Ruang Hampa
Lampu-lampu panggung menyorot dengan gemerlap keemasan. Musik orkestra bergema di aula megah malam itu, tempat berlangsungnya Festival Film Nasional. Genta Aryakana(37) berdiri tegak di belakang panggung, jas hitamnya berkilau sempurna, wajahnya tersenyum tipis meski dada terasa dihantam detak jantung yang terlalu cepat. Nama lengkapnya baru saja dipanggil: Sutradara Pendatang Baru Terbaik.
Tepuk tangan riuh menggema ketika ia melangkah naik. Kamera televisi menyorot setiap gerakannya, mengabadikan aura seorang bintang yang seolah tak pernah mengenal kata gagal. Piala perunggu dengan ukiran elegan itu diserahkan kepadanya. Seseorang dari barisan penonton berseru, “Genta…” disambut tawa kecil dan sorakan lainnya.
“Terima kasih, untuk semua kru, produser, rekan aktor, dan tentu saja, istriku, Sarah yang sejak dulu menjadi teman hidup sekaligus sumber inspirasiku.”
Sorot kamera berpindah ke arah Sarah yang duduk di barisan depan. Gaun putih sederhana membuatnya tampak anggun. Senyumannya menawan, penuh ketenangan, seolah memang ia adalah istri idaman seperti yang selalu dipuja media.
Usai acara, ruang belakang panggung dipenuhi aktor dan aktris yang masih tenggelam dalam euforia kemenangan. Makanan dan minuman sebagai perayaan denan tawa yang menggema. Seorang aktor senior, Raka, menepuk bahu Genta sambil berkata, “Luar biasa, Gen. Jarang ada orang yang baru menyutradarai langsung bisa bawa pulang piala. Kau benar-benar fenomenal.”
Genta tersenyum, mengangguk rendah. “Aku hanya beruntung dikelilingi tim yang hebat.”
“Ah, jangan merendah begitu. Semua orang tahu filmmu bukan sekadar teknis, tapi juga punya jiwa. Itu nggak bisa diajarkan.” Aktor muda bernama Adra, yang filmnya juga masuk nominasi, ikut menimpali. “Jujur, aku iri. Hidupmu sempurna: karier melesat, istri cantik, rumah megah… apa lagi yang kurang?”
Genta terkekeh, meski hatinya justru perih mendengar kata sempurna.
Kerumunan wartawan menunggu di luar gedung. Begitu Genta keluar ditemani Sarah, blitz kamera berkilatan. Mikrofon-mikrofon segera terjulur.
“Genta! Apa komentar Anda setelah meraih penghargaan ini?”
“Apakah benar film berikutnya sudah disiapkan?”
“Bagaimana rasanya menjadi aktor sekaligus sutradara termuda yang menembus box office?”
Pertanyaan-pertanyaan itu masih mudah dijawab. Genta sudah terbiasa menampilkan wajah ramah di depan publik. Namun, di tengah kerumunan, seorang wartawan dengan suara lantang mengajukan pertanyaan berbeda.
“Genta, bagaimana tanggapan Anda soal foto-foto lama yang beredar? Katanya dulu Anda pernah jadi pelayan kafe, bahkan berjualan ayam potong di pasar, juga pernah menjadi kurir. Benarkah itu cerita Anda?”
Suasana sontak riuh. Mikrofon semakin mendekat. Blitz kamera bertubi-tubi menyorot wajahnya. Sarah menoleh kaget, matanya mencari jawaban di wajah suaminya.
Genta menegang sepersekian detik, lalu tersenyum kaku. “Itu jelas manipulasi digital. Di zaman sekarang, siapa pun bisa membuat foto seolah nyata hanya dengan teknologi AI. Saya tidak pernah mengalami hal-hal yang dituduhkan itu.”
Wartawan lain menyambar cepat, “Jadi Anda menyangkal kalau pernah bekerja di kafe atau pasar?”
