Epilog: Dona Bisa, Dona Pasti Bisa
[Minggu, 5 Oktober 2025 / 10.54 WIB]
Ketika seseorang fokus berjuang dan berkembang, laju waktu semakin tidak jelas ritmenya. Tidak terasa, lima bulan sudah berlalu, dan seakan tak ada yang berubah, Dona masih menekuni usahanya. Siang itu, dia dalam proses membuat donat-donat untuk dipajang di etalase. Sudah terikat dan nyaman dengan kebiasaanya, apapun yang terjadi dan di manapun dia, bahan-bahan donat harus selalu terjejer rapi dulu sebelum mulai memasak.
Setelah sekian lama jadi spesialis perdonatan, Dona kini makin khatam dengan seluk beluknya. Dia tak perlu lagi menghitung ulang takaran adonan apabila kuantitas pesanannya berubah. Dia pun paham kombinasi topping apa yang cocok dan tidak cocok di mulut, mana yang laku musiman dan mana yang jadi all-time favorite, mana juga yang cocok disantap sambil ngopi dan mana yang manisnya pas atau ada pahit-pahitnya.
Selesai satu grup adonan diangkat dari penggorengan, Dona tidak mengemas mereka ke dalam kantong plastik untuk dikemas. Donat-donat baru matang, kenyal, dan golden brown itu diawa keluar dari kitchen, lalu dimasukkan ke dalam rak etalase. Semua dijejer rapi sesuai warna dan rasa. Di dalam etalase tiga tingkat itu, bisa terlihat donat mini yang jadi khas brand-nya, namun ada juga donat reguler dengan ukuran normal dan lubang di tengahnya, serta ragam varian pastry seperti cinnamon roll, croissant, dan lain-lainnya. Tak pernah Dona kira, dia bisa memajang produknya layaknya toko donat ternama di mall-mall.
Di depan rak etalase itu, ada tiga meja dengan kursi-kursi tersusun rapi untuk dine-in. Di belakang bagian atas, terpampang papan menu memanjang yang dikonsep ala-ala papan tulis kapur. Di sisi kanan, terlihat pintu berwarna perak yang menghubungkan langsung ke area kitchen. Sementara di sisi kirinya, ada kaca bening besar di mana Dona bisa memantau calon pembeli yang mau masuk atau abang ojol yang siap mengambil pesanan.
Ya, usaha Dona jauh berkembang. Lima bulan sejak langkah pertamanya membangun Dona’s Donuts, kini dia berhasil membuka toko donat. Impiannya, impian ibunya, jadi kenyataan.
Toko donat itu memang tidak lebar dan megah. Letaknya di ruko berjarak lima kilometer dari rumah Dona yang memang populer sebagai spot makan dan nongkrong karena jejeran restoran dan depot di dalamnya. Ukuran tokonya mungkin hanya 6x6 meter persegi, tapi desain, konsep, dan warna bangunannya memang mencolok mata dan cozy untuk didatangi. Perpaduan warna merah jambu, kuning, dan hijau toska dikawinkan dengan lokasinya yang strategis selalu berhasil membuat orang yang baru masuk ruko dan tengah mencari parkir langsung kepincut.
Bahkan, tidak sedikit orang yang mendatangi ruko itu untuk pertama kali, atau bela-belain datang dari luar kota, hanya untuk mencicipi donat mini yang jadi forte brand Dona’s Donuts. Maklum, brand dan store-nya langsung meledak, bukan harfiah meledak ya, tapi viral nggak tanggung-tanggung. Dari hari pertama buka, pembeli datang dan mengular panjang.
Ini semua berkat teman sekampus Lidia yang punya akun review makanan dengan followers lumayan di TikTok. Dari yang hanya influencer micro, akhirnya akun-akun besar dan terkenal jadi ikut merekomendasikan toko donatnya. Biasalah, mereka akan kasih label ‘hidden gem’ atau ‘favorite spot’ yang wajib banget didatangi. Tapi khusus untuk Dona’s Donuts, agaknya semua pujian dan predikat barusan memang benar adanya.
Selain makan di tempat, Dona’s Donuts sendiri masih tetap menerima pesanan. Mau dari kantor yang perlu jajanan rapat, sekolah yang lagi hajatan, atau keluarga yang cari oleh-oleh, tiap hari pun ada saja yang masuk. Mengerjakan pesanan sendiri memang adalah metode yang paling berkontribusi melambungkan nama toko donat baru ini jadi seperti sekarang.
Tercatat, sudah sebulan semenjak Dona membuka toko ini di awal September lalu. Hampir setiap hari, pencapaian kerja kerasnya di depan matanya ini tidak pernah berhenti membuatnya terkesima dan bangga. Dona kadang masih kesulitan menyadari bahwa di usia yang 19 tahun, dia sudah punya toko donat yang populer dan digandrungi banyak orang. Rutinitasnya sekarang masih sama, tapi juga jauh berbeda. Gimana tuh maksudnya? Sama dalam artian terus bikin donat setiap hari walaupun sudah punya satu karyawan, berbeda dalam artian dia sudah tidak kerja lagi di bengkel.
