15: Bagai Pungguk Merindukan Cuan
[Senin, 24 Maret 2025 / 19.23 WIB]
Satu bulan sudah berlalu sejak hari-hari Dona yang bak roller coaster. Sesuai janji dengan Rona, mereka sudah memakai hp baru untuk keperluan bersama. Hanya sekian hari setelah percakapan di makam, mereka langsung membeli hp Android yang disetujui bersama. Bukan tipe yang high-end dan fancy, tapi cukup untuk keperluan komunikasi, hiburan, dan belajar Rona, serta tentunya kebutuhan promosi Dona.
Untuk promosi donat sendiri dilakukan oleh via WhatsApp, TikTok, dan Instagram. Setiap harinya, mereka mengunggah foto-foto donat yang sudah siap makan atau rekaman proses memasak ke tiga platform tersebut. Rutinitas pagi Dona yang dulunya sibuk dengan memasak dan mengemas diganti dengan sesi brainstorming dan riset pembuatan konten. Tak hanya di pagi hari, sesi inipun juga seringkali lanjut malam harinya, dan Rona pun beberapa kali ikut membantu kakaknya mengembangkan ide.
Selama tiga minggu pertama, setiap harinya mereka sangat antusias dan semangat menuangkan ide-ide kreatif di kepala. Mengombinasikan caption, sound, dan filter yang sedang ngetren dengan aplikasi editing video gratisan terasa begitu menantang dan menyenangkan. Konsep-konsep video yang naik daun seperti meme kucing atau sketsa komedi ber-caption ‘POV’ sudah beberapa kali juga mereka pakai. Tapi ujung-ujungnya, mereka kecapekan dan malah kecewa sendiri setiap melihat hasilnya.
“Kurang menarik apa gimana ya, Ron? Padahal udah ngikutin yang viral-viral lho...”
“Sosmed kan gitu Kak, unpredictable banget! Ada yang nggak diniatin malah rame, tapi giliran yang dikerjain setengah mampus, views-nya cuma dapet hitungan jari.”
“Iya ya... paling bagus engagement cuma satu video ini doang, itupun likes-nya 9, yang nonton 200-an,” ucap Dona dengan sepasang mata dan jari-jemari yang terfokus penuh ke layar hp baru mereka. “Hhmm... apa karena akun baru ya?”
“Nggak ngaruh, Kak. Banyak akun masih fresh tapi rame kok. Nggak tahu dah ketolong algoritma apa gimana,” balas Rona menanggapi sang kakak yang duduk di seberangnya di meja makan. Meja ini sekarang jadi spot krusial di rumah. Dulu sekadar untuk makan, sekarang meja berukuran 80x120 itu juga jadi tempat mereka untuk menyiapkan dan merekam konten.
“Nih kan... emang nggak segampang itu jualan online. Nggak otomatis langsung banyak orang tahu dan mau beli,” kata Dona setelah menghela nafas panjang. Kepalanya masih buntu, kebingungan mencari alasan mengapa konten mereka tidak sesuai harapan.
“Ya kan emang nggak ada yang bilang gampang juga, Kak. Ekspektasi Kak Dona noh yang diturunin,” balas Rona dengan nada menggurui. “Coba ngiklan aja kita? Pakai uangku dari ngeband, modal seratus apa dua ratus ribu dulu gitu kali tes ombak. Gimana?”
Tanpa harus berdebat, Dona kali ini percaya kalau selama ada jalan, tujuannya bisa diusahakan. Karena itulah, ide Rona akhirnya langsung dicoba keesokan harinya. Dengan harapan metode ini bakal membuahkan hasil positif, mereka rancang dan buat konten semenarik mungkin, dengan hook yang nonjok dan CTA yang ‘nyampe’, kalau kata anak-anak agensi. Modal dua ratus ribu didistribusikan untuk iklan beberapa hari di TikTok dan Instagram.
Akhirnya, setelah cukup lama dan riweh menyiapkan materi dan otak-atik pengaturan, iklan mereka pun tayang! Tapi... hasilnya sama saja. Memang begini namanya jualan, kan? Ketidakpastiannya sangat tinggi.
Meskipun penonton dan pengunjung akun mereka jadi banyak, dewi fortuna nampaknya masih belum memihak. Sampai H+1 iklan mereka selesai beredar, tidak ada satupun yang memesan. Paling mentok pun hanya tanya basa-basi soal harga atau alamat di kolom komentar. Namun tiba-tiba, tepat keesokan harinya, tanpa disangka ada satu orang yang memesan langsung ke WhatsApp. Dari chat pertamanya, pelanggan ini memang sudah tertarik dan tidak perlu dipersuasi sama sekali. Tertulis: “Halo Dona's Donuts... saya mau pesan 100 pcs apa bisa?”
Yang pertama membaca pesan ini adalah Rona. Waktu itu dia sedang istirahat sekolah. Ketika pesan ini dibuka, refleks dia langsung teriak-teriak kegirangan di tengah ruangan kelas sampai-sampai teman-temannya mengira dia kesurupan. Begitu Dona dikabari soal pesanan ini, responnya ternyata sama persis dengan sang adik. Bedanya yang mengira dia kesurupan adalah Engkong Liong dan Emak Ing di bengkel.
