Bab 7: Jendela Di Atap
Seperti dugaan gua, sang pangeran tinggal di istana. Ini betul-betul bikin gua malu banget kalau nanti Raka harus datang ke rumah. Masuk ke dalam clusternya saja harus lewat portal, berderet rumah dalam bentuk minimalis nan megah. Semuanya menghadap jalan tanpa ada pagar, ini mirip sekali dengan perumahan yang gua lihat di film-film John Hughes.
"Kita sampai," kata Raka sambil mematikan motor dan menurunkan standar. "Hemm, lo bisa mulai rekam gue."
Gua sibuk mengagumi rumah Raka, rumah yang didominasi kaca dengan carport luas. Terdapat fortuner dan sebuah city car terparkir, kenapa juga ini orang malah milih pakai vespa yah? "Ok," jawab gua dengan datar, berusaha supaya nggak terlihat seperti anak kampung yang baru datang ke perumahan mewah.
Raka mengeluarkan bagian bawa seragam dan melepaskan kancing paling atas. "Welcome to my house guys! Kali ini Naes mau mampir ke rumah gue dulu, yuk kita masuk," mengajak masuk dengan membuka pintu, lalu bergerak ke ruang tengah. "Ini Mami gue," seraya mengecup kening perempuan setengah baya berambut panjang dengan kulit putih mulus terawat. "Mami, say hai dong."
Mami melihat anaknya dengan bingung. "Ini apa, Ka?"
Raka berbisik, "Ini buat tugas sosialisasi Mi, harus bikin video tentang kehidupan Raka sehari-hari."
"Oh," Mami langsung menatap gawai. "Halo, Maminya Raka," sambil dadah.
Raka lalu mengajak ke sebuah ruangan yang berisikan beberapa alat olahraga dan peralatan komputer. "Ini Papih gue," sambil melingkarkan tangannya pada bahu seorang pria berkacamata. "Pih, ada tugas sekolah nih. Say hai dong," pintanya.
Papih Raka melambaikan tanganya. "Halo, papihnya Raka," dengan senyum yang membuat mirip sekali seperti bintang iklan pasta gigi, lalu mencopot kacamata saat menatap Raka. "Imatinib sudah kamu minum?" wajah bintang iklan pasta gigi menghilang dan digantikan raut kecemasan.
Raka langsung mendekat dan berbisik dengan cepat sampai-sampai gua nggak bisa mendengar, ia lalu mengajak ke atas, atau tepatnya ke kamar. Sebagai seorang cewek, tentunya gua kebingungan karena, selama ini merasa cewek masuk ke kamar cowok bukanlah hal yang bisa dimaklumi oleh orang tua mana pun. Jadi gue membeku sambil menatap Papih Raka.
"Silahkan," dengan mata yang menunjuk ke atas.
Gua pun langsung memberikan hormat ala orang Jepang dengan menundukan tubuh. "Makasih Om, permisi," lalu menaiki tangga berlapis kayu menuju kamar Raka.
----
Untuk sesaat gua diam di ambang pintu kamar, ini sungguh berbeda 180% derajat dari kamar Dira. Nggak ada jeans lusuh dan kaus kotor yang tergeletak di balik pintu, rak baju plastik tiga susun beda warna dan meja komputer lesehan dengan asbak di samping. Kamar ini hanya berisi satu king bed, meja komputer, home theaters yang menempel di dinding, dan sebuah gitar listrik. Lantainya bukan ubin, melainkan full karpet dengan dua jendela besar menuju balkon dan satu lagi menempel di atap.
"Masuk aja Nes, nggak usah malu-malu," kata Raka sambil melempar tas ke pinggir meja, membuka jendela menuju balkon, dan duduk di kasur. "Sini," sambil menepuk-nepuk kasur di sampingnya.
Tangan gua memutar, memastikan semua bagian kamar ini terekam, lalu duduk di samping Raka.
Sebelah alis Raka terangkat. "Lo bisa matiin itu gawai," sambil menurunkan gawai dari hadapannya. "Jadi gimana menurut lo?"
Gua memegang gawai di dada dan mencoba berpikir jawaban apa yang paling pas. "Hidup lo sempurna banget?"
Raka langsung tertawa. "Sejauh ini, pandangan lo terhadap hidup gue begitu?"
