The Labsky

Reads
488
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
the labsky
The Labsky
Penulis Windyani

The Labsky

\"Key ... Ayo sarapan, Sayang! Nanti kamu terlambat.\"
\"Iya, Ma. Dikit lagi.\"
Anak perempuan yang dipanggil Key itu melirik ke arah jam kotak biru di atas meja belajarnya. Jarum pendek di sana mengarah ke angka enam. Dia sedang mengikat tali sepatu sebelah kiri sambil sesekali menatap layar televisi 21 inch yang jaraknya tidak jauh dari tempat duduknya sekarang. Bagi Key, menonton akhir dari serial detektif conan lebih penting daripada buru-buru sarapan. Anak itu memang sulit menghentikan kebiasaannya.
Setelah makan dan belajar, Key selalu menghabiskan waktu sepanjang malam untuk menonton serentetan kasus serial detektif conan. Seperti detektif sungguhan, dia pun menduga-duga pelakunya, lalu dia akan bangun pagi sekali untuk mengetahui akhir dari kasus itu. Key merasa sangat bahagia jika apa yang dipikirkannya sama persis dengan analisa si conan kecil.
Semenjak Sekolah Dasar gadis yang bernama lengkap Keyra Shifa itu memang sangat suka membaca novel-novel maupun komik-komik detektif, seperti detektif conan, detektif School Q, trio detektif dan lima sekawan. Semua itu bisa terlihat dari rak lemari di salah satu sisi dinding kamarnya yang dipenuhi buku-buku tersebut. Namun saat masuk Sekolah Menengah Pertama enam bulan yang lalu, Key lebih banyak menghabiskan waktunya hanya untuk menonton serial detektif conan saja ketimbang membaca komik dan novel yang berjubel di atas rak. Key juga bertekad suatu saat nanti, dia ingin membuat tim detektif.
Key menatap layar televisi dengan was-was ketika Conan kecil mulai membeberkan alibi-alibi tersangka. Dia hanya berharap apa yang dianalisanya semalam tepat sasaran. Pada saat detektif kecil itu menyebutkan nama si pelaku, Key menjerit senang dan mengembuskan napas lega karena ternyata dugaannya benar.
“Tuh kan bener, pasti Mai Kogami pelakunya. Cuma dia tuh yang banyak banget peluang buat ngelakuin itu. Secara dia yang bawa gelas minuman.\" Mata Key berkilat-kilat seakan sedang bicara dengan gambar-gambar yang ditampilkan di layar televisi.
\"Key ...,\" panggilan kedua Mama membuatnya buru-buru bangkit menekan tombol power televisi.
\" Iya, Ma.\"
Key berdiri mematut di depan cermin dan menyisir rambutnya yang kemarin baru saja dipotong lebih pendek dan berponi seperti model rambut Agnes Monica di salah satu iklan shampo yang dilihatnya dua hari yang lalu. Gadis tomboy itu memang tidak pernah suka berambut panjang, dia juga tidak peduli meski sering kena omelan Mama yang selalu mengatakan kalau anak perempuan tidak baik jika berambut pendek seperti anak laki-laki.
Setelah merasa seragam putih dan rok panjang birunya sudah rapi, Key meraih tas di atas meja kemudian keluar dari kamar menuju dapur. Dia mendapati Mamanya sedang mengoles slay cokelat di atas roti tawar yang sudah dipanggang.
\"Ma, Key berangkat,\" kata Key sambil mencomot roti yang sudah tersaji di atas piring lalu menyambar dan mencium punggung tangan Mama. Dia pun melakukan hal yang sama pada Papa yang tengah asyik menikmati roti buatan Mama.
\"Hati-hati saat mengayuh sepedamu, Key,\" kata Papa dengan mulut penuh roti.
\"Siap, Pa.” Key mengayunkan kelima jari yang dirapatkan ke samping kepalanya seolah memberi hormat.
