The Museum

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Norhayati

Titipan Profesor

Mario duduk di atas pohon mangga, tempat nongkrong favoritnya saat tidak ada kerjaan. Pemuda itu mengupil. Memasukkan ujung telunjuk ke lubang hidung peseknya. Melempar upil ke bawah. Upil jatuh tepat di rambut ibunya yang kribo.
“Woy. Kau pikir kepala Inang kau ni TPU? Seenaknya saja kau lempar upil macam tu,” Bu Riana Tongghost mengomeli putra sulungnya. Menggaruk-garuk kepalanya agar upil Mario cepat jatuh. Kecoa berlompatan dari kepala Bu Riana. Dia berhati-hati agar sesuatu di tengah kepalanya tidak ikut jatuh.
“Ampun, Inang. Tak sengaja. TPU apa, Inang?” Mario menatap benda bulat sebesar kepala paku jembatan yang berkilat saat terkena cahaya matahari di tengah kepala Bu Riana.
“Tempat Pembuangan Upil. Enak kali kau cakap tak sengaja. Cepat turun sebelum kulempar batu!” suara cempreng Bu Riana terdengar memekakkan telinga.
Mario melompat ke tanah. Berusaha menyentuh kepala ibunya. Bu Riana menepis tangan Mario.
“Tak sopan kali kau berani mau pegang kepala Inang. Tak puas tadi kau lempar kepalaku dengan upil?” Bu Riana langsung menjewer kuping Mario.
“Aduh, Inang. Sakit kali kupingku. Aku cuma ingin mengambil benda aneh di kepala Inang.”
Wajah Bu Riana mendadak pucat. “Aku tak suka ada yang sentuh kepalaku!” Bu Riana melotot.
Pak Ardi Tongghost ke luar rumah karena mendengar keributan di halaman.
“Kenapa kau marah-marah? Tak bosan ya, marah-marah tiap hari? Suara kau tu kencang kali, terdengar sampai kamar mandi di lantai dua,” pria berambut cepak itu menghampiri istirnya. Giginya yang tonggos membuat mulutnya susah ditutup.
Bu Riana melepas kuping Mario. “Kau tutuplah kuping kau kalau tak mau dengar suaraku,” Bu Riana cemberut. Melengos ke dalam rumah besar bercat hitam pekat.
“Dasar wanita. Tak pernah mau dikritik,” gerutu Pak Ardi pelan.
“Aku dengar bacot kau. Wanita selalu benar!” teriak Bu Riana dari rumah.
Pak Ardi langsung diam. Mario ke dalam. Masuk ke kamarnya yang berantakan persis kapal pecah. Pakaian kotornya berserakan di lantai. Foto-foto dia dan seorang gadis berambut panjang dengan gigi tonggos berjajar rapi di dinding bercat abu-abu. Menatap jajaran foto-foto itu
Mario berbaring di ranjang dan tertidur karena tadi malam dia bertugas sebagai penangkap hantu seperti biasa. Sebelumnya, dia gantian dengan adiknya, Mariana. Namun, sejak kematian Mariana karena dibunuh para hantu setelah cincinnya meledak, Mario bekerja sendiri. Sejak saat itu juga, Mario tidak kenal ampun pada para hantu. Semua dia tangkap dengan cincin Tongghost. Walaupun, hantu yang dihadapinya baik dan tidak mengganggu manusia.
Dering ponsel mengusik ketenangan tidur Mario. Dia meraba samping kepala karena bantalnya sudah terbang ke depan pintu. Guling dan selimut yang juga tergeletak di lantai. Ia menjawab telepon setelah menguap lebar.
“Halo. Apa benar ini Mario Tongghost?” suara berat seorang laki-laki dengan logat Madura di seberang sana.
“Ya. Kau siapa? Ada perlu apa?”
“Aku Herman, saudara Pak Doni yang kemarin malam sampeyan bantu usir hantu di rumahnya. Aku mau minta sampeyan jadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning Banjarbaru. Kalau sampeyan bersedia, nanti tiketnya aku belikan.”
