamu penghuni rumah lainnya. Bisa juga orang yang bekerja sama dengan si pencuri di dalam rumah atau mungkin orang yang sengaja lewat.\"
\"Aku memilih kemungkinan yang kedua karena setelah orang itu datang, cctv dimatikan, dan kita tidak tahu dia bertemu siapa,\" kata Genta.
\"Kata Mbak Desya, yang ada di rumah saat itu dia sendiri, Ibu Hartina, Pak Gozali dan Hastio,\" jelas Ane.
\"Apa jangan-jangan pelakunya adalah Hastio?\" sontak Mata Genta berkilat-kilat merasa dugaannya tepat.
\"Memang sih ... ada banyak kemungkinan jika Hastio adalah pelakunya, tapi kita tidak bisa menyimpulkan tanpa bukti yang kuat,\" sergah Key.
\"Semua tuduhan mengarah ke dia, Key. Saat mereka semua berada di luar rumah, Hastio mendadak pergi. Kita sendiri tidak tahu pasti apa dia benar-benar ke kantor malam itu atau sebenarnya dia kembali ke rumah.\"
\"Dugaanmu bisa jadi benar sih, Gen, tapi kita tidak punya bukti jika dia yang melakukannya.\"
\"Aku rasa yang ditemui Pria misterius itu adalah Hastio, tapi dia orang yang cerdik. Dia mematikan cctv agar jejaknya tidak diketahui,\" kata Genta meyakinkan. \"Lagi pula dia adalah adik ipar Pak Gozali. Adam tidak mungkin mencuri harta kakaknya sendiri. Hanya Hastio yang mungkin bisa melakukannya mengingat dia juga berencana pindah. Dia bisa saja ingin membawa lari seluruh aset Pak Gozali.\"
Ane manggut-manggut mendengar analisa Genta. Dia cukup tercengang karena Genta bisa lebih dulu menemukan pelakunya. Genta pun tersenyum penuh kemenangan karena kali ini akhirnya dia merasa bisa mengalahkan Key. Dia bisa membuat Key berhenti berkata-kata seperti biasanya.
\"Semua Dugaannmu bisa jadi benar, bisa juga salah, Gen. Kita harus kembali ke rumah itu untuk membuktikannya. Hatiku sepertinya bilang pelakunya bukan Hastio, ada orang lain.\"
\"Jadi maksudmu, ada pencuri yang lain?\"
\"Aku rasa nggak ada ekpresi ketakutan di wajah Hastio walau hanya sedikit tersirat,\" ucap Key berterus terang. \"Bersiap-siaplah! Kita kembali ke sana untuk mencari bukti lain.\"
\"Kita lihat saja, analisa siapa yang benar,\" ujar Genta sarkastis.
***
Lewat pukul dua siang Key, Ane dan Genta tiba di rumah besar itu. Di sana sudah ada penyidik Wisnu yang ditugaskan mengawasi mereka.
\"Kalian terlambat anak-anak,\" kata Penyidik itu ketika mereka bertiga melangkah masuk di teras.
\"Maaf, Pak. Tadi kami sedang mendiskusikan sesuatu,\" jawab Key. Kali ini Ane diam dan berusaha mengabaikan kata-kata sinis penyidik itu, tapi Genta malah menyikut lengan Ane dan mengangkat dagunya menampakkan senyum dibuat-buat. Ane lalu mendengus memelototi Genta.
\"Ohoh, kadang-kadang Ane sangat menakutkan,\" ejek Genta kemudian berlari kecil masuk ke dalam rumah mengikuti Wisnu, mendahului Key dan Ane.
\"Tenanglah, Ane. Fokus pada tugasmu, apapun bukti yang kita temukan kau harus mencatatnya karena hal ini sangat penting untuk mematahkan dugaan Genta.\"
\"Tapi Key, aku rasa Genta sudah benar.\"
\"Tidak, Ne. Aku akan mengakuinya nanti saat bukti sudah terkumpul dengan jelas.”
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Saat di ruang tengah, Wisnu kembali angkat suara. \"Anak-anak, sekarang apalagi yang akan kalian lakukan?\"
\"Kami ingin mencari bukti pencurian itu, Pak. Siapa tahu ada jejak yang ditinggalkan pencuri,” sahut Key.
Pria paruh baya bernama Gozali yang saat itu sedang duduk tak jauh dari mereka hanya menatap kosong pada mereka.
