Matahera
Waktu berlari lebih cepat dari yang Mahera kira.
Tahun kedua di William National Academy dilewati dengan gelak tawa, ide-ide gila, dan sorak sorai Sabtu Kreatif yang tak pernah membosankan. Mahera selalu punya cara untuk mengubah hal sepele menjadi pertunjukan megah. Dari panggung kelas sampai aula sekolah, dari ide sosial sederhana sampai gebrakan yang membuat semua mata memandang.
Mr. William sendiri sering datang diam-diam hanya untuk melihat ulah gadis nyentrik itu. Mahera sudah menjadi semacam simbol “kebebasan” di sekolah yang terkenal ketat ini.
Tapi waktu tak pernah berhenti.
Kini, mereka sudah di tahun ketiga.
Mahesa berdiri di ruang pameran seni, tempat karyanya terpajang di antara catatan kecil yang ditulis para pengunjung. Dari luar, ia terlihat tenang. Tangannya berlumur cat, matanya berkilat penuh fokus. Namun, siapa pun tahu: ada sesuatu yang membuat karya-karya itu hidup.
Prosopagnosia—kutukan yang dulu membuat Mahesa menarik diri—kini justru menjadi pesona. Orang-orang penasaran: bagaimana seorang yang tak bisa mengenali wajah bisa melukis dunia dengan begitu detail, dengan warna-warna yang terasa berbicara?
Lukisannya pernah difoto dan diunggah online. Followers datang. Undangan workshop melukis pun berdatangan. Bahkan kabar terbaru, Mahesa diterima seleksi awal untuk beasiswa seni di Jepang.
“Lo bisa jauh dari gue?” goda Mahera saat makan siang di kantin dengan menu andalan mereka—mie ayam.
Mahesa menoleh sebentar. Senyumnya samar, tenang. Dengan gerakan ringan, ia merapikan rambut Mahera yang hampir jatuh ke mangkuk makanan di meja kantin.
“Yang gak bisa jauh itu lo, Mahera. Lo bakalam bosen gak ada gue. Gue mah biasa aja.”
Mahera mendengus. “Bosen? Gue bisa cari cowok lain, gampang.”
Mahesa hanya menggeleng, masih tenang.
“Gak ada cowok sespesial gue.”
Kalimat itu meluncur tanpa drama, tanpa wajah memerah, tanpa canggung. Justru itulah yang membuat Mahera terdiam sejenak.
“Dih, narsis abis.” balasnya ketus sambil menyuap mie ayam.
Mahesa tersenyum tipis. Hubungan mereka memang begitu—tak pernah diberi nama, tak pernah diberi label. Hanya ada tatapan yang saling mengenali, canda yang saling mengisi, dan keheningan yang tak pernah canggung.
Namun, semakin dekat pada kelulusan, semakin banyak pertanyaan menekan.
Mahera sering termenung di kamar yang sederhana. Poster Anna Mariana masih menempel di dinding, senyum idolanya seakan menatap balik, seakan berkata: “Lalu, apa langkah selanjutnya?”
Saat itu, Mahesa juga membuka topik di kantin.
“Menurut gue, lo harus hubungi lagi agensi idola lo itu. Lo kan dulu bilang mau fokus sekolah sampe lulus dulu. Nah, sekarang udah mau lulus. Waktunya coba lagi.”
Saat itu Mahera terdiam, menunduk pada mie ayamnya.
“Udah basi gak sih? Kayaknya mereka juga udah lupa sama gue. Gue ikut lo aja ke Jepang aja lah.”
Mahesa meletakkan sumpitnya, menatap lekat.
“Mahera, inget gak… waktu kita liat sunset?”
Ingatan itu menampar Mahera. Langit jingga, angin sore, dan kata-kata polosnya sendiri: “Gue pengen jadi cahaya buat orang lain.”
Mahesa mengunyah pelan lalu bertanya santai, seakan tahu ada sesuatu yang ditutup-tutupi.
“Tell me. Lo lagi sembunyiin apa?”
Mahera menghela nafas panjang. “You got it,” gumamnya pasrah.
Ia lalu membuka suara, lirih tapi jelas.
“Agensi Anna Mariana itu agensi yang Wendy ikutin. Dia masih trainee sampai sekarang. Gue gak tau dia bakal debut apa enggak. Gue… gak mau berurusan sama dia.”
“Wendy?” alis Mahesa terangkat.
“Iya. Adik gue.” Mahera memalingkan wajah. “Yang dulu bikin hate comment waktu Sabtu Kreatif viral. Followers gue nyerbu sampe dia tutup akun. Akhirnya dia klarifikasi di akun agensinya.”
Mahesa terdiam, mencoba menyatukan potongan masa lalu itu.
“Oh, gue inget.”
Mahera menyeringai hambar. “Makanya gue mundur. Gue juga capek dibilang bakal nerusin Yayasan William. Lah, gue siapanya Mr. William? Cuman pernah ngobrol bentar doang, langsung digosipin waris yayasan. Orang gila banget.”
Mahesa mengangguk. “Lo emang gak pernah mikirin duit, Mahera. Gue ngerti. Tapi mimpi lo jadi aktris… itu yang gue sayangin. Katanya lo pengen masuk Box Office? Pengen main film laga?”
Mahera terdiam. Pertanyaan itu terasa seperti tamparan. Ia memang masih punya mimpi itu. Tapi semua gosip, semua beban, membuatnya seperti mayat berjalan.
Hidup Mahera kini sederhana. Rumah besarnya sudah dijual, uangnya dikembalikan me orang tuanya. Ia tinggal di rumah petak dengan kamar kecil: ranjang di sudut, meja lipat, poster idolanya, dan syal yang tergantung di kursi. Nek Maria selalu mengajarkan kesederhanaan, dan Mahera mencoba setia pada warisan itu.
