Chapter 10: Rasa Curiga
Fani merasa takut saat melihat kalender dan menyadari bahwa tak lama lagi Land of Death akan manggung di festival lain. Namun, saat memerhatikan kalender lekat-lekat tak sadar ada sosok ibunya berdiri di samping.
"Kamu kenapa sering-sering lihat kalender?" Tanya Bude penasaran.
"Ah, enggak kok."
Tanpa sepatah kata pun Fani langsung pergi meninggalkan Bude. Melihat putrinya makin aneh akhir-akhir ini ia jadi sedikit khawatir. Bude tak mau banyak memikirkannya dan segera ia berjalan menjalankan aktivitasnya. Hari ini Bude akan berangkat arisan seperti biasa, kakinya melangkah keluar dan matanya memicing begitu melihat sosok keponakannya sedang mengobrol di depan pagar dengan seorang pria urakan, hanya saja berbeda dengan yang biasanya mengantar. Bude kembali masuk ke dalam dan mencoba mengintip diam-diam. Sungguh bocah yang urakan! Bude merasa malu telah menjadi keluarganya.
"Emang dasarnya anak nggak pernah dididik!" Gerutu Bude pelan.
Sementara itu di tempat arisan, semua wanita telah berkumpul, tak terkecuali Bu Yana yang menjadi bagian makanan kali ini. Tak begitu lama kemudian datanglah Bude dan ia tanpa banyak bicara langsung duduk di salah satu kursi. Bu Yana, meski masih kesal, ia tetap memberikan jajanan yang dibawanya kepada kakak iparnya tersebut dengan adil sama seperti yang lain. Namun, Bude sama sekali tak bicara banyak sampai arisan berakhir.
"Saya pulang dulu ya, permisi." Bu Yana berpamitan dan pergi dari balai desa, alias tempat arisan.
Tak lama sepeninggal Bu Yana, mendadak Bude langsung angkat bicara, "Bu-ibu, tau nggak kalau si Lia itu bawa cowok lagi?"
Ada empat orang ibu-ibu yang masih ada di sana dan merasa tertarik dengan apa yang dibicarakan sang ratu gosip.
Di sisi lain, Fani sedang pergi ke minimarket untuk mencari sesuatu. Hari ini, Fani ingin sekali membelikan Dahlia makanan dan sekalian meminta maaf padanya. Matanya melihat-lihat camilan di rak dan tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
"Eh, maaf."
Seorang pemuda gondrong dan berdiri menatapnya. Fani kaget karena ia bertemu Prasetyo di sini.
"Kamu sepupunya Dahlia ya?" Tanya Prasetyo dengan ramah.
Fani mengangguk dan merasa lega karena ia tidak marah disenggol begitu saja. Mereka basa-basi sejenak dan tiba-tiba Prasetyo menanyakan tentang Dahlia yang jarang sekali bertemu. Fani ingin berbohong, tetapi ia tidak mau lagi ada kesalahpahaman lagi. Ketika Prasetyo mendengarnya, ekspresi pemuda itu terkejut sejenak tetapi kembali cuek seperti biasa. Fani menyadari bahwa Prasetyo gelisah tentang Dahlia.
"Fan!" Seorang gadis berhijab lebar, Khadijah berjalan cepat mendekati Fani, "Beli apa?"
"Kita lanjut lagi saja." Kata Prasetyo, ia lalu mengeluarkan ponselnya dan meminta nomor Fani sebelum pergi dari sana.
Khadijah keheranan ketika melihat sosok Prasetyo yang sempat berbincang dengan Fani. Namun, ia menepis rasa curiganya karena berpikir mungkin kalau pemuda seram itu adalah kenalannya dan bukan orang jahat.
"Banyak banget belinya." Komentar Khajidah heran melihat keranjang belanja Fani yang banyak dan berisi penuh jajanan.
"Iya, aku lagi pengen aja."
"Ohh..."
Khadijah pun mengajak mengobrol banyak hal. Bertanya ini dan itu karena penasaran dengan kegiatan Fani yang jarang berkumpul setelah ceramah. Fani nampak kaget karena Khadijah beberapa hari sebelumnya datang ke rumah tanpa mengabari dan mencari dirinya, tetapi yang ia dapat malah sebuah hal mengejutkan karena ibunya Fani justru berkata kalau putrinya sedang ada kegiatan dengan mereka. Mata Khadijah terlihat menyelidik mencari kebenaran mumpung orangnya ada di sini.
