Donatoli: Pergumulan Montir Cantik Penjual Donat

Reads
588
Votes
0
Parts
17
Vote
Report
Donatoli: pergumulan montir cantik penjual donat
Donatoli: Pergumulan Montir Cantik Penjual Donat
Penulis Wicaksono Bagus Dewandaru

14: Orang Bijak Taat Bantu Kakak

[Sabtu, 22 Februari 2025 / 14.36 WIB]

Dari alun-alun, perjalanan menuju TPU yang berlokasi di tepian kota memakan waktu lima belas menit. Dona yakin, Rona pasti sudah sampai duluan dari studionya latihan band dan sedang menunggu dengan dua kresek bunga tabur. Begitu sampai di tujuan, dia langsung berjalan masuk menyusuri tanah hijau luas dengan barisan batu-batu nisan itu.

Seperti yang dirasakan banyak orang, berada di area makam pasti tidak menyenangkan. Bagi Dona sendiri, setiap dia datang berziarah, semakin dekat dia dengan makam sang ibu, semakin berat langkah kakinya dan semakin lemah juga ketegaran hatinya.

Dona sangat dekat dengan mendiang ibunya. Ingatan pertamanya tentang hidup adalah bermain kejar-kejaran dengan sang ibu sampai dia terpeleset di halaman rumah. Walau masih balita, dia bisa ingat betul betapa lembut suara dan jari-jari ibunya ketika menggendong dan mengobati dirinya. Semakin Dona dewasa pun, ibunya selalu terlibat di tiap jenjang kehidupannya. 

Waktu TK, Dona pernah nyerocos semalaman membahas macam-macam bunga. Waktu SD, Dona heboh karena boneka favoritnya disobek oleh Rona. Waktu SMP, Dona curhat soal cowok yang dia taksir di kelas. Waktu SMA, Dona bingung menentukan keputusan hidupnya di masa depan. Di setiap milestone, baik ketika senang maupun sedih, sehat atau sakit, ibunya selalu menemani, selalu siap mendengar segala keluhan dan kebingungannya. Kini, Dona masih bercerita soal apa yang dia rasakan, namun yang menjawabnya hanya batu nisan yang diam dan dingin.

Begitu kakaknya tiba di lokasi makam, Rona yang benar sudah menunggu 10 menit sontak bertanya, “So... how was it?” Dari masih berjalan, Dona memang terlihat cukup lesu dengan wajah yang agak tertunduk. Rona mengira itu hanya caranya menahan terik matahari. Tapi setelah dia pertanyaan terlontar dan kakaknya mengangkat kepalanya, Rona baru sadar kalau Dona ternyata sedang menahan tangis. “Kak? Kenapa Kak?”

Hiks... Papamu... bukan orang yang kita kenal, Ron. Aku nggak ngerti orang yang barusan ngobrol sama aku itu siapa. Hiks...,” Kerinduan pada ibunya yang bercampur dengan kekecewaan akan ayahnya membuat tembok ketegaran Dona runtuh. Tak kuasa lagi menahan letupan emosi, Dona menangis sejadi-jadinya. Persis seperti dulu waktu dia dikeluarkan dari sekolah, “Huuuuu... akhirnya memang tinggal kita berdua, Ron. Hhh... kaya yang kamu bilang, kita cuma punya satu sama lain.”

Rona langsung refleks mendekati tubuh sang kakak untuk menenangkannya. Pertengkaran dingin di antara mereka seakan tak pernah terjadi. Dia memegangi kedua pundak Dona, sambil mengelus-ngelusnya pelan dan berkata, “bener emang aku nggak ikut ya. Nggak kebayang aku kalau jadi Kakak bakal bertingkah kaya gimana.” 

Kata-kata Rona ini terkesen remeh, tapi di balik itu, ada kekaguman akan ketegaran dan kekuatan kakaknya. Dia paham bahwa Dona selalu memasang topeng dan berusaha kuat agar tidak mengkhawatirkan orang lain. Mungkin itu juga triknya untuk membuat dirinya tetap kuat dan tabah menjalani hari-hari. Namun kakaknya jelas bukan manusia super. Sama seperti remaja lain, hatinya rapuh, lembut, dan emosional. Sembari terus mengusap-usap pundak Dona, Rona kemudian menatap kosong ke batu nisan. Dia bertanya, “Mama pernah nyesel nggak nikah sama papa?”