Tapi entah kenapa, dunia tak berhenti menaruh uang dan sorotan padanya. Yayasan William makin besar, orang-orang menyebut namanya sebagai penerus. Uang itu terus mengalir, padahal Mahera hanya ingin diam.
Di malam musim dingin, ia menatap langit dari jendela kamarnya. “Gue pengen jadi anak SMA selamanya. Gak mau jadi dewasa. Gak mau berjuang di dunia kejam ini.”
Alarm di ponselnya berbunyi. Jam 7 malam saatnya makan malam. Perutnya kosong. Ia menarik jaket bulu, melilitkan syal, lalu melangkah keluar mencari makan.
Di jalan, matanya menangkap cekcok: seorang nenek tua didorong oleh pria berotot dengan mobil sport.
Mahera spontan menghampiri.
“Masih bisa berdiri, Bu?” tanyanya lembut pada sang nenek.
Setelah memastikan nenek itu aman, ia menatap tajam si pria.
“Lo kira keren dorong nenek-nenek gini?”
“Lo siapa ikut campur urusan gue?” bentak pria itu.
“Gue? Gue tukang ikut campur. Kenapa, ga terima? Maju sini.”
Pria itu mendengus. “Bocah kecil kayak lo bisa apa?”
Mahera tersenyum miring.
“Bisa gini.”
Bugh! Tendangan keras mendarat di perut pria itu. Ia terhuyung jatuh. Mahera tertawa.
“Impas.”
Tapi tiba-tiba, lampu kamera menyala. Kru televisi bermunculan. Mikrofon diarahkan padanya.
“Selamat, orang baik! Kita lagi bikin social experiment! Dan kamu keren banget, bela nenek-nenek sampai berani berantem!” ujar seorang presenter wanita dengan suara lantang.
Mahera terbelalak. Ia mengenali suara itu.
Anna Mariana.
Idolanya sendiri, berdiri di hadapannya.
“Bisa buka hoodie-nya? Mari kita lihat wajah pahlawan malam ini!” seru Anna bersemangat.
Mahera panik. “Maaf, gue cuman mau makan.” Ia langsung kabur, menerobos kerumunan kamera.
Ia masuk ke sebuah restoran ramai. Baru merasa aman, tubuhnya malah menabrak seseorang.
“Oh, maaf,” ucap Mahesa singkat, lalu berjalan menuju meja keluarganya.
Lah? Mahesa? Dia gak kenal gue karena hoodie an begini? tebaknya dalam hati. Setelah mengikuti Mahesa, ia tahu bahwa Mahesa sedang makan malam bersama keluarganya.
“Dibungkus aja, Mbak. Atas nama Mahera,” ucapnya cepat, menyerahkan uang seadanya. Ia memilih duduk sebentar di sudut, menunggu pesanannya.
Mahesa. Bersama ayah, ibunya.
Mahera terperangah. Awalnya ia hendak menunduk, pura-pura tak melihat. Tapi telinga dan hatinya menolak.
“Kamu anak ibu satu-satunya. Setelah ini kamu kuliah di Jepang.” Ucap ibunya dengan nada setengah bangga, setengah menekan.
Mahesa meletakkan sendoknya pelan. Suaranya tenang, tapi terasa ada getar.
“Memang tidak bisa menikah dulu baru ke sana? Bapak takut kamu tidak menikah di sana.”
“Sudahlah, Pak, Bu. Mahesa udah besar. Mahesa pasti nikah.”
Namun, raut wajah sang ibu langsung berubah. Sorot matanya tajam.
“Kita ini dari kampung, Mahesa. Bapak dan ibu mati-matian sekolahin kamu di sekolah mahal itu. Udah jadi orang kok kamu malah ngelawan?”
Mahera yang mendengar percakapan itu jadi serba salah. Ingin pergi, tapi makanannya belum siap. Seakan memang takdirnya untuk tetap duduk di sana, ia menunduk sambil tetap memasang telinga.
“Dulu bapak bilang gak usah lanjut SMA, nikah saja sama anak kades kamu gak mau. Utang bapak ke kades kan bisa lunas saat itu.”
Mahesa terdiam, wajahnya menegang. Tak ada kata yang keluar. Dan justru diam itulah yang membuat Mahera mengerti: Mahesa bukan tidak mau melawan, tapi tak bisa. Ia terlalu lembut pada orang-orang terdekatnya. Prosopagnosia saja sudah kejam karena membuatnya tidak bisa mengenali mereka, jadi bagaimana mungkin ia tega menyakiti lewat penolakan?
“Iya, Pak, Bu. Tenang saja. Nanti kalau sudah di Jepang, Mahesa—”
Belum sempat kalimat itu selesai, ibunya memotong cepat.
“Udahlah. Ibu tau kamu akan ngeyel gini. Makanya ibu udah cariin cewek yang siap dinikahi kamu. Kamu bawa aja ke Jepang.”
Mahesa menunduk makin dalam.
“Mau kamu nikah karena hamil duluan atau apapun, terserah. Pokoknya setelah lulus SMA ini kamu nikah, baru boleh ke Jepang.” Tegas bapaknya, seolah kata itu hukum yang tak bisa ditawar.
Suasana makan malam yang seharusnya hangat justru terasa seperti ruang interogasi. Mahera menahan napas, hatinya tercekat. Jadi, Mahesa pun juga terpenjara dengan cara lain. Ternyata dia tak lebih beruntung dari dirinya.