“Nantilah kupikir-pikir dulu. Jauh kali tempat tu dari sini. Aku harus menyeberang pulau pula ke Kalimantan.
“Iya, Mas. Nanti sampeyan kabarin saja keputusannya.”
“Oke lah, Pak.”
Mario menutup telepon. Seandainya masih di Sumatra, dia pasti langsung menerima tawaran itu. Terlebih, tawaran menangkap hantu sekarang mulai sepi. Paling banyak hanya dua kali seminggu. Manusia zaman sekarang mulai kurang percaya dengan keberadaan hantu. Setelah mengalami hal ganjil atau kesurupan, baru mencari pengusir hantu.
Mario ke luar kamar. Mendiskusikan tawaran itu dengan kedua orang tuanya.
“Menurut Amang macam mana?”
“Kau terima sajalah, tawaran tu, Ucok. Anak laki-laki tu harus berani merantau.”
“Inang setuju?” Mario menatap ibunya.
“Aku setuju kali. Setidaknya, aku tak harus keramas dua kali sehari karena rambutku selalu kau lempar upil.”
“Walau sering keramas, rambut Inang tetap jadi sarang kecoa.”
Bu Riana melotot.
Mario nyengir, “Baiklah,” dia pamit ke kamar.
Mario menelepon Pak Herman. Menyatakan bersedia. Dua hari setelah itu, tiketnya diantarkan oleh petugas ekspedisi. Dia langsung berkemas.
Malam ini, Mario tidur di kamar Mariana, adik kesayangannya yang meninggal bulan lalu. Tidak seperti biasanya, bantal, guling dan selimut Mario tetap berada di atas ranjang. Justru pemuda keriting itu yang berbaring di lantai menghadap ke kolong ranjang. Saat bangun, dia melihat sebuah buku merah bergambar Nobita dan teman-temannya, tokoh kartun yang tidak pernah lulus SD, walaupun sudah tayang lebih dari dua puluh tahun.
Mario mengambil buku itu. “Ini kan punya Butet,” gumam Mario.
Dia membuka diary Mariana. Membaca tiap lembar isi buku itu. Sesekali, dia tersenyum mengingat kenangan yang tertulis di sana.
“Inang ternyata kuntilanak?” Mata Mario membulat. Menatap isi diary tak percaya. Dia kembali membaca isi diary itu.
“Amang dan Inang kurang menyayanginya karena Inang meninggal saat melahirkannya. Jadi, ini alasan dia kabur dan membiarkan cincinnya meledak?” Mario bicara sendiri. “Kenapa kau tak pernah cerita padaku, Butet? Mestinya kau cerita. Bukan malah kabur dan meledakkan cincinmu sendiri. Kau memang meninggal dengan tenang, tetapi aku tak tenang setelah kematian kau,” Mario menangis.
Pak Ardi mengetuk pintu. Mario buru-buru mengusap air matanya. Dia membuka pintu.
“Ada apa, Amang?” Mario menguap.
“Kau belum sikat gigi ya? Mulutmu bau kencing naga,” Pak Ardi menutup hidung.
Mario terkekeh.
“Mandi dan sikat gigi dulu sana. Setelah itu, kau ke ruang tamu. Ada Profesor Protu.”
Mario mengangguk. Dia menutup pintu. Mandi dan menggosok gigi. Mengganti pakaian dan segera ke ruang tamu. Pria tua berambut putih dengan kacamata di kepala duduk di sofa merah kehitaman seperti darah menstruasi. Perutnya bolong kecil di tiga titik dengan darah mengalir yang tidak pernah kering.
“Amang, lama tak ketemu,” Mario duduk di sofa.
“Mario…” Profesor Hendri Protu tersenyum. “Bah, di mana pula kutaruh kacamataku tadi?” dia meraba saku.
“Di kepala, Amang.”
Profesor Hendri Protu meraba kepala. “Iya, aku lupa,” dia meletakkan kacamata di tempat yang seharusnya.
