11: Nila Setitik Rusak Donat Sebelanga
[Rabu, 19 Februari 2025 / 05.11 WIB]
Pagi hari setelah rumahnya diinvasi Lidia, Dona bangun dari tidurnya masih dengan kepala cekot-cekot. Harus diakui, ada sedikit penyesalan Dona rasakan karena terlalu kalu dengan emosi dan tidak mencoba menimbang bantuan Lidia dengan kepala dingin. “Udah bener nggak sih tapi kemarin aku tolak? Masa ngarepin bantuan dia,” gumamnya dalam hati.
Meski dihantui keraguan, Dona sadar dia tidak bisa terlalu lama merenung. Kepalanya harus langsung fokus dan matanya harus melek untuk membuat donat yang akan dititipkan ke warung Bang Jajang. Dia berjalan ke dapur, menyiapkan semua bahan dan peralatan, dan seperti biasanya, mulai melakukan rutinitas paginya mengadon, menggoreng, dan mengemas jualan.
Pukul enam lebih lima belas, Rona bangun dan keluar dari kamarnya. Dia langsung jalan ke kamar mandi, masih tanpa menyapa dan berbincang dengan kakaknya. Rasa kesal akan sifat ‘batu’ sang kakak masih membuatnya dingin walaupun perdebatan mereka terjadi tiga malam lalu. Karena friksi ini, Rona pun tidak tahu kalau pembully kakaknya datang ke rumah semalam. Bahkan paling mentok, interaksi mereka hanya sekadar untuk saling berpamitan, tidak ada yang lebih.
Meski begitu, Dona tahu kalau sang adik tidak benar-benar membencinya. Dia pun juga tidak kesal sedikitpun dengan Rona. Cuma karena ego masing-masing, tidak ada yang mau menyapa duluan dan mencairkan suasana. Pagi ini pun, akhirnya Rona berangkat sekolah hanya dengan bilang, “berangkat aku, Kak,” sebelum langsung ngeluyur keluar rumah.
Dona menyelesaikan paginya dengan tepat waktu. Karena tidak ketiduran, dia bisa mandi dan berpakaian tanpa tergopoh-gopoh. Begitu jam menunjukkan pukul delapan, Dona berangkat kerja dan membawa jualannya seperti biasa. Sekian meter dari warung Bang Jajang, Dona sudah melempar senyum sebagai bentuk sapaan, dan begitu dia sampai, Dona langsung menyodorkan kresek jualannya. “Bang, biasa ya.”
Biasanya, Bang langsung langsung sigap membuka tangan dan mengambil kresek Dona sambil bilang, “oke Don...” Tapi kali ini, begitu Dona mengulurkan kresek besar itu, Bang Jajang merespon dengan wajah sungkan dan balasan yang mengagetkan, “Dona, mohon maaf ya. Jangan dimasukin hati... donat elu nggak saya terima lagi mulai hari ini. Nggak papa ya?”
Entah sudah keberapa kali Dona merasakan detakan kencang di dadanya akhir-akhir ini. Dia sangka stok surprise dari alam semesta sudah habis, tapi rasanya, semuanya baru permulaan. “Lah? Kok? Kenapa Bang? Tiba-tiba banget?”
“Don... elu akhir-akhir ini ngecek donat elu, kagak? Dua hari ini, semua yang beli pada komplain! Donatnya bantet.”
“Bantet?” Respon Dona dengan penuh ketidakpercayaan. Di dalam kepalanya, dia langsung berpikir keras. Kok bisa keras lagi kaya pesanan Bu Damar? Donat dua hari ini berarti bantet semua?
“Iya, Don. Emang cara goreng atau adonannya ada yang elu ubah? Saya kemarin ngetes icipin satu bungkus, emang beda sih. Lebih keras gitu tepungnya. Orang-orang pada ngomel semua. Ada yang sampe japri saya di WA. Ujung-ujungnya yang kena saya jadinya.”
“Aduh... terus ini gimana dong, Bang? Saya udah bikin kaya biasa, masa nggak terima? Kok nggak dari kemarin bilangnya sih?”