“Ndok, cah ayu, sini.” suara ibu Mahesa memanggil, melengking penuh bangga.
Seorang gadis dengan senyum manis duduk di samping Mahesa. Senyumnya ramah, lembut, nyaris sempurna. Segala yang tak dimiliki Mahera terpampang di wajah itu.
“Ia Ayu. Anak yang kalem, sesuai selera ibuk. Dia juga pintar masak, cantik. Yakin seratus persen keturunannya bakal cantik dan ganteng-ganteng,” ujar ibunya, seolah menjual calon menantu di pasar terbuka.
Mahesa tak lagi bisa menahan muaknya. Tangannya meremas pahanya sendiri di bawah meja, jemari gemetar mencakar kulit. Nafas panjang ia hembuskan, lalu menatap singkat Ayu.
Dengan suara yang tertahan, lirih tapi mematikan, ia bertanya:
“Ayu, mau ikut mas ke Jepang?”
Seperti dunia runtuh. Hatinya diremuk halus. Semua kenangan tiga tahun bersama Mahesa mendadak terasa rapuh, seperti adegan film yang diputar ulang di kepalanya lalu retak berkeping.
Air matanya jatuh, tanpa bisa ditahan.
“Mahera, take away,” panggil pelayan.
Mahera berdiri, menyambar pesanannya, dan pergi dengan langkah gemetar.
Mahesa menoleh. Nama itu menggema. Ia mencari-cari, keluar restoran, tapi yang tersisa hanya kerumunan kru televisi di jalan.
Sesampainya di rumah yang masih dalam status ngontrak, Mahesa panik membuka ponselnya. Semua kontak Mahera—lenyap. Akun-akunnya hilang. Foto, komentar, chat—kosong. Seakan Mahera tak pernah ada.
Malam itu, Mahesa duduk di ranjangnya, memegang ponsel yang sunyi.
“Mahera… ada apa?” bisiknya, suaranya pecah.
Di sisi lain, Mahera menutup wajahnya dengan kedua tangan di kamar kecilnya. Ia merasa untuk pertama kali, cahaya yang ia banggakan sendiri mulai meredup.
Pagi itu,
Sekolah hari itu benar-benar heboh. Suasana begitu riuh, seolah semua anak sedang membicarakan hal yang sama. Mahesa datang dengan langkah terburu-buru, nafasnya memburu. Dari koridor panjang yang dipenuhi siswa-siswi, ia langsung bergegas masuk ke kelasnya. Namun, pandangannya menyapu tiap bangku tanpa menemukan sosok yang ia cari.
Mahera tidak ada.
Jantung Mahesa berdetak semakin kencang. Ia keluar lagi, menelusuri ruang demi ruang dengan langkah gelisah—ruang seni, aula, ruang musik, bahkan setiap sudut kelas tahun ketiga yang biasanya ramai. Namun hasilnya nihil. Tubuhnya berat dan kepalanya penuh beban.
Saat akhirnya ia kembali ke kelas, beberapa teman yang bahkan wajahnya tidak ia kenali karena pikirannya kalut, menatapnya dengan sorot penasaran. Salah satu dari mereka berseru keras, seakan membawa kabar besar.
“Gila! Mahera, coy!”
Sesaat Mahesa terdiam, tiba-tiba matanya mengerjap. Mendengar nama itu saja sudah cukup membuat tubuhnya berhenti di tempat.
“Dia semalem masuk reality show penyanyi Anna Mariana! Coba liat, deh!” sambung temannya sambil menunjukkan layar ponsel.
Dan di sana—Mahesa melihatnya jelas. Sosok Mahera, terekam kamera: menolong seorang nenek tua dengan berani, menendang seorang pria berotot yang mencoba berbuat kasar, lalu di wawancara tak jauh dari restoran tempat ia makan malam kemarin. Pakaian Mahera di video itu sama persis dengan orang yang ditabraknya waktu itu.
Lo… denger semuanya? batin Mahesa membatin, dadanya terasa sesak. Suaranya tercekat, tak mampu berkomentar.
Teman-temannya berisik menambahkan kabar. Mahera resmi menjadi trainee agensi Anna Mariana mulai hari ini. Semua merasa kehilangan karena Mahera pergi tanpa sempat berpamitan. Akun-akun media sosialnya pun mendadak hilang—kebijakan agensi, katanya. Mereka hanya bisa berharap suatu hari melihat Mahera di layar kaca sebagai artis.
Mahesa terduduk. Ia merasa kosong. Untuk apa selama ini ia mengikuti Mahera karena keberaniannya, jika keberanian itu tak pernah bisa ia terapkan pada dirinya sendiri? Dengan prosopagnosia yang ia derita, dunia tanpa Mahera seakan runtuh. Bukan karena cahaya itu meredup, tapi karena cahaya itu hilang tiba-tiba, meninggalkan kegelapan.
1 Tahun Berlalu…
Hanya butuh setahun. Dalam satu tahun, Mahera benar-benar menjelma menjadi cahaya semua orang. Kepopulerannya menanjak cepat, bahkan setara dengan Anna Mariana meski karirnya dimulai dari dunia akting. Tubuhnya yang lentur dan kuat cocok membintangi film laga, hingga namanya terpampang di Box Office.
Tak hanya aktris, ia juga dikenal sebagai presenter, aktivis, bahkan figur publik yang piawai berbicara. Backstory kehidupannya yang penuh drama menjadi inspirasi. Followers-nya mencapai 10 juta hanya dalam setahun.
Agensinya mengangkat Mahera sebagai bintang utama. Yayasan William pun mendukung penuh wanita yang kini dikenal dengan nama panggung Matahera—permainan kata dari “matahari” dan namanya sendiri. Sebuah simbol: cahaya yang mampu membakar sekaligus menghangatkan.
