Chapter 14
Siang ini, Sarah mendatangi kantor penerbitan Black Rabbit. Langkahnya terlihat tegas dan pasti. Di tangan perempuan berpakaian modis tersebut, sebuah map cokelat berisi naskah novel yang telah ia selesaikan, digenggam.
Setelah disambut resepsionis, Sarah melanjutkan perjalanan ke ruangan yang ia tuju. Suara entakan stiletto beradu dengan lantai keramik, terdengar sepanjang kaki jenjangnya itu melangkah.
Di dalam ruangan, Pak Kasman menyambutnya dengan sebuah senyuman. “Kerja bagus, Sarah. Padahal deadline yang kita janjikan masih sebulan lebih.”
“Kalau bisa lebih cepat, kenapa harus menunda-nunda. Lagi pula, aku tak ingin lama-lama bekerja sama dengan orang licik sepertimu.” Suara Sarah terdengar enteng ketika mengucapkan kalimatnya. Membuat muka Pak Kasman memerah lantaran kesal.
“Aku sudah menyelesaikan tugasku. Aku harap kita tak akan pernah bertemu lagi, Kasman.” Sarah sengaja menekankan intonasinya pada kata terakhir.
“Kamu tidak berniat menulis proyek novel berikutnya?” Pak Kasman seakan mengejek.
“Tidak. Setelah kupikir-pikir, sepertinya aku tidak tertarik menjadi seorang penulis novel lagi. Lebih baik aku kembali menjadi ibu rumah tangga, melukis dan merawat anak semata wayangku,” jawab Sarah tegas. “Oh, iya, maaf. Aku tak bisa berlama-lama di sini. Aku masih punya urusan yang tak kalah penting yang harus segera kuselesaikan,” sambungnya sembari melangkah meninggalkan ruang kerja pemilik penerbitan Black Rabbit tersebut. Sekali lagi, suara ketukan stilleto Sarah bergema memenuhi koridor.
Sarah kembali masuk ke dalam mobil. Kevin dan Amely yang sejak tadi menunggu di dalamnya, tersenyum.
“Bagaimana, Sayang? Sudah kamu selesaikan urusanmu dengan Pak Kasman.”
“Sudah, Pi. Sekarang tinggal satu urusan kita, pergi ke BPN. Kita akan menyerahkan rumah dan lahan bekas perkebunan milik Hellen pada pemerintah. Biar si Kasman, pemilik akta tanah palsu itu, menerima akibatnya.”
Sarah meraih sebuah buntalan file-file lawas berwarna kecokelatan yang pernah diserahkan Pak Kasman padanya tempo hari. Di antara tumpukan kertas tersebut usang, Sarah menemukan surat warisan rumah dan areal perkebunan atas nama Hellen van Stolch. Sebab, beberapa hari yang lalu, Sarah kembali bermimpi. Bahwa di masa lalu, Badriah—pesuruh keluarga Hellen—terus menerus menjaga rumah dan perkebunan milik Hellen. Sampai anak keturunannya, sampai seluruh orang-orang Belanda kemudian diusir dari Batavia di zaman kemerdekaan.
Namun, seiring berjalannya waktu, sepeninggalan Badriah yang menjadi satu-satunya saksi, keturunan keluarga pesuruh tersebut malah membuat surat kepemilikan palsu atas nama mereka yang kemudian diwariskan secara turun menurun. Dan terakhir, sampailah surat kepemilikan palsu itu pada Pak Kasman. Karena rupanya Pak Kasman adalah salah seorang keturunan dari Badriah.
***
Other Stories
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...