Donatoli: Pergumulan Montir Cantik Penjual Donat

Reads
586
Votes
0
Parts
17
Vote
Report
Donatoli: pergumulan montir cantik penjual donat
Donatoli: Pergumulan Montir Cantik Penjual Donat
Penulis Wicaksono Bagus Dewandaru

12: In The End, It Does Really Matter

[Rabu, 19 Februari 2025 / 12.11 WIB]

Walau pikiran dan batinnya sedang tidak karu-karuan, Dona tetap tahu dan menjunjung yang namanya tanggung jawab. Sehingga meski sempat telat 20 menit, dia tetap menjalankan kerjanya di bengkel semaksimal yang dia bisa. Sayangnya, mustahil menampikkan fakta kalau akibat tumpukan beban dan dilema yang dihadapi, Dona hari ini jadi sangat sulit fokus bekerja. Dia banyak termenung dan memegangi kepalanya. 

Dari pagi tadi, sudah ada tiga kali dia melamun sendiri dan harus dipanggil-panggil oleh kedua bosnya supaya menyaut. Di mata orang yang menemani Dona hampir setiap hari, tentu Engkong Liong dan Emak Ing sadar karyawatinya hari ini jauh lebih diam dan muram ketimbang biasanya. Waktu istirahat pun, Dona hanya duduk di sofa dengan wajah yang tertekuk serius.

“Kenapa lagi, Don? Nggak makan lagi?”

“Nggak laper, Mak.”

“...Ada masalah apa lagi?” Emak Ing sudah paham gelagat Dona setiap ada beban pikiran. Ketika gelisah berat atau ada masalah hebat, Dona selalu tidak mau makan dan sibuk mengurai perkara-perkara di kepalanya. Sebenarnya sih Dona pun tahu, tindakannya itu tidak menyelesaikan apapun dan hanya bikin mood-nya makin berantakan. Tapi namanya orang overthinking... sudah jadi kebiasaan, terutama dengan semua problema yang sekarang dia hadapi.

“Banyak Mak...,” jawab lesu Dona. “Nggak habis pikir aku. Bertubi-tubi banget.”

Dari perspektif seorang atasan, kalau tidak dibantu, kinerja Dona bakal lemot karena beban pikiran. Tapi dari perspektif orang tua, kalau tidak dibantu, Emak Ing yang bakal kepikiran. Karena itu, Emak Ing duduk di sebelah Dona, sambil berkata, “coba satu-satu ceritain. Emak udah bilang, jangan semua-semua dipikirin sendiri! Cepet stroke ntar.”

“Yaaa gimana nggak dipikirin, Mak. Masalah donat bantet... bukan sekali aja, Mak. Ternyata berapa hari ini aku salah tepung. Ketuker toplesnya terigu sama tepung beras. Makanya tepungnya jadi keras. Kemarin Bu Damar complain, sekarang nambah Bang Jajang nggak mau terima jualanku lagi.”

Emak Ing mendengarkan dengan sabar, tanpa memotong sedikitpun. Kalau Dona sudah selesai, baru dia merespon. “Terus?” Mungkin karena sama-sama perempuan, atau entah chemistry apa di antara keduanya, Emak Ing bisa tahu kalau keluh kesah Dona barusan masih sebagian.

“Terus... Tante aku Mak, yang diutangin Papa. Tadi tiba-tiba nodong minta utangnya dilunasin full. Emang sih dia kasih keringanan, utang lima juta, yang dua nggak dianggep, jadi cuma perlu bayar tiga juta. Tapi itu pun mintanya sekarang banget Mak. Duitnya itu lho...”

“Nggak ada duitnya? Mau Emak pinjemin dulu?”

“Nggak dong, Mak. Nggak usah. Emak-Engkong kan juga nggak berlebihan tiap bulannya. Masalahnya sih bukan nggak ada duit, Mak. Justru ada sebenernya, tapi nge-press banget. Nanti sore aku harus bayar, pilihannya mau ambil dari saldo rekening, atau... dari tabungan buat hp barunya Rona.”