Di sebuah podcast, Mahera menjadi trending berkat sikapnya yang lugas.
“Kalau ada komentar negatif, lo jawab apa lo biarin?” tanya host.
“Gue jawablah,” jawab Mahera tanpa pikir panjang.
“Misal, lo bukan dari keluarga kaya kok bisa jadi top artis? Jual diri ya? Lo jawab apa?”
Mahera tersenyum tipis. “Diri gue kalau dijual bisa kebeli satu komplek lo. Pantes miskin, attitude aja jelek.”
Studio meledak oleh tawa dan tepuk tangan. Statement-nya singkat, berani, dan tajam.
Komentar lain dibacakan: “Nenek lo bangga gitu liat lo?”
Mahera santai saja menjawab, “Maunya gue bikin mansion tuh kuburan nenek. Tapi dari gue lahir dia udah dimandiin gue di kaleng hotel. Jadi bingung juga gue.”
Jawabannya lugas, lucu, tapi menohok. Mahera selalu frontal di depan kamera, tapi lembut di balik layar—berbeda dari artis kebanyakan.
Namun, dibalik semua itu, tanggung jawabnya makin berat. Mr. William, pria dingin dan berwibawa yang dianggap Mahera seperti ayah sendiri, menelponnya.
“Sabtu ini kembali ke William National Academy. Ada serah terima jabatan penerus Yayasan William. Jangan telat.”
“Iyaa, Pa. Mahera sabtu ini langsung meluncur ya,” jawab Mahera patuh.
William National Academy.
Bangunan megah menjulang, lebih mirip perusahaan besar daripada sekolah. Kini akademi itu memiliki jenjang dari taman kanak-kanak hingga universitas, dengan kesempatan kerja terbuka luas bagi alumninya.
Sabtu kreatif. Semua anak sibuk menyiapkan ide-ide gila. Begitu Mahera melangkah masuk, anak-anak berlarian menghampirinya.
“Kak Mahera!” seru mereka, mengerumuninya dengan mata berbinar.
Ia menuju ruang aula—ruangan yang penuh kenangan. Dulu, ia dianggap “gadis gila” di tempat ini. Kini, si gadis gila itulah si pemilik segalanya.
Asistennya berkata acara inti diadakan di ruang seni. Mahera tertegun. Ruang seni. Kenapa harus ruangan itu? Hatinya bergetar, luka lama menyeruak. Di sanalah seseorang yang ingin ia hapus keberadaannya dulu pernah menggores jejak.
Lukisan-lukisan di dalamnya semakin banyak, sapuan kuasnya terasa familiar. Nama yang berusaha ia kubur kembali muncul di benaknya.
Mahesa.
Apa kabarnya sekarang? Sudah menikah dengan Ayu, mungkin? Punya anak? Ah, menyebalkan. Mahera menggertakkan gigi, menahan resah.
Ia duduk di kursi depan, di samping Mr. William. Kursi yang dulu pernah diduduki ibunya, Christie.
MC masuk, membuka acara. Akan ada penampilan spesial untuk menyambut Mahera. Musik lembut terdengar, pianis memainkan lagu Que Sera, Sera. Dua gadis mungil bernyanyi, dan seorang pria melukis di tengah ruangan.
Saat pria itu berbalik, dunia Mahera berhenti.
Mahesa.
Ia tersenyum padanya.
“Selamat datang, Kak Mahera!” sapa MC yang ternyata adalah Bill. “Karena kakak, aku bisa punya sepasang kaki palsu dan impian sekolah di sini.”
Mahera membelalakkan mata. Semua anak panitia acara—operator musik, proyektor, penyambut tamu—adalah sepuluh anak istimewa yang dulu pernah ia bawa sendiri. Kini mereka sudah tumbuh, punya kehidupan layak, dan berdiri di sini sebagai bukti nyata.
Air mata Mahera jatuh deras. Mina dan Moni berlari memeluknya, membuat tangisnya pecah semakin kuat. Ia menatap mereka semua dengan senyum yang dipenuhi rasa syukur.
“Terima kasih telah mempercayaiku menjadi cahaya awal kalian. Sekarang, kalianlah cahaya masa depanku,” ucap Mahera di atas panggung, sebelum memeluk anak-anak itu satu per satu.
Semua orang menangis.
Mahesa lalu berkata pelan, “Mahera… terima kasih telah menjadi matahari. Mampu membakar sekaligus menghangatkan. Kami akan selalu mendukungmu.”
Mahera menatapnya dengan air mata yang masih mengalir, namun bibirnya tersenyum.
Tiba-tiba, kesepuluh anak itu membentuk lingkaran di sekitar Mahera dan Mahesa. Mahesa berjongkok, mengeluarkan sebuah cincin.
Sorakan menggema. “Say yes! Say yes! Say yes!”
Mahera menoleh ke Mr. William, yang kini tersenyum hangat. Senyum seorang ayah yang selalu didambakan.
Mahesa lalu meminta Mahera menoleh ke belakang. Di sana, Ayu berdiri dengan senyum tulus, mengangguk dalam balutan Office Girl. Mahera menoleh lagi ke Mahesa.
Air matanya tak terbendung, ia langsung memeluk Mahesa erat dan berbisik, “Yes.”
Mahesa tertegun, lalu berteriak penuh haru, “She said yes!”
Confetti berhamburan dari langit-langit, sorak sorai mengguncang ruangan. Di tengah cahaya itu, Mahera dan Mahesa saling berpelukan, menutup kisah mereka dengan akhir yang penuh bahagia.