"Aku lupa deh." Fani berusaha mengelak, "Udah, aku mau bayar dulu."
Sedikit kecewa tapi gadis itu masih belum puas dengan jawaban Fani. Khadijah juga bertanya-tanya dengan siapa Fani bicara sebelumnya, tetapi ia diam saja tak bicara lagi.
Hari berikutnya, Bude sedang sendirian di teras rumah, hendak masuk ke dalam. Namun, matanya sekali lagi memicing begitu melihat sosok pria gondrong yang biasanya ia lihat sedang duduk di atas motornya sambil sesekali menengok ke dalam pagar rumah Dahlia. Tetapi pada saat yang sama datanglah Khadijah sendirian yang mengejutkan Bude.
"Assalamualaikum tante."
"Waalaikumsalam, eh, Khadijah." Bude langsung tersenyum dan mempersilahkan kawan putrinya masuk ke dalam.
"Maaf ya, Nak, si Fani lagi keluar." Kata Bude sambil meminta Bi Yati untuk mengambil teh, "Kamu nggak ikut ceramah ya? Katanya Fani ada ceramah lagi."
"Tante! Sebentar!"
Khadijah pelan-pelan berbicara dan mencoba mengatakan yang sebenarnya. Alangkah terkejutnya Bude ketika mengetahui putrinya diajak bicara oleh pria gondrong yang sering mengunjungi rumah Dahlia. Darahnya mendidih seketika, tetapi ekspresinya masih bisa ditahan. Dengan rasa khawatir, Khadijah menceritakan apa yang ia lihat, dan takut terjadi apa-apa dengan Fani.
"Makasih ya, Nak, tante mungkin ga akan tahu apa bahaya yang mendekati anak tante."
Di sisi lain, Prasetyo merasa gelisah terhadap Dahlia, tetapi ia tak bisa apa-apa karena tak ada hubungan sama sekali. Bahkan Bu Yana mengira Dahlia sedang bersama Prasetyo sekarang, dan perempuan itu sangat merasa khawatir ketika tak tahu putrinya ada di mana saat ini. Kemudian ia menyalakan motornya dan berjalan pergi dari sana, tanpa menyadari kalau ia berpapasan dengan Khadijah. Sontak gadis itu bergidik ngeri ketika melihat ada pria yang dibicarakan tadi lewat begitu saja.
Namun, pada saat yang sama, kedua gadis yang sedang dicari itu tengah asyik di dalam studio dan bersenang-senang. Dahlia begitu senang sekali saat diberitahu penawaran kemarin, tetapi ia sudah berjanji pada Pak Manajer dan Marco serta semua orang yang ada di sana untuk tidak memberitahu Fani. Marco ingin sedikit membalas dendam pada gadis berhijab itu karena tak mau jujur dan membawa drama lagi.
"Kamu masih belum bisa scream?" Tanya Fani.
"Belum."
"Masak sih? Aku dulu bisa kok belajar dua bulan."
Dahlia menatap sepupunya dengan kesal, "Itu kan kamu! Lagian belum ada dua bulan kok!"
"Sori-sori."
Mendadak Fani teringat peristiwa kemarin di minimarket.
"Lia, aku kemarin ketemu temanmu, siapa namanya? Prasetyo kan? Dia yang gondrong." Kata gadis berhijab itu tiba-tiba.
"Oh si Pras!" Dahlia menepuk dahinya keras, "Aku lupa sama dia gara-gara excited sama permintaanmu ini! Aku belum ketemu dia sama sekali!"
"Siapa Yang?"
Dahlia mendadak menyesali keputusannya yang terlalu banyak omong itu begitu mendengar suara Yogi memanggilnya begitu. Ini cuma pura-pura dan basa-basi saja sebenarnya, tapi si Yogi langsung setuju begitu saja. Sial! Sial! Serasa jadi tumbal saja.
"Prasetyo, teman aku." Kata Dahlia.
Yogi nampak mengerutkan alisnya ke tengah, dan ia ingat akan peristiwa yang mengoyak harga dirinya tempo hari lalu. Kalau yang dimaksud adalah pemuda gondrong yang menarik mangsanya di teras minimarket waktu itu adalah orang yang sama, maka ia akan merasa sangat menang kali ini.
"Kita ketemu saja sama dia." Yogi tersenyum penuh arti.
...
Other Stories
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...