Prince Reckless Dan Miss Invisible

Reads
3.5K
Votes
1
Parts
22
Vote
Report
prince reckless dan miss invisible
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Penulis Wali_writing_on_the_wall

Bab 14 : Kapan Terakhir Lo Merasa Hidup?

"Jadi ini pasar malam," kata Raka dengan mata menatap jauh jalanan yang berisikan berbagai penjualan tenda.

Gua melirik dan mendapati ekspresi penuh antusias sang pangeran yang baru pertama kali melihat hiburan rakyat. "Belum, ini baru jalan masuk," sambil menarik Raka untuk mempercepat jalan, gua nggak mau menghabiskan banyak waktu cuma buat lihat-lihat pedagang tenda.

Mata Raka nggak pernah berhenti untuk mengamati setiap pedagang, ia bahkan menunjuk sebuah papan karton bertuliskan, "Sepatu vans 100 ribu dapat dua," sambil memberi wajah yang dipenuhi raut ketidakpercayaan. Ingin hati bilang kalau itu semua kw, tapi gua nggak sampai hati buat ngerusak mood Raka yang nampak amat sangat bahagia dan terus saja menarik masuk ke dalam pasar malam.

Dengan kepala menggeliat ke kanan dan ke kiri, "Ini loket tiketnya dimana?"

"Masuk gratis," jawab gua dan memperhatikan tangan Raka yang menggapai kantong belakang celana untuk mengambil dompet. "Kasih gua lima puluh ribu," sambil menadahkan tangan.

Sebelah alis Raka terangkat, sembari mengeluarkan selembar uang berwarna biru. "Buat apa? Katanya gratis."

Mengambil uang, lalu menunjuk bianglala. "Buat naik itu," balas gua dan kembali menarik sang pangeran menuju bianglala dengan lampu hias berkelap-kelip. "Dua bang," pinta gua, memberikan uang lima puluh ribuan dan dikembalikan dua puluh ribu. Setelahnya, kita masuk ke dalam keranjang besi dengan bangku untuk dua orang, dilengkapi payung besi berwarna kuning. Aroma cat langsung tercium, rupanya bianglala ini baru saja dicat ulang.

Raka langsung melingkarkan tangan di pundak Naes untuk memberikan ruang sebab paha dan bahu mereka menempel, saking sempitnya keranjang bianglala. "Lo masih suka naik wahana bocah macam ini?"

Gua menatap Raka dengan sumringah. "Bikin gua bahagia murah banget, bukan?"

Mesin motor pemutar berderik dan keranjang besi mulai bergerak ke atas perlahan. Seiring bertambah tinggi bianglala, angin malam membuat beberapa helai rambut Raka menjuntai ke dahi. Ia berusaha keras merapikan, sampai akhirnya menyerah dan membiarkan bagian depan rambutnya acak-acakan, lalu mencondongkan tubuhnya ke Naes. "Ini pertama kalinya gue lihat lo seneng banget, Nes."

"Gua suka adrenalinnya aja sih," meregangkan kedua tangan ke atas, seolah menggapai langit. "Sama lo juga bisa ngecek wahana apa aja yang seru," sambil menunjuk area wahana pasar malam.

Raka menggelengkan kepala, sambil tersenyum. "Harus gue bawa lo ke Six Flag," lalu mendapati Naes terlihat bingung. "Ituloh, roller coaster di Magic Mountain, pasar malam di Valencia, California."

Gua mengangguk pura-pura tahu pasar malam di California, lalu bagian terbaik naik bianglala terjadi. Keranjang ini berhenti tepat di bagian atas. "Lihat, itu ada wahana baru, tong setan sama kora-kora," dengan penuh semangat, lalu menatap Raka untuk melihat ia lebih suka yang mana. "Hemmmm, tong setan atau kora-kora?" mendapati tatapan sang pangeran sama sekali nggak ke bawah, melainkan membeku menatap wajah gua.

Raka merapikan beberapa helai rambut Naes, menyelipkan ke dalam daun telinga. "Lo ternyata cantik juga kalau dilihat dari ketinggian segini."

Detak jantung tiba-tiba meningkat dan kedua pipi menghangat, tapi gua meyakinkan diri kalau sang pangeran hanya sekadar memuji. "Terus kalau udah di bawah, gua jadi biasa lagi?"