\"Habiskan dulu rotinya, Sayang!” seru Mama. Raut wajah Mama terlihat khawatir. Menurutnya tidak baik makan sambil mengendarai sepeda. Key pasti tidak bisa berkonsentrasi. Apalagi jalanan Jakarta yang cukup ramai di pagi hari seperti ini.
\"Iya, Ma,\" sahut Key lalu meninggalkan Mama dan Papanya di meja makan.
Di halaman rumah, Key berdiri di samping sepedanya yang terparkir seraya mengunyah roti sampai habis. Key bersekolah di SMP Labschool yang tidak terlalu jauh dari rumahnya sekarang, tapi tidak bisa juga ditempuh dengan berjalan kaki. Akan memakan waktu lama baru bisa sampai di sana. Walaupun baru 6 bulan yang lalu keluarganya pindah ke Jakarta, Key tidak takut sama sekali mengendarai sepeda setiap pagi ke sekolah. Seringkali Papa memaksa untuk mengantarnya, namun Key tetap bersikeras untuk pergi sendiri.
Setelah Key merasa semuanya sudah siap, dia pun berangkat ke sekolah diiringi matahari pagi yang mulai terasa menghangat menyapu kulit.
Di perjalanan, mendadak Key mengerem sepedanya ketika dia hampir saja menabrak seorang wanita dewasa yang kebingungan di jalan. Key turun dan mendorong sepedanya ke sisi jalan tidak jauh dari halte bus kemudian mendekati wanita itu.
\"Maafin aku, Ibu kenapa?\"
Ibu itu melirik Key sekilas kemudian menunduk-nunduk lagi seperti mencari sesuatu yang terjatuh. \"Tidak apa-apa, Nak,” jawabnya.
\"Ibu nampak cemas, mungkin saya bisa membantu?\" tawar Key.
\"Tadi waktu naik bus, saya baru sadar dompet saya jatuh, sepertinya jatuh di sekitar sini,\" jelas Ibu itu mengira-ngira.
\"Begini saja, Bu. Coba Ibu ingat-ingat waktu dari rumah, Ibu bawa dompet atau enggak?” tanya Key penuh selidik.
Ibu itu diam sejenak. Beberapa menit kemudian dia bersuara,\"Seingat saya, enggak bawa apa-apa selain dompet.”
\"Terus ... waktu nunggu bus di halte, Ibu sendirian atau ada orang lain yang ada di dekat Ibu?\" tanya Key lagi dengan wajah lebih serius.
\"Ada, kebetulan anak saya juga ikut nunggu bus dan kami duduk berdekatan, sementara penunggu lainnya berdiri.\"
\"Waktu Ibu di bus, berapa lama Ibu baru sadar kalau dompet Ibu nggak ada?\"
\"Pas saya duduk, saya langsung sadar kalau dompet saya enggak ada di pegangan.\"
\"Trus anak Ibu di mana?\"
\"Waktu naik bus kita sama-sama, tapi waktu saya turun mencari dompet dia udah enggak ada. Mungkin udah duluan.\"
“Memangnya anak Ibu nggak naik bus sama-sama?”
“Enggak, katanya dia nggak jadi pergi karena ada yang kelupaan di rumah.”
Key berdehem pelan mendengar penuturan Ibu itu.
\"Maaf ya, Bu. Menurut aku dompet Ibu enggak jatuh, tapi diambil anak Ibu.\"
\"Ah yang benar, enggak mungkin,\" sangkal Ibu itu.
\"Mending Ibu tanya deh sama anak Ibu, ya sudah ... aku duluan ya, Bu. Aku udah telat.\" tanpa berlama-lama lagi Key menaiki sepedanya meninggalkan Ibu itu masih dengan raut wajah bingung.