KLING! Bunyi lonceng kecil yang ditaruh di atas pintu masuk toko berbunyi, pertanda ada tamu yang masuk. Sesuai janji dari lama, Dona akhirnya bisa menunjukan buah dari usahanya kepada dua orang yang punya jasa besar dalam perjuangannya.
“Mak! Kong! Mari masuk...”
“Dona! Gimana kabar?” Kata Engkong Liong dengan tangan kanannya diangkat tinggi ke atas untuk menyapa mantan karyawannya. Seakan sudah jadi aura pribadi, mau baju serapi apapun yang ia kenakan, vibes KungFu Hustle terasa kencang dari cara jalannya.
Persis di belakangnya, Emak Ing ikut menyusul masuk. “Don! Sehat lu? Nggak stroke, kan?”
“Nggak lho, Mak. Masa dateng-dateng langsung nyumpahin stroke.”
“Bukan nyumpahin. Kan jalanin bisnis makan tenaga dan pikiran, ngerasain langsung, kan? Kalau semuanya masih lu pikir-pikir terus, nggak berkembang nanti usaha lu,” jawab Emak Ing yang sudah berdiri di depan rak etalase tempat Dona berjaga, selagi Engkong Liong jalan masuk ke dalam sambil melihat-melihat dalam toko yang penuh aksesoris.
“Hehe, iya Mak. Nggak dibawa stress kok.”
“Bagus dalemnya ya. Warna-warni,” puji Engkong Liong dari sudut toko.
“Mau pesen apa ini Mak, Kong?”
Karena sudah terbiasa dipilihkan sang istri, Engkong Liong menyerahkan keputusan pada Emak Ing seraya ia langsung mengambil duduk di salah satu bangku. “Bebas Don, yang mana aja. Pokok jangan yang manis banget ya,” jawab Emak Ing.
“Mau coba yang gluten-free nggak, Mak? Itu tuh tepungnya rendah gula, jadi lebih aman buat Emak sama Engkong.”
“Oh ada kaya begitu? Iya boleh deh. Apa namanya tadi?”
“Gluten-free, Mak... Ya udah, aku angetin dulu ya. Minumnya, kopi hitam dua?”
“Engkong aja kopi, Emak air putih aja. Ada kan?”
“Siap, ada dong Mak. Duduk dulu ya, Aku anter nanti.”
Setelah mengambil beberapa pcs donat dari etalase, Dona kemudian menghilang ke kitchen untuk menyiapkan pesanan. Selagi dia memproses kopi untuk Engkong, staf dapurnya diminta untuk memanaskan donat-donat ke oven. Di tengah prosesnya menyiapkan makanan, Dona kemudian mendengar ada bunyi lonceng dari pintu depan. Tanpa harus mengecek apakah itu pembeli yang datang atau abang ojol ambil pesanan, Dona bisa langsung tahu siapakah itu gerangan. Tidak lain, tidak bukan, Rona. Tahu dari mana?
“Mak! Kong! Sehaatt?” Suara sapaan Rona terdengar kencang sampai ke tempat Dona berdiri. Meski pertemuan mereka dengan Rona tidak seintens dibanding kakaknya, Engkong Liong dan Emak Ing juga tak kalah akrab dengan Rona.
Setelah semua pesanan siap, Dona kembali keluar menghampiri pembeli tercintanya dengan nampan berisikan empat pcs donat dan dua gelas minuman. Setelah selesai dihidangkan, Dona kembali ke posisi berjaganya di belakang etalase, ditemani adiknya yang sudah mengenakan celemek yang jadi seragam Dona’s Donuts. Memang ketika tidak manggung atau urusan seolah, Rona selalu menyempatkan diri membantu kakaknya di toko. Makanya wajar toko donat ini baru hire satu karyawan saja.
“Gimana hari ini? Lancar?” Tanya sang kakak.
“Lancar... telat 15 menit tadi naik panggungnya. Emang dari awal sih rundown-nya udah molor.”
Selagi mereka baru ngobrol, hp Dona di kantungnya berdering. Tolong dicatat, ini bukan hp yang sama seperti yang dulu dijambret ya. Setelah bisnisnya berkembang, Dona punya rejeki untuk membeli hp baru lagi yang berbeda dengan yang dia pakai untuk awal merintis usaha. Dengan budget yang lebih longgar, dia bisa membeli hp yang lebih high-end dan mahal, begitu pun dengan Rona, yang akhirnya kesampean punya iPhone.
Setelah Dona cek, ada sebuah pesan WhatsApp masuk, dari Lidia rupanya. Memang chat ini sudah ditunggu-tunggu Dona dari buka toko tadi. Selagi Dona membaca pesan itu, Rona bisa memperhatikan kalau mata kakaknya terbelalak dan mulutnya komat-kamit membaca isinya yang berbunyi: “Don. Dua tiket aman! Untung wifi kampus nggak error. Mulai cari-cari tiket gih.”
