Mission Escape
Setiap kali teman gue datang ke rumah. Nyokap langsung mengambil ancang-ancang. Beliau langsung mengubah dirinya menjadi tukang kepo mode on. Satu per satu teman gue yang datang ditanya bak seorang kriminal.
“Sudah berapa lama kau baku teman dengan si Kean?” tanya Nyokap. Semua pasang mata saling bertukar tatap. Gue hanya mengernyit.
“Sejak semester satu, Tante,” jawab Ujo. Dia salah satu sahabat gue semasa orientasi mahasiswa dulu.
Gue masih ingat tampangnya yang masih polos, lugu dan bloon. Dia selalu menjadi salah satu mangsa senior gue waktu masa orientasi dulu. Sekarang, Ujo nggak ada tampang-tampang polosnya. Seluruh sisi wajahnya penuh dengan bulu. Mungkin bisa buat main petak umpet.
“He, Kean. Buatkanlah teman kau minum. Cem mana kau ini,” pekik Nyokap. Gue langsung bangkit dengan gerakan malas.
Bukan apanya, gue khawatir aja kalau tiba-tiba gue datang, Nyokap sudah memamerkan foto gue waktu kecil. Dekil dan cungkring. Bisa malu gue. Nggak hanya itu, gue juga takut kalau Nyokap memberikan informasi tentang aib gue.
Waduh. Gawat.
Gue cepat-cepat buat minuman. Sirup marj** sudah siap. Gue melangkah tergesa-gesa sambil memerhatikan keseimbangan cairan yang ada di gelas yang gue bawa.Firasat gue udah nggak enak. Di sana, gue udah lihat Ujo dan dua teman gue lagi ngakak bareng sama Nyokap.
Alis gue tertaut.
Ada apa neh?
“Ya sudahlah. Kau lanjutlah dulu.” Akhirnya Nyokap berlalu dari geng bekicot.
Gue masih memerhatikan mereka. Terkikik seperti Mak Lampir.
“Kenapa lo, pada?” kata gue ketus.
Suri, Rahma, apalagi Ujo pasang wajah kayak lagi lihat sirkus. Lalu Suri menyeletuk,“Kean, bener? Lo pernah kencing di celana?” Gue terenyak. Bisa-bisanya tali jemuran tanya itu ke gue. Gue bilang tali jemuran karena badannya yang kurus tak berbentuk. Beda dengan Rahma, tubuhnya molek, sintal dan ….
Kok jadi gue ngomongin mereka, ya?
“Kayak lo nggak pernah ngompol aja, Sur,” kata gue skeptis.
“Dih, ya nggaklah. Lo aja kali.”
Dan Ujo yang paling terkekeh. Ingin rasanya gue sumbat mulutnya pakai batu tawas.
Itulah yang gue sesali kalau teman gue datang danada Nyokap di rumah. Nyokap seolah menjadi the messenger untuk semua kaum.
***
Sebagai anak pejabat. Nggak melulu enak. Kadang gue harus ditinggal oleh mereka ke luar kota karena penugasan. Nyokap juga kadang ikut Bokap ke luar kota jika ada undangan. Jadi? Yang masak, siapa? Yang cuci pakaian, siapa? Yang ngurus rumah, siapa?
Si Gaga? Ha ha ha.Nggak. Dia masak air aja sampai pancinya menjadi kering.Pernah sekali Bokap Nyokap ke luar daerah hampir dua minggu. Dan saat itu,si Gaga lagi antusias untuk meracik sebuah resep baru ala-alanya. Dia berusaha ingin menjadi adik yang baik. Tapi menurut gue, dia langsung berubah menjadi kolonial. Yang siap menjajah Negara.
Dia bikin telur beserta cangkang-cangkangnya.Alhasil gue harus mencari makanan di luar.
Lebih parah lagi, adik gue yang tengil itu nggak ada matinya ngerjain gue. Padahal gue duluan lahir dari dia. Setiap kali gue mau balas, nyokap selalu dijadiin tameng. Gue ingin mencari suasana baru. Gue ingin orangtua baru. Ide gila tersebut tercetus begitu saja di otak gue. Dan gue menamai ide itu dengan mission escape.
