Blek Metal

Reads
654
Votes
14
Parts
14
Vote
Report
Penulis Noer Eka

Chapter 4: Mata Yang Lain

Beberapa waktu sebelumnya.

Terlihat seorang gadis berhijab lebar berwarna biru pastel yang tengah berdiri sambil menghadap kaca di dalam kamar. Ruangan tersebut terlihat rapi, bersih, dan penuh dengan buku dari berbagai macam jenis. Tidak terlalu banyak hiasan di tembok kamarnya yang berwarna putih, kecuali foto keluarga dan tanaman-tanaman hias dari plastik. Gadis itu sibuk menatap dirinya sendiri sampai pada akhirnya sebuah ketukan mengejutkannya.

"Kak Fani, aku masuk ya."

Suara pintu terbuka pelan dan menampilkan seorang gadis cilik dengan wajah yang mirip, ia terlihat berusia sekitar delapan tahun. Gadis itu mendekati Fani, lalu memintanya untuk mengambilkan salah satu buku novel anak-anak yang ada di bagian rak paling atas.

"Kak, kenapa sih selalu ditaruh di bagian sana? Kan aku susah ngambilnya."

Fani tersenyum sambil meraih satu judul buku dan menukarnya dengan buku yang dibawa adiknya, alias seri selanjutnya, "Ya, biar kamu nggak sembarangan masuk kamar orang aja."

"Iyadeh." Gadis cilik itu memasang ekspresi tidak puas, "Kakak mau keluar lagi?"

"Iya, ada acara."

Ia bertanya lagi, "Boleh ikut nggak?"

Fani menatapnya dengan wajah santai, "Boleh aja, tapi nggak boleh minta pulang sebelum selesai."

"Nggak boleh main?"

"Boleh, tapi jangan salahin kakak kalau yang lain marah ke kamu karena kebanyakan main."

"Ah, orang gede emang gak asik," Gadis itu mendesah pelan sebelum akhirnya pergi. 

Fani tertawa kecil sambil menutup pintu kamarnya. Dalam hati ia membenarkan kalimat adiknya itu. Hari ini adalah hari yang istimewa, jangan sampai ada yang kacau. Karena setelah sekian lama bersembunyi kini waktunya ia keluar walau sejenak. Ada sedikit rasa kekawatiran mendalam di hati. Kira-kira apa kebohongan yang akan dikatakan pada ibunya kali ini?

"Kuat, kuat, jangan pingsan." Katanya sambil melihat ke arah cermin.

Gadis berhijab yang manis ini sebentar lagi akan hilang berganti persona lain. Tepatnya dalam beberapa jam lagi. Ponselnya berkali-kali berbunyi di atas kasur dan menampilkan sebuah nama yang tak asing, "Mooney", ia pun memberikan instruksi pertemuan rahasia padanya. Karena tak seperti band yang lain, mereka atau lebih tepatnya Fani tidak akan ada di gedung olahraga sehari sebelumnya untuk menginap. 

"Udah siap semuanya?" Tanya Fani dalam pesan untuk Mooney.

"Jam berapa pun kita siap, gimana Flo sama ibumu?"

"Baru mau bilang."

"Yaudah, kita tunggu di tempat biasa."

Fani melempar ponsel tersebut ke arah kasur. Tangannya menumpu kepala seraya berpikir, tentu saja karena waktu konser ini begitu mepet dengan berbagai acara lainnya. Seminggu ini sudah tiga hari ia tidak di rumah, dua hari acara menginap untuk dakwah, dan sehari lainnya mengisi dakwah juga, nyaris tak ada waktu latihan. Ibunya sungguh ketat mengawasi segala pergerakannya untuk kemudian dilaporkan pada sang Ayah. 

"Apa dakwah lagi? Jangan ah." 

Tiba-tiba ia mendadak kepikiran hal konyol. Singkat, tapi ia merasa ini akan berhasil. Fani segera turun untuk menemui ibunya yang tengah asyik nonton tv di ruang tengah.

"Bu. Fani minta izin keluar ya."

"Mau ke mana?"

Fani menghela napasnya, "Mau nyari gantungan kunci."

Budhe, alias ibunya, menunjukkan ekspresi keheranan, "Tinggal beli lagi kan?"

"Nggak bisa!"

"Kenapa?"

"Di sana ada tandatangannya Gus Yusuf! Gantungan kuncinya juga limited edition!"

Tetapi belum sempat Budhe menjawab, munculah Fifi alias adiknya yang mulai nyerocos panjang, "Kak Fani kapan berangkat ke acaranya?"

"Acara?" Budhe mulai menaruh rasa curiga.

"I-iya! Itu acaranya!" 

Fifi, Budhe, bahkan Mbok Siti alias pengurus rumahnya yang ada di sana ikut terbengong seolah merasakan kebohongan dari Fani. 

"Kalau bilang mau nyari sesuatu pasti Adek bakal ..."

"Ikut dong!" Seru Fifi sambil nyengir.

"Ini maksudnya Bu!"

Budhe pun menghela napasnya, "Yaudah, jangan lama-lama, Fifi nggak usah ikut dulu."

"Yahhh ..."

