Bekasi Dulu, Bali Nanti

Reads
505
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Bekasi dulu, bali nanti
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Penulis S.L Verde Author

Home, Then Bali


Vlog — Bali, golden hour. Angin asin, ombak kecil. Lukas di frame bareng Aji, Nisa, Rangga; orang tua Nisa & Rangga tersenyum malu-malu off-cam.

“Day off. Bali breath. Bawa dua ‘intern’ dan manajernya.” (melirik orang tua, bercanda)

IBU NISA (off-cam, bercanda): “Aku jaga mic-nya aja Chef, bukan anaknya.”

AJI: “Potong gaji, Bu. Hahaha—”

Tawa pecah kecil.

Lower-third pop-up: Nisa — tiny vlogger

NISA (maju, super gemas)

“Hai, teman-teman internet! Ini Nisaaa! Kamera jangan goyang, mulut jangan marah, hati jangan pelit senyum. Klik like—kalau nggak mau, klik senyum aja. Kali ini Nisa bikin vlog bareng Kak Lukas dan temanku, Rangga.”

Rangga mengangkat sketchbook: gambar mereka semua di pantai.

RANGGA: “Ini pemandangan di sini, bersama orang-orang yang kusayang.”

LUKAS (tersenyum ke Rangga): “Always cute.”

LUKAS (ke kamera): “Kita sapa kru—lagi break, dengan izin. No kitchen, just hello.”

Tap—livestream split-screen. Bekasi, bangku belakang. Sari, Bimo, Ani, Pak Darto, Rico melambaikan tangan. Arman muncul separuh frame—angkat jempol, mundur, senyum tipis.

RICO (Bekasi): “Live dari bangku suci—jam istirahat.”

SARI: “Tolong bilang ke laut: tunggu giliran gue ke sana.”

BIMO: “Kirimin cewek Bali, Bro.”

ANI: “Kak Lukas, jangan lupa oleh-olehnya.”

PAK DARTO: “Kursi sudah kinclong… saya nyusul, Mas.”

LUKAS: “Update singkat, crew?”

RICO: “Semuanya aman terkendali.” (semua menoleh ke Arman; Arman mengangguk pendek. Sinyal menyisakan senyum.)

Split-screen ditutup. Kembali ke Bali.

LUKAS (VO singkat, gambar pantai):

“Friday went viral, but stayed human. Tamu eksklusif di Jumat makan seperti biasa—lalu membantu dengan tenang. Meja mengingat nama; kamera mengingat aturan.”

Lukas merangkul ringan dua bocah itu.

“Next Friday, same chairs. For now—Bali for breath.”

NISA & RANGGA (bareng, teriak kecil): “Bekasi for home!”

Ombak menyapu kaki. Tawa. Cut to black.

Interior — ruang kantor sunyi (malam).

GM duduk sendiri. Mengetik singkat, mencetak. Amplop bermeterai disegel rapi: “Confidential — For Mr. Hashimoto.”

GM membuka laci: ada beberapa slip transfer bertanggal Jumat, memo “Kitchen Appreciation / Community Fund.”

Ia menatap kursi pojok pada CCTV FOH—kosong, tenang.

Insert cepat—tanpa wajah:

Sebuah payung tua disandarkan rapi di kursi pojok; sebuah tangan berkerut menata amplop di bawah piring kecil. Cut back ke GM. Ia menutup laci. Hening, lalu senyum tipis.

Fade out.

Title card: “Friday Table — keep it fair, keep it kind.”


Other Stories
Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Mentari Dalam Melody

Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...

Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

Download Titik & Koma