Tanpa ragu gua menganggukkan kepala. "Kamar besar dengan balkon dan rumah mewah dalam cluster, emangnya gua harus punya pandangan kaya gimana?" kata-kata gua langsung membuat sang pangeran menghela napas. "Memangnya apa yang lo harapkan dengan nunjukkin ini semua ke gua?"
"Nggak semua seperti yang kelihatannya Nes."
Dengan kedua alis terangkat, gua pun menjawab, "Contohnya?"
"Raka adalah cowok yang tinggal di rumah sendirian, kadang pulang Mamih dan Papih nggak ada," lalu mengangkat kedua tangan ke atas. "Jadilah gue sendirian terus di rumah, nasib sebagai anak tunggal."
"Itu justru bikin hidup lo lebih sempurna!" menyilangkan tangan dan mata berputar, melihat betapa luasnya kamar ini dibandingkan kamar gua. "Kalau gua bisa milih, mending nggak punya saudara."
Raka mendekatkan kepalanya. "Kenapa? Gue sering denger si Josua bangga banget punya kakak masuk akpol, terus si Randy selalu bikin story ketawa-ketiwi sama adiknya yang masih balita. Lo nggak pernah sendirian dan selalu ada yang bisa diceritain dari keluarga lo, sementara gue? Yang ada Mamih sama Papih setiap hari bikin status tentang gue."
Langsung gua angkat telunjuk ke depan muka Raka. "Gua punya dua Kakak, satu cowok, satu cewek, dan punya tiga adik balita!" lalu mengelus dada. "Kakak pertama gua beda sepuluh tahun, nggak ada dia pernah nyapa atau ngobrol sama gua, kakak kedua gua sama-sama cewek tapi, pusing setiap hari dengerin musik hardcore dari kamarnya, dan lo jangan tanya gimana kelakuan tiga balita di rumah gua." Gua diam sebentar buat mengatur ritme napas yang tadi menggebu-gebu. "Dan lo jangan pernah tanya juga gimana, kedua orang tua gua dengan enam anak di rumah."
Raka berusaha menahan tawa saat bertanya, "Maaf nih tapi, gue harus tanya. Memangnya gimana orang tua lo dengan semua anak-anaknya?"
Gua memberikan tatapan malas. "Jelas jauh berbeda dari Mamih dan papih lo," melirik ke bawah dimana kedua orang tua Raka berada. "Papih lo aja masih bisa ingetin buat minum apalah tadi itu, sementara, Ibu sama Bapak seringnya ngira kalau gua adalah Nanda. Jadi anak tengah itu invisible, alias tak terlihat, aka tak diingat."
Raka menopang tubuhnya dengan kedua sikunya, sembari melihat langit dari jendela di atap. "Gue kesepian dan lo nggak terlihat."
"Apa itu sebabnya lo sering bikin gaduh di sekolah?"
"Ayolah, itu bukan kegaduhan, gue konser cuma sekali loh. Lagian suara gua bagus dan semua anak-anak suka," jawab Raka sambil tersenyum.
Kedua bola gua berputar mendengarnya. "Itu belum termasuk bikin pengumuman gratis makan siang yang bikin rusuh kantin, battle live Tik Tok sama sekolah lain yang bikin semua anak nggak merhatiin pelajaran di kelas, dance pole waktu perpisahan senior tahun lalu, terus sayembara perjodohan yang bikin cewek-cewek pake make up dan mendekin rok."
Raka melirik dengan wajah tengilnya. "Bukan cuma kesepian, gue juga mau semua orang ingat sama Pangeran Rakanda."
"Gua nggak ngerti kenapa orang seperti lo, berusaha keras buat diingat," melihat Raka dari ujung kaki sampai kepala. "Lo nggak perlu susah payah untuk bisa diingat, bentukkan casing lo udah pasti nempel di kepala semua cewek-cewek." Raka sama nggak membalas, ia malahan kembali menatap ke langit. Gua pun turut menikmati lautan awan melalui jendela di atap, sungguh nikmatnya hidup Raka. Setiap malam disuguhi taburan bintang, bukan pemandangan poster film hasil ngeprint di tukang fotocopy. Tapi, gua nggak bisa mengerti, mengapa ada orang yang punya segalanya malah merasa kesepian dan berusaha buat diingat orang lain?
Other Stories
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...