Sepanjang jalan menuju sekolah, Key terus berpikir untuk membentuk tim detektif. Dia ingin Sekali menguji kemampuannya memecahkan misteri lebih besar dibanding menemukan dompet Ibu tadi. Key berniat membuat kelompok detektif seperti Conan kecil dan teman-temannya, tapi bagaimana mungkin membuat kelompok jika tidak ada satupun teman yang bisa dia andalkan?
Key kemudian semakin melajukan kayuhannya. Dia ingin secepatnya tiba di sekolah dan melihat kemungkinan siapa teman yang akan diajaknya bekerja sama.
***
Key bergerak cepat sebelum gerbang benar-benar tertutup sempurna. Satpam sekolah terkejut melihat Key melesat laju seolah angin kencang yang baru saja menyambar. Key berhenti di parkiran sekolah, melirik satpam itu sambil tersenyum geli melihat raut wajah tua yang menghela napas panjang.
Key juga bernapas lega karena bel sekolah belum berbunyi. Masih banyak Anak yang berada di luar kelas. Key menyusuri koridor sekolah menuju kelas VII D. Key menabur pandang ke kiri dan ke kanan. Mungkin saja akan ada anak yang menarik perhatiaannya lalu matanya tertuju pada anak perempuan berkuncir satu yang sedang membawa buku dan memberi peringatan pada siswa-siswa yang tidak memakai atribut sekolah. Key buru-buru mendekati anak perempuan itu. Dia Ane Ahira--sepupu Key
\"Key, nametag-mu mana?\" tanya Ane dengan suara tegas.
\"Ya ampun Ane, aku lupa,\" Key menepuk jidatnya. \"Please, jangan dicatet ya! Kita kan sodara,\" bujuk Key.
\"Hm, dalam aturan nggak ada tuh yang namanya sodara,\" dengus Ane.
\"Please, Ane. Sekali ini aja, please!\" Key memohon.
Melihat Key memasang tampang memelas, Ane menjadi tidak tega. \"Oke, sekali ini aja.\"
\"Thanks, Sepupuku Sayang,\" sahut Key cengar-cengir.
\"Huh, dasar!\"
\"Ane ..., \" panggil Key sebelum Ane berjalan jauh ke depan.
Ane berbalik, \"Ada apa lagi?\"
\"Jam istirahat kita ketemu di depan Lab. Bahasa, ya. Aku mau ngomong sesuatu yang penting.\"
Ane mengernyitkan dahi lalu menjawab enteng, \"Oke.\"
Key senang mendengar jawaban Ane, itu artinya dia hanya perlu mencari satu orang lagi untuk melengkapi kelompok detektif mereka. Key pikir tiga orang sudah cukup efektif.
Setelah Key masuk ke kelasnya, dia mengamati penghuni kelas itu satu persatu. Mata Key akhirnya tertuju pada teman sekelasnya yang duduk paling belakang. Anak laki-laki berkacamata yang sedang asyik memainkan jari-jarinya di atas tombol-tombol laptop.
\"Aku hampir lupa kalo Genta si anak mata empat ini juga bisa diandalkan.\" Key bergumam sendiri lalu berjalan mendekati meja Genta. Genta adalah anak yang pintar, selain itu Genta juga jago bela diri karena tubuhnya lebih besar dibanding anak-anak seusianya.
\"Hey Genta!\" seru Key
\"Ada apa?\" tanya Genta sinis. Selama ini memang mereka kurang akur, sering berselisih paham, tapi Key yakin Genta bukan anak yang jahat.
\"Sebelumnya, aku minta maaf soal perdebatan kita yang kemarin-kemarin.\"
\"Aku udah maafin kok, terus sesudahnya apa lagi?\"
“Sesudahnya maksudnya?”
“Kan kamu bilang sebelumnya berarti ada sesudahnya kan?”
\"Oh iya ..., \" jawab Key sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. \"Begini Gen ... jam istirahat nanti kita ketemu di depan Lab Bahasa, ya. Aku mau ngomong misi yang penting. Kamu mau nggak? Bukan cuma aku kok, ada Ane Ahira sepupuku juga,\" lanjut Key lagi dengan melebarkan senyumnya.