Entah itu pertanyaan diajukan ke ibu, ke Dona, atau gumamannya sendiri saja, tapi kemudian sang kakak menyahut, “kalau Mama masih ada, dan bisa ketemu Papa tadi, mungkin Mama luar biasa nyesel." Masih dengan tangisan deras dan suara tercekat, Dona dengan berat berkata, “Aku kangen Mama... Hidup berat banget, Mam.” 

Tidak terasa, Rona juga mulai meneteskan air mata. Emosi kakaknya menular dan merasuki batinnya. Tangannya sekarang bergeser melingkari pinggang Dona, membentuk pelukan erat seraya kepalanya bersender ke pundak sang kakak. “Rona. Kamu waktu itu sempet bilang kan... kalau Kakak nggak ada waktu buat diri Kakak sendiri, dan Kakak nggak seharusnya nanggung semua sendirian. Beban kita bisa dibagi dua sama kamu. Gitu kan?”

“Iya, Kak. Hiks...”

“Nggak mungkin itu, Rona. Aku... aku nggak mau kamu jadi kaya aku. Jadi orang yang nggak bisa nikmatin masa mudanya, hiks... yang kenangan soal masa SMA-nya cuma secuil dan pahit. Aku mau kamu... nikmati setiap harinya, mau sesulit apapun ujian, atau seaneh apa temen-temen kamu. Apapun yang terjadi, aku pingin kamu bisa hidup seutuhnya, sebahagia mungkin sebagai anak remaja.”

Rona sudah tahu itu. Tanpa pernah dibahas sebelumnya, Rona paham betul ko kapa yang dimau dan diperjuangan kakaknya. Tapi karena ini kali pertamanya mendengar langsung pengakuan itu, hati Rona jadi terenyuh. Tangisannya yang hanya terisak ringan jadi memburu. “Iya, Kak...,” jawabnya singkat.

“Aku paham kamu mau bantu, Rona... tapi nanti aja ya? Kalau sudah waktunya. Please...”

Hiks... Tapi Kakak ngadepin semua sendiri juga berat banget kan?” Tanya Rona sambil menoleh menatap kakaknya. Dua pasang bola mata yang basah kuyup kemudian saling bertatapan. Tanpa sepatah kata pun, Rona tahu kalau jawaban kakaknya adalah ‘iya’. Karena itu, Rona kemudian melepas pelukannya, berjalan mengitari kuburan sang ibu untuk mengambil tas ranselnya, lalu menarik sebuah amplop coklat dari dalamnya. “Ini... aku ada uang Kak.”

Dona yang hanya bisa menangis sejak tadi memandangi amplop di depannya sambil mencoba mencerna kata-kata Rona, dia pun bertanya, “apaan itu?”

Dengan air mata yang sudah mongering, namun mata yang masih basah, Rona memberi penjelasan. “Jadi... akhir-akhir ini aku sama anak-anak tuh manggung... di kafe. Makanya sebulan terakhir ini aku sering alesan latihan buat lomba atau belajar kelompok sampe malem. Itu tuh sebenernya aku sama anak-anak perform.”

Tidak hanya sang adik yang air matanya berhenti. Dona pun begitu mendengar jawaban barusan sontak mengalihkan kepalanya ke Rona yang dengan PD menggenggam amplop itu di tangannya. “Kok nggak bilang Kakak?”

“Ah... Kakak mana ngasih. Yang ada debat lagi nanti kalau aku bilang bakal sering keluar buat perform... Sebenernya, aku udah mau ngomong sih pas kita makan bareng itu... tapi ya ngertilah gimana ujungnya obrolan kita,” kata Rona dengan gestur tangan yang heboh untuk memberi penekanan atas statement-nya. Lalu, dia melanjutkan, “aku paham... Aku paham kalau Kakak mau berjuang sendiri dan nggak mau ngebebanin aku. Tapi realitanya, Kak Dona bilang sendiri tadi kalau sisa kita berdua, kan? Cepat atau lambat, masalah keluarga ini harus kita berdua sama-sama yang tanggung, kan? Aku nggak bisa lihat Kakak ngorbanin diri pagi sampe malem terus-menerus buat aku. Sampe kurang istirahat, sampe nggak merhatiin diri sendiri... sampe ngelupain mimpi Kakak sendiri.”

Raut wajah Dona yang kusut karena menangis tersedu kini lebih terangkat. Mengejutkannya, dia tidak marah. Tidak ada ekspresi gusar atau kecewa karena Rona menyembunyikan rahasia ini darinya. Malah, dia terlihat tersentuh. “Terus ini berarti bayaran hasil manggung?”