“Iya maaf ya, Don. Tadi pas buka warung belum kepikiran soalnya. Tapi terus ada penjual lain, orangnya bikin tahu isi yang ini nih. Karena ngerti kalo donat elu lagi menurun kualitasnya, dia ngide buat nambah jumlah jualannya. Dari cuma naruh 15, jadi 30. Jadinya, jatah elu diambil dia deh,” jawab Bang Jajang sambil mencoba memberi pengertian dan penjelasan yang mudah dipahami. “Saya juga baru ditawarin pagi ini, Don. Sebenernya mah bisa aja saya tolak, tapi donat elu... bikin saya diomelin. Jangan dimasukin hati ya Don. Bisnis aja ini. Takutnya orang-orang pada nggak mau kemari lagi nanti.”
“Yah, yaahh... kok...” Dona tergagap mencoba menjelaskan penurunan kualitas donatnya. Masalahnya, dia pun tidak paham kenapa akhir-akhir ini mendadak jadi bantet. “Padahal nggak ada yang berubah lho, Bang. Semuanya. Mau resep, mau takaran, sampai minyak sama cara gorengnya, tetep kok semua.”
“Pesenan Pak Damar katanya juga bantet ya? Orangnya ngomong langsung kemarin ke saya. Hari Senin kemarin, dia sempet nyoba beli donat elu lagi di sini. Eh ternyata zonk lagi... Elu yakin nggak ada yang salah Don? Biasanya gini mah karena tepungnya.” Bang Jajang sebenarnya tidak enak hati mengambil keputusan ini. Tapi benar apa yang ia katakan, bisnis ya bisnis. Kalau pemasoknya memberi kualitas produk yang buruk, lebih baik cari yang lain saja. “Maaf banget ini saya, Don. Jangan jadiin masalah pribadi, ya? Masalahnya kalau kepercayaan orang ke warung saya rusak, sulit balikinnya nanti.”
“Iya Bang, saya minta maaf,” balas Dona dengan patah hati. Dia sangat paham pertimbangan bisnis Bang Jajang, tapi bohong rasanya kalau dia bilang tidak kecewa dan sedih karena kerja kerasnya pagi ini langsung ditolak. Namun di atas rasa kecewanya, pikirannya langsung terpicu untuk mencari tahu akar masalah dari donatnya yang bantet.
Dari warung Bang Jajang, Dona langsung berjalan cepat, bukan ke bengkel, melainkan pulang ke rumahnya. Dia sadar kalau tindakannya ini bisa berujung bikin dia terlambat masuk kerja, tapi itu tidak jadi masalah utama di kepalanya sekarang.
Setelah dikomplain Bu Damar dua hari lalu, Dona sempat mengira donatnya jadi bantet karena pesanannya waktu itu tidak dibungkus plastik. Berbeda dengan jualan yang dititipkan ke warung Bang Jajang yang selalu dikemas plastik, pesanan keluarga Damar kemarin disajikan langsung beralaskan wadah box. Bisa jadi itu alasan kenapa tepungnya mengeras setelah didiamkan berjam-jam. Ini hanya asumsi Dona saja sih, berbekal hasil risetnya di internet.
Namun meski belum tahu detail penyebabnya, Dona pribadi sempat yakin kalau masalah kemarin hanya masalah kecil yang tak akan terjadi lagi. Nasehat Emak Ing terbukti ampuh meredakan kekhawatirannya. Namun ternyata, masalah itu sekarang muncul kembali, dan malah makin besar dan mencekik.
Begitu sampai, Dona langsung masuk ke dalam rumah dan berjalan ke dapur dengan langkah terburu-buru yang menghentak. Tidak pakai lama, Dona sampai di depan meja makan, dia berdiri tepat di deretan toples putih berisi bumbu dan bahan masakan disimpan. Selama berjalan tadi, kata-kata Bang Jajang terus menggema di kepalanya. “Elu yakin nggak ada yang salah Don? Biasanya gini mah karena tepungnya.”
Mempertimbangkan pertanyaan tersebut, Dona coba fokus menguak sumber masalah dari tepung yang dia pakai. Di hadapannya, ada dua toples putih yang saling bersebelahan. Labelnya yang satu ‘terigu’, sedangkan satunya ‘beras’. Melihat keduanya berhimpitan, insting Dona tiba-tiba mengajukan pertanyaan. “Bentar, jangan-jangan selama ini aku salah tepung? Bukannya masukin terigu, malah tepung beras?”