TAMAT.
Tahun kedua di William National Academy dilewati dengan gelak tawa, ide-ide gila, dan sorak sorai Sabtu Kreatif yang tak pernah membosankan. Mahera selalu punya cara untuk mengubah hal sepele menjadi pertunjukan megah. Dari panggung kelas sampai aula sekolah, dari ide sosial sederhana sampai gebrakan yang membuat semua mata memandang.
Mr. William sendiri sering datang diam-diam hanya untuk melihat ulah gadis nyentrik itu. Mahera sudah menjadi semacam simbol “kebebasan” di sekolah yang terkenal ketat ini.
Tapi waktu tak pernah berhenti.
Kini, mereka sudah di tahun ketiga.
Mahesa berdiri di ruang pameran seni, tempat karyanya terpajang di antara catatan kecil yang ditulis para pengunjung. Dari luar, ia terlihat tenang. Tangannya berlumur cat, matanya berkilat penuh fokus. Namun, siapa pun tahu: ada sesuatu yang membuat karya-karya itu hidup.
Prosopagnosia—kutukan yang dulu membuat Mahesa menarik diri—kini justru menjadi pesona. Orang-orang penasaran: bagaimana seorang yang tak bisa mengenali wajah bisa melukis dunia dengan begitu detail, dengan warna-warna yang terasa berbicara?
Lukisannya pernah difoto dan diunggah online. Followers datang. Undangan workshop melukis pun berdatangan. Bahkan kabar terbaru, Mahesa diterima seleksi awal untuk beasiswa seni di Jepang.
“Lo bisa jauh dari gue?” goda Mahera saat makan siang di kantin dengan menu andalan mereka—mie ayam.
Mahesa menoleh sebentar. Senyumnya samar, tenang. Dengan gerakan ringan, ia merapikan rambut Mahera yang hampir jatuh ke mangkuk makanan di meja kantin.
“Yang gak bisa jauh itu lo, Mahera. Lo bakalam bosen gak ada gue. Gue mah biasa aja.”
Mahera mendengus. “Bosen? Gue bisa cari cowok lain, gampang.”
Mahesa hanya menggeleng, masih tenang.
“Gak ada cowok sespesial gue.”
Kalimat itu meluncur tanpa drama, tanpa wajah memerah, tanpa canggung. Justru itulah yang membuat Mahera terdiam sejenak.
“Dih, narsis abis.” balasnya ketus sambil menyuap mie ayam.
Mahesa tersenyum tipis. Hubungan mereka memang begitu—tak pernah diberi nama, tak pernah diberi label. Hanya ada tatapan yang saling mengenali, canda yang saling mengisi, dan keheningan yang tak pernah canggung.
Namun, semakin dekat pada kelulusan, semakin banyak pertanyaan menekan.
Mahera sering termenung di kamar yang sederhana. Poster Anna Mariana masih menempel di dinding, senyum idolanya seakan menatap balik, seakan berkata: “Lalu, apa langkah selanjutnya?”
Saat itu, Mahesa juga membuka topik di kantin.
“Menurut gue, lo harus hubungi lagi agensi idola lo itu. Lo kan dulu bilang mau fokus sekolah sampe lulus dulu. Nah, sekarang udah mau lulus. Waktunya coba lagi.”
Saat itu Mahera terdiam, menunduk pada mie ayamnya.
“Udah basi gak sih? Kayaknya mereka juga udah lupa sama gue. Gue ikut lo aja ke Jepang aja lah.”
Mahesa meletakkan sumpitnya, menatap lekat.
“Mahera, inget gak… waktu kita liat sunset?”
Ingatan itu menampar Mahera. Langit jingga, angin sore, dan kata-kata polosnya sendiri: “Gue pengen jadi cahaya buat orang lain.”
Mahesa mengunyah pelan lalu bertanya santai, seakan tahu ada sesuatu yang ditutup-tutupi.
“Tell me. Lo lagi sembunyiin apa?”
Mahera menghela nafas panjang. “You got it,” gumamnya pasrah.
Ia lalu membuka suara, lirih tapi jelas.
“Agensi Anna Mariana itu agensi yang Wendy ikutin. Dia masih trainee sampai sekarang. Gue gak tau dia bakal debut apa enggak. Gue… gak mau berurusan sama dia.”
“Wendy?” alis Mahesa terangkat.
“Iya. Adik gue.” Mahera memalingkan wajah. “Yang dulu bikin hate comment waktu Sabtu Kreatif viral. Followers gue nyerbu sampe dia tutup akun. Akhirnya dia klarifikasi di akun agensinya.”
Mahesa terdiam, mencoba menyatukan potongan masa lalu itu.
“Oh, gue inget.”
Mahera menyeringai hambar. “Makanya gue mundur. Gue juga capek dibilang bakal nerusin Yayasan William. Lah, gue siapanya Mr. William? Cuman pernah ngobrol bentar doang, langsung digosipin waris yayasan. Orang gila banget.”
Mahesa mengangguk. “Lo emang gak pernah mikirin duit, Mahera. Gue ngerti. Tapi mimpi lo jadi aktris… itu yang gue sayangin. Katanya lo pengen masuk Box Office? Pengen main film laga?”
Mahera terdiam. Pertanyaan itu terasa seperti tamparan. Ia memang masih punya mimpi itu. Tapi semua gosip, semua beban, membuatnya seperti mayat berjalan.
Hidup Mahera kini sederhana. Rumah besarnya sudah dijual, uangnya dikembalikan me orang tuanya. Ia tinggal di rumah petak dengan kamar kecil: ranjang di sudut, meja lipat, poster idolanya, dan syal yang tergantung di kursi. Nek Maria selalu mengajarkan kesederhanaan, dan Mahera mencoba setia pada warisan itu.