Dalam hati Fani bersorak, aman! Segera ia naik ke lantai atas dan mulai memasukkan beberapa benda kedalam tasnya, termasuk "gantungan kunci" tersebut yang sebenarnya tidak pernah hilang. Sore ini, segera Fani berangkat menuju tempat pertemuan biasa, aliasnya sebuah rumah yang terpencil dan jauh dari tempat peradaban. Bukan sembarang tempat, tetapi sebuah studio rahasia milik Mooney, orang yang ia hubungi tadi. 

"Sampai juga akhirnya kamu, Flo." Seorang pemuda kurus ceking dengan wajah pucat dan lingkaran hitam pada kedua matanya melambai pada Fani yang baru saja memarkirkan motornya.

"Semua udah sampai, Ji?"

Kaji, nama pemuda tersebut, ia menunjuk ke arah pintu yang terbuka dan memperlihatkan bahwa hanya Fani seorang yang belum hadir. Gadis berhijab lebar tersebut segera masuk ke dalam, tetapi langsung memasang ekspresi marah begitu menghirup udara di dalam, "Siapa yang habis ngudud di sini? Kalian kan udah tahu aturannya!"

"Santai." Kata Yogi, pemuda yang sedang menyetem gitarnya, "Tadi ada tukang yang benerin plafon, dia ngudud tiga batang."

Fani ingin sekali naik darah karena ia tahu siapa "tukang plafon" yang dimaksud, tetapi ia harus menahannya kali ini. Ia segera berjalan ke arah dalam dan melihat sebuah kardus berisi jubah berwarna hitam. Mata gadis itu berbinar-binar, lalu ia pun lari ke arah depan, "Ini kostum baru kita?"

"Iya dong." Yogi tersenyum bangga.

"Oke deh, makasih ya pak tukang."

"Yoi."

Marco yang duduk sambil minum boba pun hampir saja menyemburkannya ke udara, "Ehem! Pak Tukang!"

Kembali pada Fani yang masih mengagumi jubah tersebut, tidak terlalu banyak aksesoris kecuali di bagian ujung tudung yang terdapat motif bordiran bunga berwarna hitam, tentu hanya bisa dilihat dari dekat baru orang akan sadar. Malam ini, untuk pertama kalinya Land of Death akan manggung di luar studio, memperdengarkan musik yang kata orang nggak jelas itu. Jantungnya berdebar kencang saking antusiasnya. Kemudian dipakainya kostum tersebut beserta topengnya, Fani menoleh ke arah kaca dan ia merasa bahwa inilah dirinya yang asli!

"Ready?" Fani menaruh tangan di tengah-tengah mereka, karena sebelum berangkat ia ingin menyemangati anak-anak yang lain.

Mulai dari Bulan alias Mooney alias personil perempuan kedua, ia menyatukan tangannya dengan Fani, lalu disusul Yogi, lalu Kaji, dan terakhir Marco. 

"Yeah!" Teriak mereka sambil melempar tangan ke udara.

Sejak tadi sore mereka sudah mempersiapkan segalanya dan kini tinggal berangkat. Satu setengah jam lagi mereka akan berada di atas panggung.

Setelah mobil mereka sampai di parkiran, nyaris semua orang menoleh ke arah mereka. Lima orang muncul dari dalam mobil dengan mengenakan jubah, satu orang bertudung dan memakai topeng gelap dan yang lain berdandan dengan wig hitam panjang berantakan dan memakai riasan corpse paint pada muka. Setengah jam lagi mereka akan tampil dan alangkah terkejutnya ketika mereka menemukan jadwal molor di lapangan.

"Panas banget woy!" Desah Yogi sambi mengipasi mukanya, ia menyesal telah memesan bahan yang terlalu tebal. Riasannya nyaris meleleh oleh keringat.

Ketika waktu telah tiba, jantung mereka berdebar saat menginjakkan kaki di atas panggung. Rasanya seluruh lirik telah hilang dari kepala begitu saja. Namun, kumpulan manusia di bawah sana terus menginginkan mereka melakukannya. Fani, pertama kalinya ia berdiri di atas panggung seperti dewi, dengan suara lengkingan tinggi yang menakutkan ia memanggil mereka.

"CHILDREN OF BASTAARD...!"

Semua kacau, tetapi sedetik kemudian menjadi harmoni aneh yang sulit dijelaskan. Land of Death menjadi sorotan malam itu!

"Aku nggak percaya ini." 

Fani membeku saat melihat sosok yang sangat ia kenali melihat wajah aslinya.

"Kamu beneran Flowers? Oh my god!" Seru gadis berambut panjang dan penuh tindik di telinga, Dahlia, sepupunya sendiri.

Seluruh bayangan Fani soal masa depan sekarang hancur seketika,. Saat Dahlia meminta foto kepadanya, sudah saat itu pula ia merasakan firasat buruk.

"Flo!" Seru seseorang dari belakang memanggil Fani, si Bulan alias Mooney yang masih memakai corpse paint, saat mendekat ia terkejut, "T-topengnya kebawa tadi, maaf banget, Flo, harusnya aku tetep di sini tadi."

"Bulan." Kata Fani pelan seraya mengambil topengnya, "Kamu pulang aja dulu, ini urusan keluarga."

...


Other Stories
Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

O

o ...

Membabi Buta

Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...

Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Titik Nol

Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...

Deska

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Download Titik & Koma