\"Bagaimana Pak Gozali apa anak-anak ini boleh menggeledah rumah ini?\"
Gozali tak menjawab.
\"Pak Gozali ... Pak, \" panggil penyidik Wisnu sekali lagi.
\"Ah iya . .. ada apa?\"
Penyidik Wisnu mengulangi pertanyaannya tadi.
\"Baiklah, silakan saja,\" jawab Gozali mengizinkan.
\"Terima kasih,” balas Wisnu.
\"Kita harus membagi tugas agar pencarian bukti ini bisa cepat selesai. Genta kau mencari bukti dan hal mencurigakan di ruang kendali cctv dan bagian depan. Aku akan memeriksa brankas yang dibobol dan Ane kau harus memeriksa setiap pintu di rumah ini apakah ada yang rusak atau tidak,\" kata Key menginstruksi.
Genta dan Ane mengangguk mendengar perakataan Key. Tanpa berlama lagi mereka bergegas melakukan tugas masing-masing. Gozali menuntun Key ke tempat brankas itu diikuti Penyidik Wisnu yang mulai merasa kagum pada Key yang mampu mengendalikan kedua temannya.
***
Key menatap heran pada brankas kosong di depannya. Sesekali dia membuka--tutup brankas itu memastikan bahwa brankas itu tidak rusak.
\"Ternyata benar duagaanku, orang di rumah inilah yang mencurinya,\" Key dalam hati.
\"Pak Gozali, aku ingin tahu. Selain Bapak, siapa lagi yang mengetahui password brankas ini?\" tanya Key.
\"Hanya istri saya,\" kata Gozali singkat.
Key berpikir keras. Dia mulai menduga-duga. \"Apa mungkin istrinya yang mencuri aset suaminya? Ah mana mungkin. Jika benar dugaan Genta bahwa Hastio yang melakukannya apa kedua kakak beradik itu bekerja sama?\" batinnya.
\"Saat Bapak keluar malam itu, apa kamar bapak ini terkunci?\"
\"Ya, saya selalu menguncinya karena mengingat banyak barang berharga di brankas ini.\"
Key kembali menekuri secara detil kotak besi itu. Tetap saja tidak terlihat tanda-tanda jika benda itu rusak atau dibobol secara paksa. Kunci password-nya masih normal saat dia menanyakannya pada Gozali.
\"Baiklah, apa saya bisa memeriksa kamar lainya?\" Key mendongak pada Wisnu kemudian beralih pada Gozali. Wisnu hanya menaikkan kedua alis dan menggoyangkan kepala menyetujui.
\"Silakan Saja,\" ucap Gozali.
Key keluar dari kamar Gozali dan menuju kamar Hastio yang tidak jauh dari kamar Gozali. Mereka saat ini berada di lantai dua.
Wisnu mengetuk daun pintu yang tertutup. Tak lama kemudian terdengar bunyi berderit, pintu terbuka menampilkan Febriana yang terkejut melihat Key, Wisnu dan Gozali. Hastio yang saat itu keluar dari ruang ganti juga ikut terkejut melihat ada tamu di kamarnya. \"Ada apa?\" tanyanya.
\"Kami harus memeriksa kamar ini,” ujar Wisnu sebelum Key bicara lebih dulu maksud kedatangan mereka.
\"Tapi untuk apa? Apa kalian mencurigai kami?\" Hastio nampak tak senang.
\"Kami harus memeriksa seluruh kamar penghuni rumah ini untuk memastikan sesuatu,\" jawab Key beralasan.
\"Silakan saja, kalian tidak akan menemukan apapun di sini,\" sinis Hastio. Dia kemudian keluar kamar sambil mendecak kesal. Istri Hastio—Febriana tetap sabar menunggu Key selesai memeriksa, dia membukakan pintu lemari pakaiannya satu persatu. Setelah itu Key membuka satu persatu laci meja lampu tidur mereka, kening Key berkerut ketika akhirnya dia membuka laci kedua. Key buru-buru berdiri.
\"Tidak ada apapun, kita ke kamar Adam.\"
\"Benarkah?\" Gozali nampak sangsi.
\"Iya, Pak.\"
\"Kamar mereka di lantai bawah,\" Wisnu memberitahu.
Key dan Wisnu pun menuruni tangga menuju lantai bawah setelah keluar dari kamar Hastio. Sementara Gozali sendiri kembali ke kamarnya. Wajahnya terlihat lelah.