Tapi entah kenapa, dunia tak berhenti menaruh uang dan sorotan padanya. Yayasan William makin besar, orang-orang menyebut namanya sebagai penerus. Uang itu terus mengalir, padahal Mahera hanya ingin diam.
Di malam musim dingin, ia menatap langit dari jendela kamarnya. “Gue pengen jadi anak SMA selamanya. Gak mau jadi dewasa. Gak mau berjuang di dunia kejam ini.”
Alarm di ponselnya berbunyi. Jam 7 malam saatnya makan malam. Perutnya kosong. Ia menarik jaket bulu, melilitkan syal, lalu melangkah keluar mencari makan.
Di jalan, matanya menangkap cekcok: seorang nenek tua didorong oleh pria berotot dengan mobil sport.
Mahera spontan menghampiri.
“Masih bisa berdiri, Bu?” tanyanya lembut pada sang nenek.
Setelah memastikan nenek itu aman, ia menatap tajam si pria.
“Lo kira keren dorong nenek-nenek gini?”
“Lo siapa ikut campur urusan gue?” bentak pria itu.
“Gue? Gue tukang ikut campur. Kenapa, ga terima? Maju sini.”
Pria itu mendengus. “Bocah kecil kayak lo bisa apa?”
Mahera tersenyum miring.
“Bisa gini.”
Bugh! Tendangan keras mendarat di perut pria itu. Ia terhuyung jatuh. Mahera tertawa.
“Impas.”
Tapi tiba-tiba, lampu kamera menyala. Kru televisi bermunculan. Mikrofon diarahkan padanya.
“Selamat, orang baik! Kita lagi bikin social experiment! Dan kamu keren banget, bela nenek-nenek sampai berani berantem!” ujar seorang presenter wanita dengan suara lantang.
Mahera terbelalak. Ia mengenali suara itu.
Anna Mariana.
Idolanya sendiri, berdiri di hadapannya.
“Bisa buka hoodie-nya? Mari kita lihat wajah pahlawan malam ini!” seru Anna bersemangat.
Mahera panik. “Maaf, gue cuman mau makan.” Ia langsung kabur, menerobos kerumunan kamera.
Ia masuk ke sebuah restoran ramai. Baru merasa aman, tubuhnya malah menabrak seseorang.
“Oh, maaf,” ucap Mahesa singkat, lalu berjalan menuju meja keluarganya.
Lah? Mahesa? Dia gak kenal gue karena hoodie an begini? tebaknya dalam hati. Setelah mengikuti Mahesa, ia tahu bahwa Mahesa sedang makan malam bersama keluarganya.
“Dibungkus aja, Mbak. Atas nama Mahera,” ucapnya cepat, menyerahkan uang seadanya. Ia memilih duduk sebentar di sudut, menunggu pesanannya.
Mahesa. Bersama ayah, ibunya.
Mahera terperangah. Awalnya ia hendak menunduk, pura-pura tak melihat. Tapi telinga dan hatinya menolak.
“Kamu anak ibu satu-satunya. Setelah ini kamu kuliah di Jepang.” Ucap ibunya dengan nada setengah bangga, setengah menekan.
Mahesa meletakkan sendoknya pelan. Suaranya tenang, tapi terasa ada getar.
“Memang tidak bisa menikah dulu baru ke sana? Bapak takut kamu tidak menikah di sana.”
“Sudahlah, Pak, Bu. Mahesa udah besar. Mahesa pasti nikah.”
Namun, raut wajah sang ibu langsung berubah. Sorot matanya tajam.
“Kita ini dari kampung, Mahesa. Bapak dan ibu mati-matian sekolahin kamu di sekolah mahal itu. Udah jadi orang kok kamu malah ngelawan?”
Mahera yang mendengar percakapan itu jadi serba salah. Ingin pergi, tapi makanannya belum siap. Seakan memang takdirnya untuk tetap duduk di sana, ia menunduk sambil tetap memasang telinga.
“Dulu bapak bilang gak usah lanjut SMA, nikah saja sama anak kades kamu gak mau. Utang bapak ke kades kan bisa lunas saat itu.”
Mahesa terdiam, wajahnya menegang. Tak ada kata yang keluar. Dan justru diam itulah yang membuat Mahera mengerti: Mahesa bukan tidak mau melawan, tapi tak bisa. Ia terlalu lembut pada orang-orang terdekatnya. Prosopagnosia saja sudah kejam karena membuatnya tidak bisa mengenali mereka, jadi bagaimana mungkin ia tega menyakiti lewat penolakan?
“Iya, Pak, Bu. Tenang saja. Nanti kalau sudah di Jepang, Mahesa—”
Belum sempat kalimat itu selesai, ibunya memotong cepat.
“Udahlah. Ibu tau kamu akan ngeyel gini. Makanya ibu udah cariin cewek yang siap dinikahi kamu. Kamu bawa aja ke Jepang.”
Mahesa menunduk makin dalam.
“Mau kamu nikah karena hamil duluan atau apapun, terserah. Pokoknya setelah lulus SMA ini kamu nikah, baru boleh ke Jepang.” Tegas bapaknya, seolah kata itu hukum yang tak bisa ditawar.
Suasana makan malam yang seharusnya hangat justru terasa seperti ruang interogasi. Mahera menahan napas, hatinya tercekat. Jadi, Mahesa pun juga terpenjara dengan cara lain. Ternyata dia tak lebih beruntung dari dirinya.
“Ndok, cah ayu, sini.” suara ibu Mahesa memanggil, melengking penuh bangga.