“Betul,” jawab Genta dengan nada mantap, meski di dalam dadanya rasa muak mendesak keluar. “Itu semua hoaks.”
Sarah menunduk, menahan sesuatu di matanya. Wartawan terus berteriak, namun Genta menggiring istrinya menuju mobil. Ia menutup pintu dengan keras, meninggalkan kerumunan yang masih berisik di luar.
Di dalam mobil, hening menyelimuti. Hanya suara mesin yang terdengar. Sarah menatap keluar jendela, sementara Genta bersandar dengan napas berat. Amarahnya belum mereda.
“Kopi,” katanya pelan, tapi terdengar seperti perintah. “Buatkan aku kopi begitu sampai rumah.”
Sarah menoleh, alisnya terangkat. “Gen, jam sudah lewat tengah malam. Kita baru saja pulang dari acara. Bisa tidak besok saja?”
Genta menatap tajam. “Kamu bahkan tidak bisa melakukan hal sederhana itu? Apa gunanya aku menikahimu kalau untuk segelas kopi saja kamu keberatan?”
“Gen…” suara Sarah bergetar, menahan sakit hati.
“Kamu tahu kan betapa berat hariku? Aku menghadapi wartawan, gosip murahan, dan apa yang kulihat? Kamu diam saja, tidak membelaku sedikit pun! Kamu cuma duduk manis seolah bukan bagian dari hidupku!” Bentakan Genta makin keras. “Bahkan untuk urusan anak pun aku yang harus selalu bersabar. Apa kamu tidak merasa gagal sebagai istri?”
Kata-kata itu meledak seperti bom. Sarah menatapnya, matanya kini berkaca-kaca. “Kalau kamu tidak bisa bersabar, aku sudah dari dulu bilang tinggalkan saja aku. Lagipula kalaupun kamu mengakuinya apa salahnya, kenapa kamu malah malu dan berbohong?”
Keheningan sesaat terasa membekukan udara. Ego Genta menolak tunduk. Ia membalas dengan suara dingin, “Loh, kamu ga paham apa- apa sar. Oke. Kamu akan rugi. Tanpa aku, kamu bukan siapa-siapa.”
Air mata Sarah jatuh, tapi ia menahan suaranya tetap tegas. “Mentang-mentang semua mimpimu sudah terwujud, kamu pikir boleh memperlakukan orang seenaknya? Star syndrome!”
Perkataan itu menampar lebih keras daripada sorotan kamera mana pun. Sarah meraih tasnya, membuka pintu, lalu melangkah pergi tanpa menoleh.
Malam itu, rumah megah mereka sunyi. Genta duduk sendirian di ruang tamu, lampu kristal memantulkan bayangan wajahnya yang muram. Piala kemenangan di meja seakan mengejeknya. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Kenapa aku mengatakan itu?
Ia mencoba mencari Sarah keesokan harinya. Ke rumah sahabatnya, ke kafe langganan mereka, bahkan ke tempat kerja lama Sarah dulu. Tidak ada tanda-tanda. Hari berganti, pencarian tak membuahkan hasil.
Hingga suatu sore, ia berdiri di garasi, menatap deretan mobil mewahnya. Tangannya menyentuh kap mobil sport merah yang biasa ia pamerkan ke media. Tatapannya kosong.
“Apa semua ini yang membuatku lupa? Apa kemewahan ini yang membutakan mataku terhadap yang benar-benar penting?” gumamnya lirih.
Setelah merenung ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di ujung Jawa Timur. Bukan dengan mobil mewah, bukan dengan segala atribut kebintangannya. Ia memilih bus antar kota, menyamar dengan hoodie dan masker, menyentuh kesederhanaan yang mungkin dulu pernah jadi bagian hidupnya.
Di dalam bus, tubuhnya terayun mengikuti jalanan panjang. Lampu jalan berganti satu per satu, meninggalkan ibukota yang penuh gemerlap. Genta bersandar ke jendela, pikirannya berkelana.