Setelah order itu deal, tanpa ada kendala, donat digarap sesuai permintaan. Sesuai data dari sang pembeli, pesanan pertama Dona's Donuts resmi dikirimkan memakai ojek online. Tidak seperti pesanan Bu Damar yang berujung komplain, order yang ini benar-benar rampung sukses dan memuaskan. Bukan menurut Dona dan Rona ini ya, tapi memang kata-kata langsung dari sang pembeli. Kakak beradik ini pun bukan kepalang bahagianya setelah berhasil menyelesaikan pembelian pertama mereka. Tapi setelah pesanan ini, benar-benar tidak ada lagi yang mengontak, tanya-tanya, apalagi memesan selama seminggu.
Yup, hanya satu minggu saja kekeringan itu. Tepat di hari yang sama minggu depannya, pelanggan pertama mereka kembali melayangkan pesanan dengan rincian yang sama persis. Dona dan Rona tidak pikir panjang soal re-order ini, mereka kembali mengeksekusi pesanan sebaik dan semaksimal mungkin, dan hasilnya pun kembali memuaskan. Lagi-lagi tapi, seminggu habis pesanan kedua selesai, penjualan Dona kering kerontang.
Anehnya, untuk ketiga kalinya, pembeli yang sama kembali mengontak dan memesan minggu depannya. Kuantitas, jenis topping, alamat pengiriman, dan beragam tetek bengek lainnya sama persis, tidak ada yang berbeda sedikitpun, termasuk nama sang pembeli yaitu ‘Hani’. Karena ini, Dona jadi bangga dan tersanjung. Setidaknya, dia merasa berhasil punya pembeli tetap yang loyal dengan brand barunya. Tapi tidak bisa dipungkiri, ada juga rasa ingin tahu terkait pembelinya ini. Kenapa pesanannya selalu sama persis setiap minggunya?
“Beli 100 donat tiga minggu berturut-turut... Hani ini tiap minggu pesta mulu apa ya? Atau dimakan sendiri sama keluarga? Emang nggak diabet? Apa dia kasih makan satu RW jangan-jangan...” Beginilah pemikiran Dona yang dia sampaikan ke adiknya.
“Udah nggak usah mikirin gituan kenapa sih. Fokus aja pokok ada pesanan dikerjain, Kak.”
“Tetep aja penasaran lah Ron. Kita coba cari tahu apa ya? Kita tanya-tanya orangnya sekalian minta testimoni, gimana?”
“Oh iya, testimoni! Ya udah boleh deh sambil Kakak investigasi. Tapi jangan bikin tersinggung lho! Nanti nggak mau beli lagi dia.”
Malam itu, Dona coba menghubungi sang pembeli. Setelah sempat 10 menit kebingungan sendiri bagaimana cara memulai percakapan seramah mungkin, akhirnya balon chat pertama dia kirimkan ke nomer dengan gambar profil kosong itu.
“Halo Kak Hani, maaf mengganggu ya. Kami boleh minta testimoni untuk ketiga pesanan sejauh ini?”
Tidak pakai lama, ternyata sang pembeli sedang online dan balasan pun langsung datang. “Halo Don. Nggak ganggu kok. Donat mininya selalu enak dan manisnya pas. Adonannya nggak keras, dan lembut banget, kenyal-kenyal kalo digigit bikin nagih. Pelayanannya juga fast respon dan fast delivery. Puas banget 10/10!”
Sebenarnya, Dona sempat kaget waktu membaca panggilan ‘Don’ di pesan itu. Namun dia langsung berpikir, mungkin si pembeli tahu namanya karena pernah disebut beberapa kali di video yang mereka unggah. Lagipula, brand ‘Dona’s Donuts’ jelas-jelas memakai namanya, kan? Dia kemudian langsung mengirim balasan. “Wah, makasih banyak ya Kak untuk review positifnya. Nggak nyangka bakal dipesan berulang kali sama Kak Hani saking puasnya. Ngomong-ngomong kalau boleh tahu, Kak Hani pesannya selalu di hari yang sama dan jumlahnya juga sama, apa buat jamuan pesta ya?”
“Buat dibagi ke panti-panti asuhan. Makanya pas banget kan donat mini, bocil-bocil pada suka.”
“Wah, ternyata mulia banget tujuannya ya. Terima kasih banyak lho Kak mempercayakan keperluan sedekahnya ke Dona’s Donuts. Kehormatan bagi kami bisa bantu misi sosial Kak Hani.”
“Yoi Don, aku yang makasih banyak. Beberapa pcs ada juga aku makan sama orang rumah. Kami emang suka dan puas banget kok. Top deh. Moga sukses ya usahanya.”
Sebentar, sebentar. Kayanya akrab banget nih? Ini orang SKSD apa kenalanku tapi aku lupa ya? Dona jujur agak risih dengan gaya balasan Hani ini, dia pun juga penasaran apa memang orang ini ternyata mengenalnya.