“Yup. Emang baru dibagi-bagi hari ini. Nggak banyak sih, cuma tiga ratus ribu, hasil manggung empat kali. Itu pun harus dibagi anak empat. Meskipun nggak seberapa, seenggaknya bisa bantu-bantu Kakak. Tapi pelan-pelan... nanti bakal lebih banyak lagi kok,” balas sang adik sambil menyodorkan amplop di tangannya.

Mengerti bahwa amplop itu berisi keringat dan kerja keras adiknya, Dona mengambil amplop itu sambil bercanda, “sia-sia dong Kakak curhat panjang-panjang, sampe nangis-nangis segala supaya kamu fokus enjoy your life aja.”

“Yaaa... Kakak kan batu, aku juga batu. Kalau nggak bisa menang pake debat, ya udah aku cari strategi lain. Langsung kasih bukti aja,” balas Rona dengan seringai penuh kebanggaan.

“Makasih ya.”

“Nggak perlu Kak... Btw, tadi aku pas nungguin Kakak aku mikir. Lunasin utang ke Tante Mutia jadinya kan setengah dari rekening Kakak, setengah dari tabungan buat hp baru. Betul ya?”

“Iya, 50:50. Biar nggak kekuras habis dua-duanya. Kenapa emang?”

“Biar nggak molor ganti hp-nya, ini uang tiga ratus ribu, pakai aja buat nambahin uang beli hp baru. Nggak usah yang dua jutaan, beli aja yang masih kejangkau dengan gabungan uang kita sekarang. How? Ide bagus, kan?”

Dona sempat terdiam mendengar masukan Rona. Harus diakui, idenya barusan cukup bagus meski memancing keraguan. “Yakin? Nggak masalah kamu hp-nya di bawah dua juta?”

“Yakin lah Kak! Orang kita mampunya segitu... Tapi! Ada satu syarat tambahan kalau jadi beli hp.”

“Syarat? Apaan tuh?”

“Hp barunya nanti buat kita berdua! Aku yang bawa, aku yang pakai sehari-hari. Tapi, kita pakai juga buat wujudin mimpi Kakak. Mimpi Mama! Kita pakai juga untuk jualan donat secara online! Deal?” Entah belajar negosiasi dari mana anak satu ini, Tapi harus diakui, persuasinya cukup berhasil menyentuh sang kakak. Dona baru menyadari kalau adiknya sebegitu berusahanya meringankan bebannya dan bahkan membantunya mewujudkan cita-cita yang dia sendiri selalu pendam dan hindari. “Kalau Kakak nggak setuju, aku juga nggak mau dibeliin hp baru. Pake hp butut ini aja sampai kiamat nggak masalah! Gimana, deal nggak?"

“Udah direncanain segitunya ya buat mojokin Kakak? Wow...,” balas Dona yang makin tersudut karena taktik Rona. Pada akhirnya, setelah sempat menimbang-nimbang ide barusan, Dona menyerah juga dengan adiknya. “Oke... deal! Kita pakai berdua. Kita mulai jualan online!”

Yes! Nah gitu dong!” Respon Rona dengan rasa puas karena strategi jebakannya berhasil. “Tuh Mam, denger kan? Aku sama Kak Dona bakal bikin mimpi Mama jadi kenyataan,” ucapnya ke arah batu nisan ibunya.

“Kami ijin minta restunya ya Mam. Nggak akan mulus... tapi Dona percaya kalau selalu berusaha, selalu bergerak, jalan keluar pasti ada. Mama setuju kan ya?” Kata Dona sambil mengelus nisan di genggaman. Akhirnya, kakak beradik ini menyudahi ziarah mereka siang itu. Bunga yang sudah dibeli Rona ditaburkan ke sekujur tanah makam, dan setelah selesai, mereka berdua ijin pamit pulang pada sang ibu.

Selagi menunggu taksi di depan TPU, mereka berdua lanjut membahas perkara hp baru. 

Btw, Ron. Uang kita kalau digabung bisa buat beli iPhone kali ya.”

“Mana ada iPhone harga sejutaan, Kak!”

“iPhone 4,” jawab Dona dengan timing yang sudah diukur. Setelah cukup lama wajah cantiknya itu cemberut dan mengencang karena masalah yang bertubi-tubi menghujam, kali ini ada senyuman dan tawa tulus terlihat begitu jelas.

“Iya iPhone 4, yang udah nyemplung Gunung Merapi dan habis dilindes tank tuh harganya segitu.”


Other Stories
Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Separuh Dzarrah

Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...

Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Download Titik & Koma