\"Oke.\" Tanpa basa basi Genta langsung mengiyakan permintaan Key. Dia tersenyum senang.
***
Ha? Jadi detektif?” Pekik Ane dan Genta serempak menampakkan mimik wajah tak percaya mendengar ide Key untuk membentuk tim detektif. Mereka sudah berada di depan Lab Bahasa sepuluh menit yang lalu.
Key mengangguk. \"Iya,\" jawabnya datar.
Ane tertawa geli sementara Genta terlihat bersemangat.
\"Aku setuju!\" Genta berseru lantang.
\"Nah, gitu dong. Kamu Ne gimana?\"
\"Aku nggak yakin Key, siapa coba yang bakal percaya anak SMP kelas VII bisa mengusut suatu kasus?\"
\"Justru itu, kita harus coba.” Key mencoba meyakinkan Ane.
\"Tapi Key, kita pasti kena masalah kalo kita nggak berhasil,\" bantah Ane.
\"Aku setuju dengan Key, kita harus mencoba.\" Genta menimpali.
“Aku sih mau, hanya saja belum yakin sepenuhnya,\" kata Ane ragu-ragu.
\"Ayolah Ane, aku janji kalo kita nggak berhasil di kasus pertama kita, tim ini aku nyatakan bubar. Gimana?\"
Ane terdiam sejenak sedangkan Genta dan Key menunggu jawaban Ane harap-harap cemas.
Beberapa menit kemudian setelah Ane berulang-ulang mengerutkan kening berpikir, barulah dia mengangguk tanda setuju. Key langsung berteriak dan memeluk Ane girang. Genta juga ikut tersenyum karena bersemnagat untuk membentuk tim detektif ini.
\"Baiklah kalau begitu, kita langsung ke rencana pertama yaitu apa nama tim detektif kita? kalian ada usul?\"
\"Trio Detektif?\" Genta spontan menjawab.
Key mendesah. \"Itu sudah biasa, ntar kita dikira Jupiter, Pete dan Bob. Ah ... Aku sama Ane kan cewe, cari yang lain.\" key mengibaskan tangannya
\"Tiga detektif,\" giliran Ane yang bersuara.
Key mendecakkan lidah. \"Itu sama saja Ane, trio artinya tiga. Ya ampun ... Gimana mau jadi detektif kalau pikiran kalian sempit seperti ini. Untung saja kalian punya keahlian yang lain,” desisnya.
\"Terus apa dong? Usulanmu apa?” sinis Ane.
\"Tunggu aku pikir-pikir dulu nama yang keren.\"
\"Detektif Skyhigh aja gimana, Key,” usul Genta lagi.
\"Belum pas menurut aku, itu seperti judul film Hollywood itu,\" protes Key. \"Nah, kan kita sekolahnya di SMP Labschool gimana kalo nama tim kita itu Labsky ... Tim The Labsky. Gimana?\"
\"Setuju. Kamu memang jenius, Key.” Ane nampak kagum.
Genta hanya bisa manggut-manggut. Tadinya dia pikir, dia akan menemukan nama yang keren untuk tim, tapi Key sudah lebih dulu mendapat ide brilian.
\"Oke, nama kita suda ada, jadi tugas kamu Genta buat kartu nama The Labsky biar terlihat seperti resmi. Aku sebagai detektif satu, kamu sebagai detektif dua dan Ane sebagai detektif tiga.\"
Genta mengangguk-angguk tanda mengeti. \"Baiklah ... Kalo gitu markas kita buat ngumpul nanti di mana?\"
\"Gimana kalau di rumah aku aja,\" usul Ane.
\"Nggak bisa, Ne. Tante Hana kan cerewet dan panikan. Kalo kita ketahuan, bisa tamat tim kita.\"
\"Iya juga sih, Mama gak bisa diajak kompromi.”
