The Museum

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Norhayati

Pocong Polkadot

Mario berbaring di ranjang berlapis seprai hijau. Sejak menginterogasi salah satu hantu yang berusaha merampas cincin Merin, pikirannya tidak tenang. Si Merah, nama itu terus mengusik pikiran pemuda berambut keriting itu.
Mario memejamkan mata, dia berbalik ke kiri. Saat membuka mata, pemuda itu langsung memekik dan duduk karena menatap wajah sepucat mayat.
“Lena. Apa yang kau lakukan di sini?”
“Lo belum jawab pertanyaan gue.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Siapa yang menginginkan gue dan cincin ini? Dan kenapa?” Lena menunjukkan cincin di jari manisnya.
“Kau tidak mengenalnya,” Mario memalingkan wajah.
“Dia pasti mengenalku. Siapa dia?”
“Si Merah. Dia ingin…”
“Ingin apa?” desak Lena.
“Mana aku tahu,” Mario kembali berbaring memunggungi Lena.
“Nggak mungkin. Lo pasti tahu,” Lena menggoyangkan tubuh Mario.
“Tak. Aku tempe. Puas kau?”
“Gue serius, Mar. Lo harus ngasih tahu gue.”
“Kalau kau mau tahu, ambil sendiri tuh di kulkas.”
Lena kesal karena diolok-olok. Dia menjitak kepala Mario sampai benjol.
Mario duduk menghadap Lena dengan wajah merah.
“Sudah kubilang, aku tak tahu. Kenapa kau terus ganggu aku macam ni? Jangan jadi hantu menyebalkan seperti para hantu yang sudah kudeportasi ke Kampung Hantu!” bentak Mario.
“Sebelumnya ada yang pengen menangkap gue. Beruntung saat itu ada seorang dokter yang menyelamatkan gue dan membawa gue ke sini,” Lena menantang mata Mario.
“Aku tidak tahu tujuan hantu wanita itu. Tapi, dia pasti ingin memanfaatkan kau dan Amang kau untuk mencapainya.”
“Begitu ya? Kupikir hanya manusia yang menyebalkan. Ternyata, ada juga hantu menyebalkan seperti Si Merah itu,” Lena mendengus kesal.
“Yang penting sekarang kau aman.”
Lena mengangguk dan menghilang.
***
Mario sudah siap dengan pakaian kebanggaannya. Baju putih lengan pendek dan celana panjang hitam menghiasi tubuh. Dia keluar dari kamar dan mengunci pintu. Saat berbalik, sesosok pocong muncul di depannya sambil melotot. Sedikit jambul tersisa di kepala makhluk berbungkus itu dan tidak tertutup kain kafan.
Mario melonjak ke belakang. Kain kafan muncul dari tubuh Pocong dan membelit tubuh kurus pemuda keriting itu. Dia hilang keseimbangan hingga terbaring di lantai. Berguling-guling berusaha lepas. Hanya wajahnya yang terlihat, persis Pocong di depannya.
“Cong, lepaskan aku.”
“Nggak mau, Mas. Ternyata muka Mas lebih seram dari aku kalau jadi pocong,” Pocong tertawa.
“Awas kau. Kalau aku bisa lepas, kau akan menerima akibatnya!” ancam Mario.
“Gimana bisa lepas, Mas? Bergerak saja nggak bisa, toh?”
Dengan susah payah Mario mengeluarkan panah surya dari bawah cincinnya. Panah seukuran jarum jahit itu ditusukkan ke kain kafan. Kain itu langsung hancur dan berserakan di lantai keramik. Dia langsung berdiri. Pocong menghilang.
“Sini kau kalau berani. Kain kafan motif polkadot merah muda saja berani mengerjaiku!” tantang Mario.
Mario memasukkan panah surya kembali ke bawah batu cincin. Dia kembali ke kamar. Mengambil spidol merah muda dan hitam.
“Kalau ketemu lagi kukerjain kau, Pocong Polkadot!” Mario menyeringai Lalu memasukkan kedua spidol dalam saku celana.
Mario keluar dan mengunci pintu kayu. Melewati koridor panjang sebelum tiba di museum.
Pocong mengatur napas di sudut ruangan museum. “Untung aku selamat dari Mas Keriting itu. Kalau tidak, aku pasti sudah jadi abu karena panah surya. Tapi jika kembali tanpa hasil, aku akan sangat malu pada Neng Esot.”
Pocong menghilang. Dia mengikuti Mario yang berkeliling. Merasa diikuti, Mario berbalik. Tidak ada siapapun.
“Ini pasti pocong tadi. Sudah kuduga, dia tidak akan menyerah,” gumam Mario dalam hati.
Pocong terbang dan menendang kepala Mario. Pemuda keriting itu berbalik.
“Woy, kau pikir kepalaku ini bola? Main tendang seenaknya. Sini keluar!” tantang Mario.
Pocong tertawa sambil mengintip Mario di balik tembok. Dia menjulurkan kain kafan. Mengikat kaki Mario hingga terjerembab dan mencium lantai dengan mesra. Kain kafan yang lain mengikat kedua tangan Mario ke dua pilar sehingga membentuk huruf Y.
Mario terikat dalam posisi tengkurap dan kedua tangan terentang. Sehingga, dia tidak bisa mengeluarkan panah surya. Pocong muncul di depan Mario dan tertawa. Dia melompat-lompat di punggung Mario hingga pemuda itu menjerit kesakitan.