“Yeesss!” Respon Dona dengan agak ketahan supaya tidak berisik.
“Dapet tiket konsernya?” Tanya Rona di sampingnya dengan penasaran.
“Yoi. Si Lidia canggih juga war ticket ya. Ahahaha... kesampean juga bisa nonton konser akhirnya.”
“April tahun depan bukan? Kakak berdua doang sama Lidia?”
“Lah, kamu bilang nggak suka My Chemical Romance pas kutawarin. Gimana sih?”
“Iya sih, kalo Coldplay mah aku mau. Tapi kan kepingin juga gitu ke luar negeri...”
“Hhmm... iya juga ya. Kita belum pernah keluar negeri bareng, ya?” Balas Dona sambil berpikir keras dengan dagu yang dia sangga dengan jari-jarinya ala filusuf sedang mencetuskan teori. Setelah beberapa saat merenung, Dona lanjut tanya, “akhir tahun, gimana?”
Rona sempat terkejut sejenak. Kepalanya refleks mundur, lalu dia merespon dengan bercanda, “ih, ih, ih. Tingkahnya udah kaya sultan kakakku sekarang. Baru berapa bulan maju usahanya, udah langsung bisa liburan ke sana-sini aja.”
“Ya ditabung dulu dong, gila! Bukan sultan... Mau nggak?” Balas Dona.
“Thailand?”
“Hhmm... Australia enak kali.”
“Mana enak, musim dingin dong,” kata Rona kecewa.
“Desember di Australi itu musim panas, oneng. Yang winter-nya Desember itu negara-negara Eropa sama Amerika sono.”
“Oh gitu? Baru tahu... iya boleh deh. Asyik juga kayanya ya summer di negeri koala.”
“Oke. Kita usahakan!” Jawab Dona dengan semangat. Dalam benaknya, sudah muncul bayangan momen-momen liburan kakak beradik yang tidak pernah lagi mereka rasakan setelah kepergian kedua orang tua mereka. Dulu pun kalau liburan, mereka juga lebih sering di dalam kota saja.
“Oke... itu goal pribadi kita. Goal bisnis Kakak, apa? Lanjut Rona dengan pertanyaan yang cukup membingungkan Dona.
“Goal bisnis? Hhmm...”
“Iya. Kan ini dah kesampean nih toko donat sendiri. Terus... next-nya apa? Kan harus ada target lagi dong, masa puas di sini.”
Kalau dipikir baik-baik, Dona belum ada jawaban dan tujuan detail lagi memang setelah satu milestone ini berhasil dia wujudkan. “Belum sempet mikirnya, Ron. Toko baru buka juga. Tapi next sih.. buka cabang, mungkin? Eh jangan deh, ekspansi kecepetan kayanya nggak baik. Gedein brand dulu aja deh, biar makin dikenal luas. Sama itu peralatan dapur, ganti yang lebih otomatis kali ya biar lebih cepet dan nggak capek.”
“Menarik juga tuh! Tapi kalau aku sih ya, maunya... renov, Kak.”
“Renov? Renovasi toko? Ini aja barusan jadi, oneng! Baru sebulan juga beroperasinya. Lagian ini kan di ruko, Ron. Mau renov kaya gimana coba?”
“Yang dalemnya lebih luas, terus ada panggung kecil buat live music-nya. Biar aku bisa perform di sini. Keren, kan?” Rona mengatakan ini dengan sungguh-sungguh. Dona tahu kapan adiknya sedang asbun, bercanda, atau memang sedang serius. Dan sama seperti lima bulan lalu di makam ibu, dia kembali tersentuh dengan isi kepala adiknya. “Kakak hidangin pelanggan pake donat, aku ngehibur pake musik. Dynamic duo nggak tuh kita nanti.”
“Itu mah... harus pindah tempat kita. Cari yang lebih gede...” respon Dona akan visi nyentrik adiknya. Tapi, siapa bilang Dona tidak tertarik dengan ide tersebut? Dia melanjutkan omongannya, “...tapi itu good idea! Itu next goal kita ya. Bikin Dona’s Donuts jadi makin gede, makin populer, kalau nanti ada rejekinya, kita sulap konsep toko jadi kafe buat nongkrong, terus kamu bisa perform sama band kamu di situ tiap malem. Deal?”
Melihat sang Kakak menanyainya sambil menyodorkan telapak tangannya untuk salam seperti di acara-acara kuis, Rona dengan sumringah menjabat tangan Dona, sambil menjawab, “deal!”
“Oke! Kita usahakan!”
KLING! Bel di pintu kembali berbunyi selagi Dona dan Rona bersalaman. Kali ini, yang masuk ke toko adalah sepasang pasutri muda. Dengan senyum lebar, Dona dan Rona sama-sama menyapa, “selamat datang di Dona’s Donuts! Mau pesan apa hari ini?”
TAMAT
Other Stories
Pintu Dunia Lain
Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...