Eh, tunggu dulu. Gue mau berpikir sejenak. Ada banyak kemungkinan jika gue kabur dari rumah Bokap yang kebingungan mencari gue. Nyokap yang komat-kamit seakan menunggu seorang maling yang mau diadili. Gaga, dia akan menguasai rumah. Dan besok harinya foto gue nongol di koran harian lokal dengan tagline berita ‘Seorang anak pejabat kabur dari rumah akibat frustasi kejombloannya’
Tapi gue nggak peduli.
Hal pertama yang gue lakukan: adalah menelepon Ujo, ngajakin dia kerjasama agar misi ini berjalan lancar.
“Gila lo, Ndro, eh, Gila lo, Kean,” kata Ujo di seberang telepon. Gue bisa membayangkan bulu brewokannya lagi berdiri karena dengar kata-kata gue.
“Iya, gue serius,” kata gue penuh semangat. “Lo bilang aja, lo nggak tahu. Rebes, kan?”
Ujo diam.
Gue diam.
“Ya udah, deh.” Akhirnya, brewokan unyu itu mau juga.
Malamnya. Gue melancarkan aksi.Lampu udah meredup. Gue rasa, Bokap Nyokap juga sudah tidur. Pandangan gue ke mana-mana. Perlahan kaki gue menelusuri setiap ruangan. Nggak tahu kenapa waktu terasa lama. Pas gue pegang ganggang, tiba-tiba lampu langsung terang bulan. Gue memutar kepala, Nyokap di sana sudah berdiri dengan tatapan horor. Wajah gue juga langsung ikutan horor lihatnya.
“Mau ke mana, kau?” pekik Nyokap gue di tengah bunyi jangkrik. Nyokap berkacak pinggang. Gue tahu habis ini gue akan dicincang.
“Ng-nggak, Ma—“
“Masuk kamar.”
Dan percobaan gue kabur. Gatot. Alias gagal total.
Besoknya gue coba lagi. Gue tunggu sampai tengah malam. Benar-benar dalam keadaan semua orang sudah terpulas.
Sambil menunggu jam bergeser ke angka satu. Gue mengisi waktu dengan memutar musik dari ponsel canggih gue. List lagu dalam handphonegue random. Tapi kebanyakan metal rock seperti lagu Size the Daydan Dear Goddari Avenger sevenfold. Atau lagu Before I Forget oleh Slipknot. Nggak hanya itu, lagu Kejora yang dibawakan Lesti DA. Gue juga nggak ingat kenapa lagu itu bisa ada di list musik gue.
Alhasil, gue ketiduran.
Bangun-bangun, gue buru-buru lihat jam dinding. Di sana jarum pendeknya sudah bertengger di angka empat.
Holy shoot.
Saus tartar.
Misi gue … gagal maning, gagal maning. Gue masih sempat ingat mimpi gue tadi. Nyokap dan Bokap melambai ke arah gue. Lalu si Gaga, gue lihat dia tertawa semringah seperti nenek sihir.
Gue nggak menyerah.
Malamnya, kembali gue melancarkan aksi. Kondisi aman terkendali. Si Gaga sudah mendengkur. Bokap Nyokap juga sudah tertidur. Nggak ada lagi yang namanya ketahuan Nyokap. Nggak ada lagi yang namanya ketiduran. Gue sudah set jam beker di angka satu. Misi ini harus berhasil.
Tiba saatnya. Jantung gue terpacu cepat. Pandangan gue mengintai keadaan.Perlahan tapi pasti gue berjalan sangat sangat sangat pelan. Dan tiba-tiba ….
Lampu nyala.
Sekarang apa lagi?
“Mau ke mana, Bang?”
Bang? Oh, bukan Nyokap. Dari suaranya yang cempreng kayak terompet sangkakala sih, itu pasti Gaga.
Gue memutar badan.
“Oh. He he he. Ng-nggak. Abang mau minum aja. Haus,” kata gue.
“Tapi kok, bawa tas gede?”
Mampus. Gue lupa kalau mulut Gaga seperti ember bocor.Jadi gue langsung cabut dan balik ke kamar.
***
Sepertinya, gue nggak bakat kabur dari rumah.
Akhirnya, siang itu gue ke kampus. Gue lalu ambil tas yang di dalamnya masih ada beberapa pakaian yang sudah gue siapin dari semalam. Soalnya, di dalamnya ada revisi skripsi gue.
Hari ini gue ada janji ketemu dosen untuk revisi skripshit. Perasaan gue nggak karuan. Deg-degan setiap ketemu dosen. Apakah ini yang namanya cinta? Lupakan. Dia sudah kepala empat. Ngapain jugague doyan sama yang alot?