Seorang gadis dengan senyum manis duduk di samping Mahesa. Senyumnya ramah, lembut, nyaris sempurna. Segala yang tak dimiliki Mahera terpampang di wajah itu.
“Ia Ayu. Anak yang kalem, sesuai selera ibuk. Dia juga pintar masak, cantik. Yakin seratus persen keturunannya bakal cantik dan ganteng-ganteng,” ujar ibunya, seolah menjual calon menantu di pasar terbuka.
Mahesa tak lagi bisa menahan muaknya. Tangannya meremas pahanya sendiri di bawah meja, jemari gemetar mencakar kulit. Nafas panjang ia hembuskan, lalu menatap singkat Ayu.
Dengan suara yang tertahan, lirih tapi mematikan, ia bertanya:
“Ayu, mau ikut mas ke Jepang?”
Seperti dunia runtuh. Hatinya diremuk halus. Semua kenangan tiga tahun bersama Mahesa mendadak terasa rapuh, seperti adegan film yang diputar ulang di kepalanya lalu retak berkeping.
Air matanya jatuh, tanpa bisa ditahan.
“Mahera, take away,” panggil pelayan.
Mahera berdiri, menyambar pesanannya, dan pergi dengan langkah gemetar.
Mahesa menoleh. Nama itu menggema. Ia mencari-cari, keluar restoran, tapi yang tersisa hanya kerumunan kru televisi di jalan.
Sesampainya di rumah yang masih dalam status ngontrak, Mahesa panik membuka ponselnya. Semua kontak Mahera—lenyap. Akun-akunnya hilang. Foto, komentar, chat—kosong. Seakan Mahera tak pernah ada.
Malam itu, Mahesa duduk di ranjangnya, memegang ponsel yang sunyi.
“Mahera… ada apa?” bisiknya, suaranya pecah.
Di sisi lain, Mahera menutup wajahnya dengan kedua tangan di kamar kecilnya. Ia merasa untuk pertama kali, cahaya yang ia banggakan sendiri mulai meredup.
Pagi itu,
Sekolah hari itu benar-benar heboh. Suasana begitu riuh, seolah semua anak sedang membicarakan hal yang sama. Mahesa datang dengan langkah terburu-buru, nafasnya memburu. Dari koridor panjang yang dipenuhi siswa-siswi, ia langsung bergegas masuk ke kelasnya. Namun, pandangannya menyapu tiap bangku tanpa menemukan sosok yang ia cari.
Mahera tidak ada.
Jantung Mahesa berdetak semakin kencang. Ia keluar lagi, menelusuri ruang demi ruang dengan langkah gelisah—ruang seni, aula, ruang musik, bahkan setiap sudut kelas tahun ketiga yang biasanya ramai. Namun hasilnya nihil. Tubuhnya berat dan kepalanya penuh beban.
Saat akhirnya ia kembali ke kelas, beberapa teman yang bahkan wajahnya tidak ia kenali karena pikirannya kalut, menatapnya dengan sorot penasaran. Salah satu dari mereka berseru keras, seakan membawa kabar besar.
“Gila! Mahera, coy!”
Sesaat Mahesa terdiam, tiba-tiba matanya mengerjap. Mendengar nama itu saja sudah cukup membuat tubuhnya berhenti di tempat.
“Dia semalem masuk reality show penyanyi Anna Mariana! Coba liat, deh!” sambung temannya sambil menunjukkan layar ponsel.
Dan di sana—Mahesa melihatnya jelas. Sosok Mahera, terekam kamera: menolong seorang nenek tua dengan berani, menendang seorang pria berotot yang mencoba berbuat kasar, lalu di wawancara tak jauh dari restoran tempat ia makan malam kemarin. Pakaian Mahera di video itu sama persis dengan orang yang ditabraknya waktu itu.
Lo… denger semuanya? batin Mahesa membatin, dadanya terasa sesak. Suaranya tercekat, tak mampu berkomentar.
Teman-temannya berisik menambahkan kabar. Mahera resmi menjadi trainee agensi Anna Mariana mulai hari ini. Semua merasa kehilangan karena Mahera pergi tanpa sempat berpamitan. Akun-akun media sosialnya pun mendadak hilang—kebijakan agensi, katanya. Mereka hanya bisa berharap suatu hari melihat Mahera di layar kaca sebagai artis.
Mahesa terduduk. Ia merasa kosong. Untuk apa selama ini ia mengikuti Mahera karena keberaniannya, jika keberanian itu tak pernah bisa ia terapkan pada dirinya sendiri? Dengan prosopagnosia yang ia derita, dunia tanpa Mahera seakan runtuh. Bukan karena cahaya itu meredup, tapi karena cahaya itu hilang tiba-tiba, meninggalkan kegelapan.
1 Tahun Berlalu…
Hanya butuh setahun. Dalam satu tahun, Mahera benar-benar menjelma menjadi cahaya semua orang. Kepopulerannya menanjak cepat, bahkan setara dengan Anna Mariana meski karirnya dimulai dari dunia akting. Tubuhnya yang lentur dan kuat cocok membintangi film laga, hingga namanya terpampang di Box Office.
Tak hanya aktris, ia juga dikenal sebagai presenter, aktivis, bahkan figur publik yang piawai berbicara. Backstory kehidupannya yang penuh drama menjadi inspirasi. Followers-nya mencapai 10 juta hanya dalam setahun.
Agensinya mengangkat Mahera sebagai bintang utama. Yayasan William pun mendukung penuh wanita yang kini dikenal dengan nama panggung Matahera—permainan kata dari “matahari” dan namanya sendiri. Sebuah simbol: cahaya yang mampu membakar sekaligus menghangatkan.