“Mas Keriting mau nyerah dan pergi dari sini nggak?” Pocong berdiri di depan wajah Mario.
“Aku tak akan menyerah,” Mario mendongakkan kepala. Menatap Pocong nyalang.
Tanpa sepengetahuan Pocong, Mario menekan batu cincin di jari manisnya dengan jempol. Batu cincin Tongghost mengeluarkan panas dari panah surya di bawahnya. Mengarahkan batu cincin ke kain kafan yang mengikat tangannya. Bagian itu terbakar. Bau gosong tercium. Pocong tidak dapat mencium bau itu karena hidungnya disumpal kapas. Dia masih mengejek Mario.
Mario komat kamit merapal mantra.
“Mas keriting ngapain? Lagi berdoa ya,” ledek Pocong.
Mario menyeringai mengecup mesra batu Tongghost. Pocong menyadari satu tangan Mario sudah terlepas. Dia langsung menghilang, sebelum batu Tongghost itu menangkap dan mengirimnya ke Kampung Hantu.
“Sial. Dia kabur,” gerutu Mario.
Kain kafan yang mengikat Mario ikut menghilang. Dagunya lebam akibat terjatuh tadi. Dia mengaktifkan radar hantu. Menyorotkan senter ke sekeliling. Pocong belum menampakkan ujung kain kafannya. Penjaga malam museum itu melanjutkan tugas sambil sesekali menatap radar hantu. Melewati berbagai benda-benda antik di museum.
Pocong terbang dan bersiap menendang bokong Mario dengan kedua kakinya. Mario berbalik dan menarik kaki Pocong yang berbalut kain kafan. Tubuh Pocong terhempas keras di lantai keramik.
“Sekarang kau tak bisa lari lagi,” Mario menyeringai sambil mengeluarkan spidol merah muda, lalu mencoretkannya di bibir Pocong seperti lipstik.
“Saya diapain nih, Mas?”
“Diam! Kalau tidak, kau akan kukirim ke Kampung Hantu,” ancam Mario.
Pocong hanya bisa pasrah dengan semua perbuatan Mario. Pemuda keriting itu menyimpan spidol merah dalam saku. Lalu sekarang mengeluarkan spidol hitam dan mencoretkannya di alis Pocong.
Mario membantu Pocong berdiri. Menghadapkannya di depan cermin antik berbingkai kayu jati dengan ukiran naga. Mata naga itu adalah permata Swarovski.
“Macam ni baru cocok dengan kain polkadot merah muda kau,” Mario tersenyum puas menatap bayangan Pocong di cermin.
Air mata Pocong mengalir. Mario melepaskan Pocong.
Pocong langsung menghilang. Dia muncul di ruang bawah tanah yang merupakan markas para hantu penunggu museum.
“Kang Pocong kenapa menangis?” Suster Ngesot memilin ujung rambutnya.
“Muka lo kenapa, Cong?” Emak Kunti menatap Pocong.
“Muka Om Pocong lucu kayak badut,” Tuyul tertawa melihat wajah Pocong. Dia langsung memfoto wajah Pocong dan mengunggahnya ke media sosial.
“Ini gara-gara Mas Mario. Aku didandani kayak gini. Aku kan pocong, bukan bencong,” Pocong sesenggukan.
“Tu orang emang nyebelin, Cong,” Emak Kunti mengepalkan tangan. ‘Tapi, salah lo juga sih, Cong. Memakai kain motif polkadot merah muda. Kagak ada serem-seremnya tau.”
“Emak Kunti. Mau bagaimana lagi? Kain kafanku kotor dan bau karena tanah kuburan. Terpaksa aku mengambil seprai bekas penjaga malam museum sebelumnya.”
“Nggak apa-apa atuh, Emak Kunti. Neng suka kok motif polkadot merah mudanya. Lucu,” Suster Ngesot mendongak, menatap gigi Emak Kunti yang ompong di depan.
“Neng Esot, tolong bersihin muka Mas dong,” mata Pocong kedip-kedip kayak lampu rusak.
“Ini teh spidol ya, Kang?” tanya Suster Ngesot.
Pocong mengangguk.
“Susah atuh Kang bersihinnya.”
“Kalian tenang. Pakai ini, wajah Pocong pasti bersih,” Dokter itu menunjukkan type ex.
“Jangan pakai itu atuh, Kang Dokter. Nanti bibir dan alis Kang Pocong jadi putih,” protes Suster Ngesot.
“Apa ikam punya ide lain, Neng Esot?”
“Ada atuh, Kang Dokter,” Suster Ngesot mengambil salep. Dia mengoleskannya di bibir dan alis Pocong.
“Tangan Neng Esot halus banget.”
Suster Ngesot tersipu malu.
“Enak banget, ikam Pocong. Disentuh oleh Neng Esot,” celetuk Dokter Anang.
“Aku rela dijahilin Mas Mario sampai luka parah, asal Neng Esot yang merawat,” Pocong menatap lekat wajah cantik Suster Ngesot.
Wajah Suster Ngesot bersemu merah. Malam semakin larut. Hanya suara jangkrik yang terdengar.
***

Other Stories
Cinta Satu Paket

Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

After Meet You

kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...

Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

Download Titik & Koma