Untuk pembuktian, Dona mengambil dua gelas sambil memanaskan air di kompor. Kalau sekilas dipandang, tepung terigu dan tepung beras itu terlihat sama. Butiran bubuk putih seperti debu salju yang sulit dibedakan dengan mata telanjang. Sebenarnya, tekstur kedua tepung ini agak berbeda, dan bagi yang paham, dirasakan dengan kulit pun pasti ketahuan bedanya. Tapi supaya lebih valid, Dona ingin menggunakan air sebagai barang bukti.
Dona kemudian mengambil satu sendok teh tepung dari masing-masing toples. Satu sendok dari toples berlabel terigu dia taruh di sisi kiri, sedangkan satu sendok dari toples berlabel beras di kanannya. Serbuk-serbuk putih itu Dona taruh berjarak di atas loyang. Setelah air di teko mendidih, Dona langsung menuang air panas ke dua gunungan tepung itu. Dengan deg-degan, Dona diam mengamati objek tesnya. Pelan-pelan, kedua gunungan tepung itu mulai menyerap air dan memadat. Setelah lewat 10 detik dan dua adonan kecil muncul dari percampuran barusan, ternyata dugaan Dona tepat. Donatnya salah tepung.
Soalnya, kalau tepung terigu dicampur air panas, adonan yang terbentuk akan lentur dan elastis akibat kandungan gluten di dalamnya. Sedangkan kalau tepung beras yang disiram, adonannya bakal jadi kenyal, tapi berat dan kaku. Namun pembuktian di depan matanya, menunjukan kalau hasilnya berkebalikan! Sampel tepung dari toples terigu justru berat dan kaku, sementara sampel tepung dari toples beras justru lentur dan elastis. Bisa disimpulkan, Dona tidak hanya salah memasukan tepung, dia pun keliru menyimpan ke dalam toples!
Setiap habis belanja bahan, Dona pasti memindah bahan-bahannya ke wadah khusus. Untuk tepung-tepungan, dia pasti langsung pindah ke toples putih yang sudah dari dulu ada di lemari dapurnya. Karena tampilan yang sama, dia pun berinisiatif menaruh label di tiap tutup toples supaya tidak tertukar. Tapi nampaknya, ketika terakhir kali dia selesai belanja, Dona sudah salah sewaktu memindah dan menyimpan kedua tepung itu.
Tepung beras dia simpan ke toples berlabel terigu, dan sebaliknya. Kalau begini, ya pantas donatnya jadi bantet, karena adonannya memakai tepung beras yang lebih cocok untuk membuat kue-kue yang padat dan kenyal, seperti serabi. Begitu sadar akan kesalahan ini, badan Dona langsung lemas. Berat di pundaknya terasa terangkat, bukan karena lega, tapi karena dia tidak menyangka dia bisa sembrono seperti ini. Tangan kanannya bertempu di meja selagi telapaknya memegangi dahi kepala, tanda orang menyesali kesalahannya.
Dia tidak percaya kesalahan yang padahal bisa dihindari ini malah berujung fatal. Karena kekeliruan ini, perkembangan usahanya jadi terganjal dan reputasi donat yang sudah dia bangun sekian lama jadi rusak. Lagi-lagi, Dona merasa dunianya runtuh. Semua usahanya jadi sia-sia karena kebodohan yang tak sengaja dia buat.
Di tengah lamunan Dona yang meratapi kecerobohannya, tiba-tiba hp-nya di kantong celana berdering. Ada telepon masuk, namun bukan nomer asing seperti tadi malam, penelepon kali ini adalah Tante Mutia. Waktu membaca layar hp-nya, Dona agak terkejut, karena dalam ingatannya, tantenya ini tidak pernah meneleponnya, sekalipun tidak pernah. Meski dilanda frustasi, Dona tetap menyempatkan diri mengangkat telepon tersebut. Tanpa berekspektasi apapun, dia menyapa, “halo, Tante?”
Tante Mutia, tanpa basa-basi, tanpa menyapa balik, langsung melontarkan pertanyaan yang justru menambah pilu. “Dona, kamu bisa lunasin utang sekarang?”
DEG! Lagi-lagi dada Dona terasa disambar petir. Padahal baru saja dentuman itu dia rasakan, tidak ada satu jam kemudian, lagi-lagi ada hal yang mengguncang batinnya. “Lunasin sekarang Tante? Bukannya masih sisa lima bulan lagi?”