Di sebuah podcast, Mahera menjadi trending berkat sikapnya yang lugas.
“Kalau ada komentar negatif, lo jawab apa lo biarin?” tanya host.
“Gue jawablah,” jawab Mahera tanpa pikir panjang.
“Misal, lo bukan dari keluarga kaya kok bisa jadi top artis? Jual diri ya? Lo jawab apa?”
Mahera tersenyum tipis. “Diri gue kalau dijual bisa kebeli satu komplek lo. Pantes miskin, attitude aja jelek.”
Studio meledak oleh tawa dan tepuk tangan. Statement-nya singkat, berani, dan tajam.
Komentar lain dibacakan: “Nenek lo bangga gitu liat lo?”
Mahera santai saja menjawab, “Maunya gue bikin mansion tuh kuburan nenek. Tapi dari gue lahir dia udah dimandiin gue di kaleng hotel. Jadi bingung juga gue.”
Jawabannya lugas, lucu, tapi menohok. Mahera selalu frontal di depan kamera, tapi lembut di balik layar—berbeda dari artis kebanyakan.
Namun, dibalik semua itu, tanggung jawabnya makin berat. Mr. William, pria dingin dan berwibawa yang dianggap Mahera seperti ayah sendiri, menelponnya.
“Sabtu ini kembali ke William National Academy. Ada serah terima jabatan penerus Yayasan William. Jangan telat.”
“Iyaa, Pa. Mahera sabtu ini langsung meluncur ya,” jawab Mahera patuh.
William National Academy.
Bangunan megah menjulang, lebih mirip perusahaan besar daripada sekolah. Kini akademi itu memiliki jenjang dari taman kanak-kanak hingga universitas, dengan kesempatan kerja terbuka luas bagi alumninya.
Sabtu kreatif. Semua anak sibuk menyiapkan ide-ide gila. Begitu Mahera melangkah masuk, anak-anak berlarian menghampirinya.
“Kak Mahera!” seru mereka, mengerumuninya dengan mata berbinar.
Ia menuju ruang aula—ruangan yang penuh kenangan. Dulu, ia dianggap “gadis gila” di tempat ini. Kini, si gadis gila itulah si pemilik segalanya.
Asistennya berkata acara inti diadakan di ruang seni. Mahera tertegun. Ruang seni. Kenapa harus ruangan itu? Hatinya bergetar, luka lama menyeruak. Di sanalah seseorang yang ingin ia hapus keberadaannya dulu pernah menggores jejak.
Lukisan-lukisan di dalamnya semakin banyak, sapuan kuasnya terasa familiar. Nama yang berusaha ia kubur kembali muncul di benaknya.
Mahesa.
Apa kabarnya sekarang? Sudah menikah dengan Ayu, mungkin? Punya anak? Ah, menyebalkan. Mahera menggertakkan gigi, menahan resah.
Ia duduk di kursi depan, di samping Mr. William. Kursi yang dulu pernah diduduki ibunya, Christie.
MC masuk, membuka acara. Akan ada penampilan spesial untuk menyambut Mahera. Musik lembut terdengar, pianis memainkan lagu Que Sera, Sera. Dua gadis mungil bernyanyi, dan seorang pria melukis di tengah ruangan.
Saat pria itu berbalik, dunia Mahera berhenti.
Mahesa.
Ia tersenyum padanya.
“Selamat datang, Kak Mahera!” sapa MC yang ternyata adalah Bill. “Karena kakak, aku bisa punya sepasang kaki palsu dan impian sekolah di sini.”
Mahera membelalakkan mata. Semua anak panitia acara—operator musik, proyektor, penyambut tamu—adalah sepuluh anak istimewa yang dulu pernah ia bawa sendiri. Kini mereka sudah tumbuh, punya kehidupan layak, dan berdiri di sini sebagai bukti nyata.
Air mata Mahera jatuh deras. Mina dan Moni berlari memeluknya, membuat tangisnya pecah semakin kuat. Ia menatap mereka semua dengan senyum yang dipenuhi rasa syukur.
“Terima kasih telah mempercayaiku menjadi cahaya awal kalian. Sekarang, kalianlah cahaya masa depanku,” ucap Mahera di atas panggung, sebelum memeluk anak-anak itu satu per satu.
Semua orang menangis.
Mahesa lalu berkata pelan, “Mahera… terima kasih telah menjadi matahari. Mampu membakar sekaligus menghangatkan. Kami akan selalu mendukungmu.”
Mahera menatapnya dengan air mata yang masih mengalir, namun bibirnya tersenyum.
Tiba-tiba, kesepuluh anak itu membentuk lingkaran di sekitar Mahera dan Mahesa. Mahesa berjongkok, mengeluarkan sebuah cincin.
Sorakan menggema. “Say yes! Say yes! Say yes!”
Mahera menoleh ke Mr. William, yang kini tersenyum hangat. Senyum seorang ayah yang selalu didambakan.
Mahesa lalu meminta Mahera menoleh ke belakang. Di sana, Ayu berdiri dengan senyum tulus, mengangguk dalam balutan Office Girl. Mahera menoleh lagi ke Mahesa.
Air matanya tak terbendung, ia langsung memeluk Mahesa erat dan berbisik, “Yes.”
Mahesa tertegun, lalu berteriak penuh haru, “She said yes!”
Confetti berhamburan dari langit-langit, sorak sorai mengguncang ruangan. Di tengah cahaya itu, Mahera dan Mahesa saling berpelukan, menutup kisah mereka dengan akhir yang penuh bahagia.
TAMAT.
Other Stories
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...