Sang Maestro

Reads
299
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Queena Adhelia

Bab 5. Kekhawatiran Orang Tua

Hingga akhirnya libur semester pun tiba. Maya sudah menduga jika nilai dia akan sangat hancur pula. Dia melihat beberapa mata kuliah dia harus mengulangnya kembali.

“Maya kenapa nilaimu hancur seperti ini nak?” Kata ibu Maya yang khawatir.
“Iya ma, aku nggak tau lagi ma.” Kata Maya yang putus asa.
“Nak kamu baik-baik saja?” Kata ibu.
“Jika sudah selesai aku kembali ke kamar lagi.” Kata Maya yang meninggalkan ibunya dan hampir menangis.

Ibunya merasa sangat sedih melihat anaknya yang kesakitan seperti itu. Bingung harus melakukan apa agar anaknya kembali ceria seperti sebelumnya. Ibunya tidak memarahi apa yang dilakukan oleh anaknya. Semua yang terjadi sebelumnya sudah terjadi. Tetapi Maya tidak mau membuka dirinya. Hal ini tidak seperti biasanya. Ibunya harus memutar otak agar anaknya bisa kembali ceria. Ibunya lega jika kejadian itu tidak dipublikasikan ke media sosial. Jadi masalah ini bisa diselesaikan dengan baik. Tetapi ibunya tidak tahu apa yang terjadi setelahnya?

Ibunya pun menelepon dan menceritakan apa yang sedang terjadi saat ini kepada ayahnya. Sang ayah pun langsung kembali setelah mendengar semua penjelasan ibunya. Bagi sang ayah ini adalah masalah yang serius. Dia yakin jika anaknya butuh pertolongan. Ayahnya yakin dialah yang paling tahu apa yang Maya inginkan. Meninggalkan di tengah pekerjaannya dan kembali ke negaranya. Selama perjalanan ayahnya sangat khawatir dengan Maya. Itulah seorang ayah yang siap menjadi pelindung bagi anaknya.

Maya memandang kanvasnya yang masih kosong itu. Debu-debu sudah mulai merayap dan menempel di kanvas. Setebal itulah tembok penghalang yang ada di depannya. Tembok yang tak terlihat itu mendorong Maya, seakan mengatakan jika kanvas itu tidak memerlukan maestro yang gagal. Maya yang luar biasa sedih itu melihat kanvas yang mulai terbengkalai. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Akibat berhentinya Maya dalam membuat karya. Banyak orang-orang mulai bertanya kemana perginya sang Maya. Merasa ada yang janggal dengan hiatusnya seorang Maya yang berbakat itu. Tidak biasanya Maya hiatus hingga berbulan-bulan lamanya. Beberapa video penjelasan tentang kondisi Maya pun mulai bermunculan. Banyak orang mulai mencari informasi sedetail mungkin. Tidak mungkin seseorang yang terkenal itu tiba-tiba menghilang begitu saja.

Maya pun juga mengetahui keadaan di media sosial dia. Tetapi dia memilih untuk tetap diam terlebih dahulu. Dia kewalahan bertemu banyak orang dan membalas pesan di media sosialnya. Dia hanya bisa membaca pesan-pesannya dan merenungkannya. Meskipun begitu dia tahu jika ini tidak akan menyelesaikan masalahnya. Di waktu liburan ini dia sedikit lebih tenang dengan tidak bertemunya banyak orang.

Dua hari kemudian, sang ayah sampai di rumah. Disambut oleh ibunya yang selalu mencemaskan Maya. Ibunya pun mengarahkan ayahnya untuk pergi ke kamar dia. Selama beberapa hari ini ditinggal oleh ayahnya, Maya sudah berubah banyak. Benar-benar kejam sang pembully itu. Anaknya yang ceria itu berubah menjadi sosok yang suram. Bahkan ketika ayahnya melihat kondisi kamarnya yang sangat amburadul, dia tidak tahu harus berkata apalagi. Ayahnya yang biasanya melihat Maya dengan ceria melukis di kanvas itu, sekarang berubah suasana. Kanvas yang kosong dan mulai sedikit berdebu itu lalu Maya yang sedang duduk termenung. Melihat itu sakit hati sang ayah.

“Nak… ayah sudah pulang.” Kata ayah dengan lembut.
“Ayah… aku harus bagaimana…?” Kata maya yang putus asa dan berusaha tidak menangis.
“Astaga anakku… sini nak, papa sudah datang.” Kata ayah sambil membuka tangannya.
“Papa!!” Kata Maya yang mau menangis dan menghampiri ayahnya sambil memeluk nya.

Meskipun kejadiannya sudah lama. Tetapi ketakutan itu pasti juga ada. Ayahnya ingin menghukum sang pembully, tetapi apakah itu yang diinginkan anaknya? Apa yang harus dilakukan ayahnya?
Dia tau sosok sang pelaku. Dia bisa melindungi anaknya. Tetapi menurutnya yang paling penting adalah bagaimana sang anak akan tumbuh menjadi lebih kuat dan dewasa. Ayahnya pun mengajak Maya ke taman. Mereka mencoba untuk menggambar bersama-sama. Ayahnya yakin jika ini bisa membantunya.




Other Stories
Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Awan Favorit Mamah

Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...

Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

Nona Manis ( Halusinada )

Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...

Free Mind

KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Download Titik & Koma