“Ucok. Kau sudah besar rupanya. Dulu, saat kecil kau sangat mungil dan dekil.”
“Iya, Amang. Tak mungkinlah aku selalu kecil macam tuyul.”
Kudengar kau mau pergi ke Banjarbaru siang ini, jadi aku buru-buru kemari.”
“Iya.”
“Aku titip cincin Merin ini untuk putriku, Lena,” Profesor Hendri Protu mengeluarkan sebuah kotak merah muda berisi cincin di atas meja. “Tolong jaga cincin ini dengan baik, karena cincin ini bisa menangkal semua senjata hantu dan penangkap hantu.”
“Lena yang dulu gendut itu, Profesor?”
“Iya. Sekarang dia sudah kurus setelah diet. Pengen jadi artis katanya, sampai nekat kabur dari rumah karena tak diizinkan Inangnya. Terakhir menurut alat pelacakku, dia di Banjarbaru. Setelah itu, keberadaannya menghilang. Mungkin sudah dia hancurkan alat pelacak yang kupasang di giginya.”
“Baiklah, Profesor,” Mario menyimpan cincin Merin.
Profesor Hendri Protu pamit pulang. Mario mengecup punggung tangan sahabat ayahnya. Profesor Hendri langsung menghilang.
“Ke mana Hendri tadi?”
“Sudah pulang, Amang.” Mario menatap ayahnya.
“Dia sudah pulang ya?” Inang ke ruang tamu sambil membawa segelas darah ayam.
Mario dan Pak Ardi mengangguk.
“Inang, Amang, aku mau cakap sesuatu.”
“Cakap lah,” Bu Riana duduk di sofa.
“Kau mau cakap apa?” Pak Ardi duduk di sofa.
“Kenapa kalian merahasiakan hal sebesar ini dariku?”
“Merahasiakan apa, Cok?” Bu Riana menatap Mario bingung.
“Inang jangan pura-pura tak tahu. Mariana tidak pernah dapat ASI juga tak pernah dapat kasih sayang dari Amang karena Inang meninggal saat melahirkannya, kan?” Mario menatap tajam kedua orang tuanya.
Pak Ardi menghela napas berat. Sedangkan, wajah Bu Riana memucat.
“Selama ini kupikir itu karena aku pria, jadi dapat perlakuan istimewa. Ternyata, Amang menyalahkan Butet atas kematian Inang. Inang terpaksa memberi Butet susu formula. Setelah tahu hal itu, Butet kabur dari rumah dan meledakkan cincinnya,” Mata Mario kini berkaca-kaca. Wajahnya merah padam. Ada rasa sesak yang menggumpal di dada.
“Iya, semua itu benar. Inang kau meninggal saat melahirkannya, karena itu aku membencinya. Beruntung, saat itu aku tak harus benar-benar kehilangan Inang kau. Profesor Hendri Protu memberinya susuk yang harus dipasang di kepala. Susuk itu seperti paku jembatan dan harus dipasang dengan palu.”
“Aku juga sedih tak bisa menyusui Butet. Berkali-kali, aku juga mengingatkan Amang kau untuk menyayangi Butet dan berhenti membencinya, tetapi dia selalu menolak,” air mata Bu Riana mengalir.
“Setelah kematiannya, Amang lah yang paling menyesal karena memperlakukannya tak adil,” Pak Ardi menunduk. Raut penyesalan tergambar jelas di wajahya.
Mario sebenarnya masih ingin menumpahkan kekesalannya, tetapi urung. Dia memilih pergi ke kamar tanpa pamit. Mengambil pakaian yang telah dimasukkan dalam koper dan ransel. Segera keluar dan pamit berangkat. Dia ingin segera pergi dari rumah itu.
***

Other Stories
Bekasi Dulu, Bali Nanti

Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...

Susur

Kepergian Mamat mencari ayahnya, tanpa sengaja melibatkan dua berandal kampung. Petualanga ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Download Titik & Koma