Raka sekilas memberikan ekspresi lucu, mengedipkan mata kanan, sambil menggigit bibir bawah. "Emangnya gue pernah bilang lo biasa aja?"

Anjir, gua jadi salah tingkah! Pengen banget loncat sampai bawah terus lari pulang ke rumah. "Lo tuh Jake Ryan banget sih!" lalu mengalihkan pandangan kembali ke bawah, memberikan Raka tur singkat denah pasar malam berharap ini mampu mengalihkan perhatian.

"Oh, tahu begitu gue pake kemeja kotak-kotak aja."

Spontan gua menoleh dan mendapati Raka menempelkan gawai di pipi dengan layar yang menampilkan Jake Ryan berbalut kemeja kotak-kotak merah. Rupanya, dia sedari tadi googling siapa Jake Ryan. "Gombalan lo, bukan tampang lo," tegas gua, padahal sejatinya jantung das des ser, mengamati gambar Jake Ryan yang ternyata cuma beda di model rambut saja dengan Raka.

Raka kembali menyisir rambut depannya ke belakang dengan tangan, sambil berkata, "Padahal beda rambut aja loh."

Kedua bola mata gua langsung mengerling. "Iya dah, mirip." Seketika gua menemukan topik untuk mengalihkan pembicaraan ini. "Emang tipe cewek lo seperti apa sih?" dan berhasil! Sang pangeran langsung terlihat bingung.

Raka mengusap-usap dagunya. "Gue nggak punya tipe."

"Bohong banget, modelan cowok begini nggak punya tipe!" ucap gua tak percaya dan langsung bersedekap.

Raka menyandarkan tubuh, matanya bergerak ke kiri. "Kalau fisik sih standar aja buat gue, cuma yang bikin betah sama cewek biasanya cara dia bikin gue ngerasa hidup."

Dahi gua berkerut mendengarnya, sebab selama ini cuma tahu kalau cowok tuh suka sama cewek putih, langsing, dan girly banget. Ini pertama kali gua dengar ada cowok yang lebih mentingin gimana cewek bisa bikin dirinya merasa hidup banget. "Lo ternyata beda yah dari cowok kebanyakan," lalu menatap Raka dari ujung kaki sampai rambut. "Memang kapan terakhir kalinya lo merasa hidup?" karena gua penasaran sama mantan Raka.

Raka kembali mencondongkan wajah, sampai hidung nyaris menempel pada Naes. "Sekarang, saat ini, di sini, sama lo."

Dalam sekejap, sang pangeran mengembalikan keadaan dan gua lagi-lagi salah tingkah, terlebih dengan wajah tirus, mata dalam, dan bibir manis yang berada tepat di depan mata. Gua membeku dan menikmati pemandangan indah yang tersuguhkan ini, tanpa sadar mata sudah mengerayangi setiap lekuk wajah Raka. Pipi yang tirus, terbalut kulit putih, sepintas terlihat tipis sampai pembuluh darah terlihat, dagunya pun mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis, menurut perkiraan gua, nggak bakal lama Raka harus sudah cukuran. Memang mirip Jake Ryan, selain rambut, Raka jauh lebih pucat.

Raka menempelkan telunjuk di dahi Naes. "Gue beneran penasaran sama apa yang ada di dalam sini, Nes," melihat Naes membeku tak berkedip menatap dirinya.

Beruntung sekali gua karena bianglala mulai bergerak turun dan mengagetkan kami berdua. "Pokoknya gua mau ke tong setan dulu, yah!" pura-pura hal tadi sama sekali nggak terjadi, sambil berteriak antusias saat keranjang perlahan turun ke bawah. Sesekali gua mencuri pandang dan mendapati Raka menggelengkan kepala, sambil tersenyum. Benarkah malam ini, gua membuat sang pangeran merasa hidup? Namun, lagi-lagi memaksa diri gua sendiri untuk mempercayai kalau sang pangeran hanya sekadar memuji kehadiran gua sebagai partner tugas sosialisasi yang menyenangkan.


Other Stories
Wajah Tak Dikenal

Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...

Donatoli: Pergumulan Montir Cantik Penjual Donat

Setelah kepergian orang tuanya, Dona bekerja sebagai montir bengkel demi menghidupi diriny ...

Deska

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Bukan Cinta Sempurna

Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Download Titik & Koma