Prince Reckless Dan Miss Invisible

Reads
3.5K
Votes
1
Parts
22
Vote
Report
prince reckless dan miss invisible
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Penulis Wali_writing_on_the_wall

Bab 22 : Officially First Date

Naes

"Gua yakin banget masuk program bibit unggul berprestasi UGM fakultas arsitektur dan perencanaan."

Gemuruh tepuk tangan langsung memenuhi aula, ada anak yang berteriak, "Hidup Naes!" membuat gemuruh tepuk tangan semakin riuh.

Nampaknya gua memang nggak punya pilihan selain menghadapi ini semua, lalu menarik tubuh untuk duduk tegak. "Makasih semuanya," ucap gua dengan malu-malu. Pandangan mengelilingi aula, melihat anak-anak memberikan semangat. Ini adalah salah satu cara gua menguatkan diri untuk menghadapi rekaman selanjutnya.

Raka memasukkan potongan-potongan pasar malam seperti saat makan permen kapas, berjalan di antara kerumunan. Decak kagum anak-anak langsung berubah menjadi bisik-bisik, mereka semua mencoba menerka-nerka apa yang akan terjadi dengan kami berdua. Ketika rekaman dansa terpampang di layar proyektor aula dan alunan Try A Little Tenderness terdengar, seketika aula menjadi hening, semua mata terkunci ke depan.

Sayup-sayup gua mendengar ada anak cewek yang berteriak, "So romantic." Pingin rasanya gua maju ke depan dan menjelaskan apa yang terjadi di pasar malam.

Meidina menoleh dengan mata melotot. "Lo bilang nggak ada apa-apa, cuma ngerjain tugas aja!"

Gua pun balas menatap Meidina, lalu memutar kedua bola mata. Nggak ada gunanya menjelaskan panjang lebar di sini, jadi gua pun cuma mengangkat bahu, sambil tersenyum.

Selanjutnya, video fade out selama beberapa detik sebelum wajah Raka terlihat. Ia berada di dalam kamarnya dan memperlihatkan senyum tengil. Gua yakin sang pangeran yang demen bikin heboh ini bakalan kasih speech menjengkelkan.

"Hai semuanya," sapa Raka, sambil melambaikan tangan. "Sebelum lo pada berspekulasi mengenai gue sama Naes, gue tekankan kalau kita berdua belum jadian karena gue belum bisa meruntuhkan tembok pertahanan Naes," dengan menyunggingkan sebuah senyum kecil di sudut bibir. "Gue cuma mau bilang terima kasih sama Naes, yang udah kasih banyak pelajaran hidup cuma dalam satu malam." Raka menghela napas, namun tetap memberikan senyum. "Gue berhenti pengobatan dan memutuskan untuk hospice homecare atau perawatan paliatif," menunjuk ke arah belakang, dimana terdapat tiang infus. "Buat kalian yang nggak tahu, gue selama ini ada di stadium akhir leukemia," cepat-cepat mengacung jari telunjuk. "Eitss, jangan kaget lo semua! Jangan juga ngerasa kasihan, karena cepat atau lambat kita menuju ke tempat yang sama, yakni kuburan!" lalu tertawa lepas dan kembali menatap dengan senyum yang kini terlihat dipaksakan. "Beberapa dari kalian punya privilege, sementara yang lain nggak! Tapi kalian semua punya satu hal yang amat sangat berharga, yakni waktu! Jangan pernah lo semua buang-buang waktu di masa muda ini, manfaatin sebaik mungkin, guys." Raka mengambil napas panjang, lalu pandangannya beralih ke teras sebentar, sebelum balik menatap layar gawai. "Gue nggak mau kalian lihat gue dalam keadaan terburuk, jadi ini adalah terakhir kalinya lo semua bakalan lihat gue," merebahkan badan di kursi dan bersedekap, memberikan tatapan tajam, sambil berkata, "Kematian bukanlah hal yang perlu ditakuti jika kalian bisa merasakan hidup sepenuhnya, nggak sekadar hidup aja." Pandangan Raka kembali ke arah teras dan, tanpa melihat gawai, "Ingatlah gue sebagai seseorang yang selalu bikin lo semua happy."