Sebelum masuk ke kamar Adam, mereka sudah lebih dulu meminta izin pada Adam yang saat itu baru saja ke luar dari kamar. Adam memang sedikit berbeda dari Hastio. Dia adalah orang yang tak banyak bicara.
Di kamar Adam, Key tidak menemukan adanya bukti yang mengarah pada Adam dan istrinya, namun mata Key berbinar cerlang. Dia mungkin sudah menyadari sesuatu.
\"Sekarang kita tinggal menunggu penjelasan Genta dan Ane,\" kata Key dengan nada bersemangat.
Ane tergopoh-gopoh mendekati Key yang duduk di sofa ruang tamu.
\"Kamu kenapa, Ne?\" Key bingung melihat sikap Ane.
\"Gila kamu Key, nyuruh aku periksa semua pintu di rumah sebesar ini, dua lantai pula,\" jawab Ane dengan napas tersengal-sengal.
Key mendengus geli. \"Maaf, Sepupuku Sayang. Jadi apa yang kau temukan?\"
\"Tidak ada satupun pintu yang rusak kecuali pintu kamar Hastio yang gagang kuncinya macet.\"
Sebelum Key kembali bertanya pada Ane. Terlihat Genta menghampiri mereka.
\"Aku tidak menemukan hal aneh di ruang kendali cctv dan di depan, semuanya baik-baik saja, tak ada bukti apapun selain mainan Tisya yang berserakan di taman,\" lapor Genta.
\"Aku rasa ada satu lagi ruangan yang belum kuperiksa.\"
\"Di mana lagi, Keyra? Apa kali ini kau ingin memeriksa dapur?\" delik penyidik Wisnu.\"Pencurinya tidak mencuri makanan,\" cibirnya.
\"Siapa yang bilang pencuri itu mencuri makanan?\" geram Ane.
\"Bukan di dapur Bapak Penyidik Wisnu, tapi ruang kerja Pak Gozali. Aku belum memeriksa tempat itu,\" balas Key juga dengan cibiran halus.
\"Hmm, baiklah detektif Key. Kami sudah memeriksa tempat itu tapi kami tidak menemukan hal mencurigakan. Hanya berkas hasil diagnosa penyakit Gozali,\" jelas Wisnu.
Genta kelihatan tak percaya dengan ucapan Wisnu. \"Pak Gozali sakit? Dia tampak baik-baik saja.”
\"Kanker stadium 3,\" jawab Wisnu datar.
Key dan Genta terdiam sejenak. Ada rasa iba yang menjalar di hati mereka.
Ane menggigit bibirnya lalu berkata lirih, \"Pantas saja wajahnya begitu muram, dia kehilangan aset yang bisa digunakannya untuk mengobati penyakit mematikan itu.\"
\"Aku rasa semua bukti sudah cukup memberiku keyakinan.\" Key berkata mantap. \"Pak Wisnu, nanti malam kami akan kembali untuk memberitahu siapa pencuri sebenarnya. Aku harap anggota keluarga ini terkumpul semuanya.\"
Oke, bos detektif,\" celetuk Wisnu. \"Situasi ini begitu merepotkanku, jika saja Pak Prayogo tidak memberiku tugas mengawasi kalian, aku tidak sudi diajari anak-anak.\" Dia mengeluh pelan.
\"Kami bisa mendengarmu, Pak Wisnu.\" Kali ini Ane balik menyindir Wisnu yang pernah melakukan hal yang sama pada Ane.
\"Ane dan Genta, kurasa tugas kita hampir selesai. Kalian bisa pulang dan kembali nanti malam. Sebelum itu, kita kumpul di markas ya!\" seru Key.
\"Siap, Bos! Aku menunggu kau mengakui bahwa dugaanku tadi benar,\" ujar Genta penuh percaya diri.
Key tersenyum tipis. \"Kita lihat saja nanti.\"
Anak-anak itu keluar dari rumah dengan perasaan menegangkan. Key tak sabar menyimpulkan kasus itu sedangkan kedua temannya tak sabar mendengar jawaban Key.
Ketika melewati taman di depan rumah, Key membiarkan Ane dan Genta meluncur lebih dulu dengan sepeda mereka. Ane dan Genta bahkan tidak menyadarinya. Key menabur pandang ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada yang melihatnya mengendap-ngendap mendekati anak kecil bernama Tisya yang sedang berjalan menghampiri mainannya yang berserakan di taman. Di antara mainan itu ada sebuah benda yang mencuri perhatian Key dan dia ingin mengetahui kebenarannya.
Other Stories
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...