“Ehm …,” kata dosen gue. Tangannya mengelus-elus dagunya. Seolah berpikir. Kepalanya sedikit naik turun. Matanya tetap menatap lurus ke setiap baris yang ada di kertas. Gue getar-getir. Ini sudah revisi ke … sepuluh. Mungkin?
“Oke. Kamu bisa naik ujian meja.” Gue lihat dia berkata sambil memperbaiki kacamatanya. Hati gue langsung lega. Akhirnya.
Gue keluar dari ruangan dosen dengan penuh kemenangan. Tanpa gue sadari, bisa aja pas ujian meja dosen penguji dan pembimbing nggak lulusin gue.
Pas di luar, gue ketemu Ujo.“Gue acc, Bro.” Senyum semringah terlukis di bibir gue. Refleks gue sama Ujo berpelukan kayak teletabis banci.
“Eh, gimana? Acara kabur lo?” tanya Ujo.
Gue mengedikkan bahu. “Gagal.”
“Hah? Kok bisa?” tanyanya lagi.
“Gue ketahuan mulu,” kata gue, “kayaknya gue nggak bakat deh, Jo.”
Sepersekian detik, dia malah ketawa terbahak. Gue mengernyit.
“Lo kira kabur harus punya bakat?”
“Terus?”
“Ya, lo bilang aja mau ke mana, kek.”
“Masa gue bilang mau ke kampus tengah malam?”
“Eh, kuda lumping. Lo polos atau emang bego, sih? Ngapain lo kabur tengah malam? Lo kan bisa keluar siang-siang. Tinggal alasan aja ke kampus terus bawa deh pakaian lo.”
AHA. Ide bagus.
“Itu lo bawa tas gede gitu, buat apaan?” sambung Ujo.
Gue melirik tas gue. Dan baru sadar tas itu lumayan berisi.
“Oh, ini. Ini tas buat ….”
Gue diam.
Si Ujo diam.
Sekejap gue dan dia saling bertukar tatap. Detik berikutnya si brewok imut itu berkata,“BEGO.”
Mendadak bola lampu nyala di otak gue. Senyum pun makin lebar, untung gak ada laler berkeliaran deket badan. Hari ini gue punya dua kemenangan. Skripshit gue di acc dan gue berhasil kabur. Gue nggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Di luar sana, pasti ada banyak hal yang bisa gue dapat. Pekerjaan, pengalaman, atau bahkan … cewek.
Impian gue akan berkelana, mencari secercah harapan dan meretas asa walau hanya bermodal daya. Dan yang menjadi pertanyaan adalah ….
Habis ini gue mau ke mana?
Anak Ayam Kehilangan Induknya
Lama, gue menatap lurus ke arah jalanan yang ramai kendaraan. Saking lamanya, gue bisa menghitung mobil dan motor yang berlalu lalang di jalan depan gue. Gue menghela napas. Balik kiri, balik kanan. Perut gue sudah mulai konser. Kalau gue pulang ke rumah. Pasti Nyokap sudah menghidangkan berjejer makanan ala-alanya.
Tapi, nggak. Gue harus teguh dengan pendirian. Gue harus mencari orangtua baru yang bisa menghargai gue.
Akhirnya setelah dua jam berteduh di bawah pohon, gue melajukan motor ke sebuah atm. Gue cek. Saldonya masih lumayan. Tujuh digit berawalan dua. Gue Tarik secukupnya untuk biaya hidup gue. Untung aja, waktu itu gue bujuk Bokap. Gue harap bisa cukup sampai gue menemukan orangtua baru.
Setelah itu, gue singgah di salah satu warung makan padang. Sementara gue makan, tiba-tiba ada seorang anak kecil. Laki-laki. Dia pegang gitar kecil. Apa sih namanya? Oh, ya. Ukulele. Anak itu memainkan ukulele dengan tangkas. Lincah. Penuh semangat.
Gue makan sambil mendengarkan suaranya. Lumayan seusia dia. Bernada tinggi, tipis dan terdengar cempreng.
Setelah dia selesai nyanyi. Tangannya langsung menjulur. Gue mengernyit. Detik berikutnya gue sadar.
“Ini, Dek,” kata gue sambil menyodorkan uang seribu recehan.
Dia mematung.“Kenapa?”
“Segini mah, beli gula-gula aja kurang, Kak.”