“Kak Hani, saya minta maaf banget. Kak Hani kok akrab banget rasanya dengan saya ya? Kita pernah bertemu kah?” Dona menunggu dengan deg-degan balasan dari seberang. Nomer ini masalahnya tidak mencantumkan nama juga, jadi Dona tidak bisa menebak sedikitpun siapa identitas Hani ini. Namun begitu chat balasan masuk, Dona membaca tiap katanya dengan penuh kejutan.
“Ini Lidia, Don. Ini nomer pribadiku.”
Melihat balasan ini, Dona sempat diam bak patung beberapa detik. Lagi-lagi, rasa kesal dan heran menyeruak dan mengisi hatinya. Kok bisa manusia ini nggak capek muncul di hidupku, terus?! Dengan gusar, Dona langsung menelepon nomer tersebut.
Barusan nada dering berirama, sambungan telepon diangkat cepat oleh Lidia. Tanpa basa-basi, Dona langsung meledak. “Maksud kamu apaan, Lid?! Ngapain pesen pakai nama Hani?! Kamu stalking?”
“Nggak ada orang stalking Don. Konten kamu lewat di FYP-ku. Kebetulan aku emang lagi bikin gerakan sosial sama anak kampus. Jadinya ya udah, aku pesen donat kamu. Nggak ada yang bohong.”
Lidia? Gerakan sosial? Lelucon macam apa ini? Berkaca dari kelakuan bossy-nya di masa lalu, wajar Dona berpikir demikian, apalagi dia korbannya langsung. “Hani terus siapa?! Kenapa pakai nama Hani?”
“Hani nama temenku di kampus, Don. Dia bendahara UKM. Biar administrasi gampang, kalau ada transaksi, semua identitas pakai nama dia. Kalau kamu cek, rekening pembayaran atas nama dia kan? Kebetulan juga alamat kirim donatnya itu ke rumah dia, soalnya paling deket sama rumahmu. Emang semuanya pakai identitas si Hani, Dona. Tapi karena yang temenan sama kamu itu aku, jadinya aku yang ngontak langsung.”
“Kita bukan temen, Lid!”
“Sorry...” Lidia terdiam beberapa saat setelah dibentak, sampai kemudian ia lanjut menjelaskan. “Tapi aku udah bilang kan, Don? Waktu itu pas di rumah kamu, sebelum aku pulang, aku udah janji bakal balas rasa bersalah dan utang budiku ke kamu. Inget? Ya... aku harap ini cara yang bisa kamu terima, Don.”
Memori Dona terlempar kembali ke momen saat Lidia bertamu ke rumahnya, namun kemudian dia mengusir sang tamu setelah percakapan alot selama 10 menit di ruang tamu. Mendengar pengakuan Lidia barusan, Dona mendadak mereda. Darahnya yang tadi sempat naik ke ubun-ubun berangsur-angsur turun. Dia menjawab singkat, “oke... Iya...”
“Dona, aku udah pernah bilang, kamu berhak benci dan dendam sama aku. Jadi aku nggak minta dimaafin. Sama sekali nggak. Tapi please, jangan mara—"
“Thank you ya, Lid. Thank yoouu banget. Jujur, kamu satu-satunya pembeli dan pelanggan tetapku sejauh ini. Makasih banyak,” potong Dona dengan suara yang halus dan tenang.
Tidak biasanya Lidia mendapat jawaban seperti ini darinya. Biasanya kalaupun kata-katanya tidak tajam, setidaknya ada respon berupa sindiran atau seminimnya pelototan tajam. Dari SMA, mungkin ini satu-satunya momen di mana Lidia dan Dona bisa berbicara layaknya dua remaja biasa. Tanpa ada masalah, tanpa ada rasa dongkol akan satu sama lain.
“Sama-sama, Dona.”
“Minggu ini... pesen yang sama lagi?” Tanya Dona.
“Oh iya! Iya banget. Nggak masalah kan?”
“Sama sekali nggak, Lid. Dengan senang hati aku buatkan.”
“Oke, Don... Ini, anu. Aku mau keluar habis ini, aku matiin nggak papa ya?”
“Oh, iya nggak masalah. Hati-hati ya.”
Lidia tentu sangat kaget. Meski terasa aneh karena tidak biasa, hati kecilnya merasa gembira karena nampaknya Dona sudah melunak akan dirinya. Kalaupun kesalahannya tidak dimaafkan, tidak masalah baginya. “Iya Don, makasih ya. Maaf ngagetin ka—“
“Entah kenapa... aku seneng banget kamu sekarang begini, Lid. Bukan orang yang sama kaya dulu. Bukan pembully yang aku benci,” potong Dona sekali lagi, masih dengan suara yang adem. Lidia jujur bingung mau merespon seperti apa. Masalahnya, mereka berdua dasarnya bukan teman, bisa jadi juga Dona menanggapinya baik-baik begini karena keperluan transaksional, ditambah, dosa masa lalunya terlalu berat juga untuk dimaafkan.
Namun kata-kata Dona selanjutnya, menjadi kejutan dan jawaban yang merubah hubungan mereka. “Aku maafin kamu... aku juga minta maaf ya karena marah-marah mulu. Makasih, Lid. See you.”
Other Stories
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Teka-teki Surat Merah
Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...