“Gini, gini... Tante butuh uang tiga juta dalam waktu dekat. Utang kamu kan masih ada lima ya, Tante anggep yang dua udah hangus deh. Tante kasih pengampunan. Kamu lunasin aja yang tiga juta, tapi hari ini. Bisa?”
.
.
.
Dona membisu. Kepalanya sudah tidak karuan memproses masalah tepung donat dan membayangkan skenario buruk yang menanti kalau sampai tidak bisa jualan lagi. Sekarang, problema baru muncul begitu saja tanpa permisi. Tanpa ampun, masalah demi masalah menghujamnya bertubi-tubi. Karena tidak tahu harus merasakan apa dan memprioritaskan yang mana, Dona hanya bisa diam.
“Dona! Ditanyain kok malah nggak dijawab. Gimana, bisa nggak?”
“Wah... nggak bisa Tante. Kan... kan, aku sudah ada proporsinya sendiri untuk tiap bulan. Aku sanggupnya juga satu juta per bulan kaya selama ini, Tante. Lagipula yang tagihan bulan ini sudah dibayar hari Minggu kemarin, kan? Kalau tetap saja seperti biasa, boleh nggak ya Tante?”
“Ah kamu ini! Kamu yang ngutang kok kamu yang ngatur! Tante perlunya sekarang, Dona! Kalau kamu nggak bisa bayar, Tante double aja utang kamu jadi sepuluh juta. Mau kamu?! Atau perlu Tante sewa debt collector segala?”
Ancaman apa ini? Kenapa dia tidak mau mengerti sama sekali? Dia harusnya paham kan kondisi ekonomiku gimana? Kenapa aku harus punya Tante seperti dia? Setiap mendengar hal yang tidak pas atau mengganggunya, pikiran Dona mesti langsung kemana-mana. Andai dia punya kesempatan untuk melawan, semua pertanyaan tadi pasti akan langsung dia serukan.
Tapi karena tahu posisinya sebagai keponakan yang ngutang, ditambah ancaman yang makin memberatkan posisinya, mau tidak mau, Dona akhirnya menjawab pasrah, “jangan Tante! Nggak perlu sampai begitu, Tante. Iya... Dona coba usahakan ya. Sore ini habis kerja Dona anter uangnya. Tiga juga ya Tante?”
“Ya! Tiga juta, lunas. Udah habis itu nggak perlu kamu kontak-kontak Tante lagi.”
“Iya, oke, Tante.” Baru selesai Dona menjawab, sambungan telepon itu langsung mati. Lagi-lagi tanpa berpamitan atau membalas apapun dulu yang setidaknya enak di dengar. Dona masih tidak bisa mengerti kenapa dia lahir dari keluarga ini, dan harus menghadapi seorang tante yang hanya memikirkan soal utangnya dilunasi. Padahal, utang itu pun juga bukan miliknya sendiri.
Karena telepon barusan, isi kepala Dona rasanya mau meledak. Dikomplain Bu Damar, didatangi Lidia di bengkel, didatangi Lidia lagi di rumah, ditolak Bang Jajang, salah tepung adonan, dipaksa melunasi utang. Setelah menggeletakkan hp-nya di meja makan, Dona kembali merenungi semua persoalan hidup yang terus menghajarnya tanpa jeda.
Hp Dona yang baru berbaring itu kemudian berdering. Sekali lagi ada telepon masuk, tapi kali ini, panggilan itu berasal dari nomer asing semalam menghubunginya. Dona sudah muak dan tidak punya ketenangan tersisa, mendengar nada deringnya hp-nya justru makin memicu kesalnya. Dengan kesabaran setipis tisu, Dona mematikan panggilan itu dengan gusar.
Namun tidak lama setelahnya, lamunan Dona kembali diinterupsi oleh sebuah pesan WhatsApp. Asalnya dari nomor asing barusan. Karena penasaran, Dona coba membuka pesan dari akun dengan foto profil bergambar motor itu. Begitu jempolnya menyentuh chat yang dituju, dunianya terasa makin runtuh. Isi pesan yang dia baca makin membuatnya tidak karuan. “Halo dona. Apa kabar nak ? Ini papa, kita bisa ketemu ?”
Other Stories
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)
Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
DIARY SUPERHERO
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...