Gue menghela napas. Apa-apaan ini anak?
“Ya udah. Nih,” kata gue lagi sambil beri dia uang dua ribu.
Dia mematung lagi.“Yah … segini mah, beli nasi—“ Gue langsung ambil dua ribu itu. Dia terenyak. Matanya membulat.
“Eh, iya deh, Kak. Segini juga cukup.” Dia lalu nyengir sambil pergi dari hadapan gue.
Nggak berselang lama, tiba-tiba ada anak lain lagi. Tapi kali ini dia bukan nyanyi. Dia nawarin bunga mawar merah. Tapi plastik.
“Buat apa nih?” tanya gue, menatap anak kecil itu yang sedang menawarkan dagangannya.
“Ya … untuk cewek Abang,” katanya polos.
Miris. Anak seusia mereka sudah ngerti urusan dewasa. Gue menggeleng, lalu berkata,“Maaf, Dek. Nggak butuh.”
Tiba-tiba dia nyeletuk, “Dasar jomblo.”
Asem banget. Kalau aja nggak langsung kabur. Sudah gue culik terus gue jual itu anak.
Selesai makan, bayar, gue langsung menancap gas motor. Kali ini gue melajukan motor sampai ke sebuah pantai. Di sana gue ingin menikmati hari pertama gue kabur dari rumah.
Sinar matahari tenggelam yang keemasan kini menyoroti sudut laut yang membentang. Gue bisa lihat bayangan gue semakin besar.Beriringan dengan terbenamnya matahari.Gue lalu membeli sosis bakar yang dijual tak jauh dari pinggir pantai. Setelah itu, gue kembali melajukan motor.
Nggak lama, di persimpangan jalan. Tiba-tiba ada seorang cewek. Dia jalan tanpa melihat ke kiri. Alhasil, motor gue hampir menyerempet. Untung, gue langsung banting setir. Tanpa ba-bi-bu lagi gue turun dari motor dan menghampiri cewek tersebut.
“Nggak apa-apa, Mbak?” kata gue panik. Takutnya dia terluka, terus minta ganti rugi.
“Ng-nggak, Mas. Makasih, ya.” Cewek itu langsung pergi.
Sialnya, pas gue berbalik. Motor gue sudah nggak ada. Lenyap. Tanpa sisa. Sialnya lagi,tas gue, gue taruh di jok motor. Gue panik. Jerit. Sampai orang datang berbondong-bondong. Salah satu orang itu berkata, “Lain kali hati-hati, Mas. Jangan simpan tas di jok. Sama motornya mending jangan ditinggalin.”
Apes.
Gue nggak masalahin tasnya, dan bajunya. Yang gue masalahin adalah skripsi gue ada di dalam laptop, dan laptop gue ada di dalam tas, dan tas gue … Argg!
Gue langsung rogoh saku. Ada dompet dan ponsel. Gue sedikit lega. Sepersekian detik, gue ingin telepon Bokap atau Nyokap, tetapi nggak jadi. Pertama, gue kan lagi menjalankan misi mencari orangtua baru. Kedua, gue bisa jadi gulai sate begitu Nyokap tahu gue abis kerampokan.
***
Hari sudah semakin gelap. Gue akhirnya duduk di salah satu supermarket kembar. Gue langsung menelepon Ujo setelah menghabiskan satu botol the dingin.
“Yes, Ujo speaking.”
“Nggak usah lagak inggris, lo. Di mana lo sekarang?” Gue tanya tanpa basa-basi. Dia terkekeh.
“Di rumah. Kenapa emang?”
Nggak sampai dua puluh menit, gue sudah ada di rumah Ujo. Naik angkot.
“Sementara aja, Jo,” kata gue memelas. Gue pasang muka gembel biar dia kasihan.
“Lo yang kabur, malah gue yang repot. Gimana sih, lo?”
“Gitu amat, lo. Nggak kasihan lo amague?”
Setelah bujuk si Ujo. Akhirnya dia mengizinkan gue untuk stay di rumahnya sampai gue dapat orangtua baru.
Di rumah Ujo, gue langsung masuk. Dia punya adik. Adiknya ada dua cowok. Mungkin umurnya empat sampai lima tahun. Begitu mereka melihat gue, tiba-tiba salah satu dari kurcaci itu nyeletuk, “Kak, ini temen kakak?”
Ujo mengangguk cuek.
Gue diam.
“Kok, jelek, sih?”