Emak Ing paham kalau Dona tidak punya siapapun untuk diajak curhat. Tidak ada siapapun yang dengan sukarela mau mendengar keluhan-keluhan hidupnya. Karena itulah, Emak Ing dengan tenang terus memperhatikan Dona di sampingnya. Tidak ada penghakiman atau kata-kata yang merendahkan. Kalau sudah waktunya merespon, baru ia bicara panjang kali lebar. Untuk sekarang, Dona ia biarkan menumpahkan curahan hati dan kepalanya sebebas dan semaunya.

“Emak kebayang lah Mak, saldo rekeningku berapa sih. Lima juta aja nggak nyampe. Kalau kepotong buat bayar utang, takutnya tiba-tiba nanti ada pengeluaran mendadak, malah nggak ada pegangan ke depannya. Mana nggak ada pemasukan dari donat pula kan. Terus kalau pakai uang hp-nya Rona... nggak enak aku Mak sama dianya, udah janji mau beliin dari lama soalnya. Masa diundur? Emang udah waktunya ganti juga soalnya kameranya udah retak dan gampang panas,” curhat Dona yang kemudian dia sambung lagi dengan keluhan yang lebih eksistensial. “Capek banget aku Mak. Kerasa kaya... sia-sia semua usahaku. Rasanya mau berjuang kaya apa, jatuh bangun kaya gimana, hidupku kaya ditakdirin mentok di sini-sini aja.”

Selesai Dona berbicara, kali ini Emak Ing tidak merespon apa-apa. Malahan, dia tiba-tiba beranjak berdiri dan berjalan ke dalam rumah, meninggalkan Dona sendirian di ruang tamu. Dona jelas kebingungan dengan reaksi bosnya, dia mengira Emak Ing mungkin sudah bosan mendengar unek-unek kehidupannya. 

Namun ternyata, nenek itu balik lagi ke ruang tamu, membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayur di tangannya. “Lu makan dulu, nggak boleh nggak makan,” ucapnya selagi menaruh piring itu di ujung meja agar bisa diambil Dona dengan mudah. Ini adalah kali pertama Dona diambilkan dan diberi makan. Dia tidak menduga, Emak Ing segitu perhatian pada orang yang padahal hanya karyawan di tempat usahanya. Setelah mengambil makanan di meja, Dona kembali ditemani Emak Ing yang balik duduk di sebelahnya. Kali ini, giliran sang nenek itu yang berbicara.

“Hidup itu... emang begitu. Suka kasih kejutan. Suka bikin kita tertekan. Mau kita lagi sakit, nggak ada uang, patah hati... masalah kapan aja bisa dateng. Nggak kenal ampun.” Sambil makan, Dona menyimak baik-baik jawaban Emak Ing yang dia tahu pasti berisikan petuah dan nasehat baginya. Betul saja, setelah menjeda bicaranya, Emak Ing lanjut bilang, “tapi, di saat yang sama... rejeki juga bisa datang kapan aja, Don. Jadi, selama kita terus berusaha dan nggak menyerah, rejeki yang akan datang sendiri nantinya. Rejeki ini bisa apa aja ya. Bisa uang, kesehatan, keluarga, fasilitas, apapun deh.”

Selain kali pertama diberi makan, seingat Dona, ini juga pertama kalinya dia diberi nasehat yang berat dan dalam terkait kehidupan. “Kalau kata lagu jaman Emak muda, badai pasti berlalu... Pasti! Yang penting pas badai datang, terus kita kejebak di dalemnya, kitanya harus berjuang supaya bisa keluar. Nggak ada jaminan memang ujungnya selamat apa nggak, tapi kalo kitanya diem aja di tempat, justru lebih nggak mungkin selamat, kan?”