“Sudah lama aku merasa kosong,” bisiknya sendiri. “Kesuksesan yang kuraih selalu terasa kurang. Tidak pernah cukup. Bahkan untuk mengakui aku siapa, aku malu. Apa aku benar-benar star syndrome?”
Tepuk tangan riuh menggema ketika ia melangkah naik. Kamera televisi menyorot setiap gerakannya, mengabadikan aura seorang bintang yang seolah tak pernah mengenal kata gagal. Piala perunggu dengan ukiran elegan itu diserahkan kepadanya. Seseorang dari barisan penonton berseru, “Genta…” disambut tawa kecil dan sorakan lainnya.
“Terima kasih, untuk semua kru, produser, rekan aktor, dan tentu saja, istriku, Sarah yang sejak dulu menjadi teman hidup sekaligus sumber inspirasiku.”
Sorot kamera berpindah ke arah Sarah yang duduk di barisan depan. Gaun putih sederhana membuatnya tampak anggun. Senyumannya menawan, penuh ketenangan, seolah memang ia adalah istri idaman seperti yang selalu dipuja media.
Usai acara, ruang belakang panggung dipenuhi aktor dan aktris yang masih tenggelam dalam euforia kemenangan. Makanan dan minuman sebagai perayaan denan tawa yang menggema. Seorang aktor senior, Raka, menepuk bahu Genta sambil berkata, “Luar biasa, Gen. Jarang ada orang yang baru menyutradarai langsung bisa bawa pulang piala. Kau benar-benar fenomenal.”
Genta tersenyum, mengangguk rendah. “Aku hanya beruntung dikelilingi tim yang hebat.”
“Ah, jangan merendah begitu. Semua orang tahu filmmu bukan sekadar teknis, tapi juga punya jiwa. Itu nggak bisa diajarkan.” Aktor muda bernama Adra, yang filmnya juga masuk nominasi, ikut menimpali. “Jujur, aku iri. Hidupmu sempurna: karier melesat, istri cantik, rumah megah… apa lagi yang kurang?”
Genta terkekeh, meski hatinya justru perih mendengar kata sempurna.
Kerumunan wartawan menunggu di luar gedung. Begitu Genta keluar ditemani Sarah, blitz kamera berkilatan. Mikrofon-mikrofon segera terjulur.
“Genta! Apa komentar Anda setelah meraih penghargaan ini?”
“Apakah benar film berikutnya sudah disiapkan?”
“Bagaimana rasanya menjadi aktor sekaligus sutradara termuda yang menembus box office?”
Pertanyaan-pertanyaan itu masih mudah dijawab. Genta sudah terbiasa menampilkan wajah ramah di depan publik. Namun, di tengah kerumunan, seorang wartawan dengan suara lantang mengajukan pertanyaan berbeda.
“Genta, bagaimana tanggapan Anda soal foto-foto lama yang beredar? Katanya dulu Anda pernah jadi pelayan kafe, bahkan berjualan ayam potong di pasar, juga pernah menjadi kurir. Benarkah itu cerita Anda?”
Suasana sontak riuh. Mikrofon semakin mendekat. Blitz kamera bertubi-tubi menyorot wajahnya. Sarah menoleh kaget, matanya mencari jawaban di wajah suaminya.
Genta menegang sepersekian detik, lalu tersenyum kaku. “Itu jelas manipulasi digital. Di zaman sekarang, siapa pun bisa membuat foto seolah nyata hanya dengan teknologi AI. Saya tidak pernah mengalami hal-hal yang dituduhkan itu.”
Wartawan lain menyambar cepat, “Jadi Anda menyangkal kalau pernah bekerja di kafe atau pasar?”
“Betul,” jawab Genta dengan nada mantap, meski di dalam dadanya rasa muak mendesak keluar. “Itu semua hoaks.”
Sarah menunduk, menahan sesuatu di matanya. Wartawan terus berteriak, namun Genta menggiring istrinya menuju mobil. Ia menutup pintu dengan keras, meninggalkan kerumunan yang masih berisik di luar.
