Boneka Sempurna

Reads
27
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Boneka sempurna
Boneka Sempurna
Penulis Moycha Zia

Chapter 4, Ancaman Dan Ketakutan

Morzak bergerak lebih cepat daripada Abrian, yang mencoba mundur dengan memegang gagang pintu di belakangnya. Setelah membuka pintu, kakaknya menyunggingkan senyum dingin membuat Abrian merinding.

Suara Morzak terdengar lembut, namun penuh ancaman, dan dia bertanya, "Mau ke mana, Abrian?"

"Aku belum selesai. Kita baru saja akan memulai," lanjutnya.

Napas Abrian memburu. "Apa yang kau inginkan dariku?"

"Kau akan membantuku," jawab Morzak santai, seolah membicarakan hal yang paling normal di dunia. "Kita adalah saudara. Kita harus saling membantu. Kau tahu, kan? Aku tidak pernah punya orang untuk berbagi rahasia ini. Dan sekarang, kau datang. Kau adalah anugerah."

"Aku tidak mau terlibat. Aku akan melapor ke Ayah dan Ibu," ancam Abrian, mencoba mengumpulkan keberaniannya.

Morzak tertawa. Tawa yang membuat bulu kuduk Abrian berdiri. "Oh, Abrian. Kau naif sekali. Ayah? Ibu? Mereka tidak akan percaya padamu. Mereka hanya percaya padaku. Mereka menganggapku sempurna. Dan kau hanya anak yang selalu membuat mereka kecewa. Apa yang akan mereka pilih? Anak sempurna yang mereka banggakan, atau anak pecundang yang selalu membuat masalah?"

Abrian terdiam. Apa yang Morzak katakan benar. Ayah dan Ibu selalu membelanya. Dia selalu jadi orang yang salah, sementara Morzak selalu benar.

"Ayah... dia yang membuatku seperti ini," lanjut Morzak, suaranya berubah menjadi pahit. "Dia selalu menuntut kesempurnaan. Dia bilang aku harus jadi yang terbaik. Aku harus menyingkirkan semua orang yang menghalangiku. Dan aku hanya menuruti perintahnya."

Morzak mendekat dan menepuk bahu Abrian. Abrian bergidik ngeri. "Sekarang, giliranmu. Jika kau tidak ingin terlibat, jangan bicara pada siapa pun. Jika kau berani bicara, aku akan memastikan hidupmu hancur. Kau akan jadi orang yang mereka benci, Adikku sayang. Dan aku akan membuat mereka membencimu."

Abrian menggeleng. Air matanya kembali tumpah. "Aku mohon... jangan libatkan aku."

"Terlambat," bisik Morzak, menatap mata Abrian dengan tatapan kosong. "Kau sudah melihat semuanya. Kau sudah menjadi bagian dari ini. Dan jika kau tidak mau jadi kaki tanganku, kau akan menjadi target selanjutnya."

Abrian tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menatap kakaknya dengan ketakutan. Malam itu, Abrian tidak lagi merasa aman di rumahnya di dalam kegelapan. Ia hanya bisa menangis secara diam-diam, bertanya dalam hatinya, “Apakah aku akan menjadi korban berikutnya dari permainan mengerikan yang dibuat oleh kakakku sendiri?”

****

Abrian tidak menyerah. Ia tahu bahwa harus segera bertindak. Suatu malam, ketika semua orang sudah tidur, Abrian menyelinap masuk ke kamar Morzak. Dengan jantung berdebar kencang, ia mengambil beberapa foto dan catatan Morzak yang dianggapnya sebagai bukti terkuat. Abrian tidak akan memberitahu pada Ayah dan Ibunya, ia tahu mereka tidak akan percaya. Jadi, ia memutuskan untuk meminta bantuan dari pihak sekolah.
Keesokan harinya, dengan tangan gemetar, Abrian menunjukkan bukti itu kepada Bu Nina, guru konseling yang selama ini peduli padanya.

"Bu, saya ingin memberitahukan sesuatu," kata Abrian, menempatkan beberapa foto dan catatan di meja Bu Nina.

Bu Nina menatapnya dengan lembut. "Ada apa, Abrian?"

Abrian menunjukkan foto-foto itu. "I-Ini adalah catatan Morzak. Ia sedang merencanakan sesuatu yang mengerikan."

Bu Nina memeriksa foto-foto itu dan terkejut. "Abrian, apa maksudmu? Apa ini?!"

"Saya tidak berbohong, Bu. Kakak saya, dia psikopat. Dia ingin melenyapkan orang-orang yang mengancam posisinya di sekolah," jawab Abrian, "Bukti-bukti ini, saya mohon, Bu, percayalah pada saya."

Bu Nina terdiam sejenak, lalu ia menatap Abrian dengan mata berkaca-kaca. "Saya percaya padamu, Abrian. Kita akan melaporkan ini ke polisi."

Morzak akhirnya ditangkap. Berita itu tersebar dengan cepat. Ayah dan Ibunya tidak percaya. Mereka merasa hancur. Abimana, Ayahnya, menatap Abrian dengan marah.

"Apa yang kau lakukan?!" bentak Abimana. "Kau menjebak kakakmu! Kau iri, kan? Kau iri karena dia lebih baik darimu!"

Helina, Ibunya, hanya bisa menangis. "Abrian, mengapa kau tega melakukan ini pada kakakmu sendiri?"

Abrian mencoba menjelaskan. "Aku tidak menjebaknya, Ayah. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Ayah, dia ingin melenyapkan orang-orang. Dia bahkan membuat rencana jahat."

"ABRIAN!" teriak Abimana. "Kau adalah aib bagi keluarga ini! Morzak, dia tidak akan melakukan hal seperti itu! Dia adalah anak terbaik yang kami miliki! Kau yang sakit! Kau sakit, ABRIAN!"

Abrian merasa sakit. Ia tidak menyangka keluarganya akan menganggapnya sebagai musuh. Ia tidak menyesal telah melaporkan Morzak. Ia telah melakukan hal yang benar. Ia memang kehilangan keluarganya, tetapi ia berhasil menemukan jati dirinya.

Abrian tidak lagi merasa seperti bayangan yang tak pernah dilihat. Ia akan menjadi dirinya sendiri tanpa bayang-bayang Morzak.

_Tamat_


Other Stories
Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Kabinet Boneka

Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...

Konselor

Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Download Titik & Koma