Kalau aja bukan adik si Ujo, sudah gue pites kayak kutu deh itu anak. Gue pura-pura senyum. Padahal dalam hati penuh dendam.
Gue menghela napas. Yang tersisa hanya dompet dan ponsel yang gue kantongi. Gue sudah kira, perampok itu pasti lagi menikmati hasil dari ‘usahanya’.
Akhirnya, gue tidur di lantai, sementara Ujo tidur di kasurnya yang empuk. Gue bisa bayangin Nyokap dan Bokap pasti kebingungan buat cari gue.
***
Gue nebeng Ujo ke tempat beli pakaian. Demi apa, seharian gue nggak ganti baju.Akhirnya, sampailah Ujo dan gue di salah satu pusat perbelanjaan di Tunjungan Plaza.Percaya atau nggak, gue masih memakai baju yang sama dari semalam. Kecut, kecut deh. Di sana ada banyak banget jenis pakaian. Dan harganya pun nggak main-main. Gue harus rela rogoh saku lebih dalam hanya untuk beli dua pasang pakaian.
Di tengah jalan, gue berdecak. Mulut gue komat-kamit sumpahin tuh perampok mandul tujuh turunan. Daleman gue juga ikut di tas itu. Seumur hidup, gue nggak pernah belanja daleman. Nyokap yang selalu beliin, sekalian dengan daleman Bokap.
“Ogah! Lo aja deh yang masuk beli. ‘Kan lo yang butuh. Gue tunggu lo di sini.”
Sudah gue duga. Dasar Ujo si buto ijo. Nggak lihat apa temennya lagi susah.
Shit!
Mau nggak mau. Malu nggak malu, gue harus beli sendiri.Dan gue harus beli daleman. Nggak mungkin juga ‘kan, gue pinjam daleman si Ujo. Bisa-bisa gue kena kurapan.Tapi, sebelum gue masuk, gue kepikiran untuk beli kacamata hitam untuk nutupin muka gue.
Akhirnya, gue masuk. Dengan gesit gue ambil beberapa helai daleman yang terpampang. Pas sampai meja kasir. Gue diketawain sama Mbak kasirnya.
“Kenapa, Mbak? Nggak pernah lihat orang beli daleman, ya?” kata gue sok menganut sistempembeli adalah raja.
“Mas, Mas yakin beli ini?” ucap si Mbak kasir.
“Iya, dong.” Gue mengangguk mantap.
“Tapi ‘kan, Mas. Ini daleman untuk cewek.”
“…”
Goblok.
Bisa-bisanya gue salah ambil.Gue langsung lepas kacamata hitam. Mata gue langsung membelalak seketika melihat tiga biji daleman cewek yang unyu-unyu terpampang di depan meja kasir dengan warna berbeda. Merah jambu, putih dan … hitam.
Dan pada akhirnya, wajah gue ketahuan sama Mbak kasirnya.
***
Kenapa gue nggak di telepon sama Nyokap? Itu karena gue sudah ganti kartu. Jelas aja, gue nggak mau ambil resiko. Sekali gue angkat telepon Nyokap, siap-siap telinga jadi babak belur.
Gue di rumah Ujo cuma numpang tidur doang. Seharian gue jalan—pakai kaki untuk menemukan orangtua baru. Gue berpisah dengan Ujo setelah keluar dari Tunjungan Plaza. Katanya dia lagi ada urusan.
Gue berjalan dan terus berjalan. Aku tenggelam dan tak tahu arah jalan pulang.
Hari juga sudah semakin siang dan gue nggak tahu mau ke mana. Persis kayak anak ayam yang kehilangan induknya. Bedanya, gue bukan anak ayam dan Nyokap bukan induk ayam. Sisa tabungan gue juga sudah semakin menipis. Gue yakin seratus persen, kalau sampai Nyokap ketemu gue, gue pasti dikuliti.
Tapi nggak berapa lama, matahari sepertinya malu-malu menampakkan diri. Awan di langit juga semakin menghitam. Di tengah jalan, tiba-tiba ada angin kencang dan detik berikutnya rintik air berjatuhan sampai deras.
Akhirnya gue berteduh di salah satu rukodi daerah Jambangan.Di depan ruko itu ada sebuah kursi dari plastik, dan gue langsung duduk di situ. Mungkin ada sekitar lima menit, tiba-tiba seorang cewek juga berteduh. Gue lihat pakaiannya agak basah kuyup. Dia pakai kemeja, jeans dan …
Tunggu.