\"Di rumah aku nggak bisa, kerjaan Papaku itu peneliti dan nggak ada ruang buat kita di sana,\" tolak Genta sebelum ditanya.
\"Oke di rumah aku aja. Ada gudang yang nggak kepake di samping rumah dan Mama-- Papaku juga terlalu sibuk kerja, nggak ada waktu buat beres-beres apalagi merhatiin gudang. Nanti sore kalian ke rumahku, kita beberes markas, Oke?\"
\" Oke,”sahut Ane.
\"Baiklah,” setuju Genta.
Anak-anak kemudian meneriakkan kalimat Tim Detektif Labsky secara serempak sembari menaikkan tangan ke udara setelah saling menjulurkan tangan kebawah.
***
Menjelang sore Key dan Ane sudah siap dengan sapu dan vakum cleaner untuk membersihkan gudang di samping rumah Key. Tadinya gudang tersebut untuk menyimpan mobil, tapi mobil tersebut lebih sering disewa orang lain jadi bangunan itu malah digunakan Mama Key untuk gudang alat-alat yang tidak terpakai lagi.
\"Genta mana sih?” tanya Key sembari memakai masker di wajahnya karena dia alergi terhadap debu.
\"Nggak tahu, kan dia sekelas sama kamu,\" jawab Ane yang sudah mulai merapikan barang-barang.
Sebelum Key bertanya lagi, Genta sudah muncul di pintu gudang.
\"Hai, maaf telat,\" sapa Genta.
Key mendesah. \"Aku kira kamu nggak bakal dateng.”
“Aku kan udah janji, nggak mungkin berhianat. Ngomong-ngomong, apa nih yang harus aku kerjain?\"
\"Tuh, angkatin meja-meja itu ke sini!\" perintah Key menunjuk dengan isyarat dagu. Key menyuruh genta memindahkan tiga meja tidak terpakai ke sisi ruangan yang masih kosong.
Setengah jam kemudian, semua yang direncanakan sudah selesai. Mereka menggunakan tempat itu sebagai kantor mereka. Di sana sudah siap tiga meja yang saling berhadapan beserta kursi.
Ane sudah siap dengan segala buku-buku dan note serta alat tulis di atas meja karena tugas Ane sebagai pencatat kasus dengan segala macam riset, Genta pun sudah siap dengan laptopnya karena keahliannya sebagai peretas sudah cukup berpengalaman meretas game-game online. Dia juga bisa diandalkan dari segi ketangkasan karena dia adalah anggota karate di sekolah.
Sementara Key si ketua tim yang punya otak cerdas juga sudah siap dengan segala macam ide-ide brilian di otaknya.
\"Ponsel kalian pasangin Google Map, ya. Ini untuk memudahkan kita untuk mencari tahu lokasi kita kalau nantinya menghadapi kasus yang sulit, tapi aku bakal siapin walkie talkie untuk mengantisipasi ponsel kita yang lowbat.”
\"Baiklah,\" sahut Genta.
\"Jadi rencana kita selanjutnya apa?\" tanya Ane.
\"Besok kita akan cari kasus,\" jawab Key bersemangat. \"Kebetulan besok hari Minggu, kita ngumpul di sini lagi sekalian olahraga bersepeda pagi-pagi. Gimana?\"
\"Aku setuju,\" seru Ane. \"Genta kamu ikut kan?\"
\"Pastilah, kalo nggak dateng si tomboy ini bakal ngomel,\" sindir Genta dengan tatapan mengejek pada Key.
\"Huh dasar Hulk,\" balas Key bersungut-sungut.
Ane dan Genta tertawa melihat wajah cemberut Key.
Melihat kedua temannya tertawa, Key tersenyum. Dalam hati dia senang, akhirnya tim detektif impiannya sudah terbentuk dan mereka sudah siap beraksi, menyelesaikan suatu kasus.

Other Stories
Yume Tourou (lentera Mimpi)

Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...

Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Download Titik & Koma