Dona mengangguk pelan. Lalu, Emak Ing menambahkan, “percaya sama Emak. Selama kita berusaha, selalu mau belajar, selalu terus nyoba... kalaupun hasilnya belum kelihatan atau nggak memuaskan, kita sudah berproses. Kita... lu, nggak mentok di situ-situ aja! Pokoknya ditekuni aja apa yang kita mau usahakan setiap hari, suatu saat rejeki pasti bakal datang.” Sebagai remaja yang kehilangan sosok pembimbing, Dona selalu rindu momen seperti ini. Momen di mana ada orang tua yang bisa membuka perspektif serta menguatkan hatinya. 

Selain memberi nasehat abstrak, Emak Ing lalu juga menyuguhkan solusi praktis yang bisa Dona ambil. “Sekarang perkara donat, ya udah yang lalu biar berlalu. Ambil pelajarannya, kurangin teledornya, perbaikin kualitasnya. Mau gimana lagi kan? Buat jualnya, lu cari-cari lagi mau jual di mana, apa mau pakai internet kaya orang-orang. Terus soal utang sama tante, ya sama, apa mau dikata. Lu yang tahu ngelola uang terbaiknya gimana, tapi lu harus inget Don, ketimbang fokus sama negatifnya, mending lihat positinya. Dengan begini, utang lu jadinya lunas dan mulai bulan depan udah nggak ada tanggungan lagi. Betul apa betul?”

Motivasi dan masukan Emak Ing membuat Dona jadi tenang. Mindset-nya yang dipenuhi kemelut suram dan kegelisahan berangsur-angsur bergeser menjadi harapan. Dia kembali tersadar, bahwa segala masalah yang menghadang, pasti ada akhirnya. Memang tidak mudah dan tidak instan, tapi semua bisa diusahakan. Dunianya belum runtuh, masih jauh dari kata kiamat. Dengan lengkungan senyum di bibir, Dona merespon, “iya... betul Mak.”

Tapi, respon Dona barusan masih belum plong! Emak Ing sadar kalau kelihatannya masih ada unek-unek yang belum keluar. “Kayanya masih ada yang nyantol tuh. Senyumnya kurang lebar! Apa lagi yang masih ganjel?”

“Hehe... Emak ngerti aja ya... anu Mak,” bicara Dona terhenti sejenak. Masalah yang satu ini, tampaknya yang paling berat dibanding dua lainnya. “Papa. Papa minta ketemu.”

“Hah?! Udah balik dia?!”

“Nggak tahu, Mak. Pokoknya dari kemarin Papa ngontak aku pake nomer baru, bilang mau ketemuan.”

“Terus? Lu ladenin?”

“Aku iyain, Mak. Sabtu ini jadinya ketemuan di alun-alun, jam dua siang.”

“...Lu yakin?”

“Maksudnya?”

“Jelas-jelas lu ragu gitu lho, kelihatan banget kalo nggak seneng. Sebenernya, lu nggak kangen dia juga kan?”

Dona diam beberapa saat, terlihat dia mencoba mengartikulasikan bagaimana hubungannya dengan sang ayah. “Habis dia ninggalin aku sama Rona, habis dia nyakitin Mama... aku nggak ngerti juga perasaanku ke dia gimana... Tapi aku nggak minta dia balik, Mak. Aku nggak berharap apa-apa juga semenjak dia ngilang gitu aja. Kalaupun dia nggak pulang, kalaupun dia nggak tanggung jawab sama kami, ya sudah, Mak. Cuma sebagai anak, kalau dia mau ketemu lagi setelah dua tahun nggak ada kabar... ya aku turuti aja. Harusnya nggak ada ruginya, kan ya?"


Other Stories
Rembulan Di Mata Syua

Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...

Kala Kisah Tentang Cahaya

Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...

Aparar Keparat

aparat memang keparat ...

Hati Yang Beku

Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Pantaskah Aku Mencintainya?

Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...

Download Titik & Koma