Sepertinya gue kenal dengan tas ransel itu. Gue semakin memicingkan mata. Menatap lurus ke arah cewek itu. Dari penampilannya, dia agak tomboy. Gue bisa lihat dari rambutnya yang panjang terikat sedikit ke atas.
Pelan-pelan, ragu-ragu, gue hampiri dia.
“Mbak,” kata gue.
Dia langsung memutar kepala. Tebakan gue tepat. Dia emang cewek. Cantik, putih lagi.
“Ya?” kata dia.
“Ehm … ng-nggak. Tasnya keren kayaknya.” Ngomong apa sih, gue? Harusnya langsung aja bilang, “Eh, Mbak. Itu tas saya. Balikin.”
“Oh, iya, makasih.”
Gue memerhatikan sesuatu yang melekat di tasitu. Sudah gue duga, di sana tersemat gantungan kunci bertuliskan “Kean” yang sengaja gue buat. Mungkin cewek ini kira gantungan kunci itu merek dari tasnya.
“Mbak, beli tas ini di mana?” tanya gue. Gue semakin curiga. Dia diam sesaat.
“Di pasar cakar.”
Gila! Tas gue dijual di pasar cakar? Cakar? Ca-kar? Nggak salah denger, ‘kan gue? Gue bener-bener nggak terima. Masa tas gue dijual di pasar cakar? Kenapa nggak dijual di mall? Atau nggak, di butik-butik. Harga diri tas gue jatuh. Ini nggak berperike-tas-an.
Sebagai informasi, tas itu gue beli dengan harga enam digit. Gue kumpulin duit untuk beli tasitu dengan saparuh raga. Dan sekarang, gue yakin cewek itu beli tas gue dengan harga lima digit. Jangan-jangan pakaian gue juga ikut dijual di sana lagi. Asem.
“Oh … gitu. Ehm … Mbak, bisa anterin ke penjualnya, nggak? Soalnya pengin beli juga. Hehehe.” Gue basa-basi sambil terkekeh garing. Mungkin si Mbak-nya pikir gue om-om mesum yang lagi nyari mangsa.
Dia diam. Gue lihat alisnya bertemu. Tiba-tiba cewek itu langsung cabut. Gue baru sadar hujan sudah sedikit reda.
Akhirnya gue ikutin cewek itu. Untungnya dia nggak naik angkot. Nggak naik ojek, mana ujan, becek. Gue ikutin dia. Dia terus jalan menelusuri keramaian kota dan lalu lalang kendaraan. Nggak lama, dia akhirnya sampai di sebuahgang. Di sana dia ketemu dengan seorang cewek.
Mata gue memicing lebih dalam buat lihat penampakan gadis itu. Dan … fix! Itu cewek yang nggak sengaja gue tabrak, padahal perasaan gue hanya serempet aja.
Dari kejauhan, gue memerhatikan keduanya sedang berbicara. Gue nggak tahu mereka lagi ngomongin apa. Selanjutnya, mereka kemudian pergi. Gue ikutin lagi. Kedua cewek itu terus berjalan sampai di suatu pasar. Pasar cakar.
Gue tetap memerhatikan mereka dari kejauhan. Di sana, cewek tomboy tadi stay di salah satu stand jualan di pasar itu. Sementara cewek yang nggak sengaja gue tabrak itu, tetap berjalan sampai di tepi jalan.Gue masih ikutin cewek itu. Gelagatnya mencurigakan. Dia nengok kanan kiri tanpa mau bermaksud nyebrang. Satu per satu dia memerhatikan setiap mobil atau motor yang lalu lalang.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam melaju dengan sedang. Pandangan gue lalu berpaling ke cewek itu. Seiring mobil itu mendekat, cewek itu berjalan sampai ke tengah jalan. Di menit berikutnya, refleks gue berlari ke arah cewek itu. Seperti slow motion, gue langsung mendorongnya dan dalam hitungan detik sedan hitam itu menghantam tubuh gue hingga terhempas beberapa meter.
Sampai di situ, dunia terasa hilang. Pandangan gue perlahan-lahan kabur, lalu berangsur gelap. Yang jelas, gue merasakan ada tetesan yang keluar dari kepala gue.
Dan gue nggak tahu apa yang terjadi setelah ini.
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Relung
Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...
Kk
jjj ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...