Di dalam mobil, hening menyelimuti. Hanya suara mesin yang terdengar. Sarah menatap keluar jendela, sementara Genta bersandar dengan napas berat. Amarahnya belum mereda.
“Kopi,” katanya pelan, tapi terdengar seperti perintah. “Buatkan aku kopi begitu sampai rumah.”
Sarah menoleh, alisnya terangkat. “Gen, jam sudah lewat tengah malam. Kita baru saja pulang dari acara. Bisa tidak besok saja?”
Genta menatap tajam. “Kamu bahkan tidak bisa melakukan hal sederhana itu? Apa gunanya aku menikahimu kalau untuk segelas kopi saja kamu keberatan?”
“Gen…” suara Sarah bergetar, menahan sakit hati.
“Kamu tahu kan betapa berat hariku? Aku menghadapi wartawan, gosip murahan, dan apa yang kulihat? Kamu diam saja, tidak membelaku sedikit pun! Kamu cuma duduk manis seolah bukan bagian dari hidupku!” Bentakan Genta makin keras. “Bahkan untuk urusan anak pun aku yang harus selalu bersabar. Apa kamu tidak merasa gagal sebagai istri?”
Kata-kata itu meledak seperti bom. Sarah menatapnya, matanya kini berkaca-kaca. “Kalau kamu tidak bisa bersabar, aku sudah dari dulu bilang tinggalkan saja aku. Lagipula kalaupun kamu mengakuinya apa salahnya, kenapa kamu malah malu dan berbohong?”
Keheningan sesaat terasa membekukan udara. Ego Genta menolak tunduk. Ia membalas dengan suara dingin, “Loh, kamu ga paham apa- apa sar. Oke. Kamu akan rugi. Tanpa aku, kamu bukan siapa-siapa.”
Air mata Sarah jatuh, tapi ia menahan suaranya tetap tegas. “Mentang-mentang semua mimpimu sudah terwujud, kamu pikir boleh memperlakukan orang seenaknya? Star syndrome!”
Perkataan itu menampar lebih keras daripada sorotan kamera mana pun. Sarah meraih tasnya, membuka pintu, lalu melangkah pergi tanpa menoleh.
Malam itu, rumah megah mereka sunyi. Genta duduk sendirian di ruang tamu, lampu kristal memantulkan bayangan wajahnya yang muram. Piala kemenangan di meja seakan mengejeknya. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Kenapa aku mengatakan itu?
Ia mencoba mencari Sarah keesokan harinya. Ke rumah sahabatnya, ke kafe langganan mereka, bahkan ke tempat kerja lama Sarah dulu. Tidak ada tanda-tanda. Hari berganti, pencarian tak membuahkan hasil.
Hingga suatu sore, ia berdiri di garasi, menatap deretan mobil mewahnya. Tangannya menyentuh kap mobil sport merah yang biasa ia pamerkan ke media. Tatapannya kosong.
“Apa semua ini yang membuatku lupa? Apa kemewahan ini yang membutakan mataku terhadap yang benar-benar penting?” gumamnya lirih.
Setelah merenung ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di ujung Jawa Timur. Bukan dengan mobil mewah, bukan dengan segala atribut kebintangannya. Ia memilih bus antar kota, menyamar dengan hoodie dan masker, menyentuh kesederhanaan yang mungkin dulu pernah jadi bagian hidupnya.
Di dalam bus, tubuhnya terayun mengikuti jalanan panjang. Lampu jalan berganti satu per satu, meninggalkan ibukota yang penuh gemerlap. Genta bersandar ke jendela, pikirannya berkelana.
“Sudah lama aku merasa kosong,” bisiknya sendiri. “Kesuksesan yang kuraih selalu terasa kurang. Tidak pernah cukup. Bahkan untuk mengakui aku siapa, aku malu. Apa aku benar-benar star syndrome?”
Other Stories
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...