Layar proyektor menjadi putih dan semua lampu aula kembali menyala. Anak-anak terhening, sambil melihat gawai, mereka semua sibuk mengirimkan bela sungkawa pada Raka. Memenuhi kolom komentar IG Raka, membuat story perpisahan. Sementara gua termenung, menyadari kenapa sang pangeran selalu bertindak ceroboh, seolah nggak ada waktu.  Selalu berusaha keras buat memori untuk diingat, karena sang pangeran takut orang-orang melupakannya setelah ia tidak ada. Membicarakan masa depan yang nggak dimilikinya karena, ia tengah sekarat dan nggak mungkin berada di masa depan. 

Selama ini, gua sibuk mengasihani diri sendiri, merasa rendah diri dan menyalahkan keadaan. Padahal gua termasuk beruntung, bisa memiliki masa depan yang bahkan oleh seorang pewaris Cimory sekalipun nggak bisa membelinya. Seharian mengeluhkan hidup sama seseorang yang tengah sekarat, terlalu fokus sama apa yang nggak gua punya, ketimbang apa yang gua punya.  

Tanpa pikir panjang, gua bangkit dan berlari ke luar aula, menuju kelas untuk mengambil tas. Cuma ada satu hal di pikiran gua, yakni pergi ke rumah Raka. Secepat mungkin memasukkan semua buku ke dalam tas dan berlari menuju gerbang. "Pak, saya ada keperluan keluarga, udah izin," kata gua pada satpam supaya dibukakan gerbang. Belum satu langkah ke luar gerbang, gua langsung berhenti. Seluruh tubuh terasa kaku saat melihat Raka menunggu di seberang jalan. Dia mengenakan celana jeans, kemeja hijau tua dengan lengan tergulung selutut, dibalut rompi wol warna senada. Bersandar di pintu mobil berwarna merah, sambil melambaikan tangan. Persis seperti Jake Ryan di Sixteen Candles saat menyadari dirinya mencintai Samantha Baker.

Gua pun menyeret kaki menuju Raka, tanpa sadar air mata sudah membasahi kedua pipi. "Kenapa lo nggak bilang, Ka?" lalu menyeka air mata. "Gua pasti terima lo."

Raka mencondongkan tubuh dan jempolnya mengusap pipi Naes yang basah. "Gue sadar nggak punya banyak waktu dan berusaha keras, supaya setiap detik bisa jadi momen yang berarti." Lalu memberikan senyum tengilnya. "Naes, lo bikin gue sadar kalau semua itu salah! Cukup satu kenangan sama orang yang tepat." Bibirnya berusaha keras menahan senyum. "Makasih, udah bikin gue merasa hidup dan nggak takut lagi menghadapi......... masa depan yang nggak avialable." Sekarang mata cokelat Raka menatap lekat. "Jadi, ini officially first date, Sam?"

Gua langsung mengangguk dan Raka membukakan pintu, mempersilakan untuk masuk. Nggak ada satupun kata terucap selama di dalam mobil, gua cuma menatap wajahnya yang semakin tirus. Tulang belulang jemarinya nampak mencuat ketika menggenggam stir dan plester infus nampak di pergelangan tangan. Raka semakin kurus semenjak terakhir melihatnya di depan gang rumah, gua menggenggam tangan Raka. Ini membuat dirinya menoleh dan tersenyum, nggak pernah dia terlihat setampan ini.

Gua pun sadar, seperti inilah seorang Pangeran Rakanda Sutantio akan selalu dikenang.


Other Stories
Deska

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Ryan Si Pemulung

Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...

Blek Metal

Dahlia selalu dibanding-bandingkan dengan sepupunya karena terlalu urakan dan suka musik m ...

Perahu Kertas

Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...

Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Download Titik & Koma